Fast Blinking Hello Kitty

08 Februari 2012

ENDLESS LOVE 2

Kini, tepat sebulan setelah nama belakangku resmi menyandang gelar ST, alias Sarjana Teknik. Hari ini aku sudah kembali ke Pekanbaru. Aku akan memenuhi janjiku empat tahun lalu. Aku akan datang ke rumahnya bersama kedua orangtuaku. Walaupun tidak datang dengan kuda putih, tapi cincin emas putih ini cukup sebagai tanda aku serius padanya, aku ingin menemaninya hingga ajalku tiba. Masih terngiang di telingaku kata-katanya dulu,”Cinta sejati itu bukan milik mereka yang hanya ingin status dan bermain-main dalam cinta. Cinta sejati hanya milik mereka yang mampu menahan perasaannya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran dan ia mampu menjaga cintanya hingga waktunya tiba”.
Ya, kupikir inilah saatnya, waktunya telah tiba. Sebelum ke rumahnya aku membaca basmalah, lalu kustarter mobil Honda City silver-ku, lalu menuju ke rumahnya. Aku berdo’a mudah-mudahan perjalanan cinta yang kulalui ini direstui Allah swt…….
“DHUK!”
“Aduh!” aku meraba kepala bagian belakangku yang sakit. Spontan saja aku menoleh ke belakang, tampak keponakanku yang berumur 5 tahun sedang asyik bermain bola, Lagi-lagi ternyata ini hanya lamunanku saja, kupikir ini adalah kenyataan….
Eh, Oom, maaf yah, hehehe…., sakit yah, Om?” tanya keponakanku sambil nyengir. Aku menggeleng,”gak kok. Lanjutin aja mainnya,” ujarku tersenyum kemudian masuk ke kamar, aku mempersiapkan diri untuk datang ke rumahnya. Setelah empat tahun tak berjumpa, kupikir inilah saatnya memberi kejutan untuk Latifa, aku akan datang ke rumahnya. Aku sudah mendapatkan nomor ponselnya dari Husin, teman karibku saat SMA. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku menekan nomor ponselnya, lalu mencoba menghubunginya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa suara di seberang sana. Suara itu, mengingatkanku pada masa-masa indah dulu. Andai saja ia mengerti perasaanku selama ini….
“Wa…, wa’alaikum salam, apa kabar, Fa? Ini Navid,” balasku.
Latifa terdiam sejenak, mungkin ia mencoba mengingat diriku,”Oh, Navid…, Alhamdulillah aku baik,”
Aku memikirkan kata-kata yang tepat, mencoba menenangkan jantung ini yang berdetak kencang,”Ng…, bb…, boleh aku bersilaturahmi ke rumahmu, Fa? Anggap aja reunian…,”
“Ooooh…,” Latifa melanjutkan,”boleh, kapan?” tanyanya lembut.
Aku menggaruk kepala,”Ng…, kalo ntar sore, boleh nggak?” tanyaku lagi.
“Boleh,” jawab Latifa. Perasaanku langsung tak menentu, aku hanya berharap ia juga merasakan hal yang sama. Batinku langsung seakan bersorak gembira, kuharap penantianku telah usai. Tapi kini saatnya silaturahmi dulu, aku berdo’a mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Saat keluar kamar, kakakku bertanya,”mau kemana, Vid? Tadi baru aja pergi, kok mau pergi lagi?”
“Mau ke rumah temen, Kak. Bentar aja, abis itu pulang lagi, kok,”
Kakakku tampaknya berat mengizinkan,”tapi sebentar aja, ya? Cepat pulang, ya. Kakak kan masih kangen…,”
Kakakku mulai agak aneh dari biasanya,”iya, abis itu Navid pulang, kok. Navid pergi dulu ya, Kak. Assalamu’alaikum,” jawabku santai, lalu bergegas ke garasi, mengeluarkan mobil.
“Wa’alaikumsalam. Cepet pulang, yah, Vid!” teriak kakakku dari dalam ketika aku sudah sampai di jalanan depan rumah. Aku menjawab dengan klakson mobil., lalu menuju rumahnya, dia yang sudah kunanti selama ini. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana wajahnya setelah sekian tahun ini, walaupun mungkin tidak seperti dulu, namun kuharap hatinya masih selembut dulu. Kuharap ia masih menyambutku sehangat persahabatan kami di masa sekolah. Bila boleh jujur, aku rindu tatapan mata teduhnya serta senyumannya yang manis. Aku ingin ia mengetahui semuanya yang ada di hatiku. Aku tak menyadari ada pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan secara mendadak di depanku. Aku kaget, lalu aku banting stir ke kanan, namun sayang, terlalu jauh hingga naik ke trotoar,. mobilku menabrak tiang listrik, kemudian terbalik. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi…….



Latifa duduk di ruang tamu rumahnya. Sesekali ia melirik jam, ini sudah jam 5 sore, tapi seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang. Orang yang selama beberapa tahun ini selalu hadir di dalam mimpinya. Ia memiliki perasaan ‘itu’, tapi Latifa tidak pernah mengakuinya secara langsung, ia hanya memendam perasaannya didalam hati. Panggilan dari kedua orangtuanya untuk mengingatkannya bahwa hari sudah Maghrib membuat ia kaget, tak terasa hari sudah beranjak malam. Latifa kesal pada Navid. Apakah Navid hanya mempermainkan perasaannya saja? Apakah ia hanya bercanda?. Latifa tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Latifa akhirnya menunaikan sholat Maghrib, sambil memohon kepada Allah, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Navid, walaupun di sudut hatinya kesal karena Navid tidak memenuhi janjinya.
***
Klakson di mobil itu terus berbunyi. Navid tidak sadarkan diri setelah mobilnya menabrak tiang listrik dan terbalik. Orang-orang yang menyadari ada kejadian yang tidak beres tersebut langsung melarikan Navid ke rumah sakit terdekat.
Navid dilarikan ke UGD. Sementara itu, kakaknya ditelepon oleh pihak rumah sakit. Kakaknya yang resah menunggu buru-buru mengangkat telepon tersebut,”maaf, apakah ini rumah Navid?” tanya seseorang di seberang sana.
“I…, iya, maaf, ini dari siapa, ya?” tanya kakaknya, dengan jantung yang berdebar, takut terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya.
“Kami dari RS Ibnu Sina, memberitahukan bahwa Navid dalam keadaan kritis sekarang di UGD,”
Kakaknya terhenyak diatas kursi,”Astaghfirullah…., apa yang terjadi dengan adik saya?”
“Adik Anda kecelakaan,”
Kakak Navid terdiam, butiran bening membasahi pipinya, ia berusaha menahan perasaannya. Feelingnya tadi benar, ia tidak mengizinkan Navid pergi tadi sore, karena ada perasaan tak enak yang berkecamuk di hatinya. Iapun bergegas ke rumah sakit bersama suaminya, lalu ia menghubungi orangtuanya di Batam.
***
Beberapa hari kemudian…..
“Fa, Papa dan Mama mau ngomong sebentar,” ujar Papa Latifa, ketika Latifa baru saja selesai sholat Isya
“Iya, ada apa, Pa?” Latifa duduk didekat kedua orangtuanya, yang wajahnya tampak serius.
“Papa dan Mama berencana akan mengenalkan kamu dengan Nabil…,”
Latifa terhenyak,”Nabil…, siapa itu, Pa?” tanyanya hati-hati.
“Nabil itu adalah anak dari sahabat Mama kamu, dulu Mama dan sahabat Mama pernah janjian, bila anak mereka sepasang, akan dijodohkan,”
Latifa menunduk, ia berujar pada mamanya dengan hati-hati,”tapi bila ada pria lain yang melamar Latifa, gimana, Pa?”
Papa Latifa meletakkan kacamata yang dipakainya keatas meja,”ya itu terserah kamu. Papa dan Mama hanya bisa berencana. Selanjutnya takdir Allah-lah yang menentukan,”jelasnya.
Latifa tersenyum kecil, didalam hati ia berharap sekali Navid-lah yang melamarnya.
“Kenapa termenung, sayang? Kamu gak suka dijodohkan begini?” tanya mamanya setelah melihat wajah putri kesayangannya.
Latifa mencoba tersenyum,”Nggak ada apa-apa kok, Ma. Iya, Latifa akan terima perjodohan itu bila sampai dalam waktu enam bulan ini belum ada yang melamar Latifa,”
Kedua orangtuanya tersenyum, itulah yang diharapkan kedua orangtuanya.

***

Navid tak kunjung membuka matanya. Sudah seminggu ini ia koma, suara yang ada hanya alat pemantau detak jantung yang terletak di sebelah kanannya. Sudah seminggu ini pula Kakaknya dan kedua orangtuanya yang baru tiba dari Batam menemaninya di RS itu.
“Pa, bagaimana ini? Navid nampaknya tidak menunjukkan perkembangan apapun,” ujar ibunda Navid.
“Kalau begitu kita bawa saja ke Singapore, kalau dalam beberapa hari ini belum ada tanda-tanda Navid siuman,”
Akhirnya orangtua Navid memutuskan untuk membawanya berobat ke Singapura.
Dan akhirnya sebulan lebih telah berlalu. Tepat di hari ke-35 setelah koma, Navid membuka matanya untuk pertama kali. Orangtuanya merasa bahagia ketika melihat tangan anaknya bergerak pelan, kemudian membuka mata.
“Ma…, sekarang Navid dimana? Udah jam berapa, Ma? Kenapa semuanya gelap?” tanya Navid.
Kedua orangtuanya saling pandang, kemudian ibundanya berujar,”Kamu lagi di rumah sakit, sayang. Sekarang jam sebelas siang,”
Navid mulai menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia mulai cemas,”Navid kenapa, Ma? Navid gak bisa lihat apa-apa,” Navid terisak, ia mencoba menggapai tangan kedua orangtuanya.
“Sayang, tenang, Nak, mungkin ini hanya trauma karena sudah sebulan ini kamu koma,” ibundanya berusaha menenangkan. Sementara itu, Papa Navid keluar diam-diam untuk memanggil dokter, beliau tidak tega melihat anak kesayangannya bersedih.
Beberapa saat kemudian Dokter datang, lalu memeriksa Navid,”Ibu, Bapak, saya ingin berbicara sebentar,” ujar dokter itu, sambil mengajak kedua orangtua Navid menuju ruangan dokter.
“Begini, Pak, akibat benturan yang sangat kuat saat kecelakaan itu, menyebabkan kornea mata Navid terluka. Jika dalam waktu sebulan ini mata Navid tidak ada perkembangan, jalan satu-astunya adalah operasi mata, kita harus mencari donor mata,”
Bagaikan petir di siang hari, kedua orangtua Navid terkejut. Mereka tak tega memberitahu hal ini kepada Navid. Akan tetapi, mau tidak mau dan cepat atau lambat Navid harus segera diberitahu. Ibundanya lalu masuk ke ruangan tempat Navid dirawat, mencoba mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan kepada putranya agar tidak terluka. Perlahan ibunya membuka pintu ruang perawatan, lalu menghampiri Navid perlahan.
“Sayang, ini Mama, Nak….,”
“Navid kenapa, Ma?” tanya Navid, ia tak sabar menunggu penjelasan dari ibunya,”kenapa Navid begini?”
Sambil menahan isak tangisnya, ibunda Navid menjelaskan,”Untuk beberapa bulan ini, kamu mungkin belum dapat melihat….,” dengan suara bergetar ibunda Navid melanjutkan,”sampai ada donor untuk matamu, Nak….,”
Navid tertunduk sedih. Tak mungkin ia memberitahu Latifa dalam kondisi seperti ini. Ia takut Latifa akan menjauh darinya. Navid hanya bisa pasrah menunggu sampai ada donor untuk matanya.
***
Dua bulan kemudian…
Navid sudah diizinkan pulang sejak dua minggu yang lalu. Sambil menunggu donor mata yang cocok, Navid dibawa pulang oleh kedua orangtuanya ke Batam, karena kedua orangtuanya bertugas disana.
Sementara itu, Latifa dalam keadaan bimbang. Apakah ia harus menerima perjodohan orangtuanya, atau menunggu Navid yang sekarang entah berada dimana karena sampai hari ini Navid belum juga memberitahu akan keberadaannya. Di keheningan malam ini, Latifa ternbangun dari tidurnya, lalu kekamar mandi untuk berwudhu’. Ia lalu sholat istikhoroh, mencurahkan segala isi hatinya kepada Sang Pemilik Cinta. Ia ingin diberi petunjuk, apakah ia harus menerima perjodohan ini, atau menunggu Navid yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya, karena nomor ponselnya selalu tidak aktif. Sebagai seorang wanita ia hanya bisa berserah diri kepada Allah, ia yakin setelah sholat ini ia akan diberi petunjuk oleh Allah, jalan mana yang terbaik untuk dirinya. Setelah sholat, iapun tertidur.
***

Enam bulan kemudian…
Aku duduk di sofa ruang keluarga, sambil mengingat kembali rencananaku untuk meminang Latifa.
“Apakah aku harus memberitahu keadaanku sebenarnya? Aku takut, aku tak berani, aku takut Latifa tidak mau menerima kenyataan bahwa aku seperti ini…, tapi aku juga takut kalau aku tidak memberitahu, Latifa keburu dilamar orang lain….,”
Akhirnya aku meminta tolong ibundaku untuk menghubungi Husin, sahabat SMA ku di Pekanbaru. Alangkah kagetnya aku mendengar berita bahwa Latifa sudah menerima pinangan anak sahabat ibundanya. Betapa hancurnya hatiku, pujaan hati yang sekian tahun kunantikan ternyata sudah dilamar pria lain. Aku hanya bisa mengingat masa-masa SMA dulu, rasanya semua itu tak mungkin terjadi lagi, ”Ini semua salahku. Seandainya aku memberitahu keadaanku sejak dulu, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin bisa kembali kemasa lalu…,”



0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites