Fast Blinking Hello Kitty

21 Februari 2012

ENDLESS LOVE 3

Aku tidak berhenti menyesali diri, semua ini memang salahku. Selama kuliah aku tidak pernah mencoba menghubungi Latifa, bahkan akun jejaring sosialnya saja aku tidak pernah mau tahu. Selama 4 tahun tidak ada komunikasi, mungkin saja ada pria lain yang telah mengisi hari-harinya.
Ketika aku kembali pun, lagi-lagi aku mengecewakannya. Tapi itu semua diluar kehendakku, jika bukan karena kecelakaan itu, mungkin aku sudah berjumpa dengannya. Tapi sudahlah, sekarang semuanya sudah terlambat. Rasanya tak ada gunanya lagi aku mengharapkannya, biarlah aku buta untuk selamanya, aku tak sanggup melihatnya bersanding dengan orang lain. Rasanya aku sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi. Semakin hari aku hanya bisa termenung, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak mau menerima donor mata, biarlah aku begini selamanya.


“Ada apa, Nak?” tanya Mama yang tiba-tiba mendekatiku. Aku sudah tidak terkejut lagi karena sudah terbiasa dengan keadaan begini. Mama duduk disebelahku, aku dapat merasakannya.
“Sebenarnya ada apa yang terjadi, Nak? Ceritakan sama Mama….,”
Aku menggeleng,”Nggak ada apa-apa kok, Ma…,”
Mama menghela napas,”Mama sangat paham sifat kamu. Biasanya kalau ada apa-apa kamu selalu cerita ke Mama. Tapi sekarang kenapa, sayang…?”
Aku mencoba mengendalikan perasaanku yang tak menentu,”bener nggak ada apa-apa kok, Ma. Navid cuma lagi pengen sendiri aja,”
“Jangan sedih, Nak. Kita sudah mendapatkan donor mata yang tepat, hanya tinggal menunggu operasi….,”
“Tapi Navid gak mau, Ma…,”
Lalu aku tak mendengar apapun selama beberapa menit, ibundaku hanya berujar,”Mama mengerti, Nak. Tapi kamu harus mau, ya?”
Aku hanya menggeleng.
“Mama akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu supaya bisa kembali seperti dulu lagi, supaya kita bisa berkumpul…, seperti dulu,”
Aku hanya diam membisu.

***
Tiga hari kemudian, Husin datang ke rumahku. Tapi aku hanya berdiam diri di kamar. Aku tak ingin menemui siapapun. Aku ingin sendiri.
“Sayang…, ada Husin, tuh. Keluar, dong sayang…..”panggil ibundaku sambil mengetuk pintu.
Aku seperti orang linglung, aku hanya bisa terdiam duduk diatas tempat tidur. Dalam kegelapanku, yang hadir selalu bayangan Latifa. Ya Allah, hamba tahu Latifa sudah menemukan jodohnya, tapi mengapa hamba sampai hari ini masih belum bisa melupakannya? Bantulah hamba melupakan dia dan cinta ini, Ya Allah…., hamba sudah tak sanggup lagi dengan keadaan seperti ini… hamba memang jatuh cinta, tapi untuk apa bila cinta ini hanya menyiksa hamba….
Aku mendengar ibundaku membuka pintu, kemudian beliau duduk disampingku,”Sudahlah, Nak. Ini saatnya kamu melupakan semua ini sejenak, Husin sudah menunggu di ruang tamu,”
Aku tidak tega mendengar suara ibunda yang begitu penuh kasih sayang membujukku. Akhirnya aku menyarankan agar Husin masuk ke kamarku saja. Ibundaku lalu menyuruh Husin menemuiku di kamar.
Husin memasuki kamarku, ia menyapaku dengan ceria,”Hei…, bro! apa kabar nih? Udah mendingan?”
Aku tersenyum kecil,”Mendingan apanya, Sin? Hatiku hancur begini…., tapi sebelumnya makasih banyak ya udah mau menyempatkan diri datang ke Batam,”
“That’s what friends are for, Vid…, hehehehe,”
Husin adalah sahabat yang paling dekat denganku. Sejak SMA hingga sekarang kami saling berkomunikasi, Ia dan aku sama-sama dari Jurusan Teknik Sipil, walaupun kami kuliah di kota yang berbeda.
“Vid, mana sih semangat kamu yang dulu? Aku udah kangen dengan sifat kamu yang dulu, yang penuh percaya diri dan yakin dengan apa yang dilakukan…,” Husin melanjutkan,”ayo, semangat dong, sobat…,”
“Tapi aku ini sudah kehilangan separuh jiwaku, Sin. Kan kamu tahu, sejak SMA dulu aku sudah memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat padanya, aku begitu yakin jika suatu saat nanti, bila waktunya tiba, aku akan mendampingi Latifa, tapi ternyata sekarang apa, Sin? Untuk apa aku memperjuangkan semua ini?”
Husin berusaha menghiburku,”Sabar, bro…, selama ijab kabul belum terucap, masih ada kesempatan, kok, Vid. Makanya, operasi dong, terus temui Latifa yah!”
Mendengar kata-kata Husin barusan bagaikan siraman air es yang menyejukkan hatiku. Secercah harapan kembali muncul di hatiku. Semoga saja ini pertanda baik untukku…
Aku harus semangat lagi. Aku tak boleh seperti ini, aku harus bangkit! Walaupun aku tahu hanya ada kesempatan tipis bagiku, tapi aku mencoba optimis. Aku tersenyum pada Husin,”Thank’s ya, Sin…..,”
“Ini baru Navid yang kukenal, sahabatku yang dulu….,” balas Husin.
Setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja, Husinpun pamit pulang ke Pekanbaru. Ia berdoa mudah-mudahan operasinya berjalan lancar.
“Lho, kok buru-buru, Nak? Nggak menemani Navid operasi dulu? Kata dokter operasinya dimulai tiga hari lagi…,” tanya ibundaku.
“Maaf, Bu, Husin masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Pekanbaru,” kata Husin, lalu iapun pamit pulang.


***
Latifa duduk di sofa ruang keluarganya. Masih terbayang di ingatannya saat-saat pertama ia berkenalan dengan seseorang yang sama-sama menerima penghargaan IT Paper Contest. Ialah pemenang pertama dari kontes itu sedangkan Latifa menempati peringkat tiga. Latifa tidak menyangka bahwa lelaki itu adalah Nabil, pria yang dijodohkan orangtuanya, yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Hatinya masih bimbang meskipun ia telah menerima lamaran Nabil. Ia masih teringat pada Navid. Ia tidak menyangka sekaligus bingung terhadap sikap Navid yang begitu tega menghancurkan harapannya. Latifa berpikiran bahwa janji yang diucapkan Navid dulu hanya bohong belaka. Latifa masih saja memikirkan Navid, ia memikirkan apakah Navid sudah menemukan penggantinya disana? Sehingga untuk memberi kabarpun dia tidak sempat.
Latifa gundah. Sudah banyak airmata yang dikeluarkannya, sudah entah berapa kali ia berharap banyak pada sosok Navid. Harapan yang telah ia tanamkan sejak perpisahan SMA dulu. Ternyata kini harapannya hampa. Sebentar lagi ia akan dipersunting oleh Nabil. Sementara itu, berat badannya kian menurun. Latifa merasa kepalanya pusing, ia memutuskan untuk beristirahat.
Latifa jatuh sakit akibat terlalu memikirkan perasaannya, sehingga membuat kedua orangtuanya cemas.
“Ada apa, Nak? Apa ada lelaki lain yang mengganggu pikiranmu?” tanya ibunya sambil mengusap kepala Latifa.
“Nggak ada, Ma, mungkin Latifa kelelahan aja,” ungkap Latifa, bohong. Ia menahan rasa sakit di hatinya, ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya.
“Jujur saja sama Mama, Mama nggak akan marah, Nak,”
Latifa menggeleng. Cukup sudah ia berharap lebih pada seorang Navid. Selama 4 tahun ini ia hanya menunggu dan menunggu kepastian yang tak jelas. Ia menolak semua pinangan yang datang padanya karena ia berharap pada Navid, sampai akhirnya kedua orangtua Latifa memutuskan perjodohan ini. Sebelum lamaran itupun Latifa memohon agar kedua orangtuanya menunggu hingga enam bulan lagi. Ia tetap menunggu kedatangan Navid, tetapi kini terlambat sudah. Kedua belah pihak keluarga sedang berunding mengenai tanggal pernikahan Latifa dan Nabil.

***
Dua hari kemudian, Husin berkunjung ke rumah Latifa. Latifa yang saat itu sedang membereskan rumah kemudian membuka pintu.
“Assalamu’alaikum,”sapa Husin tersenyum.
“Wa’alaikumsalam, sobat. Apa kabar? Mari masuk,” Latifa mempersilakan Husin yang saat itu memakai kaos oblong berwarna putih dipadu jaket hitam.
“Alhamdulillah baik. Thank you,”
Husin memperhatikan ruang tamu Latifa,”gak ada yang berubah, ya. Masih seperti yang dulu, menjelang perpisahan SMA kita ngadain acara bakar ayam disini,”
Latifa tersenyum kecil sambil melirik ke ruang keluarga. Ada ibunya yang sedang asyik menonton televisi,”wah, gak nyangka ternyata kamu masih ingat. Kirain udah lupa, itu kan udah lama banget, Sin,”
Latifa benar-benar tidak bisa melupakan kenangan indah masa sekolah dulu. Ya, waktu itu adalah tiga hari sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah untuk melanjutkan pendidikan. Navid, Husin, dan beberapa orang teman sekelasnya datang berkunjung ke rumah untuk mengadakan acara pesta ayam bakar.
“Ya dong, mana mungkin aku amnesia parsial. Oya, Fa, sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan…,”
Syifa menyimak, sesaat kemudian ia teringat belum memberikan minuman untuk Husin. Latifa mengalihkan pembicaraan,”Oya, aku lupa sesuatu. Aku ke dapur sebentar, ya,”
Beberapa menit kemudian Latifa kembali membawakan segelas minuman untuk Husin. Husin lalu melanjutkan pembicaraannya,”Ng…, maaf kalau sebelumnya kamu menilai aku terlalu ikut campur urusan kamu, Fa. Tapi ini penting. Ini menyangkut Navid,”Husin menegaskan suaranya ketika menyebut nama Navid.
Latifa menatap Husin dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Sebenarnya ia ingin menghapus nama Navid dari pikiran dan hatinya, tetapi ia merasa sulit. Harapan itu kembali timbul ketika Latifa mendengar penjelasan Husin barusan.
“Ada apa dengan Navid, Sin?” Latifa memelankan suaranya ketika menyebut nama itu. Ada perasaan cemas sekaligus marah didalam hatinya. Cemas karena takut terjadi apa-apa dengan Navid, sekaligus marah karena sudah beberapa bulan ini Navid tidak lagi menghubunginya.
“Aku tahu mungkin kamu marah, karena Navid sudah begitu lama tidak menghubungi kamu lagi…,” Husin terdiam sejenak kemudian melanjutkan,”tapi ini demi kebaikan, Fa. Navid hanya tidak ingin membuatmu sedih jika kamu tahu bahwa sebenarnya dia tidak bisa melihat,”
Latifa terhenyak. Ia terpaku di tempat duduknya, kemudian bertanya,”Tapi bagaimana…?”
“Navid kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju kesini, Fa. Aku sendiri tidak tahu bagaimana persisnya, tetapi faktanya, mobil Navid menabrak tiang lalu terbalik,”
“Astaghfirullah,” gumam Latifa dalam hati. Kini ia juga merasa bersalah pada Navid, seharusnya ia jangan berpikiran negatif dulu, seharusnya ia menjenguk Navid dan memahami kondisinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Sampaikan permintaan maafku pada Navid,” ucap Latifa kemudian.
Husin mengangguk,”Ok. Tapi nggak cuma itu, Fa. Kamu sendiri tahu kan, bagaimana perasaan Navid ke kamu? Dia pernah bercerita bahwa dia akan melamarmu dengan membawa kedua orangtuanya, sebelum kecelakaan itu terjadi,”
Latifa tertunduk. Ia harus berkata apa? Di satu sisi ia memiliki perasaan yang sama dengan Navid, tetapi ia juga telah menerima pinangan Nabil. Latifa tidak ingin mengecewakan keduanya.
Husin melanjutkan,”Navid nyaris putus asa dan gak mau mengoperasi matanya, Fa. Dia minder karena takut kamu tidak mau menerima dia nantinya. Tapi setelah kujelaskan, akhirnya dia mau juga. Di sangat mencintaimu karena Allah, Fa….,”
Latifa tertunduk.
“Soal gimananya nanti, itu terserah kamu, Fa. Kita sudah sama-sama dewasa, tentu kita juga pandai menentukan sikap,”
Tanpa disadari oleh mereka, ternyata Nabil telah berdiri didekat jendela dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka...
“Maaf, Sin. Aku rasa semua itu tidak akan mungkin. Aku sudah menerima pinangan Nabil. Mungkin Navid bukan jodohku…,” ujar Latifa dengan suara yang menahan rasa sedih.
Kata-kata yang diucapkannya barusan seperti hujan es didalam hatinya. Tegas, tetapi juga lembut dan menyadarkan Latifa tentang pentingnya mengambil sikap.
Nabil memasuki rumah Latifa lewat pintu samping yang langsung menuju ruang keluarga. Ibu Latifa menyambut Nabil dengan hangat. Kemudian Nabil diajak ibu Latifa menuju ruang tamu.
“Assalamu’alaikum, eh, ada tamu, ya?” sapa Nabil mencoba mencairkan suasana.
“Wa’alaikumsalam, Mas Nabil. Kenalin, Ini Husin, teman Latifa SMA,” ujar Latifa. Husin dan Nabilpun berjabat tangan.
“Husin, ini Nabil, calon suami Latifa,” ujar ibu Latifa.
Beberapa saat kemudian, pembicaraanpun selesai. Husinpun pamit pulang, yang disusul oleh Nabil.
“Sin…,” panggil Nabil, yang membuat Husin menoleh kearahnya.
"Boleh saya minta waktu untuk bicara denganmu?” tanya Nabil, Husin bertanya-tanya didalam hati.
“Boleh…, besok saya ada waktu luang,” jawab Husin.
“Ok. Gimana kalau besok kita bertemu di Solaria Ciputra?”
  Husin menyanggupi sambil bertanya-tanya didalam hati. Mungkinkah Nabil salah sangka padanya?
***
Mal Ciputra.
Husin duduk menunggu didekat jendela Solaria. Setelah lima menit menunggu, akhirnya Nabil datang.
“Sebenarnya ada apa, Bil? Maaf saya tidak bermaksud untuk mengganggu hubunganmu dan Latifa…,”
Nabil tersenyum,”Gak apa-apa, Sin. Aku hanya ingin tahu. Sebenarnya kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan Latifa. Aku mendengar nama Navid…., siapa dia sebenarnya, Sin?”
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Husin menceritakan semuanya kepada Nabil. Nabil sendiri mendengarkan Husin dengan seksama. Iapun akhirnya memutuskan sesuatu.

***
Seminggu kemudian….
Nabil merenung di kamarnya. Masih terbayang jelas di ingatannya saat ia dan Latifa bertemu untuk pertama kali di ajang IT Contest. Saat menerima penghargaan, Nabil berdiri tepat disamping Latifa. Bila boleh jujur, Nabil sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Latifa karena ia anggun dan sholehah. Iapun bertambah bahagia saat mengetahui seseorang yang dijodohkan oleh orangtuanya itu ternyata adalah Latifa.
Tetapi, setelah mendengarkan pembicaraan tadi, Nabil jadi berpikir. Sepertinya Latifa mencintai Navid, begitu juga sebaliknya. Nabil tidak ingin memisahkan cinta Latifa dan Navid. Akhirnya Nabil mengambil secarik kertas, ia menuliskan surat yang ditujukan untuk Latifa.

Assalamu’alaikum wr.,wb,
Nur Latifa yang memancarkan cahaya kelembutan. Sengaja aku titipkan surat ini lewat ibu, karena aku tidak memiliki cukup waktu untuk menemuimu disebabkan waktu pekerjaanku yang sangat mendesak.
Melalui surat ini, aku ingin memberitahumu, Alhamdulillah aku diterima bekerja di sebuah perusahaan IT di Singapura. Aku menandatangani kontrak yang mengharuskan aku untuk tidak menikah selama dua tahun ini. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membebaskanmu memilih siapa yang terbaik. Ikatan kita sekarang ini bukan ikatan lamaran lagi, Fa. Jadi, jika kamu tidak sanggup menunggu dan ada seseorang yang lebih baik lagi dari aku, kamu boleh memilih seseorang tersebut. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, Fa. Tetapi ini demi masa depanku.
Wassalam,

Nabil Athaila


Nabil lalu menghubungi Navid. Ia mendapat nomor ponsel Navid dari Husin. Sesaat kemudian, Navid yang telah mendapat donor mata dan selesai dioperasi kemudian mengangkat ponselnya.
“Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan Navid?”
“Wa’alaikumsalam. Maaf, ini dari siapa, ya?” tanya Navid, dari nada suaranya terdengar heran.
“Ini Nabil….,”
Navid terperanjat. Ia masih ingat cerita Husin beberapa waktu lalu. Nabil adalah pria yang telah melamar Latifa. Mau apa dia? Ia sudah menjauhi Latifa, lalu sekarang?
“Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya sudah tidak ada ikatan apa-apa dengan Latifa, karena saya akan melaksanakan kontrak kerja di Singapura selama dua tahun. Saya tahu, saya telah mendengar cerita tentang kamu dan Latifa dari Husin. Maaf jika selama ini saya telah menyebabkan kalian menderita, saya tahu Latifa sangat mencintaimu dan saya minta padamu, Bil, jangan sakiti Latifa. Segera lamarlah dia. Saya ikhlas asalkan kalian berdua bahagia…,”
Navid terdiam, ia bertanya-tanya, apa benar yang disampaikan Nabil barusan?
Sambil menahan perih di hatinya, Nabil melanjutkan,“Saya yakin kamu dapat menjaga dan menyayangi Latifa dengan baik. Assalamu’alaikum,”
Nabil menutup pembicaraan di ponselnya dengan perasaan yang tak menentu, begitu pula dengan Navid.

***
Navid memutuskan untuk ke Pekanbaru. Ia menemui Latifa di rumahnya, dan memberitahu kepada kedua orangtua Latifa bahwa minggu depan ia akan datang kembali bersama kedua orangtua dan kerabat dekatnya untuk melamar Latifa.
***
Setelah menunggu sekian lama, impianku untuk melamar Latifa tercapai juga walaupun aku harus nelalui perjuangan yang begitu panjang. Akhirnya cincin emas putih itu dipasangkan di jemari Latifa, oleh ibundaku. Setelah ditentukan tanggalnya, akhirnya aku dan Latifa mengikat hubungan kami dengan pernikahan tidak lama setelah lamaran itu. Subhanallah, Allah telah mempertemukan kami kembali. Ternyata cinta sejati itu datang hanya sekali, selalu tersimpan didalam hati dan akan dibawa sampai mati. Insya Allah, cinta kami akan abadi sampai ajal menjelang. Aamiiiiin…..
^_^ ^o^ ^_^







0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites