Krrrriiiinggggggggggggg……………..
Bunyi jam weker tidak dipedulikan Husin. Ia tetap terlelap, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan ia masuk pukul 8 tepat. Mustahil baginya untuk bersiap dalam waktu satu jam, seperti yang kebanyakan mahasiswa lain ketahui bahwa ia si raja telat.
“Hoaaaaahhhhhmmmmmmmmmm…………….,” Husin menguap selebar-lebarnya. Ia hampir tidak menyadari kebiasaan jeleknya yang suka telat bangun pagi. Ia melirik jam wekernya,”udah jam berapa sih….?” Dengan mata yang masih lima watt, Husin memaksakan diri hanya untuk melihat jam berapa sekarang.
“Astaghfirullah! Gue telat lagi, dah!” buru-buru Husin beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mandi dan sarapan sepotong roti tawar yang sudah disediakan Bi Ijah di meja makan. Di rumahnya tidak ada siapa-siapa selain dia, Pak Tarmo dan Bi Ijah, karena kedua orangtuanya bertugas diluar kota. Ia tidak sadar bahwa ia hanya memakai kemeja kumel bin kucel saat meninggalkan rumah. Sesegera mungkin ia memacu mobil Honda CRV-nya dengan kecepatan 70 km/jam. Memang rada ngebut, sih, tapi biasalah, si raja telat yang suka terburu-buru setiap kali ngampus pagi.
Akhirnya iapun sampai di kampus jam delapan lewat dua puluh. Mata kuliah pertama adalah Rekayasa Sipil . Husin berlari lurus lalu berbelok kearah kiri, menuju ruangan, namun belum sempat ia meraih gagang pintu, tiba-tiba….
GEDEBUGGGGGG!!!!!!!
“Aduh….,”
“Eh, kalo jalan hati-hati dong! Liat nih udah jam berapa, gue udah telat tau!” hardik Husin pada mahasiswi yang bertubrukan dengannya, padahal ia sendiri yang berjalan kurang hati-hati.
Mahasiswi yang jatuh terduduk itu memijiti kepalanya yang sempat bertubrukan dengan dahi Husin,”ya maaf, gue nggak sengaja…,”
“Aaaahhh, banyak alasan, lo! Minggir!” Husin mengeluarkan semua sumpah jerapah…, eh, sumpah serapahnya. Ia memang begitu jika sedang kesal.
“Lo nggak bisa rada lembut dikit…? Atau apa kek, gitu?”
“Nggak! GUE UDAH TELAT! Ngerti? Mingggir!!!” Husin berjalan lurus meninggalkan gadis itu sendirian. Husin sangat terburu-buru, sampai ia tidak menyadari tugas Rekayasa Sipil miliknya tercecer dari tas dan jatuh tepat didepan gadis yang ditabraknya itu.
Husin mengetuk pintu ruangan, dan perlahan ia membukanya,”maaf, Pak, saya telat,”
“Ya udah, silakan masuk,” jawab dosen tersebut,”kumpulkan tugas kamu,”
Husin merogoh tangannya kedalam tas untuk mengumpulkan tugasnya. Ia yakin sudah memasukkan tugasnya kedalam tas sejak tadi malam, tapi…
“Lho kok gak ada ya?” gumam Husin sambil meraba isi tasnya.
“Apa?” tanya dosennya yang semakin membuat Husin gugup. Tak biasanya ia begini. Memang ia suka telat, tapi tidak pernah absen mengumpulkan tugas. Memang ia dikenal sebagai tukang ribut dan suka mencari sensasi di kelas, tapi ia tak pernah sekalipun lupa mengumpulkan tugas.
Tok….tok….tok….
Pintu diketuk lagi, kali ini seorang mahasiswi cantik berdiri didepan pintu yang dikenali Husin sebagai orang yang bertabrakan dengannya tadi.
“Maaf, Pak, apa ada yang namanya Abdullah Husin?” tanyanya dengan suara selembut mungkin.
“Cieee……………., ihirrrrrrrrr! Bos kita ada yang nyariin, wooooiii…..,” teriak Aldo yang mengkompori rekan-rekannya, spontan saja teman-teman lain sibuk bersiul, ‘cuit cuit’.
“Iya, gue,” jawab Husin agak malas-malasan.
“Gue cuma mau mengembalikan ini….,” ia menatap Husin sambil menyodorkan selembar kertas double folio,”tadi terjatuh,”
“Itu dia…., itu kan tugas gue….,” lirih Husin dalam hati, namun ia pura-pura jutek. Ia menghampiri gadis itu lalu bertanya kasar,”Kok bisa ada sama lo????!!!!”
Gadis itu tampak menunduk,”ya tadi jatuh waktu lo nabrak gue, maaf….,” pintanya sambil menunduk,”gue permisi dulu. Makasih, Pak,” ujarnya lalu pergi.
Saking kesalnya, Husin bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Setelah gadis itu pergi, Husin malah ngedumel sambil mengumpulkan tugas itu,”Pak, maaf, ini tugasnya,”
Dosennya malah tertawa.
Husin hanya diam, tanpa disadari pipinya memerah.
“Ya sudah, kamu boleh duduk,”
“Makasih, Pak,” Husin duduk di bangku tepat di sebelah Aldo. Aldo dan Jerry sudah siap memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Psssttt…, siapa tuh cewek? Kok CTK BGT?” tanya Aldo setengah berbisik.
“Apaan tuh CTK BGT?” timpal Jerry, ikut-ikutan nimbrung.
“Cantik Banget, tau! Gue yakin dia pasti jauh lebih cantik dibanding si Aglaonema Chrisanty pujaan lo itu!” Aldo mulai bertaruh. Jerry memasang muka masam, Husin hanya santai.
“Sotoy lo! Yang jelas lebih cantik dia, lah! Cewek tadi bukan apa-apa dibanding soulmate gue,” tukas Husin.
“Hoho…., soulmate? Yakin banget lo kalo tuh cewek bakalan jadi soulmate lo, hahaha….!”
Husin menyengir,”just wait and see it later…,”
Aldo dan Jerry kompakan bingung. Jerry bertanya,”Apaan tuh artinya?”
Husin mendengus,”Artinya,” Husin berkata tegas kepada kedua sahabatnya,”ada anak ayam mati sepuluh ekor!” Husin kemudian memperhatikan dosennya menerangkan
“Eh, Sin…,” panggil Aldo, namun tak dipedulikan Husin. Aldo yang rada sebal kemudian berujar,”dasar Aglaonema Chrisanty! Kalo ternyata tuh cewek ternyata beneran fiktif, alias gak ada wujudnya, gimana???!!”
Husin hanya diam. Ia serius memperhatikan dosennya. Kali ini Aldo yang kewalahan,”Hmmmm…, ya udah deh. Kalo ternyata Aglaonema Chrisanty itu cewek gadungan, gue nggak tanggung jawab, yah!”
Pernyataan Aldo barusan membuat Husin menoleh kearahnya dengan tatapan mata setajam singa. Sementara itu Aldo yang terpojok hanya bisa nyengir selebar-lebarnya, :D
“Eit, tapi, Sin…, lo yakin bisa nemuin tuh cewek dalam waktu seminggu ini?” tanya Jerry ikut-ikutan. Husin kembali memelototi Jerry, yang terlihat kelabakan,”I…Iya deh, gue bantuin lo nyari tuh cewek…,” Jerry speechless melihat tampang Husin yang sanger. Begitulah bila Husin marah, gak bakalan ada yang berani berkutik untuk membantahnya, karena itulah ia dipanggil ‘bos’ oleh teman-temannya karena sifat dan tingkahnya yang seperti seorang ‘bos’, mungkin pengaruh karena ia anak tunggal, jadi semua keinginannya harus dipenuhi. Kedua orangtuanyapun sangat memanjakan Husin dan memperlakukannya bak raja, sewaktu kecil saja Husin pernah menggulingkan badannya hanya karena tidak dibelikan Tamiya. Pokoknya, semua keinginannya harus terpenuhi dan segala sesuatunya harus serba sempurna, tanpa ada kekurangan suatu apapun.
“Tapi gue gak jamin, ya, kalo ternyata dia bukan cewek…,” Jerry menyambung perkataannya tadi, yang membuat Husin melotot kearahnya lagi, kali ini lebih tajam. Jelas aja Jerry kelabakan,”maksud gue, gue gak jamin kalo ternyata dia bukan cewek yang sepintar lo kira,” Jerry buru-buru meralat perkataannya, padahal ia baru saja mau bilang,”kalo ternyata dia bukan cewek, tapi cowok! Hehehehehe….,”
“Ooo…,”itu yang keluar dari mulut Husin,”oh ya, ntar kita ke Gramedia, yah!” hanya itu ucapannya. Ia benar-benar serius dan tidak terpengaruh sama sekali dengan kedua monster yang setia mengganggunya. Tiga bulan yang lalu malah Husin sempat berjanji pada Abi-nya yang sedang di Semarang bahwa ia akan meningkatkan IP-nya di semester ini, minimal 3. Oleh karena itulah akhir-akhir ini Husin rajin banget ke toko buku dan pustaka nasional, padahal biasanya dia lebih memilih nongkrong di Mal Taman Anggrek atau di Ciputra, sekedar TePe-TePe atau mentraktir teman se-gank-nya makan.
“Loh, kok ke Gramed lagi, Sin? Bukannya minggu kemarin udah?” protes Jerry, yang disambut oleh Aldo yang setengah berbisik,”pssstt!! Ntar lo dimarahi bos lagi!”
Jerry terdiam. Memang nggak ada yang berani menentang Husin, entah apa sebabnya, padahal ia hanya mahasiswa biasa, namun seolah punya kharisma yang gimanaaa gitu.
***
Aldo dan Jerry kompakan menaiki mobil Husin yang adem. Hari ini hanya dua mata kuliah saja sampai jam 12 siang. Sepeda motor mereka dititipkan dengan salah seorang satpam kampus. Mereka bertiga akan pergi ke sebuah toko buku, Husin berencana akan membeli buku baru yang berkaitan dengan mata kuliahnya.
“Sin, kenapa sih akhir-akhir ini lo keranjingan ke toko buku?” tanya Aldo saat sampai didalam mobil yang diikuti anggukan Jerry.
“Mendingan ke toko buku, daripada clubbing gak jelas,” jawab Husin, enteng.
“Gue serius, Sin…,” tanya Aldo lagi.
Husin menatap Aldo serius,”Ntar lagi kan mau mid semesteran, emangnya lo gak belajar?” Husin balik bertanya, yang membuat Aldo gelagapan, lalu cengengesan,”Hehehehe.., kalo gue sih belajar pake sistem SKS, bro…., hehe,” Aldo hanya tertawa. Husin menstarter mobilnya dan melaju keluar kampus. Beberapa saat kemudian mereka sampai di toko buku yang dimaksud. Husin memarkir mobilnya di basement . mereka bertiga lalu menaiki lantai yang paling atas, tempat buku-buku teknik dipajang. Begitu baru tiba di lantai atas, mata Husin tiba-tiba terarah pada sosok tadi pagi, yaitu gadis yang menabraknya. Husin mengenalinya dari jilbab yang dipakainya. Ternyata ia disini juga. Ia sedang membaca buku di salah satu sudut dengan posisi membelakangi Husin, sepertinya buku arsitektur ketika Husin menatapnya dari kejauhan.
“Hey, lo kenapa, Sin?” tegur Jerry yang turut memperhatikan gelagat aneh sahabatnya itu.
“Ng…, nggak, nggak ada apa-apa,” tukas Husin sambil melanjutkan mencari buku yang diincarnya.
Aldo tidak menyadari hal itu, ia sibuk dengan salah satu buku mengenai struktur beton,”Bro, liat deh, buku ini kayaknya menarik, gitu.., beli yuk?”
Aldo celingukan, teman-teman yang ditanyainya pergi entah kemana. Aldo menoleh jauh kearah kiri, ia melihat Husin dan Jerry sedang menatap salah seorang cewek yang sedang membaca buku dari kejauhan. Aldo menghampiri mereka,”Ada apa sih?”
“Eh, elo, Do. Gak ada apa-apa kok,” Husin mengelak.
“Kalian berdua kebangetan ya, ngebiarin gue ngomong sendiri, kayak orang gila aja,”
Husin dan Jerry tertawa kecil,” biarin aja, biar orang-orang pada nyangka lo nyasar kesini!” ledek Jerry, yang dibalas pukulan kecil dari Aldo.
“Huuuu, kalian berdua pada ngeliatin siapa sih? Kok kayaknya serius banget?” Aldo ikut-ikutan celingukan, matanya ikut menatap ke seberang, ke sudut yang sedang dilihat oleh Husin dan Jerry.
“Cantik juga tuh cewek. Kenapa gak ngajak kenalan aja?” tanya Aldo.
“Nggak! Kayak orang kurang kerjaan aja. Capcus yuk!” Husin buru-buru menghindar dari tempat itu, yang diikuti Jerry. Ia mengenali sosok itu, ingin rasanya ia menegur gadis itu tapi ia ragu sekaligus gengsi.
Sementara itu, gadis yang sedang diperhatikan oleh mereka bertiga meletakkan kembali buku yang selesai dibacanya ke tempat semula. Sekilas ia tersenyum melihat salah satu buku yang berada di belakangnya. Ia memutuskan untuk membeli salah satu buku yang tadi dipegangnya, kemudian ia menuju kasir, tanpa menyadari ada tiga pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.
“Itu kan cewek yang tadi pagi di kampus kita, Jer…, cantik banget yah…,”ujar Aldo yang sedang berdiri, matanya masih terpaku pada cewek itu. Menyadari Jerry yang ternyata sudah menghilang bersama Husin, Aldo menggeram, “Jerry…..! Awas lo ya! Lo udah bikin gue kayak orang gila, ngomong sendiri…!!! Aaaaarrrgghhhh….!!!”
Aldo hanya berputar-putar keliling toko, nggak jelas apa dan siapa yang tengah ia cari. Eh, jelas ding! Ia mencari Jerry dan Husin yang kompakan mengerjainya. Kini Aldo pusing sembilan keliling mencari mereka berdua. Iseng-iseng Aldo menuju ke rak buku arsitek yang terletak diujung dan menatap ke rak buku sebelah kirinya. Ia menemukan buku kumpulan desain rumah minimalis, lagi-lagi karangan Aglaonema Chrisanty.
“Masih mahasiswa tapi dia udah nulis buku?” gumam Aldo dalam hati. Ia memperhatikan sampul buku tersebut, mengambil dan membolak-balik antara cover depan dan belakang karena buku itu masih disampul plastik. Tersirat dalam hatinya ia juga menaruh rasa kagum sekaligus bangga terhadap cewek itu, seorang wanita yang tak biasa. Cepat-cepat ia membawa buku itu, lalu membayarnya di kasir. Setelah membayar, barulah ia menemukan Husin dan Jerry yang celingukan, lalu akhirnya mereka bertiga berkumpul kembali didekat tangga setelah membayar buku yang dibeli masing-masing.
“Kalian tau gak, gue beli buku karangan siapa?” tanya Aldo sambil tersenyum penuh rahasia. Jelas aja kedua sahabatnya menggeleng, wong mereka nggak tahu apa-apa kok…
“Sini deh…,”Aldo membuka isi bungkusan plastik. Kedua sahabatnya kemudian mendekat kearahnya. Ia lalu menyodorkan buku itu pada Husin.
“Hah? Buku arsitektur? Ngapain? Kita kan sipil???” tanya Jerry begitu melihat cover-nya yang bergambar rumah.
“Baca dulu siapa pengarangnya…,” ujar Aldo, ia sudah melupakan kejadian yang nyaris membuatnya seperti orang gila tadi.
“Aglaonema Chrisanty….,” gumam Husin yang kemudian tersenyum cerah,”Wah! Pinter lo, Do! Thank’s yah!” Husin menepuk pundak Aldo yang sengaja terbatuk-batuk. Jerry agak ngiri dengan pemandangan itu.
“Karena kebaikan hati lo udah ngebantu gue, gue traktir lo makan….,” ujar Husin yang diiringi senyum lebar Aldo, yang didalam hati bergumam,”Sik asyik…,”
Jerry memelas, dan masih berharap ia ikut ditraktir makan.
Melihat tampang Jerry yang kusut, Husin juga melempar senyum kearah Jerry,”Tenang, Jer, lo kan juga udah ngebantuin gue menghubungi dia, lo juga kebagian ditraktir, kok,” ujar Husin sambil tersenyum.
“Hmmm…., so, kita makan-makan dimana nih…?” tanya Jerry semangat.
“Gimana kalo kita makan steak?” usul Aldo, yang diiyakan oleh Husin dan Jerry.
“Tapi gue mau beli DVD dulu ntar, yah!” Husin turun kebawah ke sebuah toko DVD. Ia membeli DVD film terbaru kesayangannya, kemudian mereka bertiga menuju basement .
Sesampainya di mobil, Husin buru-buru membuka sampul plastik yang membungkus buku ‘keramat’nya.
“Bismillahirrohmanirrohim…,”dengan pelan dan hati-hati Husin merobek bungkus plastik buku tersebut dan mulai membacanya. Gaya bahasanya yang nggak terlalu kaku dan gambar-gambar hasil penelitiannya yang modern dan mengikuti perkembangan zaman membuat Husin ikut larut dalam buku itu.
“Hey, kami udah laperrrrr banget nih…,”Aldo buru-buru menagih janjinya. Buru-buru Husin menutup buku dan menstarter mobilnya,”Iya, sabar dikit….,” Husin berujar, melirik lalu mengambil popcorn yang sedang asyik di genggaman Aldo yang duduk disampingnya.
“Oi, popcorn gue….,” lirih Aldo yang disambut tawa cekikikan oleh Husin.
“Gue juga mau dong!”Jerry yang duduk di belakang ikut-ikutan nimbrung dan berusaha merebut popcorn Aldo. Jadilah seharian itu mereka menggila, tertawa lepas di jalanan, tentu saja didalam mobil.
***
Sesaat kemudian mereka bertiga sampai di restoran steak dan barbeque. Husin dan Jerry memesan steak ayam sedangkan Aldo steak sapi. Minumannya cappuccino float.
“So, gimana tulisan di buku itu, Sin? Lo masih nge-fans ama dia?” tanya Jerry sambil menyeruput cappuccino float-nya.
“Gaya bahasanya nggak ngebosenin, udah gitu tampilan gambarnya modern dan sesuai dengan tuntutan mode arsitektur zaman sekarang. Plus, bukunya tebel, lagi,” jawab Husin, tersenyum.
“Terus ada foto penulisnya, gak?” tanya Aldo, penasaran. Husin tertunduk lesu,”Sayang banget fotonya nggak ada, Do. Alamat nggak ada, nomor hape yang bisa dihubungipun nggak…,”
“Terus, nomor hape yang lo kasih itu? Bukan nomor dia, Sin?” tanya Jerry, kelabakan. Gagal deh rencananya ingin PDKT dengan cewek itu juga. Hah? PDKT? Iya, kan Husin dan dia belum ada ikatan apa-apa, jadi nggak masalah dong?.
“Ya kan kalo nomor hape doang kita bisa aja kurang yakin, Jer. Siapa tau bukan dia, tapi ngaku-ngaku jadi dia…,”
Jerry mendengarkan dengan seksama,”terus identitas yang ada di bukunya itu apa aja, Sin?”
Husin membolak-balik buku yang tadi dibelikan Aldo,”Cuma nama samaran, tempat tanggal lahir ama sekolahnya dari SD sampai kuliah. Anak UI juga, jurusan arsitektur. Just that,” Husin membaca riwayat penulis yang terletak di halaman paling belakang.
Jerry memandangi sahabatnya itu dengan tampang prihatin,”Sabar yah, sobat…..,”
Husin menggeleng,”Gak apa-apa lagi, guys. Yah…, toh kalau jodoh gak akan kemana-mana kok,” Husin mencoba menghibur diri sendiri.
“Bener, bro, mendingan untuk saat ini kita gak usah mikirin cewek dulu, kita harus fokus pada tujuan awal. Ok?” ujar Aldo yang diiringi anggukan mereka bertiga. Lalu mereka tos bareng a la anggota D’ Handsome.
“Eit, tapi kalo misalnya ada diantara kita yang udah punya cewek, gimana?” tanya Jerry, tiba-tiba interupsi.
“Hmmm, kalo gitu mulai sekarang, kita kompakan nge-jomblo. Kalau ada salah seorang dari kita bertiga yang udah punya gebetan, harus ngasih tau supaya kita nggak salah paham. Ok?” usul Husin.
“Ok, bos!” jawab Aldo dan Jerry.
Mereka lalu menghabiskan makanannya, kapan lagi momen ditraktir seperti ini datang? Ya gak sih?. Kalo boleh jujur, Jerry dan Aldo sangat senang ditraktir oleh ‘bos’nya, dan traktiran adalah hal yang paling langka yang hanya mereka temui jika si bos lagi good mood, atau bos lagi punya hajatan. Makanya Jerry dan Aldo langsung mengiyakan begitu Husin memiliki ide untuk mentraktir mereka.
Tiba-tiba ponsel Husin berdering, ia mengangkatnya,”Halo, Ma? Iya, ini Husin lagi di kampus, Ma…, iya, ntar aja neleponnya ya, Ma? Ya.., makasih, Ma,” Husin kemudian menutup pembicaraan.
Jerry memandangi Husin agak lama,“Gile aje lo, Sin! Masa’ lagi makan-makan gini lo bilang di kampus? Parah lo…, wakakakakak!” tawa Jerry, yang lagi-lagi dikode oleh Aldo, takut bos-nya ngamuk.
Husin hanya mengunyah makanannya,”nyokap gue kan lagi diluar kota? Emang kenapa sih, suka-suka gue dong,” Husin membela diri.
“Tapi lo gak bilang lagi mentraktir kita-kita kan, Sin?” tanya Jerry lagi, meyakinkan.
“Hahahaha…, emang kenapa sih, Jer? Kalian berdua sahabat terbaek gue, tau gak? Suka-suka gue juga kalo mau mentraktir kalian,” ujar Husin,”mumpung gue ada rezeki,”
“Tapi kita segan juga ama bokap nyokap lo, Sin. Secara lo kan borju, anak tunggal pula. Ntar kesannya kami morotin elo…,”nada bicara Aldo lalu merendah tapi pasti.
“Lha yang borju orangtua gue, ya gak apa-apa, santai aja kaleeee….,” ujar Husin.
Aldo menatap sahabatnya itu,”Thank’s ya, Sin. Emang cuma lo yang paling ngertiin kami….,”
“Ehem! Intinya mau ditraktir setiap hari, nih…???” pancing Husin sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Yaaaah, kalo boleh, hehehehehehe…,” tawa Jerry dan Aldo hampir berbarengan.
“Gue bakalan ntraktir kalian tiap hari,” ujar Husin kemudian,”tapi ada syaratnya,”
“Apa?” tanya Aldo dan Jerry yang langsung melongo, lagi-lagi hampir bersamaan. Mereka berdua mendekat kearah Husin yang sedang melahap steak-nya.
“Bantuin gue dapetin info tentang Aglaonema Chrisanty, ya…, please?”
Aldo dan Jerry menyandarkan bahu mereka ke kursi,”Yah….., cewek itu lagi!” ujar Jerry sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Let it flow aja, bro.., kalo emang dia jodoh elo, dia gak akan kemana-mana kok,” jelas Aldo, menghibur.
Husin galau. Baru kali ini ia penasaran dengan cewek, sebelumnya ia adalah tipe yang bukan pemikir seperti ini. Ia sendiri heran, apakah cewek yang ditaksirnya itu punya medan magnet yang mampu menarik perhatiannya?. Bila iya, dimanakah ia berada? Bila tidak, mengapa ia jadi begini? Husin terus bertanya dalam hati.
“Hoi!” seru Jerry,”menung aje! Kesambet Mbah Google, baru tau rasa lo!”
Husin terkejut, ekspresinya seperti ikan dugong yang kelelep minta tolong,”Yeeee, rese’ lo! Mendingan kesambet Mbah Google, daripada kesambet Mbah lo! Weeeeek…,” Husin menjulurkan lidahnya.
Jerry ngambek, manyun. Mulutnya maju lima sentimeter.
“Ih, tampang lo kayak ikan dugong tau gak sih! ill feel gue!” ketus Husin pada Jerry. Jerry yang tersinggung karena kelebihan berat badannya kemudian ngeles, “Yeee, daripada lo mirip ikan pari, kurus ceking tak berdaging kayak tengkorak hidup, gitu!” balas Jerry.
“HAHAHAHAHAHA…..!!!!” Aldo tak kuasa menahan tawanya hingga air matanya menetes,”Ikan pari vs ikan dugong, stop!!!”
Singa…eh, macan…,eh, Husin memelototi Aldo, dan kini bersama dengan Jerry, siap menerkam Aldo yang sudah ketakutan duluan.
“E..eh, kok jadi gue, sih…?” tanya Aldo seraya bergidik.
“Orang berantem bukannya dilerai malah dipanas-panasin, dasar tukang kompor!” gerutu Husin. Sementara yang disindir malah tertawa kecil,”Hehehehe, iya deh, lain kali gue bakalan memihak salah satu dari kalian,”
Husin melotot semakin tajam, membuat Aldo semakin salah tingkah,”mm…, maksud gue, gue bakalan melerai kalian berdua. Kalian kan spregen gue, masa’ gue hanya memihak salah satunya, gak adil dong,” ucap Aldo, mempermainkan kata-kata.
“Alasan…, “ gumam Husin, gantian dia yang manyun,”udah selesai belum nih, makannya? Gue mau pulang,”
Aldo yang memperhatikan ekspresi wajah Husin jadi merasa bersalah,”ngambek nih….? Sorry dorry, Jack, hehehehe…,” Aldo berusaha melucu, tapi lucu-lucuannya garing.
Husin hanya diam, dan tidak ada seorang pun dari sahabatnya yang berani berkata apapun, walaupun hanya satu kata. Mendadak hening. Aneh. Tadi ketawa, terus berantem, terus diam, nanti apa lagi???.
“Lho kok diem?” tanya Husin beberapa menit kemudian. Jerry dan Aldo saling berpandangan dalam diam, mereka takut salah-salah ngomong lagi.
“Kenapa? Santai aja kali, gue kan bercanda,” lanjut Husin lagi.
“Jadi, lo gak marah, kan, ikan pari?” tanya Jerry, kurang yakin.
“Lo gak marah, kan, tengkorak?” Aldo ikut-ikut bertanya sambil memperbaiki kacamatanya dan nyengir selebar-lebarnya.
“SHUT UP!!!!!” Husin memukul meja yang membuat teman-temannya panik.
“Eitsss, sabar…., sabar toh le’,” Aldo menghindar sambil mengangkat kedua tangannya sejajar bahu, ia berusaha menenangkan Husin yang kali ini ‘singa’nya sedang menyeringai memperlihatkan taringnya yang tajam.
“Pokoknya gue mau pulang. Cepetan habisin makanan kalian, atau bayar aja sendiri,” sahut Husin ketus.
Tanpa dikomando lebih jauh lagi, Aldo dan Jerry cepat-cepat menyantap steak-nya, lalu mengikuti bos mereka yang sedang galau.
Husin memasuki mobilnya, membuka buku kesayangannya itu lagi, kemudian membacanya. Alangkah terkejutnya ia ketika membuka salah satu halaman.
Rumah dengan desain modern minimalis, dengan waterwall kecil di halaman depannya, berpagar warna abu-abu dipadu hitam…, itu kan rumahnya?. Husin membaca keterangan dibawah gambar tersebut :
“Hunian klasik modern minimalis yang apik dipadu dengan waterwall yang unik, membuat penghuninya serasa berada di tengah pedesaan yang sejuk. Inspirasi yang unik bila diterapkan di tengah kota.”
“Guys, ini kan rumah gue. Iya, kan?” tanya Husin sambil menujuk halaman buku itu dan memastikan apakah yang dilihatnya benar. Serempak kedua sahabatnya melihat isi buku itu,”Iya, Sin. Ini kan halaman depan rumah lo, kok bisa….?” tanya Aldo, heran.
“Jangan-jangan dia tinggal di deket rumah lo juga, Sin!” timpal Jerry.
“Nah, itu dia yang gue pikirin, Jer. Tapi siapa dia…? Gue nggak tahu….,” ujar Husin, bingung.
“Tenang aja, Sin. Itu kan tugas kami berdua. Lo serahin aja ke kita-kita,” hibur Jerry, kali ini gentian Aldo yang bengong. Dasar Jerry, pikirannya berubah-ubah, kemarin baru aja dia mau menolak permintaan Husin, nah sekarang?.
“Makasih banyak yah, guys, ” ujar Husin.
“Sama-sama, Sin. That’s what friends are for,” ucap Jerry, ia lalu memamerkan gigi emasnya.
GEDUBRAGGGGG!!!
Aldo jatuh terjerembab ke sandaran kursi.
Sejak kapan Jerry mahir berbahasa Inggris?.
Baca juga Bab 3








0 komentar:
Posting Komentar