Fast Blinking Hello Kitty

25 Februari 2012

My Lovely Author Bab 1 Sindrom Mahasiswa


Kampus UI Fakultas Teknik siang hari itu kembali heboh, lagi-lagi karena sebuah opini yang ditempel di mading kampus. Padahal sudah hampir setiap hari para mahasiswa membaca tulisan itu, namun sepertinya kali ini ada tulisan yang berbeda dari biasanya. Salah seorang mahasiswa Teknik Sipil bernama Abdullah Husin, yang biasa dipanggil Husin berdiri lurus memandangi sebuah nama yang tertempel di mading kampus tanpa berkedip. Ya, nama itu lagi yang selalu setia menghiasi mading kampus, dan hampir setiap hari, tulisan dari nama itu menjadi headline alias fokus pembicaraan mahasiswa lain.


“Ih bagus banget ya, tulisannya, gue jadi ngiri,”
“Kok bisa ya, dia punya pemikiran seluas itu?”
“Rajin banget nulisnya,”
“Abis bersemedi tujuh hari tujuh malam, kali, ya?”
Begitulah, hampir semua mahasiswa tidak ada yang tidak pernah membaca tulisan dari seseorang yang namanya menghiasi mading itu. Tetapi sayangnya, seseorang itu misterius, susah ditebak siapakah penulis opini yang halus namun lugas dan tegas itu karena ia hanya menggunakan nama pena alias nama samaran, Aglaonema Chrisanty. Dari namanya Husin hanya bisa menebak bahwa gadis tersebut penggemar bunga. Seseorang yang membuat Husin penasaran setengah mati. Seseorang yang sebenarnya ada, namun seolah tiada. Ia benar-benar penasaran dengan orang itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia selalu ingin tahu tentang seseorang yang namanya selalu tercantum di mading tersebut, seolah tulisan dari seseorang itu merefleksikan isi hatinya yang selalu ingin tahu akan banyak hal, dan seseorang itu telah menjawab semua pertanyaannya. Berulangkali Husin mengagumi seseorang, tetapi baru kali ini yang sangat membekas di hatinya. Saat ini yang masih menjadi pertanyaannya adalah, dimana seseorang yang rajin menulis di mading itu berada? Apakah ia seseorang yang abstrak? Atau barangkali selalu ada menemaninya, namun ia saja yang tidak menyadari keberadaan seseorang itu?.
Kali ini Husin benar-benar penasaran, ia ingin sekali mencari keberadaan gadis misterius yang telah diincarnya sejak setahun lalu. Ia lalu menuju ruang redaksi organisasi majalah kampus. Ia berbelok kanan namun sayang, pintunya tertutup rapat, ruangan itu seperti tak berpenghuni alias kosong. Gagal lagi deh, rencananya untuk menyelidiki siapa gerangan gadis misterius penulis mading itu.
“Cari siapa, Sin?” tanya Aldo, sahabatnya yang tiba-tiba nongol disamping Husin.
“Eh, elo, Do, gue mau nyari pimred majalah kampus, lo liat, gak?”
“Yaaaahhh!!! Lo salah alamat, Sin! Kalo dia mah, bukan jurusan kita, kali….,” Aldo menjelaskan. Husin mengernyit,”Terus dia anak fakultas apa? Bukan anak Sipil? Kok tulisannya bisa masuk sini?” tanya Husin, bingung.
“Anak Teknik juga, tapi Arsitektur, biasa deh anak Arsitek itu pada misterius semua, emang kenapa sih lo nyariin dia?” tanya Aldo.
Husin menggaruk kepala,”Nggak ada…, gue cuma penasaran ama yang nulis di mading itu tuh,” tunjuknya,”lo kenal?”
Aldo menggeleng,”Kagak. Gue gak begitu deket ama anak arsitek,” Aldo menatap ke sekelilingnya,”gue capcus duluan, yah!” jawab Aldo santai, lalu meninggalkan Husin yang masih termangu didepan pintu redaksi majalah kampus. “Hhhhh, gagal lagi deh, rencana gue,” Husin bergumam sambil tertunduk lesu. Padahal sebelumnya ia sudah merencanakan akan membuat si penulis terkejut sekaligus tersenyum bahagia begitu mengetahui bahwa dialah pengagum rahasia penulis tersebut. Tetapi akhirnya semua planning-nya gagal total begitu saja. Husin meneruskan langkahnya dengan gontai, belok kanan menuju lorong sempit kemudian belok kiri dan sampai di ruangan tempat pelajaran mata kuliah selanjutnya, didalam hati ia masih berharap suatu saat nanti ia akan bertemu dengan gadis penulis misterius itu, walaupun hanya didalam mimpi. Setibanya di ruangan, Husin memilih tempat duduk di pojokan belakang, tempat yang Posisi Wuenak untuk tidur. Jerry dan Aldo juga duduk disana. Mereka bertiga selalu bersama selama kurang lebih setahun ini.
Pikiran Husin melayang entah kemana ketika dosennya menerangkan pelajaran. Ia baru saja akan memejamkan mata ketika tiba-tiba dosennya berseru,
“Husin! Kerjakan soal ini!” perintah dosennya tepat disaat Husin berusaha menahan kantuk matanya yang luar biasa. Iapun berdiri dan menuju ke depan kelas. Lama ia terpaku, kemudian shock ketika membaca soal fisika tersebut.
Sebuah bak persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 0.5 m serta tinggi 1 m. Jika air mengalir dalam bak dengan kelajuan 900 cm3 s-1, berapa kecepatan kenaikan permukaan air bila kedalaman air 25 cm?
Husin menggaruki kepalanya, ia bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, padahal soal tersebut sudah diterangkan berkali-kali tetapi tetap saja pemahaman akan soal tersebut tidak mau menetap di otaknya. Husin menoleh kearah Aldo, namun yang ditanya malah mengangkat bahu. Husin hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Loh, kok diem?” tanya dosen Fisika-nya.
“Maaf, Pak, saya tidak tahu rumusnya,” Husin menjawab sambil menundukkan kepala.
“HUUUUUUUUUU……………..!!!!” Husin yang ngeles disambut teriakan mahasiswa lainnya. Dosennya hanya menggelengkan kepala,”Bagaimana mungkin seorang mahasiswa UI seperti ini?” ia menggelengkan kepala lagi,”ya sudah, kamu duduk sana!”
Dengan kepala yang masih tertunduk lesu, Husin kembali ke tempat duduknya,”Lo bantuin gue dikit kenapa!” gerutu Husin pada Aldo yang hanya cekikikan,”Lha, lo kan tau otak gue sekarang odong-odong, hahahaha!!! Tanya ama Jerry, tuh! Si tikus kawannya Tom, Tom and Jerry, hehehehe….,” Aldo mencubit lengan Jerry yang duduk disebelah kanannya.
“Apaan sih lo? Apalagi gue, udah jelas kalkulus gue aja cuma dapat C! Apalagi Fisika ntar! Hahahaha!” Jerry nyengir memperlihatkan gigi emasnya,”By the way, lo kenapa sih, Sin? Ada masalah?” Jerry menoleh kearah Husin yang duduk di pojokan dekat dinding, tepat disebelah kiri Aldo.
Husin menggeleng, lalu tertunduk lesu lagi. Aldo dan Jerry saling berpandangan. Tak biasanya bos mereka seperti ini.
“Hmmmm…, jangan-jangan sindrom jatuh cinta, nih,” celetuk Jerry sambil mengunyah permen karet. Husin yang merasa disindir menoleh kearah Jerry,”Lo bilang apa….????”
“Nggak, gue bilang, biasalah, namanya juga sindrom mahasiswa,” Jerry ngeles, kemudian mencoba mengalihkan perhatian,”Hey, Bapak memperhatikan kalian dari tadi, tuh,” bisiknya pada Aldo dan Husin.
“Ehem!!! Kalian bertiga di belakang sana,” tunjuk dosen mereka yang tampaknya memang memperhatikan mereka bertiga sejak tadi,”apa saja kerja kalian ini? Mau jadi apa kalian kalau begini?”
“Mau jadi insinyur, Pak, “ jawab Husin, santai.
“Silakan you, you and you diam atau pintu terbuka untuk you,”
Kata-kata barusan menyengat seperti aliran listrik tegangan tinggi.
Seketika itu juga otak gank D’ Handsome, nama gank mereka bertiga yang terinspirasi entah dari mana, (tapi menurut mayoritas mahasiswa lain sih, terinspirasi dari tampang mereka yang lumayan cakep), langsung dipenuhi oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Mereka teringat pada 3 idiots yang senasib sepenanggungan dengan mereka. Sayangnya mereka tidak sepintar itu. Husin hanya seorang mahasiswa jebolan SIMAK-UI yang berjuang mengikuti ujian masuk meskipun tanpa pembekalan materi dan dukungan dari kedua orangtuanya sedang bekerja diluar kota. Aldo yang dulunya langganan juara umum di SMA-nya dan mendapat beasiswa, tapi entah mengapa akhir-akhir ini nilainya cenderung menurun. Sedangkan Jerry, yah, ia ngeles bahwa hanya nasib dan takdirlah yang menentukan ia masuk UI. Merekapun memilih diam daripada tidak mendapatkan ilmu apapun hari ini.
Usai pelajaran, Husin dan teman-temannya duduk disalah satu bangku.
“Ini udah yang kelima kalinya kita begini, bro….,”lirih Jerry, “tapi kitanya gak pernah tobat…,”
“Sindrom mahasiswa, guys….,” Husin ikut-ikutan,”tapi masa bodo’ ah, yang penting rencana gue nyariin tuh cewek harus terlaksana!”
Aldo dan Jerry kompakan menatap Husin,”Lo kenapa sih dari tadi mikirin tuh cewek mulu?” tanya Aldo heran.
“Sindrom mahasiswa,” jawab Husin santai, kemudian ia beranjak dari duduknya, berdiri didepan Aldo dan Jerry. Matanya menerawang jauh ke gedung seberang.
Sementara itu Aldo dan Jerry hanya menggaruki kepala,”dasar aneh!” gumam Jerry, yang diikuti anggukan Aldo, seolah mereka bertelepati.
“Gue penasaran aja ama tuh cewek, kok kayaknya dia bisa membaca pikiran gue, yah….?” tanya Husin, tak jelas bertanya pada siapa.
“Lo bisa bantuin gue, gak?” Husin berbalik arah menanyai pendapat kedua sahabatnya, ia tersenyum penuh harap.
“Lo nanyain siapa, Sin?” tanya Jerry menoleh ke kiri dan kanan, lalu menaikkan sebelah alisnya, pura-pura blo’on.
“Ya nanyain elo-elo pade, dong! Masa’ gue nanya bangku,” jelas Husin, agak sebal.
“Hehehehe…,”Jerry memamerkan giginya yang kinclong,”boleh. Bantuin apa nih…?”
Husin tersenyum simpul, matanya menerawang ke langit-langit gedung, lalu kembali kearah mereka berdua,”lo bantuin gue cari info tentang cewek itu, yah? Please….,”
Jerry yang awalnya semangat ’45 kemudian melengos. Aldo menelan ludah kemudian berujar,”iya, deh…, demi kesetiakawanan,” jawabnya, padahal dalam hati Aldo meringis,”aduh, Sin, lo kayak orang gak ada kerjaan aja deh…,”
Husin menatap kedua sahabatnya dengan mata berbinar,”Thank you, guys…., lo-lo pade emang sahabat sejati gue,” Husin menepuk pundak kedua sahabatnya yang kalau saja nggak ada orang lewat, Husin pasti gak mau berhenti menepuk-nepuk dengan kuat banget.
***
“Do, elo beneran serius mau ngebantuin Husin?” tanya Jerry setelah jam pulang,”ini menyangkut hidup mati kita loh,”
Aldo menoleh kearah Jerry dengan tatapan aneh,“Lo lebayyy banget deh, Jer! Ya kita bantuin semampu kita. Itu doang, kok,” Aldo berusaha membuat ekspresinya setenang mungkin,”lagian Husin kan sahabat kita, kalo dia butuh apa-apa ya kita bantuin dong,”
“Tapi itu kan ide gokil, lo yakin, Do?” Jerry menatap Aldo dengan tampang yang dibuat seserius mungkin. Ia sendiri tak yakin Aldo akan sanggup memenuhi permintaan konyol Husin itu.
Aldo mendengus,”kita liat ntar aja deh,” ucap Aldo lalu melenggang ke parkiran motornya.
“Tapi ntar kalo gak sukses gimana? Kalo ternyata kita cuma dikerjain?” tanya Jerry bertubi-tubi, namun yang ditanya malah kabur duluan.
“Liat ntar aja deh, Jer! Gue capcus dulu, yaaaa….!!!” Aldo buru-buru menstarter motornya dan terburu-buru pulang ke rumah.
Jerry berdiri mematung di tengah kampus. Ia hanya menatap kepergian Aldo yang terburu-buru. Sepersekian detik berikutnya, tiba-tiba Husin telah berdiri di dekatnya.
“Hey, kalian kemana aja? Gue nyariin kalian, tau gak!” dari belakang tampak Husin menegur Jerry yang sedang termangu sendirian.
“Eh, elo, Sin…., gue…,”
“Oya, kalian kan udah janji mau bantuin gue…,”potong Husin sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya,”ini nomor ponsel salah seorang anak arsitek. Lo tanya-tanyain aja tentang salah satunya, yah!”
Keringat dingin mengucuri dahi Jerry. Ia tidak biasa dalam hal merayu cewek. Jangankan merayu, mengobrol dengan lawan jenis aja sudah cukup membuat jantungnya dag-dig-dug. Jerry sebenarnya ingin menolak, tetapi ia tidak tega melihat tampang sahabatnya yang memelas.
“Inget, lo nanyain tentang cewek yang di mading itu, ok?” Husin menyerahkan secarik kertas berisi nomor ponsel kepada Jerry. Jerry menerima kertas itu dengan pikiran kosong. Batinnya menolak, ia tidak bisa. Rasanya ia ingin kabur saja, tapi kabur kemana?. Husin menepuk pundaknya lagi,”Ntar kalo sukses kabari gue yah! Makasih, Jer,” Husin tersenyum simpul, lalu ia menuju ke mobilnya. Jerry lagi-lagi terdiam. Ia harus berbuat apa? Ia tak tega membiarkan sahabatnya larut dalam kesedihan, apalagi ia sempat melihat ekspresi gembira Husin.
Sementara itu, Husin memundurkan mobilnya, kemudian memutar berbalik arah, tak lupa ia mengklakson Jerry,”Jer…, thank’s ya….!” serunya dari dalam mobil. Jerry yang pasrah hanya tersenyum kemudian menuju motornya yang diparkir di belakang kampus.
Ia benar-benar tidak bisa. Ingin rasanya ia menolak permintaan Husin, tapi jauh dalam lubuk hatinya Jerry tidak tega. Biarpun kata teman-temannya ia termasuk paling nggak nyambung, tetapi kesetiakawanannya boleh dibilang nomor satu. Akhirnya ia hanya bisa termangu menatap terpaku pada kertas itu. Kertas yang bisa saja dibuangnya bila ia memang tidak berminat membantu Husin, tapi kertas itu tetap dipegangnya.
Jerry menstarter motornya, ia bergegas pulang. Dalam hati ia berjanji akan menghubungi nomor itu sesampainya di rumah, walaupun batinnya menolak.
***
Jerry termenung di kamarnya. Sejenak ia hanya memandangi langit-langit kamar yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. “Udah dua tahun gak dibersihin,”gumamnya tepat ketika tiba-tiba ia teringat akan sesuatu,”nomor itu, ya, gue harus menghubunginya sekarang…,” Jerry meraih Blackberry Dakota-nya, lalu menekan nomor yang tertera di kertas itu.
“Haloo, assalamu’alaikum…?” sahut suara di seberang,” maaf ini siapa, yah?”
Jantung Jerry berdebar, baru kali ini ia berani menghubungi nomor ponsel cewek. Ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Jangankan merayu, menggombal atau apalah namanya, Jerry paling canggung bila diajak ngobrol dengan makhluk yang namanya cewek!.
“Wa…, wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Aglaonema Chrisanty?” tanya Jerry, yang kemudian menepuk jidatnya sendiri,”aduuh! Bego’ banget sih gue….,” lirihnya dalam hati.
Cewek di seberang hanya tersenyum, tentu saja Jerry tidak melihatnya,”Iya, ini gue, Aglaonema Chrisanty. Panggil aja gue Santy,”
Dheg!
Jerry tak mampu berkata apapun selain yang keluar dari mulutnya hanya,”oooh….” Atau “ng….,” atau “anu…..,”
“Anu…, kamu suka…, nulis di mading yah?” lagi-lagi Jerry bertanya hal yang konyol, ia menepuk jidatnya sendiri.
“Iya, kok kamu tau sih? Tapi itu hanya opiniku aja. Aku mengeluarkan uneg-unegku aja, maaf ya, kalau ada pihak yang tersinggung. Aku gak bermaksud begitu, kok,” jelasnya panjang lebar.
“Ng…., nggak apa-apa, santai aja lagi. Aku juga mau kenalan ama kamu aja,” lagi-lagi Jerry menepuk jidatnya, takut salah-salah ngomong. Maklum, ini pertama kalinya ia berinteraksi kepada seorang cewek lewat ponsel.
“Aku juga senang kenalan ama cowok ganteng,” ujar cewek itu.
Jerry berbunga-bunga, tidak biasanya ia dipuji oleh seorang cewek.
“Oooh…,” tidak biasanya Jerry berkeringat dingin. Diluar boleh panas, tapi didalam dingin serasa es, bo!.
“Dari mana kamu tau kalau aku ini ganteng?” Lagi-lagi Jerry menepuk jidatnya. Fatal error, dah!.
“Hahahaha, ya dari suaranya, pasti yang nelepon aku ini cowok cakep,” puji Santy, ia memang paling jago merayu. Tanpa disadari oleh Jerry, ternyata Santy memiliki daya magnet yang luar biasa untuk menarik simpatinya. Ia memiliki inner beauty yang jarang dimiliki cewek lain. Entah mengapa malam itu Santy seakan memesona Jerry. Jadilah malam itu Jerry mengobrol selama lebih kurang satu jam bersama Santy, sampai-sampai ia tak menyadari pulsanya yang hanya tinggal lima ribu dan ia lupa membeli paket menelepon malam. Jerrypun saking asyiknya lupa menanyakan dimanakah gadis itu tinggal dan kapan bisa bertemu dengannya lagi.
Jerry menutup pembicaraan di ponselnya, hatinya senang sekaligus berbunga-bunga. Ia lupa mengecek sisa pulsanya. Setelah menutup pembicaraan dengan Santy, ia teringat untuk menghubungi Husin. Sejenak Jerry berpikir, ia takut pulsanya habis, namun tanpa banyak berkata apapun lagi, Jerry segera menghubungi Husin.
“Halo, Sin, gue ada kabar gembira buat elo!”
“Hmmm, apaan tuh? Gimana, sukses cari nomor hape dia?” tanya Husin sambil mengunyah keripik singkong di sofa ruang keluarganya. Ia sedang menonton acara favoritnya.
“Bukan cuma dapat! Ternyata itu dia orangnya!”
Husin mengernyit, ia mengubah posisi duduknya,”Maksudnya?”
“Iya, nomor hape yang lo kasih itu, ya nomor hapenya, Sin!” ujar Jerry, lugu.
“Terus lo ngomong apa aja? Jangan bilang lo ngomong yang macam-macam!” ancam Husin, cemburu.
Jerry terkekeh,”Ya nggaklah, Sin. Masa’ temen makan temen. Cape deh…,”
“Bagus kalo gitu. Lo nanyain apa aja, Jer? Lo dapat informasi tentang dia?”
Jerry berpikir sejenak,”Ternyata namanya Santy. Gue lupa nanyain alamat rumahnya, tapi dia bilang dia suka makan seafood, gitu deh, terus….,”
Tiiit…tiiit…
Tiba-tiba telepon terputus, dugaan Jerry sebelumnya benar, pulsanya habis. Sementara itu di seberang, Husin sibuk ngedumel,”dasar temen makan temen! Giliran gue lagi butuh aja, diputusin!” sambil terus ngedumel, Husin mencari nama Jerry dan menekan tombol call di ponsel Android-nya.
“Halo, Sin, sorry pulsa gue abis…,”lirih Jerry dengan suara yang dibuat sememelas mungkin.
“Udah, gak apa-apa. Lagian gue yang butuh, kok. Terus gimana?” Husin meminta lanjutan penjelasan dari Jerry yang kali ini sedang tiduran ayam di kamarnya.
“Ya gitu deh…,” jawab Jerry, singkat, padat namun tak jelas.
“Ya gitu deh gimana? Lo sempet minta dia ketemuan, gak?”
“Nggak….,” lirih Jerry lagi,”sorry ya, Sin. Gue lupa…,” Jerry mengubah suaranya sepelan mungkin dengan nada suara yang seolah ingin minta maaf karena menyesal.
Husin mendengus,”Ya udah, besok aja lagi kita cek di kampus. Kalo perlu kita interogasi semua anak arsitek. Ok?”
Jerry tersenyum simpul dan menarik napas lega. Ia tidak jadi dimarahi bosnya. Biasanya nih, kalau Husin udah marah, maka ‘singa’nya akan mengaum, dan keluarlah taring-taringnya yang tajam. Matanya akan memelototi kita seakan ingin menerkam kita habis-habisan (lebayyyy….), tapi begitulah faktanya. Husin ingin segalanya serba perfect, tanpa ada kurang suatu apapun. Tapi kini, demi mencari jati diri cewek yang diincarnya sejak setahun lalu, Husin rela bersabar. Ia tahu bahwa ia harus bersabar, namun tak tahu sampai kapan.
“Ya, makasih ya bos!” ujar Jerry yang akhirnya bisa bernapas lega.
“Sama-sama. Gue mau ngerjain tugas Rekayasa Sipil dulu, ya!” tutup Husin, yang disambut cengar-cengir Jerry,”hah? Ada tugas ya, bos? Halo…, halo…,”
Telepon terputus. Jerry menyesal telah menyia-nyiakan waktu satu jam untuk mengobrol hal yang tidak penting dengan Santy. Harusnya ia fokus, fokus pada tujuannya menghubungi Santy dan ingat ada tugas yang harus ia kerjakan. Ia baru ingat ada tugas yang diberikan dosennya minggu yang lalu dan kini Jerry harus bergulat dengan rumus-rumus Fisika yang lumayan menguras otak.
Jerry termangu di meja belajar. Ia mencoba berkonsentrasi, namun yang ada pikirannya malah buyar. Ia menengadah menatap jaring laba-laba di langit-langit kamarnya, “Ya Allah….., help me, please….!!!!”

Baca juga Bab 2
Baca juga Bab 3

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites