Husin berada di tengah lapangan kampus. Ia dan teman-teman sekelas sedang bermain futsal, ketika tiba-tiba seorang cewek memanggil namanya.
“Husin….!!!”
Husin menoleh, tapi yang ada kepalanya di bagian depan malah terbentur bola. Husin pusing. Belum sempat ia melihat wajah gadis itu, tiba-tiba pandangan matanya gelap. Ketika Husin membuka mata, yang dilihatnya ternyata hanya kedua sahabatnya sedang menunggu dengan cemas. Ternyata kejadian barusan hanya mimpi.
“Gu…, gue dimana, Jer? Do?” tanya Husin, nyeri di kepalanya masih terasa sakit.
“Mobil lo tadi nabrak tiang. Kepala lo terbentur stir, tapi syukurlah mobil lo gak kenapa-napa, cuma lecet dikit, sekarang mobil lo di bengkel. Kami juga gak apa-apa, cuma lo aja yang pingsan,” jelas Aldo.
“Jadi lo ngedoain gue yang macam-macam, ya?” tanya Husin, yang dijawab gelengan kepala Jerry,”jangan mikir yang nggak nggak, Sin. Gue liat tadi lo tuh ngantuk, tapi lo paksain juga buat nyetir. Kita justru cemas ama lo, Sin. Lo gak apa-apa, kan?”
“Nggak, gue baek-baek aja. Trus motor kalian gimana, guys? Kan masih di kampus?”
Jerry tersenyum,”udah kami ambil, tadi Pak Tarmo yang nganterin kami ke kampus,”
Pak Tarmo adalah orang kepercayaan Abinya Husin. Beliau menjaga Husin sejak kecil hingga sekarang dan ikut tinggal dengan keluarga Husin.
“Jadi gue dimana sekarang?” tanya Husin.
“Udah di rumah, kok. Ini kan kamar lo, lupa yah?” tanya Aldo, geli.
Husin memandang ke sekeliling,”O iya,”
“Lo udah mendingan, kan, Sin?” tanya Jerry, tampangnya kelihatan cemas sekali.
“Tumben perhatian ama gue, Jer?” Husin yang masih bingung malah balik bertanya, sementara yang ditanya malah cengengesan,”ya gue khawatir aja ama lo, ntar kalo lo kenapa-napa, nyokap lo marahin gue,”
“Ngeles!” ledek Husin yang disambut,”emang iya kok!” dari Jerry.
“Stop! Udah, jangan berantem lagi. Capek, tauuu!!” lerai Aldo.
“Tumben, biasanya lo ngomporin kita,” ucap Husin.
“Hehehe, gue udah tobat, bro,” ujar Aldo.
“Bagus, deh. Oya, tau gak, tadi gue mimpi ketemu cewek…,” ujar Husin, teman-temannya mendekat, seolah ingin tahu apa mimpi Husin.
“Terus, lo liat wajahnya, Sin?” tanya Jerry, penasaran. Dalam hati ia juga ingin bertemu dengan gadis itu, namun ia tak tahu kapan persisnya.
Husin menggeleng,”Nggak, abisnya tadi gue mimpi sedang main futsal. Terus tiba-tiba ada cewek yang manggil nama gue. Saat gue menoleh, eh, malah kepala gue kejedot bola. Ya gue pingsan, deh…,” ujar Husin dengan rasa kecewa karena mimpinya yang tertunda dan tidak sempat melihat wajah gadis itu.
“Yeee, kirain apaan!” gerutu kedua sahabatnya.
“Lho, emangnya kenapa?”
“Ya…, kirain lo ngimpiin si Aglaonema. Kan kita-kita penasaran juga dengan si Aglaonema itu, Sin,” jawab Jerry.
“Lo kan udah dapat nomor ponselnya?” Husin balik bertanya.
“Iya sih…, tapi waktu gue hubungi balik, eh, nomornya malah nggak aktif lagi. Jangan-jangan nomornya fiktif, Sin. Inget gak dengan adegan di salah satu film horor yang pernah kita tonton?” Jerry menakut-nakuti. Husin mencoba mengingatnya. Waktu itu mereka menonton film yang menayangkan tentang nomor fiktif, ada suara yang menjawab telepon, tetapi manusianya tidak terlihat. Hanya suaranya saja yang terdengar.
“Enak aja. Hari gini lo masih nyoba nakut-nakutin gue? Nggak lah yaw,”Husin sama sekali tidak terpengaruh dengan ocehan Jerry barusan.
“Ya udah, kalo gitu gue pulang dulu, ya, Sin. Jika butuh sesuatu, hubungi aja gue,” pamit Aldo. Jerry ikut-ikutan,”Gue juga yah, Sin. Nyokap dari tadi udah nelepon gue. Maklum, masih anak mami. Kalo terlambat pulang, ntar bisa di calling sampe lima kali. Hehehe….”
“Perlu dianter?” tanya Husin yang bergegas bangkit dari tempat tidurnya.
“Gak usah, lo kan masih sakit, Sin. Gue gak apa-apa kok pulang sendiri. Gak tau ya, kalo si Jerry,” lirik Aldo. Jerry manyun,”gue berani sendiri, kok, Sin. Lo istirahat aja…,”
Saat akan turun ke lantai bawah, Aldo menambahkan,” See you tomorrow at campus, Sin!,”
“Yap. Makasih banyak, guys!” Husin berujar, diikuti anggukan kedua sahabatnya.
Husin termangu didekat tempat tidur. Rasanya ia ingin bermimpi lagi, melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda. Ia ingin bertemu dengan gadis khayalannya itu, seseorang yang mengungkapkan isi hatinya selama ini lewat mading kampus, bahkan gadis itu juga yang telah mempublikasikan rumahnya secara tak langsung lewat buku. Segala hal bisa saja terjadi lewat tulisan. Melalui tulisan, semua kata hati yang sulit diungkapkan secara lisan bisa diungkapkan, namun lewat tulisan juga bisa saja terjadi kebohongan. Sebuah kejujuran yang seharusnya dikatakan bisa dimanipulasi lewat tulisan.
Husin memejamkan mata, ia ingin tidur dan bermimpi lagi. Tiba-tiba…
Dor!!!!!!!!
“Udah mendingan belom, Bang? Hehehehe….” ledek Husna, adik sepupunya yang paling bontot yang masih berusia 10 tahun mengagetkannya. Husna adalah anak dari Tante Husin yang paling bungsu.
“Eh, Husna…, ngapain kesini?” Husin buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
“Eit, Abang gak boleh bangun. Mama bilang katanya abang lagi sakit. Jadi Husna datang kesini. Ini Husna bawain apel kesukaan abang…,”
“ Taruh aja disitu. Emangnya mama kemana, sih?”
“Mama lagi pergi sama Bi Ijah dan Pak Tarmo, bang. Katanya ke apotek beli obat, jadi Husna disuruh jagain abang ganteng,” jelasnya sambil berkedip centil.
Husin mencoba tidur lagi dan kali ini di sofa yang tak jauh dari tempat tidur. Ia berharap dapat melanjutkan mimpinya tadi tetapi ternyata usahanya sia-sia, matanya tak mau dipejamkan.
Husna dengan setia duduk disamping Husin, tetapi Husin malah memintanya keluar.
“Keluar, ya, Dek. Abang mau tidur,”
“Nggak mau. Kan Husna disuruh Mama jagain abang?“
“Iya, tapi abang lagi pengen sendirian, gak mau ditemenin…,”
“Husna bilangin mama, loh!” ancamnya. Lalu ia pergi keluar dan berteriak “Mamaaaaa…….!!!!” rengek Husna lalu menangis menuju teras depan, berharap ibunya segera pulang.
Sementara itu, Husna yang ngambek nekat pergi ke dekat pintu pagar. Ia berjalan sambil mengusap airmatanya. Sementara itu, Husin pusing mencari Husna.
“Aduh, ntar gue diomeli lagi…,” gumamnya dalam hati sambil terus mencari adiknya.
Seorang gadis yang kebetulan melewati rumah itu kemudian menghampiri Husna. Ia agak menunduk hingga tingginya hampir menyamai Husna, kemudian bertanya,”Adek, kok nangis? Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum. Husna hanya menggeleng sambil terus menangis.
“Siapa yang jahat, Dek?”
“Abang Husin…, didalam itu orangnya…, huhu….,” rengeknya sambil menunjuk kearah rumah Husin.
Gadis itu tersenyum simpul, lalu ia menggandeng tangan Husna masuk kedalam rumah dan mengantar Husna hingga ke ruang tamu,”adek gak boleh gitu…,”
“Nah itu dia orangnya, Kak!” tunjuk Husna tepat ketika Husin melenggang ke ruang tamu dengan sebuah apel di tangannya.
“Astaghfirullah!!!” seketika cewek itu refleks menutup mukanya.
“Eh, lo kenapa? Ada yang aneh ama gue???!!!” hardik Husin, marah-marah dan lagi-lagi sambil melotot. ‘Singa’nya mengaum lagi.
Gadis itu tetap menutup matanya, kemudian dengan pelan ia berujar,”aurat lo keliatan….,”
Husin mengernyit. Ia menunduk mencoba memastikan tak ada yang aneh, ia hanya memakai kaos basket tanpa lengan dan celana pendek selutut. Ia sendiri bingung, auratnya yang mana?.
“Pokoknya aurat lo keliatan! Gue permisi dulu, assalamu’alaikum!” pamit gadis itu, lagi-lagi masih menutup wajah dengan tangannya.
“Eh, tunggu dulu! Hey….,”Husin mencoba memanggil dan menyusul hingga ke depan pagar, tapi cewek itu keburu pergi. Dengan langkah gontai, Husin kembali masuk kedalam rumah sambil ngedumel,”dasar cewek aneh!”
Husna yang masih sesenggukan berujar,”abang tuh yang aneh. Kakak itu ngucapin salam gak abang balas. Udah gitu kakaknya baik malah abang suruh pergi! Jahatttttt!!! Huaaaaa…..!!!!” Husna berlari ke ruang keluarga dan menangis diatas sofa.
“Yeeee…, dasar cengeng!” gerutu Husin lalu melanjutkan melahap apel di ruang tamu. Tetapi dalam hati ia penasaran juga, siapa sih cewek tadi? Siapa dia? Mengapa ia bertingkah aneh? Husin sangat penasaran, belum sempat ia dengan jelas menatap wajah gadis itu karena si misterius itu buru-buru menutup wajahnya.
“Eh, kok gue jadi mikirin dia? Jangan sampe deh!” Husin menepis pikirannya terhadap gadis tadi. Gadis manis dengan postur tubuh tinggi, berjilbab biru…., tiba-tiba Husin teringat seseorang.
Jangan-jangan….
“Ah, nggak! Aglaonema pasti lebih cantik dari itu!” gumam Husin dalam hati. Ia tak tahu mengapa ia selalu memikirkan penulis misterius tersebut. Cara menulisnya yang menyentuh hati dan mewakili isi hatinya membuat Husin tidak berhenti memikirkannya.
Sekilas Husin menoleh kearah sepupunya di ruang keluarga, ternyata ia tertidur di sofa. Adik sepupunya cantik, tapi sayang ia tidak bisa membujuk anak kecil, apalagi kalau sedang menangis. Nalurinya belum ada…., hehehehe….
Husin berjalan pelan ke ruang keluarga, menghampiri Husna yang tertidur pulas. Ia lalu menggendong Husna ke kamarnya yang terletak di lantai atas.
“Wah, ternyata naluri gue sebagai abang lumayan juga, hehehehe…,” Husin tersenyum senang setelah adiknya itu berhasil ia tidurkan di spring bed-nya,”kayaknya gue harus banyak belajar ngalah, nih….,”
Saat Husin keluar dari kamar, lagi-lagi bayangan tadi melintas di pikirannya. Husin mencoba menerka wajah gadis tadi yang sedang menunduk kemudian mengangkat kepalanya perlahan, lalu dengan malu-malu menatap Husin. Tampaknya ia seorang yang penyayang.
“Astaghfirullah! Kok gue gak berhenti mikirin dia, sih????!!!!”
Malam itu, Husin mencoba untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan seluruh penghuni rumahnya sudah tertidur, kecuali dia. Efek tidur siang, biasanya bila ia tidur di siang hari akan susah tidur di malam harinya. Ia sudah membaca doa sebelum tidur, tapi sama saja. Lagi-lagi bayangan sore tadi, serta buku desain rumah yang ditulis Aglaonema Chrisanty terlintas di pikirannya. Gadis itu menceritakan rumahnya, tanpa ia sadari. Mungkinkah si Aglaonema adalah teman terdekatnya yang tidak ia sadari? Tapi siapa dia? Husin meraih ponsel yang terletak didekatnya. Ia menekan nomor ponsel Aglaonema dan mencoba menghubunginya, tetapi nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Sesaat kemudian Husin teringat pada ibunya yang menelepon tadi siang. Husin mencoba menghubungi kembali ibunya, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban, mungkin saja ibunya sudah tidur. Husin bingung, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia teringat pada salah satu tulisan Aglaonema di mading kampus beberapa waktu lalu yang pernah dibacanya, yaitu tentang hikmah sholat tahajud. Salah satunya ialah dapat menenangkan jiwa yang sedang gelisah. Husin memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia menuju kamar mandi dan bergegas berwudhu’.
Ia membentangkan sajadah dan sholat tahajud, dilanjutkan dengan witir. Ia akan mencurahkan rasa cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, yang telah memberinya perasaan kagum sekaligus penasaran terhadap gadis misterius itu. Ia mencurahkan semua yang ada di hatinya kepada Sang Pemilik Hati, yang telah menitipkan padanya tentang arti sebuah ‘rasa’. Husin menangis saat memanjatkan doa, ia mohon diberi petunjuk siapa yang terbaik menjadi pendampingnya. Selain itu ia juga memohon agar diberi petunjuk siapakah ‘bunga Aglaonema dan krisan’ yang membuatnya penasaran. Husin usai mengucapkan salam, ia telah selesai ber-tahajud cinta. Ia merasa agak lega sekarang. Husin kembali ke tempat tidurnya, ia berharap dapat bermimpi bertemu kembali dengan Aglaonema Chrisanty, penulis yang misterius tersebut.
Baca juga Bab 2
Baca juga Bab 4
“Mobil lo tadi nabrak tiang. Kepala lo terbentur stir, tapi syukurlah mobil lo gak kenapa-napa, cuma lecet dikit, sekarang mobil lo di bengkel. Kami juga gak apa-apa, cuma lo aja yang pingsan,” jelas Aldo.
“Jadi lo ngedoain gue yang macam-macam, ya?” tanya Husin, yang dijawab gelengan kepala Jerry,”jangan mikir yang nggak nggak, Sin. Gue liat tadi lo tuh ngantuk, tapi lo paksain juga buat nyetir. Kita justru cemas ama lo, Sin. Lo gak apa-apa, kan?”
“Nggak, gue baek-baek aja. Trus motor kalian gimana, guys? Kan masih di kampus?”
Jerry tersenyum,”udah kami ambil, tadi Pak Tarmo yang nganterin kami ke kampus,”
Pak Tarmo adalah orang kepercayaan Abinya Husin. Beliau menjaga Husin sejak kecil hingga sekarang dan ikut tinggal dengan keluarga Husin.
“Jadi gue dimana sekarang?” tanya Husin.
“Udah di rumah, kok. Ini kan kamar lo, lupa yah?” tanya Aldo, geli.
Husin memandang ke sekeliling,”O iya,”
“Lo udah mendingan, kan, Sin?” tanya Jerry, tampangnya kelihatan cemas sekali.
“Tumben perhatian ama gue, Jer?” Husin yang masih bingung malah balik bertanya, sementara yang ditanya malah cengengesan,”ya gue khawatir aja ama lo, ntar kalo lo kenapa-napa, nyokap lo marahin gue,”
“Ngeles!” ledek Husin yang disambut,”emang iya kok!” dari Jerry.
“Stop! Udah, jangan berantem lagi. Capek, tauuu!!” lerai Aldo.
“Tumben, biasanya lo ngomporin kita,” ucap Husin.
“Hehehe, gue udah tobat, bro,” ujar Aldo.
“Bagus, deh. Oya, tau gak, tadi gue mimpi ketemu cewek…,” ujar Husin, teman-temannya mendekat, seolah ingin tahu apa mimpi Husin.
“Terus, lo liat wajahnya, Sin?” tanya Jerry, penasaran. Dalam hati ia juga ingin bertemu dengan gadis itu, namun ia tak tahu kapan persisnya.
Husin menggeleng,”Nggak, abisnya tadi gue mimpi sedang main futsal. Terus tiba-tiba ada cewek yang manggil nama gue. Saat gue menoleh, eh, malah kepala gue kejedot bola. Ya gue pingsan, deh…,” ujar Husin dengan rasa kecewa karena mimpinya yang tertunda dan tidak sempat melihat wajah gadis itu.
“Yeee, kirain apaan!” gerutu kedua sahabatnya.
“Lho, emangnya kenapa?”
“Ya…, kirain lo ngimpiin si Aglaonema. Kan kita-kita penasaran juga dengan si Aglaonema itu, Sin,” jawab Jerry.
“Lo kan udah dapat nomor ponselnya?” Husin balik bertanya.
“Iya sih…, tapi waktu gue hubungi balik, eh, nomornya malah nggak aktif lagi. Jangan-jangan nomornya fiktif, Sin. Inget gak dengan adegan di salah satu film horor yang pernah kita tonton?” Jerry menakut-nakuti. Husin mencoba mengingatnya. Waktu itu mereka menonton film yang menayangkan tentang nomor fiktif, ada suara yang menjawab telepon, tetapi manusianya tidak terlihat. Hanya suaranya saja yang terdengar.
“Enak aja. Hari gini lo masih nyoba nakut-nakutin gue? Nggak lah yaw,”Husin sama sekali tidak terpengaruh dengan ocehan Jerry barusan.
“Ya udah, kalo gitu gue pulang dulu, ya, Sin. Jika butuh sesuatu, hubungi aja gue,” pamit Aldo. Jerry ikut-ikutan,”Gue juga yah, Sin. Nyokap dari tadi udah nelepon gue. Maklum, masih anak mami. Kalo terlambat pulang, ntar bisa di calling sampe lima kali. Hehehe….”
“Perlu dianter?” tanya Husin yang bergegas bangkit dari tempat tidurnya.
“Gak usah, lo kan masih sakit, Sin. Gue gak apa-apa kok pulang sendiri. Gak tau ya, kalo si Jerry,” lirik Aldo. Jerry manyun,”gue berani sendiri, kok, Sin. Lo istirahat aja…,”
Saat akan turun ke lantai bawah, Aldo menambahkan,” See you tomorrow at campus, Sin!,”
“Yap. Makasih banyak, guys!” Husin berujar, diikuti anggukan kedua sahabatnya.
Husin termangu didekat tempat tidur. Rasanya ia ingin bermimpi lagi, melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda. Ia ingin bertemu dengan gadis khayalannya itu, seseorang yang mengungkapkan isi hatinya selama ini lewat mading kampus, bahkan gadis itu juga yang telah mempublikasikan rumahnya secara tak langsung lewat buku. Segala hal bisa saja terjadi lewat tulisan. Melalui tulisan, semua kata hati yang sulit diungkapkan secara lisan bisa diungkapkan, namun lewat tulisan juga bisa saja terjadi kebohongan. Sebuah kejujuran yang seharusnya dikatakan bisa dimanipulasi lewat tulisan.
Husin memejamkan mata, ia ingin tidur dan bermimpi lagi. Tiba-tiba…
Dor!!!!!!!!
“Udah mendingan belom, Bang? Hehehehe….” ledek Husna, adik sepupunya yang paling bontot yang masih berusia 10 tahun mengagetkannya. Husna adalah anak dari Tante Husin yang paling bungsu.
“Eh, Husna…, ngapain kesini?” Husin buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
“Eit, Abang gak boleh bangun. Mama bilang katanya abang lagi sakit. Jadi Husna datang kesini. Ini Husna bawain apel kesukaan abang…,”
“ Taruh aja disitu. Emangnya mama kemana, sih?”
“Mama lagi pergi sama Bi Ijah dan Pak Tarmo, bang. Katanya ke apotek beli obat, jadi Husna disuruh jagain abang ganteng,” jelasnya sambil berkedip centil.
Husin mencoba tidur lagi dan kali ini di sofa yang tak jauh dari tempat tidur. Ia berharap dapat melanjutkan mimpinya tadi tetapi ternyata usahanya sia-sia, matanya tak mau dipejamkan.
Husna dengan setia duduk disamping Husin, tetapi Husin malah memintanya keluar.
“Keluar, ya, Dek. Abang mau tidur,”
“Nggak mau. Kan Husna disuruh Mama jagain abang?“
“Iya, tapi abang lagi pengen sendirian, gak mau ditemenin…,”
“Husna bilangin mama, loh!” ancamnya. Lalu ia pergi keluar dan berteriak “Mamaaaaa…….!!!!” rengek Husna lalu menangis menuju teras depan, berharap ibunya segera pulang.
Sementara itu, Husna yang ngambek nekat pergi ke dekat pintu pagar. Ia berjalan sambil mengusap airmatanya. Sementara itu, Husin pusing mencari Husna.
“Aduh, ntar gue diomeli lagi…,” gumamnya dalam hati sambil terus mencari adiknya.
Seorang gadis yang kebetulan melewati rumah itu kemudian menghampiri Husna. Ia agak menunduk hingga tingginya hampir menyamai Husna, kemudian bertanya,”Adek, kok nangis? Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum. Husna hanya menggeleng sambil terus menangis.
“Siapa yang jahat, Dek?”
“Abang Husin…, didalam itu orangnya…, huhu….,” rengeknya sambil menunjuk kearah rumah Husin.
Gadis itu tersenyum simpul, lalu ia menggandeng tangan Husna masuk kedalam rumah dan mengantar Husna hingga ke ruang tamu,”adek gak boleh gitu…,”
“Nah itu dia orangnya, Kak!” tunjuk Husna tepat ketika Husin melenggang ke ruang tamu dengan sebuah apel di tangannya.
“Astaghfirullah!!!” seketika cewek itu refleks menutup mukanya.
“Eh, lo kenapa? Ada yang aneh ama gue???!!!” hardik Husin, marah-marah dan lagi-lagi sambil melotot. ‘Singa’nya mengaum lagi.
Gadis itu tetap menutup matanya, kemudian dengan pelan ia berujar,”aurat lo keliatan….,”
Husin mengernyit. Ia menunduk mencoba memastikan tak ada yang aneh, ia hanya memakai kaos basket tanpa lengan dan celana pendek selutut. Ia sendiri bingung, auratnya yang mana?.
“Pokoknya aurat lo keliatan! Gue permisi dulu, assalamu’alaikum!” pamit gadis itu, lagi-lagi masih menutup wajah dengan tangannya.
“Eh, tunggu dulu! Hey….,”Husin mencoba memanggil dan menyusul hingga ke depan pagar, tapi cewek itu keburu pergi. Dengan langkah gontai, Husin kembali masuk kedalam rumah sambil ngedumel,”dasar cewek aneh!”
Husna yang masih sesenggukan berujar,”abang tuh yang aneh. Kakak itu ngucapin salam gak abang balas. Udah gitu kakaknya baik malah abang suruh pergi! Jahatttttt!!! Huaaaaa…..!!!!” Husna berlari ke ruang keluarga dan menangis diatas sofa.
“Yeeee…, dasar cengeng!” gerutu Husin lalu melanjutkan melahap apel di ruang tamu. Tetapi dalam hati ia penasaran juga, siapa sih cewek tadi? Siapa dia? Mengapa ia bertingkah aneh? Husin sangat penasaran, belum sempat ia dengan jelas menatap wajah gadis itu karena si misterius itu buru-buru menutup wajahnya.
“Eh, kok gue jadi mikirin dia? Jangan sampe deh!” Husin menepis pikirannya terhadap gadis tadi. Gadis manis dengan postur tubuh tinggi, berjilbab biru…., tiba-tiba Husin teringat seseorang.
Jangan-jangan….
“Ah, nggak! Aglaonema pasti lebih cantik dari itu!” gumam Husin dalam hati. Ia tak tahu mengapa ia selalu memikirkan penulis misterius tersebut. Cara menulisnya yang menyentuh hati dan mewakili isi hatinya membuat Husin tidak berhenti memikirkannya.
Sekilas Husin menoleh kearah sepupunya di ruang keluarga, ternyata ia tertidur di sofa. Adik sepupunya cantik, tapi sayang ia tidak bisa membujuk anak kecil, apalagi kalau sedang menangis. Nalurinya belum ada…., hehehehe….
Husin berjalan pelan ke ruang keluarga, menghampiri Husna yang tertidur pulas. Ia lalu menggendong Husna ke kamarnya yang terletak di lantai atas.
“Wah, ternyata naluri gue sebagai abang lumayan juga, hehehehe…,” Husin tersenyum senang setelah adiknya itu berhasil ia tidurkan di spring bed-nya,”kayaknya gue harus banyak belajar ngalah, nih….,”
Saat Husin keluar dari kamar, lagi-lagi bayangan tadi melintas di pikirannya. Husin mencoba menerka wajah gadis tadi yang sedang menunduk kemudian mengangkat kepalanya perlahan, lalu dengan malu-malu menatap Husin. Tampaknya ia seorang yang penyayang.
“Astaghfirullah! Kok gue gak berhenti mikirin dia, sih????!!!!”
***
Malam itu, Husin mencoba untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan seluruh penghuni rumahnya sudah tertidur, kecuali dia. Efek tidur siang, biasanya bila ia tidur di siang hari akan susah tidur di malam harinya. Ia sudah membaca doa sebelum tidur, tapi sama saja. Lagi-lagi bayangan sore tadi, serta buku desain rumah yang ditulis Aglaonema Chrisanty terlintas di pikirannya. Gadis itu menceritakan rumahnya, tanpa ia sadari. Mungkinkah si Aglaonema adalah teman terdekatnya yang tidak ia sadari? Tapi siapa dia? Husin meraih ponsel yang terletak didekatnya. Ia menekan nomor ponsel Aglaonema dan mencoba menghubunginya, tetapi nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Sesaat kemudian Husin teringat pada ibunya yang menelepon tadi siang. Husin mencoba menghubungi kembali ibunya, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban, mungkin saja ibunya sudah tidur. Husin bingung, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia teringat pada salah satu tulisan Aglaonema di mading kampus beberapa waktu lalu yang pernah dibacanya, yaitu tentang hikmah sholat tahajud. Salah satunya ialah dapat menenangkan jiwa yang sedang gelisah. Husin memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia menuju kamar mandi dan bergegas berwudhu’.
Ia membentangkan sajadah dan sholat tahajud, dilanjutkan dengan witir. Ia akan mencurahkan rasa cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, yang telah memberinya perasaan kagum sekaligus penasaran terhadap gadis misterius itu. Ia mencurahkan semua yang ada di hatinya kepada Sang Pemilik Hati, yang telah menitipkan padanya tentang arti sebuah ‘rasa’. Husin menangis saat memanjatkan doa, ia mohon diberi petunjuk siapa yang terbaik menjadi pendampingnya. Selain itu ia juga memohon agar diberi petunjuk siapakah ‘bunga Aglaonema dan krisan’ yang membuatnya penasaran. Husin usai mengucapkan salam, ia telah selesai ber-tahajud cinta. Ia merasa agak lega sekarang. Husin kembali ke tempat tidurnya, ia berharap dapat bermimpi bertemu kembali dengan Aglaonema Chrisanty, penulis yang misterius tersebut.
Baca juga Bab 2
Baca juga Bab 4








0 komentar:
Posting Komentar