Fast Blinking Hello Kitty

02 Maret 2012

My Lovely Author Bab 4 Goresan Cinta



Hari ini sama seperti biasanya. Husin terlambat lagi dan baru sadar dari mimpinya tepat jam 9 pagi, padahal hari ini ia masuk jam sepuluh lebih sepuluh menit. Jam wekernya tidak berfungsi lagi. Husin kemudian bergegas mandi dan sarapan. Ia sendiri heran, umur udah hampir masuk kepala dua, tapi mengapa sifatnya masih begini-begini saja?



Husin memacu mobilnya dengan kecepatan super. Tadi saja sudah dua orang yang nyaris ditabraknya. Tapi ia tidak peduli, yang penting cepat sampai kampus karena pagi ini adalah mata kuliah Ilmu Ukur Tanah, yang diajar oleh dosen yang paling diseganinya.
Husin buru-buru menyandang ransel hitamnya begitu turun dari mobil. Lagi-lagi ia berpapasan dengan mahasiswi kemarin. Bola matanya tak lepas memperhatikan Husin sambil tersenyum kecil.
“Hai….,”sapa gadis itu, kali ini ia lebih berhati-hati.
Husin balas menatap dengan pandangan mata sinis dan sejujurnya ia tidak suka berbasa-basi,”Gue buru-buru. Sorry yah, gue cabut dulu. Daaaah!” Husin menghindar dari tempat itu. Ia berbelok kanan menuju ruangan.
Mahasiswi tersebut hanya heran, ia memandang Husin penuh tanda tanya. Ia berjalan menuju ruang pimred majalah kampus, disana pimpinan redaksi sudah menunggunya.
“Hey, Fa, Mas udah nungguin kamu dari tadi,” sapa Navid, pimpinan redaksi majalah kampus yang udah standby di ruangannya. Ia tampak sibuk dengan coretan kertas.
“Syifa capek nih, abis terburu-buru banget kesini, sekarang jadwal kuliah Syifa lagi kosong. Mas ngapain mau ketemu Syifa? Kayaknya penting gitu? Hehe….,” cewek yang ternyata bernama Syifa tersebut tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
“Yah…, penting juga lah, Fa. Kita ini kan mau ngebahas jadwal pertemuan, Fa,” jelas Navid, pandangan matanya tak lepas menuju kearah Syifa. Navid sudah lama mengenal Syifa, tepatnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Syifa dan Navid satu sekolah. Navid terpaut dua tahun diatas Syifa, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Ibu Navid dan Ibu Syifa bersahabat. Navid sudah hafal betul dengan karakter Syifa hingga sekarang, tanpa disadarinya ia merasakan getaran aneh didalam hatinya setiap kali melihat Syifa.
“Ng…., tapi…,” Syifa memandang ke sekeliling yang hanya kosong,”nggak enak kalo berunding cuma berdua aja, kali, Mas. Gimana kalo kita ngajak yang lain?”
“Santai aja kali, Fa. Sini, duduk disini…,” Navid makin mendekatkan wajahnya dan memandang Syifa dengan tatapan yang ‘lain’ dari biasanya, kemudian ia mempersilakan Syifa untuk duduk tepat disampingnya, padahal jelas-jelas kursi yang ada cuma satu, dan disana juga nggak ada kursi lain.
Syifa spontan menatap Navid sinis,”Nggak deh, Syifa disini aja,”
Navid menangkap peristiwa aneh itu,”Kamu kenapa, Fa?” Navid mengangkat kedua alisnya.
Syifa menggeleng,”Gak ada, Syifa akan ngomong dengan Mas kalo yang laen udah pada datang. Syifa cabut dulu yah!” Syifa buru-buru keluar dari tempat itu. Ia curiga dengan tatapan mata Navid yang lain dari biasanya. Saat Syifa menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Navid tidak mengikutinya, tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.
“Eh, elo lagi!” gerutu cowok yang ternyata adalah Husin. Ia baru keluar dari kelasnya.
Spontan Syifa menatap kedepan, kini Husin hanya sekitar lima sentimeter darinya,”Ops, maaf,”Syifa menunduk, langkahnya menjauh sedikit.
“Eh!”Husin menatap tajam Syifa,” Lo tuh kenapa sih suka gangguin hidup gue? Tiap kali ketemu lo aja, sial mulu hidup gue!”
“Astaghfirullah…, maaf, gue gak bermaksud gangguin lo, tapi kali ini, please, tolongin gue, ada orang yang….”
Husin hanya tersenyum sinis dan memotong ucapan Syifa,”Gak usah ngeles, deh! Gue udah tau lo itu siapa!”
Dheg!
Jantung Syifa serasa mau copot, jangan-jangan cowok didepannya ini tahu bahwa dia adalah….
“Lo itu,”Husin mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Syifa,”gak lebih dari sekedar cewek kurang kerjaan yang suka gangguin gue. Ya, kan???!!!!” hardik Husin, kali ini lebih keras.
Syifa hanya bisa menunduk,”Kayaknya percuma kalo gue jelasin apa yang terjadi sebenarnya karena gue yakin lo nggak akan percaya. Maaf kalo gue bikin lo nggak nyaman. Mulai sekarang gue akan menjauh dari lo. Maaf sebelumnya, kalo selama ini gue hanya jadi parasit dalam hidup lo,” mata Syifa lalu berkaca-kaca.
Kata-kata Syifa barusan tidak membuat Husin bergeming,”Oh ya? Baguslah,”
Husin berlalu melangkah santai menuju kantin meninggalkan Syifa sendirian dan tidak peduli lagi dengan jadwal mata kuliahnya yang sedang berlangsung. Ia ingin melupakan semuanya, nyaris saja ia menghisap sebatang rokok jika Ibu penjaga kantin tidak mencegahnya,”maaf, Nak, disini areal bebas asap rokok,”
Husin seperti orang linglung. Ia hanya menyendok makanannya sedikit sedikit. Disaat sedang melamun itulah semua kenangan indah saat ia masih kecil terbayang. Saat orangtuanya masih bekerja di Jakarta, ia dan kedua orangtuanya rekreasi di Dufan. Husin kecil senang bermain komidi putar dan perang bintang. Husin paling suka dengan Tamiya dan Roller Blade, bila tidak dibelikan, ia akan menggulingkan badannya, menangis sampai akhirnya dibelikan. Tapi semua kenangan indah itu lenyap setelah akhirnya kedua orangtua Husin harus pindah tugas keluar kota, tepatnya di Semarang. Husin yang sedari dulu ngotot ingin masuk UI memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta. Kini ia tinggal bersama Pak Tarmo dan Bi Ijah. Husin seringkali merasa kesepian, tapi ia menepis kesepiannya itu dengan berkumpul bersama gank-nya. Husin seperti orang yang putus asa, ia merasa lelah dalam menemukan sosok Aglaonema yang sudah setahun ini dicarinya. Nomor ponsel yang ia dapat ternyata fiktif, itu bukan Aglaonema yang sebenarnya, tapi hanya teman sejurusan namun berbeda lokal dengan Husin yang terobsesi padanya. Husin mengetahui dari caranya yang berusaha mencari-cari alasan agar mereka bertemu dan segudang perhatian aneh lainnya. Husin sendiri mendapatkan nomor ponsel tersebut darinya. Tetapi Husin tidak mencintai gadis yang terlalu terobsesi tersebut, karena itulah Husin berkata kasar seperti tadi pada Syifa, padahal Syifa tidak pernah seperti itu…

Sementara itu didalam toilet wanita, seorang mahasiswi menangis sesenggukan. Tanpa ia ketahui sebabnya tiba-tiba napasnya tersengal dan dada sebelah kirinya terasa sakit, namun ia mencoba menahannya. Setelah puas melampiaskan kesedihannya, Syifa menghapus airmatanya dan mencuci matanya yang sembab lalu keluar dengan mata yang masih memerah dan bengkak. Ia adalah Syifa, yang sedih diperlakukan seperti tadi oleh Husin.
“Lo itu, gak lebih dari sekedar cewek kurang kerjaan yang suka gangguin hidup gue. Ya, kan???!!!!”
Masih terngiang di telinganya kata-kata kasar Husin tadi. Sungguh, ia bukan tipe wanita yang seperti itu. Ia memang menaruh simpatik terhadap Husin, tapi selalu ia pendam. Ia bukan tipe wanita yang begitu mudahnya mengumbar kata-kata mesra, apalagi kepada cowok yang baru ia kenal. Bila Husin masuk kedalam kriterianya….
Ia akan berpikir-pikir dulu. Ia butuh waktu untuk menata hatinya. Ia tidak mudah mengatakan cinta, apalagi kepada seseorang yang ditemuinya baru pertama kali.
Syifa keluar, sesampainya diluar ia bertemu dengan Najla, sahabatnya.
“Syifa, kamu kemana aja atuh, Neng? Aku nyariin kamu dari tadi, loh,” ujarnya khawatir. Najla segera mengetahui ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu,”kamu habis nangis, ya? Kenapa, Fa? Cerita dong…,”
Syifa hanya menggeleng,”Kita masuk ruang pimred, yuk. Ada rapat,”
Najla hanya mengikuti permintaan Syifa. Ia mengerti bila Syifa mengalihkan pembicaraan, tandanya ia sedang tak mau diganggu. Syifa adalah tipe wanita yang tidak mudah mengungkapkan perasaannya kepada siapapun meskipun kepada sahabatnya sendiri. Ia biasa mengungkapkan perasaannya melalui tulisan yang diposting di blog pribadinya.
***

Dari kejauhan, Husin melihat sosok yang sudah tak asing lagi. Seseorang bertubuh tambun berjalan kearahnya sambil membawa ransel miliknya. Tetapi Husin tidak terlalu menanggapi.
“Sin! Lo harus liat mading!” ujar Jerry.
“Nggak! Gue lagi males! Gak penting!” tukas Husin, sebal karena privasinya diganggu. Entah darimana Jerry mendapat informasi bahwa ia sedang menyendiri di kantin.
“Tapi ini penting! Ini menyangkut hidup mati lo!” ujar Jerry, lagi-lagi lebay. Jerry menatap Husin dengan serius. Bila Jerry sudah begitu, tandanya memang ada sesuatu hal yang penting banget.
“Terus?”
“Terus terus, udah lo ikut gue aja!”
“Ada apaan sih?”
“Mending lo ikutan gue, sekarang!” Jerry menarik lengan Husin. Husin buru-buru mencegahnya,”Eitt, ntar, gue belum bayar!”
“Nanti aja. Bu, titip ya, ntar saya bayar!” Jerry menitipkan pesan ke Ibu penjaga kantin tersebut.
“Mau kemana sih?” tanya Husin sambil pasrah saja tangannya ditarik-tarik Jerry. Jerry membawanya hingga ke dekat mading.
“Lo baca tuh!”
BEDAH BUKU
“GORESAN CINTA”

Karya : Aglaonema Chrisanty
Hari : Sabtu, 25 Oktober 2011
Pukul : 09.00 WIB
Tempat : Balai Mahasiswa UI Salemba


Husin hendak berbalik arah ketika Jerry mencegatnya.
“Elo kenapa? 4 hari lagi loh, Sin! Biasanya paling semangat kalo gini-ginian?” tanya Jerry, heran.
Husin tidak menjawab. Ia hendak berbalik arah ketika Jerry mencegatnya lagi.
“Gue udah capek, Jer. Keliling-keliling muter-muter gak jelas cuma buat nyariin dia,” Husin menunjuk kearah mading itu,”tapi apa hasilnya? Nonsense, kan?”
Giliran Jerry yang menggaruki kepalanya, agak lama ia terdiam lalu berujar,”Jangan nyerah gitu, sob. Siapa tau aja si Aglaonema ini beneran cewek yang lagi deket ama lo. Yah, kali aja jodoh, iya kan?”
Husin merengut,”udah ah, gue capek! Ntar gue titip absen, yah! gue mau pulang dulu, capek!” Husin meninggalkan Jerry yang termenung sendirian.
“Eh, Sin! Tapi ini penting! Ini menyangkut hidup mati lo!” seru Jerry, sementara itu Husin sudah meninggalkannya menuju mobil yang diparkir di bagian belakang kampus.
Jerry berseru lagi,”ya udah, kalo lo gak mau! Dijamin nyesel!” teriak Jerry, yang lagi-lagi tidak dihiraukan Husin.
Husin memacu mobilnya dengan kecepatan 40 km/jam. Kecepatan yang sedang, namun hatinya lagi-lagi galau. Ia sudah lelah dengan pencarian selama setahun, tetapi orang yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Ia sendiri sempat berpikir apakah ia harus melupakan saja sosok Aglaonema itu? Atau apakah sebaiknya ia datang saja ke acara Sabtu besok?. Akhirnya ditengah kegalauan itu, Husin membelokkan stir mobilnya kesalah satu distro yang khusus menjual pakaian cowok. Ia harus memakai pakaian terbaik sebelum bertemu ‘dia’.

***

Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Husin memarkirkan mobilnya tepat di halaman Balai Mahasiswa. Hari ini Husin tampil beda, memakai kemeja biru dan celana panjang hitam, tak lupa pula menyemprotkan parfum bermerk dari Eropa. Ia lalu memasuki ruangan itu, tapi keburu dicegah panitia.
“Maaf, bisa tunjukkan tiket masuknya?”
Husin bengong. Ia yang tak biasa mengikuti acara seminar, talkshow, bedah buku dan hal-hal yang semacam itu, ia hanya menggaruki kepala.
“Lho? Emang ada tiketnya juga, ya?” tanya Husin pada salah seorang panitia.
“Iya, ini kan bayar,” ujar panitia tersebut. Husin hanya menepuk jidatnya.
“Maaf, Mbak, dia teman saya. Ini tiketnya,” Jerry tiba-tiba saja udah nongol tepat di belakang Husin.
Husin masih bengong. Jerry bertanya,”Apalagi? Udah, cepetan masuk!”
Ruangan Balai Mahasiswa itu sudah lumayan ramai. Masing-masing sudah menempati bangku yang disediakan. Karena waktu masih lima menit lagi, Jerry memasang handsfree, mendengarkan musik rock dari BlackBerry-nya. Jam sembilan tepat, acara dimulai dengan pembukaan dari moderator.
“Terima kasih kepada teman-teman yang bersedia datang memenuhi undangan acara bedah buku ini. Baiklah, sekarang mari kita sambut Aglaonema Chrisanty……”
Tepuk tangan mengiringi kedatangan si penulis yang ditunggu-tunggu. Husin memperhatika dengan seksama lalu memanggil Jerry,”Jer…., gue gak salah denger, kan?”
“Hm…, apa?” Jerry balik bertanya.
“Lo denger gue gak sih, Jer?”
Jerry yang sedang asyik mendengarkan musik lalu melepas handsfree,”lo bilang apa, Sin?”
Husin menepuk dahinya,”Nggak ada, anggap aja gue gak ada ngomong,”
Jerry manyun,”Ngambek nii yeee…,”
Husin menatap Jerry sinis,”Nggak kok. Gue cuma mau mastiin kalo gue gak salah denger,”
Jerry mengangkat sebelah alisnya,”Emangnya ada a….,” perkataan Jerry terputus ketika ia melihat sosok yang pernah dilihatnya naik ke podium. Sosok itu memberi salam dengan menelungkupkan tangan di dada dan tersenyum kepada penonton. Husinpun ikut terpana.
Ternyata dia, seseorang yang selalu ada dalam do’a Husin, seseorang yang tanpa disadari telah banyak membuatnya bersemangat menjalani hidup ini. Dialah Aglaonema Chrisanty yang selama ini ia cari. Tetapi Husin juga terkejut, karena Aglaonema adalah cewek yang sudah dua kali ditabraknya di kampus, yang ia caci maki setiap kali bertemu.
Aglaonema duduk di kursinya, sesaat kemudian ia berujar,”Mungkin tidak banyak yang mengenal seorang Aglaonema Chrisanty, karena itu hanyalah nama pena saya. Apakah ada yang tahu nama asli saya?”
Panitia dan moderator hanya tersenyum simpul. Seseorang yang duduk di deretan bangku paling belakang berdiri dan berujar,”Assyifa Chairina. Mahasiswi Fakultas Teknik Arsitektur semester 3,” jelasnya. Ya iyalah, wong itu teman sekelasnya.
“Benar sekali. Nama panggilan saya Syifa, yang menurut kedua orangtua saya artinya adalah Penyembuh. Saya berharap sekali dapat menjadi obat penyembuh luka batin teman-teman semua,”ungkapnya singkat, namun penuh makna. Ia lalu menjelaskan isi buku yang ditulisnya hanya dalam waktu sebulan.
“Didalam buku ini saya melukiskan semua pendapat saya tentang cinta. Cinta itu tidak hanya kepada pujaan hati, tetapi juga untuk Tuhan, orangtua, keluarga, dan teman-teman,”
“Ok, Syifa, menurut kamu, siapa yang paling menginspirasi dalam menulis buku ini?” tanya moderator.
Syifa menjawab dengan tegas,”Seseorang yang telah menginspirasi saya adalah Ibunda saya. Beliau telah mengajarkan tentang makna hidup ini, mendukung pendidikan saya dan mengingatkan jika saya lalai,”Syifa terdiam sejenak, lalu melanjutkan,”saya juga terinspirasi dari teman-teman yang selalu bercerita tentang cinta, dan melalui buku inilah saya menuliskan pendapat saya tentang cinta,”
Lumayan banyak penonton yang berdecak kagum atas jawaban dari gadis berjilbab pink tersebut. Detik-detik menuju jam setengah sepuluh, penonton yang datang semakin ramai. Beberapa orang terpaksa mengambil duduk satu kursi berdua. Setelah sekitar satu jam sesi pembukaan oleh Syifa, kini dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab.
“Ok, sebelum kita break, kita buka sesi tanya-jawab. Ada yang ingin bertanya?” tanya moderator. Ia lalu mempersilakan seorang mahasiswa yang duduk di baris tengah untuk bertanya.
Setelah mahasiswa tersebut bertanya dan Syifa menjawabnya, kini Husin merasakan ada dorongan dari lubuk hatinya. Seolah ada yang berkata,”Tanya, Sin! Tanya!”
Akhirnya, meskipun berat hati ia bertanya juga,“Syifa, bagaimana pendapatmu tentang cinta sejati dan apakah kamu sendiri sudah menemukan cinta sejati tersebut?” tanyanya memberanikan diri meskipun dalam hatinya ada rasa gengsi.
Syifa agak terkejut mengetahui seseorang yang menanyainya adalah ‘dia’ yang melukai hatinya kemarin. Tapi Syifa berusaha tenang dan tidak memperlihatkan gejolak dihatinya,”Menurut saya, cinta sejati bukanlah milik mereka yang hanya ingin status dan bermain-main dalam cinta. Cinta sejati didapatkan dari mereka yang mampu menahan perasaannya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran serta mampu menjaga cintanya hingga waktunya tiba,”
Tepuk tangan bergemuruh dari ruangan itu. Syifa tersenyum melanjutkan,”lalu mengenai apakah saya sudah menemukan cinta sejati atau belum, jawabannya adalah bila saatnya tepat, cinta sejati itu akan datang. Tentunya dengan niat, usaha dan doa,”
Jerry mengacungkan tangan. Moderator mempersilakan.
“Lalu bagaimana usaha Anda dalam mendapatkan cinta sejati tersebut?”
“Dengan melakukan ta’aruf yang salah satunya adalah menulis Goresan Cinta,” ucapnya yang disambut tawa cekikikan penonton.
“Siapa tahu ada yang berminat dengan tulisan saya, kemudian berproses hingga ke kepribadian saya,” lanjutnya lagi, kali ini ia menjawab dengan agak rileks dan sambil tersenyum.
Jantung Husin berdegup kencang. Ia merasa tersindir, malu, sekaligus haru. Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini. Ia hanya ingat satu hal yang dikatakan Syifa barusan, yaitu tentang arti cinta sejati. Apakah selama ini ia konsisten menjaga hatinya? Ia tidak tahu. Kalau boleh jujur, ia malu mengungkapkan perasaannya. Masih pantaskah seseorang yang sudah meledek orang lain habis-habisan berbalik arah menjadi mengagumi? Masih pantaskah ia berterus terang mengenai perasaannya? Atau sebaiknya ia pendam saja rasa ini? Ia masih bingung, dan ditengah kebingungan itu ia menikmati acara bedah buku tersebut dengan tatapan mata kosong, hingga tiba waktunya break sejenak untuk menikmati kue-kue kecil.
“Sin! Dari tadi gue liat lo bengang-bengong kayak ikan pari aje, kenape? Kan udeh ketemu ama si pujaan hati? Hahay…,” ledek Jerry dengan mulut penuh berisi pastel, logat Betawi-nya muncul.
“Hah? Apaan sih?” tanya Husin lagi. Jerry menelan ludah,”Yeeeey…., gue kirain tadi lo denger,” katanya,”lo kenapa bengong? Harusnya kan seneng?”
Husin menjawab dengan pikiran yang masih mumet,”Gue malu, Jer….,”
“Malu kenapa? Elo kan pake baju?” tanya Jerry, bingung. Ia menggaruki kepalanya lagi.
“Bukan itu…,” ujar Husin, kali ini dengan suara yang lebih lembut daripada biasanya,”Gue ngerasa kalo gue nggak pantes buat Syifa…., gue ini nggak ada apa-apanya dibanding dia,” lirih Husin.
“Jangan gitu, bro. Jadi orang harus optimis! Keep sapirit, eh, spirit!” Jerry menepuk pundak Husin tiga kali.
“Tapi gue begini, dia begitu. Ya nggak pantas lah, Jer…,”
“Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali…,” Jerry mendendangkan lagu OST Doraemon dengan gaya yang juga mirip Doraemon.
“Jerry…., jangan pancing emosi gue deh….,”
Jerry bergidik setengah cemas,”Hehe…, santai aja kali, Sin! Jadi apa yang bisa gue bantu nih, Sin? Kayaknya lo lagi serius banget, nih…..,”
Husin berpikir sejenak. Sesaat kemudian ia berujar,”Lo bantuin gue jadi cowok yang rada dewasa gitu, yah….,”
Jerry mengernyit. How come? Tapi ia berusaha menyenangkan hati sahabatnya,”Jangan khawatir, bro, serahin aja ama gue dan Aldo yang bakalan bantuin lo,” ucapnya sambil tersenyum.
Husin menatapnya,”Makasih, Jer…,”
“Sama-sama, sobat….,”
Mereka melanjutkan mengikuti acara tersebut hingga berakhir pukul 12 tepat. Di penghujung acara, ada doorprize. Pemenangnya akan mendapatkan voucher kartu perdana ponsel dan buku ‘Goresan Cinta’ plus tanda tangan Syifa.
“Dan pemenang doorprize kali ini adalah….,” suara moderator sengaja dibuat penasaran. Penonton menanti dengan harap-harap cemas, berharap mereka yang mendapatkan doorprize itu.
“Abdullah Husin!”
Husin kaget setengah terkejut(sama aja!). Penonton bertepuk tangan meriah. Iapun maju ke podium dan mendapatkan kartu perdana serta buku terbaru yang sudah ditandatangani Syifa. Husin grogi ketika berhadapan dengan Syifa yang agak menunduk. Husin tak tahu apa yang ada di pikiran Syifa saat itu, yang jelas ia merasa senang sekali.
Seorang kameramen memotret tepat saat Husin berdiri disamping Syifa, spontan saja ia kikuk. Ia hanya tersenyum kaku sambil memegangi bukunya yang diperlihatkan kepada penonton.
Husin kemudian turun podium, dibawah Jerry menyambutnya dengan tepuk tangan meriah. Husin menoleh ke belakang lagi, tampak Syifa yang dikerumuni oleh teman-teman yang ingin meminta tanda tangannya. Husin tidak menghiraukan kehebohan mereka yang meminta tanda tangan itu, karena ia sendiri sudah memiliki bukunya secara gratis, plus tanda tangan pula.
“Apaan sih, Jer? Norak, tau!” tukas Husin.
“Eit…., katanya mau berubah…?” sindir Jerry sambil tersenyum nyengir.
“Oh, iya….,” Husin menggaruki kepalanya. Dalam hati ia baru mengerti betapa sulitnya menjadi dewasa, menjadi seseorang yang berjiwa besar dan bertanggung jawab. Oleh karena itulah Husin kagum pada Abi-nya, karena beliau adalah sosok yang berkharisma dan mengayomi keluarga.
“Abi…., Husin kangen….., sedang apa Abi sekarang?” lirihnya dalam hati, ia teringat Abinya.
“Sin, capcus yuk!” ajak Jerry, acara telah usai.
“Hah? Apaan?” tanya Husin yang kaget setelah ditanyai mendadak oleh Jerry. Jerry menghela napas,”Lo itu kenapa sih, dari tadi gue perhatiin ngelamun melulu? Kayak Kakek-kakek kehilangan tongkat aja,”
Husin mengeles,”Nggak kenapa-napa, kok,”ujarnya sambil terus memperhatikan Syifa dari tempatnya berada sekarang. Syifa sedang bersalaman dengan moderator dan melayani mahasiswi yang ingin berfoto bersamanya.
“Hmmm…, wah wah wah…, dia itu lagi sibuk. Liat aja tuh,” ujar Jerry menebak pikiran Husin,”udah ah, pulang yuk!”
Sebetulnya Husin enggan beranjak dari tempat itu, tetapi melihat ramainya mahasiswa, Husin menjadi mengurungkan niatnya menemui Syifa. Akhirnya mereka meninggalkan ruangan tersebut.
“Kenapa sih dari tadi lo kayak orang linglung gitu, Sin? Jujur aja deh, ama gue. Lo kenapa, Sin? Jangan lo bohongin perasaan hati lo, Sin…, hehehe. Sok dramatis banget, yah, gue?” tanya Jerry ketika sampai diluar.
Husin berhenti sejenak, ia menatap Jerry yang asyik mengunyah permen,”Entah kenapa tiba-tiba gue kangen bokap…,”
“Telpon aja,”sahut Jerry, pendek.
“Tapi nggak segampang itu, Jer, bokap gue selalu sibuk,”
Jerry mengangkat sebelah alisnya,”ya udah kalo gitu ntar malam aja neleponnya. Yah, kali aja ntar malam bokap lo udah selesai kerja,” jawab Jerry, lalu ia melenggang menuju parkiran motor. Husin manyun, sesungguhnya ia berharap Jerry memberinya suatu nasihat atau saran yang lebih dari itu. Tapi nyatanya?. Tetapi Husin berpikiran positif, terkadang Jerry suka kumat sifat kekanak-kanakannya. Husin memasuki mobilnya. Sebelum menstarter mobil, ia meraih ponsel Samsung Galaxy S III miliknya. Husin menekan nomor dan mencoba menghubungi Abi.
“Yahhh…., gak aktif lagi. Abi kenapa sih sekarang gak kayak dulu lagi? Akhir-akhir ini selalu sibuk? Gak pernah ada waktu lagi untuk nelepon Husin….,”gumamnya dalam hati. Ia sebal, marah dan kecewa. Sudah tiga bulan ini, tepat sejak Husin baru saja memasuki kuliah pertama di semester tiga, Abi sudah jarang menghubunginya. Ibunya pun beberapa hari terakhir ini setiap kali dihubungi pasti tidak dijawab, kalaupun iya, ada saja alasan sedang rapat, sedang menghadapi klien, dan berbagai macam alasan lainnya yang membuat Husin bingung sekaligus curiga. Kedua orangtuanya kini berubah dan tidak lagi seperti dulu, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saja sudah tidak pernah lagi.
Hari Senin besok mid semester akan dimulai. Husin ingin memberitahu kedua orangtuanya, ia ingin mendapatkan dukungan, atau sekedar mendengar suara orangtuanya saja. Ia mencoba menghubungi ibunda. Husin kembali termenung, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Nomor ponsel ibundanya juga tidak aktif. Husin merengut, matanya melototi ponselnya. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan super, berencana akan ke sebuah tempat untuk menenangkan hatinya yang sedang galau.


Baca juga Bab 5
Baca juga Bab 3


0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites