Usai jam kuliah siang ini, Syifa sibuk membaca majalah kampusnya. Sesaat kemudian Syifa menjadi rindu Jakarta, terutama kampusnya dulu. Ia ingin kembali aktif menulis, walaupun singkat, namun bermakna dan memiliki kesan tersendiri bagi orang yang membacanya. Syifa tidak berharap banyak melalui tulisannya yang ia buat. Ia tidak memimpikan menjadi bintang yang bersinar karena tulisannya, tetapi ia hanya ingin menjadi bintang kecil bagi keluarga dan sahabat-sahabat yang mengenalnya. Syifa asyik membaca majalah itu hingga ia tak memperhatikan bahwa Donna sudah berdiri disampingnya.
Tampaknya Donna mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan Syifa,”Do you love writing?”
Syifa menoleh kearah Donna,”Yeah, but I’m not sure…,”
Donna lalu menyarankan agar Syifa mengikuti organisasi majalah kampus. Kebetulan Donna memiliki sahabat yang notabene adalah bendahara umum majalah tersebut. Donna sendiri sudah aktif sebagai anggota semacam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, jika di Indonesia. Bisa dibayangkan betapa sibuknya Donna sehingga iapun harus pandai-pandai membagi waktu. Oleh karena itu ia tidak sempat lagi bila harus ditambah dengan organisasi lain. Donna kemudian berinisiatif menghubungi sahabatnya itu. Beberapa menit kemudian, Donna menutup ponselnya. Ia tersenyum dan berkata,”Congrat’s, Fa. A new author is urgently needed,”
Mata Syifa berbinar, tinggal selangkah lagi impiannya akan terwujud. Syifa akan kembali menulis untuk menyalurkan hobinya. Sebelum Syifa mendaftarkan diri, Donna mengajaknya makan di kantin.
Setibanya disana, Syifa terlihat ragu ketika ingin menyampaikan sesuatu pada Donna, namun Donna mengatakan bahwa ia tidak keberatan mendengarkan keluh kesah Syifa.
“Husin…, he didn’t respond me,” ungkap Syifa dengan wajah sedih. Donna mencoba menghiburnya. Ia mengatakan mungkin saja Husin sedang sibuk sehingga belum sempat mengecek email dan situs jejaring sosialnya. Syifa membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya didalam hati.
Setelah selesai makan, mereka lalu menuju ruang redaksi majalah. Disana, Katy yang merupakan bendahara umum sekaligus merupakan sahabat Donna sudah menunggu, ia menyambut Syifa dan Donna dengan hangat.
Donna lalu memperkenalkan Syifa kepada Katy. Syifa dan Katy berjabat tangan.
“It’s very nice to meet you, Syifa. Please send us your resumee as soon as possible,” ujar Katy menyambut positif permintaan Syifa. Mata Syifa langsung berbinar seketika begitu mengetahui bahwa ia akan aktif menulis lagi, walaupun itu hanya sebuah kata yang ia harapkan menjadi bermakna. Syifa berterima kasih. Besok ia berencana akan mengirimkan CV dan biodatanya. Syifa dan Donna kemudian mohon pamit. Mereka berdua keluar kampus. Sekarang merupakan peralihan dari musim semi ke musim panas dan kelihatannya cuaca Melbourne tidak terlalu mengkhawatirkan.
Syifa mendengar ponselnya berdering, di layar tertera nama Navid. Syifapun menjawab,”Halo, assalamu’alaikum…,”
“Wa’alaikumsalam, apa kabar, Fa?”
“Alhamdulillah baik, Mas…,”
“Lagi sibuk ya, Fa?”
“Nggak kok, Syifa mau jalan bareng temen, nih. Jam kuliah udah selesai,”
“Oh…, ya udah ntar Mas telepon lagi, ya…,”
Sesaat kemudian Syifa menutup pembicaraan, ia melirik Donna yang tampaknya sudah bosan menunggui obrolan Syifa dan Navid yang tiada habisnya. Mereka pun lalu menuju Bourke Street Walk untuk berbelanja sekaligus menyegarkan pikiran dengan mendengarkan lagu-lagu dari pengamen jalanan. Namun jangan salah, pengamen disini justru ingin menawarkan CD album mereka.
***
Hari ini adalah hari tersibuk bagi Husin. Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, ia kembali ke rumah. Husin meraih iPad kemudian mengecek akun jejaring sosialnya.
Husin terkejut sekaligus senang begitu mengetahui ada video yang dikirimkan padanya yang ternyata dari Syifa. Saat itu juga Husin mengklik tombol play pada video itu.
“Assalamu’alaikum, Husin. Selamat ulang tahun, ya. Aku berharap semoga kamu makin sukses di segala hal, bijak dalam menentukan keputusan dan semakin sholeh…,”
Pandangan mata Husin terhenti pada satu video di hadapannya. Berulangkali ia memutar video tersebut. Ia memperhatikan wajah Syifa yang memakai baju berwarna biru cerah, baju yang sama dengan dikenakannya saat mereka bertemu untuk terakhir kalinya didepan tata usaha saat itu. Perasaannya campur aduk, ia merasa senang namun sekaligus juga kesal karena di pikirannya, Syifa hanya mempermainkan dirinya dengan menerima pinangan Navid. Husin merasa dirinya bukanlah siapa-siapa. Rasanya tidak mungkin Syifa menyukai dirinya mengingat mereka belum lama berkenalan, sementara Navid? Tentu saja Syifa sudah lama dekat dengannya, apalagi mereka satu tim redaksi majalah kampus. Husin juga pernah mendengar dari Aldo bahwa Navid adalah anak konglomerat, ayahnya adalah pemilik bank swasta terbesar di Indonesia, sementara ibunya adalah pengusaha yang dikenal oleh kalangan atas. Sementara dirinya? Husin memilih untuk tidak subjektif dalam penilaian tersebut, meskipun didalam hati yang sebenarnya ia ragu apakah Syifa benar-benar telah menerima Navid atau Navid hanya berbohong saja? Untuk memastikan keraguannya, Husin lalu mengklik tautan menuju profil facebook Syifa. Alangkah terkejutnya Husin begitu mengetahui pada album foto, terdapat foto Syifa bersama salah seorang yang dikenalinya sebagai Navid. Syifa berada ditengah-tengah diantara Navid dan seorang mahasiswi yang dikenali Husin saat menanyakan keberadaan Syifa di kampus beberapa waktu lalu. Tak hanya itu, Husin juga melihat keterangan ‘Kenangan Bareng Tim Redaksi’ di bawah foto. Tak ada yang istimewa dari foto itu, tetapi ibarat baja yang mengalami perubahan struktur ketika dipanaskan, Husin merasakan rambatan panas yang berkonveksi di hatinya saat melihat di foto itu Syifa berdiri tepat disamping Navid.
“Ternyata benar dugaanku, Syifa hanya mempermainkan perasaanku saja…,”gumamnya dalam hati. Akhirnya dengan perasaan sedih Husin keluar dari situs jejaring sosialnya. Sesaat kemudian ponselnya berdering. Husin meliriknya, ternyata dari Aldo.
“Halo, assalamu’alaikum…?”sapa Husin.
“Wa’alaikumsalam. Lo kemana aja sih, Sin? Gue cariin dari tadi di kampus…, lagi dimana, Sin?” cerocos Aldo.
“Ya gue lagi galau, nih, cuma di rumah doang. Biasa…,” jawab Husin, sesaat kemudian ia ingat suasana hatinya yang kurang kondusif,”Do, kalo ada waktu, tolong ke rumah gue yah?”
“Ada apa, Sin?” tanya Aldo heran.
“Ada yang mau gue tanyakan ke lo. Ini tentang Syifa,”
Dheg!!
Aldo terperanjat. Ia takut Husin salah paham. Ia benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadap Syifa dan ia juga tidak tahu apa-apa tentangnya. Aldo berpikir sejenak. Disisi lain ia takut terjadi hal buruk yang menimpanya, namun disisi lain ia merasa tidak enak hati bila harus menolak permintaan sahabatnya.
“Oh…, ok, ntar sore gue kesana, ya…,” ujar Aldo menyanggupi, ia lalu menutup ponselnya. Aldo berpikir lagi, namun ia tak dapat menebak apa yang hendak ditanyakan Husin padanya. Ia takut sahabatnya itu salah sangka, padahal ia sendiri tidak pernah sekedar bertegur sapa dengan Syifa, apalagi mengobrol lebih jauh. Aldo memilih untuk mengalihkan perhatian dengan cara membereskan kamarnya yang berantakan.
***
Aldo berangkat ke rumah Husin setelah menunaikan sholat Ashar. Jam menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit ketika ia sampai disana. Husin mengajaknya masuk kedalam rumah. Beberapa saat kemudian, segelas minuman telah terhidang untuknya.
“Emangnya lo mau cerita apa?” tanya Aldo sambil menatap Husin.
“Lo kenal sama Navid…?” Husin balik bertanya sambil memelankan volume suaranya saat menyebut nama Navid.
Aldo mengangguk,”Ya jelas dong, dia kan pimpinan redaksi majalah kampus. Bisa rusak reputasi gue kalo dengan dia aja gue nggak kenal. Hehehehe…,” Aldo mencoba mencairkan suasana agar terlihat santai dan tidak terlalu tegang.
“Terus lo yakin kalo dia udah tunangan???” tanya Husin lagi, kali ini ia memasang wajah serius. Aldo gelagapan tetapi ia pandai menyembunyikan rasa gugupnya.
“Ng…., kalo yang itu gue nggak yakin sih, Sin. Tapi setahu gue Navid suka merayu cewek. Tapi gue bener-bener nggak yakin kalo dia udah tunangan…..,”
“Kalo ternyata bener dia udah tunangan dan emang bener dengan Syifa? Terus gue…?” Husin menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan mengiba. Ia masih harus belajar arti keikhlasan dan kesabaran.
“Yah…, tapi terkadang kan dia nggak bisa dipercaya, Sin…,” lanjut Aldo, pelan. Suasana berubah menjadi hening. Husin merenung, masih pantaskah ia mengharapkan Syifa?
“Aha!!!” seru Aldo, mengikuti iklan salah satu modem yang ada di televisi,”Gue ada ide, Sin!”
Husin kembali menatap Aldo dengan penuh tanda tanya,”Apa?”
“Kenapa lo nggak hubungi aja ponselnya? Terus bilang aja kalo lo suka sama dia…, gampang, kan?” tawar Aldo sambil senyam-senyum tak jelas. Ia merasa idenya kali ini cemerlang.
“Gue segan, Do. Gue ini bukan siapa-siapa…,” lirih Husin yang kemudian langsung dibantah Aldo,”Bukan siapa-siapa gimana? Hello…., lo itu juga anak konglomerat, Sin. Cuma terpisah jarak Jakarta-Semarang doang, lo punya segalanya, jadi apa yang membuat lo minder?”
Husin hanya tersenyum simpul,”Maksud gue, gue ini bukan siapa-siapa dari segi emosi gue yang masih labil…,”jelas Husin,”ilmu agama gue pun masih jauuuh banget dibawah standar,”
Aldo berpikir sejenak mengenai solusi apa yang paling tepat untuk masalah ini. Kemudian ia memberitahu Husin,”Gimana kalo lo belajar mengendalikan emosi lewat bahasa isyarat kita-kita aja…?”
“Maksudnya?” tanya Husin.
“Maksud gue, kalo lo sedang emosi, gue dan Jerry akan memberitahu lewat bahasa isyarat supaya lo lebih bisa meredam amarah lo…,”
“Widih…, bahasa apaan tuh? Bahasa Tarzan?” tanya Husin, sepertiga meledek (bosen pakai setengah mulu!).
Aldo manyun,”Bukan, bahasa monyet,”
Husin menahan tawanya,”Terus kalo belajar agama? Lo kan tau gue nggak alim-alim banget, Do…,” lirih Husin yang diikuti anggukan Aldo.
“Ya sama dong, gue juga nggak alim-alim banget. Apalagi si Jerry, bisa berabe kalo dia yang ngajar,” Aldo menahan tawanya. Ia berpikir sejenak,”Gimana kalo kita minta tolong Najla aja? Dia punya kakak laki-laki yang kayaknya sih alim gitu. Gue kagum dengan penjelasannya saat menjadi pemakalah dalam seminar Islam beberapa waktu lalu, yang nggak ikut cuma lo doang, Sin…, ”
“Haha.., kalo dulu gue mana doyan dengan hal-hal begituan, Do. By the way, lo tadi menyebut nama Najla? Siapa dia?” tanya Husin sambil mengernyit.
Aldo tertawa,”Yah…, si Bos kok kuper sih? Najla itu sahabatnya Syifa,” jelasnya.
“Oooo…,” Husin mengangguk paham,”Kakaknya Najla itu kuliah dimana? Terus kapan kita bisa mulai?”
Aldo menepuk jidatnya,“Hadeh. Dia anak UI juga, tapi dari Fakultas Ilmu Budaya semester 7. Yah kalo bisa sih secepat mungkin. Lebih cepat lebih baik,”
“Ok. Kalo gitu besok kita temui Najla. Mudah-mudahan dia bisa membantu, ya, Do,” harap Husin.
“Ya. Tapi ntar gue juga bakalan dapat komisi kan, Sin?”
“Hah? Komisi Pemberantasan? Tapi gue kan nggak korupsi, Do?” Husin balik bertanya dan memasang tampang lugu.
“Terserah lo aja deh…,” Aldo memilih menyerah daripada meladeni debat Husin.
Husin menyengir,“Haha…, iya, khusus untuk urusan itu, bisa diatur kok, Do,”
“Azeeeehhhh….,” Aldo tersenyum, lalu membayangkan ribuan dolar mengalir ke rekeningnya. Sekedar info, selain berusaha untuk lulus casting, Aldo juga berusaha dengan berbisnis pulsa kecil-kecilan. Dengan modal tampang yang lumayan cakep, ia berhasil menarik perhatian pelanggan setianya yang mayoritas adalah cewek, untuk mengisi pulsa.
“Oh ya, Do, lo tau dimana rumah Syifa?”
Giliran Aldo yang bengong,”Nggak, Sin. Kan udah gue bilang kalo gue nggak begitu deket dengan anak arsitek…, lagian kan dia udah pindah, Sin…?”
“Ya sih, gue cuma penasaran aja dengan rumahnya yang lama. Kenapa dia bisa memotret rumah gue, emangnya dia kenal sama gue?”
“Nggak tau juga, Sin. Gue nggak punya temen deket anak arsitek…,”
Husin yang heran lalu bertanya,”Terus darimana lo kenal ama Najla? Dia kan anak arsitek juga?”
“Ooh, itu…, rumahnya kan berdeketan dengan rumah gue, Sin. Kami satu kompleks perumahan…,”
“Terus lo pernah tanya ke Najla tentang alamat Syifa?”
Aldo menggeleng pelan.
“Hadeh…,” Husin menepuk jidatnya, jarak antara rumahnya dan rumah Aldo cukup jauh. Tak mungkin sore ini ia mengunjungi rumah Najla, apalagi bila hanya untuk menanyakan alamat rumah Syifa.
“Kenapa, Bos?”
“Kalo lo yang supel aja nggak tahu alamatnya, apalagi gue yang kuper ini, Do…,”
Aldo menghibur,”Ya udah gue coba hubungi Najla dulu ya,”ia berinisiatif menghubungi ponsel Najla. Sesaat kemudian Aldo menutup kembali ponselnya.
“Kenapa?” tanya Husin.
“Gak diangkat, kayaknya dia lagi sibuk,”
Husin pasrah. Sesaat kemudian, ia memiliki ide yang menurutnya bagus untuk dicoba,”Do, lo harus ikut gue,” ujarnya sambil meraih kunci mobil yang terletak diatas meja.
“Loh? Mau kemana, Sin?”
“Udah, ikut aja,” jawab Husin, ia menuju garasi sambil menekan tombol buka kunci di remote mobilnya. Sesaat kemudian mobil meluncur di jalanan. Husin membelokkan strir kearah kiri, disana terdapat kawasan perumahan bergaya modern minimalis. Husin memelankan kecepatannya sambil melirik kearah kiri dan kanan, siapa tahu ia menemukan rumah Syifa saat masih tinggal disini, meskipun Husin tidak yakin ia akan menemukan rumah tersebut.
Saat sedang asyik menyetir tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil, kira-kira berusia 8 tahun dan berambut panjang sedang berdiri termangu didepan gerbang sebuah rumah yang terletak di ujung jalan sebelah kanan. Sambil memeluk boneka kesayangannya, gadis kecil itu menatap rumah yang ada dihadapannya. Husin yang penasaran kemudian memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah tersebut. Ia lalu turun dari mobil. Aldo heran melihatnya, dalam hati ia bergumam,”Ngapain sih, si Bos…?” . Tetapi ia ikut turun dari mobil untuk mengatasi rasa penasarannya.
Husin menghampiri gadis kecil itu,”Cari siapa, Dek…?”
Seketika ia menoleh kearah Husin dengan pandangan mata sayu, dengan suara yang sangat pelan ia menjawab,”Cari Kak Syifa, Bang. Kok rumahnya udah dijual…?” tunjuknya kearah rumah yang ternyata sudah ditempeli dengan tulisan ‘Rumah Ini Dijual’.
Husin nyaris berbunga-bunga ketika gadis kecil itu menyebut nama Syifa. Untuk meyakinkan, Husin bertanya,”Kak Syifa itu orangnya kayak apa, Dek?”
“Orangnya baik banget, tingginya segini, terus pake jilbab,” ia menjelaskan sambil mengangkat tangannya, mendefinisikan Syifa.
Husin semakin yakin bahwa Syifa yang dicarinyalah yang dimaksud oleh gadis kecil itu,”Kak Syifa udah pindah, Dek,” Husin berlutut hingga tingginya hampir menyamai gadis kecil itu,”Adek dengan siapa kesini? Oh iya, nama adek siapa?”
“Jalan kaki, Bang. Nama saya Lily,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
Jalan kaki? Apa rumahnya dekat dari sini? Tapi rasanya tidak mungkin. Husin melihat gadis kecil itu kelelahan seperti usai berjalan jauh.
“Kalo boleh tau, adek kok bisa kenal dengan Kak Syifa?” tanya Husin.
“Iya, waktu itu Kak Syifa kayak lagi pulang kuliah, terus tiba-tiba datang ke rumah Lily. Katanya sih ada tugas, sejak itu Kak Syifa sering ngajak Lily main ke rumahnya…,”
“Oooo…,” Husin mengangguk paham. Kemudian ia mengajak Lily pulang, “Kita pulang aja yuk? Abang boleh main ke rumah Lily, nggak?” tanya Husin, yang membuat Aldo takjub. Secepat inikah Husin berubah? Setahunya, Husin paling tidak suka dengan anak kecil.
“Abang siapa…?” tanya Lily, sepertinya ia waspada terhadap orang yang belum dikenalinya.
“Abang temennya Kak Syifa. Ikut yuk,”
Awalnya Lily ragu, tetapi setelah dibujuk akhirnya dengan polos Lily mengikuti Husin masuk kedalam mobil. Husin membukakan pintu belakang. Lily menaikinya. Didalam mobil, Lily bercerita banyak hal tentang Syifa,”Abang yang sering ke rumahnya Kak Syifa itu, ya?”
Husin gelagapan,”Hah?” ia berusaha untuk tetap tenang mengemudikan mobilnya,”Hehehe…, ng…, ya…, kenapa, Ly?”
“Nggak ada, Lily cuma nanya aja,” jawab Lily sambil memainkan ujung rambutnya.
Aldo baru saja membuka mulut untuk menginterupsi, tetapi keburu dipotong oleh Husin,”Ya…, lumayan sering deh…, hehehe…,”
“Oh, kalo begitu nama abang pasti Navid Athaila, kan?” tebaknya dengan lugu, iapun memamerkan senyumnya yang semakin membuat Husin kikuk diluar, namun emosional didalam hati.
“Bb…, bukan…., nama abang Husin…,”
Lily membentuk bibirnya menjadi seperti huruf ‘O’,”Tapi kok Kak Syifa nggak pernah cerita tentang abang…? Abang siapanya sih?” tanya Lily dengan nada yang mulai curiga. Seketika ia teringat pesan ibunya, jangan mudah mempercayai seseorang yang baru dikenal. Seketika wajah gadis cilik itu berubah menjadi ketakutan. Husin yang memperhatikan wajah Lily dari kaca spion depan berujar,”Abang temen Kak Syifa juga. Tenang aja, abang nggak bakalan macem-macem, kok, Dek,”
Sementara itu, Aldo hanya diam. Setiap kali Aldo membuka mulut, pasti langsung dipotong oleh Husin. Itulah hal yang membuat Aldo ‘gondok’.
Beberapa menit kemudian, Husin memberhentikan mobilnya karena Lily memintanya berhenti.
“Loh? Itu kan jalan layang, Ly? Rumah Lily dimana?” tanya Husin, heran. Ia tidak menemukan rumah apapun. Lily mengajak Husin dan Aldo turun dari mobil. Kemudian mereka menyeberangi jalan.
“Nah, ini rumah Lily. Ayo masuk, Bang,”
Husin dan Aldo mengikuti Lily yang memasuki lorong dibawah jalan layang tersebut. Setelah berjalan sedikit, akhirnya mereka tiba di rumah Lily. Husin memandang ke sekelilingnya, ia tertegun melihat kondisi rumah-rumah kecil yang terbuat dari kardus bekas yang berdempetan. Disana-sini terlihat kondisi bangunan yang tidak terawat, bahkan ada pula yang melakukan segala aktivitas tepat dibawah lorong jalan layang itu.
Lily membuka pintu, hanya ada sebuah ruangan disana. Di ruangan itulah gadis kecil dan keluarganya beraktivitas. Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita sedang tertidur diatas kasur kecil.
“Ini Ibu Lily, sedang sakit…,” ujar Lily sambil tertunduk sedih. Husin menghampiri Lily,”udah dibawa berobat, Dek..?”
Lily menggeleng,”biasanya kalo Kak Syifa kesini, dia suka menghibur Lily. Udah gitu, Kak Syifa suka bawain buah…,”
Husin terdiam, didalam hati ia tidak habis berpikir mengenai hati Syifa yang entah terbuat dari apa. Syifa sama sekali tidak ada hubungan saudara dengan Lily, tetapi perhatiannya terhadap Lily begitu besar nyaris seperti adik kandungnya. Husin memilih untuk mendekati ibu Lily, lalu meletakkan tangannya keatas dahi ibu Lily yang terasa panas,”Udah berapa lama Ibu sakit, Dek? Panasnya tinggi, ibu adek harus dibawa ke dokter,”
Lily tertunduk. Untuk bisa makan pada hari ini saja ia sudah sangat bersyukur, namun bila harus mencari dana untuk ke dokter? Ia bingung harus mencari dimana dan minta bantuan kepada siapa.
Lily mulai sesenggukan,”Udah sejak kemarin Ibu sakit, Bang…,”
Husin tertegun. Ia dapat merasakan apa yang juga dirasakan Lily. Husin berpikir sejenak,”Ya udah kalo gitu, abang bantuin Lily cari obat, yah, Lily tunggu aja disini…,”
Lily mengangguk. Husin dan Aldo kemudian mohon pamit. Sesampainya di luar, sambil berjalan menuju seberang, Aldo menyikut Husin,”Sin, lo serius mau bantuin Lily?”
Husin mengangguk,”Iya, emang kenapa…?”
Aldo takjub dan nyaris tak percaya,”Gue gak mimpi, kan?”tanyanya sambil mencubit lengan Husin.
“Aduh!! Sakit!!!” teriak Husin, tetapi ia tidak membalas cubitan Aldo.
“Alhamdulillah….,” Aldo mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah. Husin malah bengong,”Emangnya kenapa, Do?”
“Hahaha…, ternyata cinta bisa merubah sifat dan prilaku seseorang. Dapat deh gue hipotesis pertama…,” Aldo menerawang keatas. Kemudian ia meralat,”eh, bukan, ini sih udah jadi landasan teori! Wkwkwkwk…,”
“Hmm…, iya deh, anak dosen yang mengampu mata kuliah Metode Penelitian…,” ujar Husin. Husin mengetahui ayah Aldo adalah seorang dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta.
“Teori kedua, ternyata cinta bisa membuat seseorang insomnia,” lanjut Aldo.
“Hah? Buktinya? “ tanya Husin, heran.
“Iya, buktinya lo sampe gak bisa tidur tadi malam. Iya kan…? Ngaku aja deh…,”
Husin terkejut. Ia memang tidak bisa tidur tadi malam dan sebagai pelampiasan ia browsing internet hingga dini hari. Husin menyengir,”Kok lo tau sih?”
“Yah, percaya atau nggak, sebenarnya gue ini indigo, loh, Sin. Sayangnya bakat ini nggak gue gunakan…, jadinya ya begini deh,”
Jelas saja Husin tidak percaya. Aldo hanya berkilah dan bersembunyi dibalik kata indigo tersebut karena ia berhasil menebak kegiatan Husin malam tadi. Ia yakin tadi malam Aldo juga membuka akun jejaring sosial sama seperti dirinya.
“Gue nggak percaya. Udah, kita beli obat dulu yuk!” ajak Husin.
“Eit, tunggu dulu, masih ada teori ketiga….,”
“Apaan tuh..?” tanya Husin sambil memasang tampang bĂȘte.
“Ternyata, cowok itu butuh perhatian yang lebih ketimbang cewek!” ujar Aldo sambil tertawa. Husin hanya manyun.
Mereka lalu menyeberangi jalan kembali ke mobil lalu singgah di apotek terdekat. Husin membeli Dumin dan antibiotik yang biasa dibelinya ketika sakit. Ia teringat pesan salah seorang kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter mengenai obat yang manjur untuk meredakan panas.
Setelah membeli obat tersebut, Husin kembali lagi ke rumah Lily. Ia mengetuk pintu, tampak Lily sudah menunggu dengan harap cemas. Husin menghampirinya, “Dek, ini obatnya, “
Lily tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Lalu ia menghampiri ibunya yang sedang duduk diatas kasur.
“Bu, ini temannya Kak Syifa. Namanya Bang Husin,” Lily memperkenalkan Husin kepada ibunya.
“Kalo abang nggak dikenalin, nih…?” tanya Aldo hampir ngambek.
Lily cengengesan,”O iya, abang ini namanya Aldo,”
Ibunya melihat Husin yang berdiri kaku didepan pintu.
“Subhanallah, kamu tampan sekali, Nak. Mari masuk,”ujar Ibu Lily ketika melihat Husin.
Husin tersipu malu ketika dipuji oleh ibu Lily. Sementara itu, Aldo berdehem. Mereka lalu memasuki rumah. Husin mendekati ibu Lily dan menyalami tangannya,”Ibu sudah makan?”
Ibu Lily menggeleng,”Belum, Nak….,”
“Kalo gitu, Ibu makan dulu, ya,” bujuk Husin, lalu ia meminta tolong kepada Lily untuk mengambilkan makanan. Dengan telaten, Husin menyuapi Ibu Lily. Ia menjadi teringat pada ibunya yang ia sendiri tidak tahu sedang apa sekarang.
“Oya, Bu, ada yang ingin Husin tanyakan…, boleh?” tanya Husin hati-hati.
“Boleh, tentang apa itu, Nak?”
“Kenapa Lily bisa kenal dengan Syifa?”
Ibu Lily berpikir sejenak,”Oh…, waktu itu Syifa kesini bersama temannya, namanya Najla, kalau Ibu tidak salah. Katanya sedang ada tugas kuliah. Dia bertanya-tanya tentang segala hal pada Ibu, lalu dia mengajak ngobrol Lily. Akhirnya mereka jadi akrab. Ibu sendiri heran, biasanya Lily paling susah percaya apalagi dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya. Tapi dengan Syifa, seperti sudah kenal lama aja, lebih seperti kakak adik…,”
Husin mendengarkan dengan baik tanpa ada sepatah katapun terlewatkan. Ia semakin mengerti dengan sifat Syifa. Ia memang sosok penyembuh luka bagi mereka yang membutuhkan.
“Oh, ya, Nak Husin kenal dengan Navid?”
Husin terperanjat. Ada apa ini? Mengapa Ibu Lily juga kenal dengan pimpinan redaksi yang sombong itu? Apa istimewanya dia sehingga Syifa pun tidak segan menceritakan dia pada orang lain?
Husin mengangguk pelan,”Ya, memangnya kenapa, Bu?”
“Syifa pernah cerita ia memiliki teman sejak kecil yang namanya Navid. Tetapi Syifa tidak pernah mengajaknya kesini. Ibu pikir tadi kamu adalah Navid, tapi ternyata bukan,”
Husin berusaha meredam emosinya. Ternyata Syifa lebih sering bercerita tentang Navid dibanding dirinya. Ternyata dugaannya benar, Syifa hanya menganggap dia sebagai teman, tidak lebih dari itu.
Setelah Ibu Lily selesai makan dan meminum obat, Husin dan Aldo kemudian mohon pamit. Mereka berjanji jika ada waktu luang akan kembali lagi kesini.
Diluar, Aldo mengingatkan Husin mengenai rencana mereka saat masih di rumah tadi,”Sin…., lo jadi minta bantuan kakaknya Najla?” tanya Aldo hati-hati.
Sambil berjalan menuju ke jalan utama, Husin menoleh,”Iya dong, butuh bantuan dari orang yang bisa mengajari gue soal agama…., gue ingin menjadi yang terbaik bila ingin mendapatkan yang terbaik juga…,”
Aldo berdehem lagi,”Ehem! Kayaknya si Bos udah mulai dewasa, nih…,”
“Emang udah. Gue kan 19 tahun?” Husin menginterupsi.
“Hehe. Ok, kalo gitu di kampus aja kita temui Najla. Sekarang kita sholat Maghrib dulu. Ok?” saran Aldo yang diikuti anggukan setuju Husin. Mereka lalu menuju ke mesjid terdekat.
***
Husin berbaring di tempat tidurnya. Ia membayangkan peristiwa yang tadi sore dialaminya. Husin sebenarnya ingin menghubungi Syifa untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi batinnya menolak, ia lebih memilih untuk mengenal Syifa dari jauh. Husin mempelajari hal baru hari ini. Ia telah bertemu dengan bintang kecil yang secara tak langsung membuatnya mengerti sifat Syifa dan menyadarkan dirinya tentang pentingnya membantu sesama. Bintang kecil itu adalah Lily, yang memberinya makna sebuah kehidupan.








0 komentar:
Posting Komentar