Jam menunjukkan pukul 3 sore waktu setempat. Ternyata kota Melbourne tidak seperti yang Syifa takutkan sebelumnya. Warga disini ramah padanya, termasuk mahasiswa Monash. Syifa bahkan berkenalan dengan salah seorang mahasiswi yang kini menjadi teman akrabnya. Sore ini Syifa memilih untuk berjalan-jalan menyusuri sungai Yarra, sebuah sungai yang mengalir melalui pusat kota Melbourne dan mempunyai panjang sekitar 240 km. Sungai ini bersumber dari serangkaian rawa-rawa di sebelah timur plato Baw Baw, sebuah taman hutan yang lebat dan mengalir hingga Teluk Port Phillip, dan disana terdapat pelabuhan tersibuk Melbourne.
Di sebelah selatan sungai, banyak terdapat kafe yang berjejer di trotoar. Melihat pemandangan tersebut, Syifa menjadi rindu Indonesia. Iapun memilih menikmati hidangan di salah satu kafe yang paling ramai pengunjungnya. Ia masuk bersama Donna Willberjune, teman barunya sesama mahasiswi Monash. Mereka berkenalan saat Syifa akan mengikuti kuliah perdananya di kelas. Waktu itu ia kesulitan menemukan ruangan kuliahnya, kemudian iapun melihat Donna yang sedang asyik membaca buku di salah satu bangku. Tanpa segan, Syifa lalu bertanya padanya. Sejak itulah mereka berdua menjadi akrab.
“Donna, do you often come here?” tanya Syifa.
“That’s right, Fa. Do you enjoy it?” Donna tersenyum sambil menyeruput cappuccino-nya.
“Yes. I do. Would you help me to capture my photo, please?”
Donna tertawa, sepertinya itulah yang ia inginkan,”Of course. How about taking some photos together with me?”
Syifa mengangguk. Mereka lalu mengabadikan pemandangan sungai Yarra yang indah dan foto bersama saat berada di kafe. Setelah puas mengabadikan foto, Syifa langsung mengunggahnya ke situs jejaring sosial lewat ponsel. Bila melihat kafe ini, Syifa jadi teringat penjaja makanan langganannya yang biasa mangkal tak jauh dari rumahnya di Jakarta. Saat masih kecil, Syifa termasuk tomboy, ia senang memanjat pohon serta berjalan-jalan sendiri di sekitar kompleks rumahnya kemudian berwisata kuliner di salah satu warteg. Pemilik warteg itupun mengenal Syifa dengan baik. Sekarang ia masih suka berjalan-jalan, hanya lebih suka ditemani entah itu dengan keluarga atau dengan sahabatnya.
“Donna, do you know how do I love warteg very much?”
Donna berpikir sejenak lalu bertanya,”What does it mean? I’ve never heard about it,”
Syifa tertawa lalu ia menjelaskan bahwa warteg adalah warung khas Indonesia yang menyediakan makanan murah meriah dan menyediakan makanan khas daerah, terutama masakan Jawa. Syifa juga menceritakan waktu kecil ia pernah dimarahi karena tidak membayar setelah makan di warteg tersebut. Donna tampaknya tertarik ingin mengenal Indonesia lebih jauh, dengan modal bahasa Indonesia yang pas-pasan dan logat Inggris yang masih kental, Donna menyeletuk,”Wah, kasian deh lo…,”
Syifa takjub, ternyata Donna tahu istilah gaul remaja Indonesia. Donna bercerita bahwa ia sangat senang bergaul dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia, malahan ia tak segan belajar Bahasa Indonesia dengan mereka.
Semakin sore, semakin bertambah keramaian di sekitar tempat itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah kurang lebih 500 meter berjalan bersama, merekapun berpisah arah. Syifa memilih terus menuju utara sedangkan Donna belok kiri menuju arah barat.
***
Malam ini, Husin duduk di kursi belajar untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang belum dikerjakan sejak beberapa hari yang lalu. Setelah dikerjakan, saatnya ia mengirim tugas via email. Seraya mengecek email, iseng-iseng Husin mengecek akun facebooknya kemudian mencari nama Syifa. Husin senang begitu mengetahui permintaan pertemanannya telah dikonfirmasi. Ia berharap Syifa akan online juga, sama seperti dirinya, tetapi ternyata tidak. Husin kemudian memperhatikan pembaruan status dan aktivitas Syifa di wall-nya. Ternyata Syifa juga suka menuliskan kata-kata mutiara.
Bila ilmu adalah istana, maka buku adalah kunci yang dapat membuka istana tersebut.
Husin menyukai status tersebut, kemudian ia melihat-lihat album foto Syifa, dimulai saat masih bayi hingga sekarang. Wajah Syifa tidak banyak berubah dari dulu, hanya tinggi badan saja yang bertambah. Husin juga mengetahui bahwa Syifa baru saja menambahkan foto-foto terbaru di albumnya, yaitu foto didekat sungai Yarra bersama Donna tadi sore. Husinpun beralih melihat info, ternyata Syifa memiliki catatan. Husin membaca catatan hati Syifa yang ada di facebook itu. Husin terpaku sejenak di meja belajarnya setelah membaca tulisan yang ada disana, begitu lembut tapi menusuk kalbu. Bisakah Husin bersikap seperti itu? Ia ingin terlibat dalam kehidupan Syifa, ingin berbagi cerita dengannya. Ingin rasanya ia menghubungi Syifa, tetapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sebegitu rumit inikah rasanya cinta…? Sangat menyiksa….
Malam semakin larut, tetapi Husin tidak juga bisa tidur. Ia hanya berbaring dan masih saja memikirkan posting tulisan tadi. Tak hanya itu, Husin juga masih memikirkan kata-kata Navid beberapa hari yang lalu saat di kampus. Bila hal itu memang benar adanya, Husin tidak akan melangkah lebih jauh. Ia lebih memilih untuk melupakan kenangannya bersama Syifa. Memang benar bahwa cinta itu harus diperjuangkan, tetapi bila Syifa lebih memilih Navid ketimbang dirinya? Ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
***
Lusa adalah hari ulang tahun Husin. Syifa mengetahuinya dari info facebook milik Husin. Namun ia masih bingung apa yang harus ia berikan pada ulang tahun Husin kali ini.
Usai jam kuliah, Syifa lalu menemui Donna yang baru saja keluar dari perpustakaan fakultas.
“Donna, I need to talk with you,”
Donna menyanggupi, ia tak keberatan bila Syifa mengatakan sesuatu padanya. Syifa memberitahu bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun Husin, sahabatnya di Indonesia, tetapi Syifa masih bingung kejutan apa yang sebaiknya ia berikan. Donna pun mengusulkan agar Syifa merekam video tentang ucapan selamat ulang tahun pada Husin dan mengunggahnya ke Youtube. Setelah itu, tautkan ke facebook, mudah-mudahan Husin dapat melihat video tersebut. Syifa berterima kasih pada Donna. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Donna.
***
Hari ini hari Minggu. Matahari sudah terbit sejak tadi, tetapi Husin masih belum bangun. Ia masih tiduran sambil memeluk bantal gulingnya.
Sementara itu, Aldo dan Jerry yang berusaha menghubungi Husin berkali-kali tetapi selalu gagal, akhirnya memutuskan untuk menuju rumah Husin. Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu disebuah toko untuk membeli kue. Aldo menekan bel yang ada di sudut pagar. Sesaat kemudian Pak Tarmo keluar.
“Assalamu’alaikum, Husinnya ada, Pak?” tanya Aldo setelah turun dari motornya.
“Wa’alaikumsalam. Ada, masuk aja. Den Husin sedang di kamar,”
Jerry dan Aldo tidak heran lagi karena mereka sudah harap maklum dengan kebiasaan Husin yang suka telat bangun pagi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka masuk kedalam rumah. Aldo masih bingung menatap kue yang dibawanya dengan bungkusan plastik hitam. Jerry mengusulkan agar mereka masuk ke kamar Husin yang ternyata tidak dikunci, Aldo menyetujui ide Jerry. Setibanya di dalam kamar, mereka menjadi kewalahan untuk membangunkan Husin yang terkenal suka tidur. Jerry memiliki ide, ia lalu menarik selimut Husin dan mematikan AC di kamarnya. Tak hanya sampai disana, Aldo ikut-ikutan berujar keras,”BANGUN!!!”
“Apaan sih, kalian….,” Husin mengucek matanya yang masih lima watt.
“Happy birthday, bro….!!!” Aldo dan Jerry bergantian menyalami Husin. Aldo yang membawa kue black forest spontan mencolek kue dan mengolesnya ke pipi Husin.
Husin masih bengong, ia saja lupa dengan tanggal berapa hari ini,”Emangnya sekarang hari apa sih…?”
“Ini hari Minggu, Sin! Ultah lo, Sin…, birthday, 19 taon! Gimana sih…?”
Husin terkejut,”Hah? Ultah? Jadi gue ulang tahun…???” tanyanya seolah tak percaya. Jerry dan Aldo saling pandang. Untuk meredam situasi, Aldo berujar tenang,”Saatnya lo mengubah sifat. Lebih dewasa dan lebih luas lagi dalam pola pikir…,”
“Dan kalo tidur, jangan mendengkur lagi…,” tambah Jerry.
Nah, bagian ini nih, yang paling tidak disukai Husin, karena Jerry suka membuka aibnya.
“Oya, kami bakalan tunggu makan-makan spesialnya,” lanjut Jerry, ingatannya hanya tertuju pada satu hal yaitu makanan.
“Sip, deh, kalo yang itu,” ujar Husin,”mau makan-makan sekarang juga boleh. Tapi makan dulu kuenya…,” Husin memotong salah satu bagian kue dan dilahapnya sendiri.
Aldo menahan tawanya melihat Husin bersemangat dengan rambut yang masih acak-acakan,”Iya, tapi lo mandi dulu. Syifa mau datang, tuh, katanya,”
“Hah? Syifa datang???? Waduh!!!” Husin menepuk jidatnya. Iapun tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Usai mandi, Husin kembali bertanya,”Do, mana Syifa? Katanya mau datang?”
Aldo yang sibuk membaca koran pagi di rumah Husin menggeleng,”Gak jadi, mungkin…,” ia menjawab seraya mengubah posisi duduknya.
“Hah? Kok bisa gak jadi? Maksudnya gimana???” tanya Husin bertubi-tubi.
“Ya gak jadi…, mungkin aja dia lupa sama ultah lo. Ya gak mungkin lah dia kesini, wong dia lagi ada di seberang benua,” lanjut Jerry.
Didalam hati Husin membenarkan pendapat Jerry. Tidak mungkin rasanya Syifa tahu hari ulang tahunnya, apalagi mereka belum lama kenal.
Husin hanya menunduk sedih. ia kecewa karena Syifa tidak menelepon atau mengiriminya pesan singkat ucapan ulang tahun. Husin semakin yakin bahwa Syifa tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Husin kembali teringat pada ucapan Navid itu, mungkinkah Syifa telah dilamar oleh Navid?.
Husin meraih ponselnya, ternyata tidak ada pesan ataupun telepon masuk.
Jerry yang melihat wajah sedih Husin mencoba menghibur,“Jangan sedih, bro. kita-kita kan ingat hari spesial lo, karena itulah kita minta lo bersedia dan berbaik hati mentraktir kami ma…,”
“Maksud si Jerry, kita minta lo untuk menjadi lebih baik lagi dibanding tahun sebelumnya. Masalah makan, memakan dan dimakan itu terserah lo. Hanya itu saja,” potong Aldo tepat disaat Jerry hendak menyebutkan kata ‘makan’. Aldo tampak cengengesan, sementara Jerry memasang tampang Bete, karena tidak jadi makan.
“Gak apa-apa, gimana kalo sekarang kita makan di resto langganan gue?” ajak Husin mencairkan suasana. Jerry langsung menyambut baik usulan Husin, cacing-cacing di perutnya ikut menggeliat begitu mengetahui akan ada makanan yang masuk lagi.
***
Mobil Honda CRV yang dikendarai Husin parkir di salah satu restoran. Ternyata Husin mengajak sahabatnya mencicipi hidangan di sebuah restoran seafood langganannya. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, tetapi restoran itu sudah ramai oleh pengunjung. Mereka lalu mencari meja kosong dan memesan makanan.
“Sin…, lo kenapa sih sejak kemarin keliatannya aneh banget?” tanya Jerry dengan hati-hati, takut bos nya tersinggung.
Husin ngeles,”Hah? Aneh gimana maksudnya, Jer?”
“Tampang lo itu, kayak baju kusut…., kenapa sih, Sin?”
Husin berhenti menyuapi makanannya,”Nggak kok. Tampang gue kan emang kayak gini…,”
Aldo menanggapi,”Jujur aja, Sin. Kalo ada masalah, share aja sama kita, siapa tau kita bisa bantuin lo?”
Sebenarnya Husin enggan menceritakan kesedihannya kepada siapapun, tetapi melihat kegigihan sahabatnya, akhirnya Husin mau terbuka menceritakan perasaannya yang tak stabil akhir-akhir ini.
“Syifa…,”
“Yah, cewek itu lagi!” gerutu Jerry didalam hati, tetapi ekspresi wajahnya tidak diperlihatkan ke Husin. Jerry tahu bagaimana cara menjaga perasaan sahabatnya walaupun terkadang ia sendiri suka keceplosan.
“Dia kenapa lagi, Sin?” tanya Aldo.
“Ternyata dia udah dilamar….,” lirih Husin, kepalanya tertunduk dalam.
Aldo mencoba menghibur hati sahabatnya itu,”Hmmm, jujur gue sendiri nggak percaya dengan apa yang lo bilang barusan, Sin. Tapi kalo itu memang bener, gue yakin masih ada kesempatan buat lo, Sin. Percaya deh ama gue,”
Jerry ikut berceloteh,”Bener banget, tuh, Sin. Selama janur kuning belum melambai, selama ijab kabul belum dilaksanakan dan selama umur gue masih panjang, masih ada kesempatan buat gue, kok,” Jerry lalu menengadah sambil menutup mulut dengan tangannya,”ops, sorry, gue salah ngomong, yah?”
Husin hanya tersenyum simpul, kali ini ia mencoba untuk lebih bersabar mengendalikan emosinya yang relatif tidak stabil.
“Untung aja nggak dipelototin lo, Jer. Hahahaha…,” ledek Aldo, sementara Jerry hanya nyengir sambil ngeles,”Yah, harap maklum, Do. Gue kan rada-rada ribet kalo ngomong, susah nyusun kata-kata yang pas supaya bos kita ini nggak tersungging…, eh, tersinggung,”Jerry menggaruki kepala,”By the way, emangnya si Syifa dilamar ama siapa, Bos?”
Husin menunduk, ia hanya menjawab pelan,”Navid….,”
“What???? Navid???”Aldo mengernyitkan dahi seolah mengartikan ia sangat tidak percaya,”Oh ya? Tapi setahu gue Navid belum ada melamar siapa-siapa tuh, yang gue tahu dia memang dekat dengan Syifa, tapi yang jelas gue sendiri kurang tahu sifat dia seperti apa dan gue nggak pernah denger berita dia ngelamar Syifa?”
Husin kian gundah. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Wah, lo saingan ama Navid, nih, Sin!” celetuk Jerry dengan semangat ‘45, kali ini disambut tatapan mata tajam oleh kedua sahabatnya yang membuat Jerry bergidik. Kali ini ia memilih diam, takut ntar salah-salah ngomong lagi. Mereka bertiga kompakan diam, hingga akhirnya makanan yang terhidang telah selesai disantap. Setelah itu mereka kembali ke rumah Husin.
Sesampainya di rumah, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga. Husin kembali mengecek ponsel namun hasilnya tetap sama. Tak ada sms ataupun telepon masuk dari siapapun, termasuk Syifa. Husin yang sebal kemudian membanting ponselnya, untung saja Aldo dengan sigap menangkap Samsung Galaxy S III tersebut, kalo nggak, bisa berabe deh…
“Kunaon, atuh, Sin?” tanya Aldo yang kemudian menyerahkan ponsel itu lagi kepada Husin.
Husin duduk disamping Aldo,”abisnya gue sebel. Ini udah jam 1, tapi kayaknya semua orang lupa dengan hari spesial gue. Bahkan nyokap bokap gue aja udah nggak peduli lagi. Udah lupa kalo mereka punya anak?”
“Jangan gitu, Sin, katanya mau berlatih sabar dan bersikap lebih dewasa? Mungkin aja mereka bener-bener sibuk. Gimana kalo lo aja yang menelepon? Atau buka akun jejaring sosial lo, mungkin ada kejutan disana,” ujar Aldo, menenangkan.
Husin mengalihkan pandangannya,”Males!”
“Bener tuh, coba aja, kali…, yah siapa tau ada Syifa?” ujar Jerry dengan mulut penuh berisi tahu yang digoreng Bi Ijah.
“Nggak deh. Gue nggak respek sama hal yang begituan. Basi!” Husin beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk kedalam kamar.
Aldo dan Jerry saling bicara dalam bahasa isyarat,”Jer, kenapa dia?” tanya Aldo setengah berbisik. Jerry mengangkat bahu. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, mereka lalu menyusul Husin masuk kedalam kamar.
Pelan-pelan Jerry membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Aldo dan Jerry hanya bisa menggaruki kepala saat mengetahui kenyataan bahwa Husin merebahkan diri di tempat tidur sambil memegangi ponselnya. Iseng-iseng Jerry meraih BB-nya, ia memiliki ide yang lumayan bagus. Kemudian sambil cengengesan ia memotret Husin yang sedang tidur dengan posisi mulut terbuka. Aldo ikut-ikutan nimbrung seraya cengengesan melihat hasil foto tersebut. Mereka hanya sedikit beruntung karena Husin tidak mengetahui apa yang terjadi. Setelah yakin foto tadi tersimpan di kameranya, Jerry berencana akan mengunggah foto tersebut ke blog pribadinya.
Dasar usil!








0 komentar:
Posting Komentar