Musim panas sudah sekian minggu menyinari Australia. Syifa sedang menikmati liburannya. Walaupun begitu, seabrek tugas sudah menanti di masa liburan mereka kali ini. Syifa dan Donna berencana menonton pertandingan kriket karena hari ini adalah Boxing Day, yaitu hari pertandingan persahabatan olahraga kriket antarnegara yang selalu diadakan setiap tahunnya di Melbourne Cricket Ground. Permainan ini menggunakan bola dan pemukul yang biasa disebut “bat”. Olahraga ini juga termasuk 5 olahraga paling populer di Asia selain sepakbola, senam, beladiri dan tenis meja.
Sesampainya di stadion, Donna mengeluarkan handycamnya dan sibuk merekam aktivitas pemain menjelang pertandingan dimulai. Syifapun memiliki ide. Ia meminta tolong pada Donna untuk merekamnya lewat handycam tersebut.
“Oh, sure. You want to show it to Husin, right?” tebak Donna sambil mengangkat sebelah alisnya. Syifa tersenyum simpul. Donnapun dengan senang hati merekam aktivitas Syifa.
Syifa maju selangkah ke depan dan mulai memperkenalkan stadion Melbourne yang sangat luas, tak lupa ia memperkenalkan apa itu Boxing Day melalui rekaman video itu. Sesekali Donna menyorot pemain yang tengah mempersiapkan diri. Syifa dapat melihat betapa Donna terpaku saat menyoroti dirinya. Syifa yang merasa aneh tidak segan untuk bertanya,”What’s wrong, Donna? Is there something wrong with my shirt?”
Syifa memperhatikan pakaian yang dikenakannya, tak ada yang spesial. Hanya baju merah yang dipadu dengan kardigan berwarna ungu. Donna menggeleng, ia hanya mengatakan,”I have just realized that you looks so beautiful today. I bet Husin will be speechless,”
Syifa tersenyum. Ia berasumsi bahwa Donna pasti hanya sedang bercanda. Donna memasang wajah serius untuk meyakinkan Syifa atas ucapannya barusan. Syifa mengalah dan berterima kasih atas pujiannya, namun Syifa tidak terlalu menanggapi hal tersebut. ia melanjutkan perkenalan dirinya, sesaat kemudian Syifa teringat Lily, sahabat kecilnya.
Sambil menonton pertandingan, Syifa teringat pada Husin. Kira-kira sedang apa dia sekarang?
***
Husin dan Aldo bertamu ke rumah Najla. Sore ini usai jam kuliah, Aldo mengajak Husin untuk mampir sebentar ke rumahnya, dan dari sana Husin dapat berkunjung ke rumah Najla. Sebuah rumah mungil yang dihiasi beraneka macam bunga di taman depannya.
“Assalamu’alaikum,”sapa Husin ketika seseorang membuka pintu. Aldo langsung mengenalinya sebagai Nabil, kakak Najla. Nabil memiliki wajah yang teduh, sorot matanya tajam namun lembut, sesuai dengan karakter dan kepribadiannya.
“Wa’alaikumsalam, cari siapa, ya?”
“Aa’ Nabil, ini teman saya, namanya Husin. Dia ingin belajar banyak hal sama Aa’, kalau nggak keberatan…,” jelas Aldo sambil memperkenalkan Husin.
“Oh, begitu. Ya gak apa-apa. Silakan masuk,” Nabil lalu mempersilakan mereka masuk.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Nabil dengan ramah setelah sebelumnya mempersilakan mereka untuk duduk.
“Tapi maaf sebelumnya jika saya merepotkan…,”ujar Husin.
“Gak apa-apa. Tanyakan saja,” jawab Nabil, tak keberatan.
“Saya hanya ingin tahu…., bagaimana caranya agar menjadi pribadi seperti Aa’ Nabil?”
Nabil hanya tersenyum simpul,”Memangnya saya kenapa?”
Husin menyikut Aldo. Aldo menjelaskan,”Begini lho..., Husin ini ingin sekali belajar agama. Aldo pikir, Aa’ Nabil orang yang tepat karena Aldo sering melihat Aa’ aktif di organisasi keislaman di kampus,”
“Jujur saya sendiri masih banyak belajar…, sama seperti adik-adik juga. Tapi, baiklah. Saya akan memberi tahu rahasianya,” ujar Nabil yang membuat Husin semakin penasaran.
“Pada dasarnya semua laki-laki adalah imam, minimal menjadi imam di rumah tangganya kelak. Oleh karena itu, dia harus belajar tentang agama, kesabaran dan keikhlasan….,”
Nasihat itu direkam oleh Husin. Processor otaknya bekerja keras namun tetap santai untuk mencerna setiap kata yang terucap.
“Sekian dulu dari saya. Apa ada yang ingin ditanyakan?” tanya Nabil, membuat Husin yang termenung akhirnya kembali sadar.
“Ng…., eh, ada, A’. Mengapa didalam islam istilah pacaran itu tidak ada?” tanya Husin yang membuat Aldo menepuk jidatnya sendiri sambil bergumam,”Hadeh, pertanyaan konyol…,”
Nabil menjelaskan dengan mengambil sebuah perumpamaan,”Misalkan ada dua buah cincin berlian. Cincin yang satu masih tersimpan rapi pada kotaknya tanpa pernah disentuh oleh siapapun. Sementara cincin yang satu lagi warnanya sudah pudar karena sudah pernah dipakai banyak orang. Bila keduanya dipajang di etalase toko, kamu lebih memilih yang mana?”
Husin yang terpana kemudian menjawab,”Jelas yang masih didalam kotak, dong, Aa’…,”
Nabil tersenyum,”Itulah maksud saya. Kita harus menghargai wanita sebagaimana cincin yang berada didalam kotak tersebut. kita hanya bisa membukanya dengan cara yang halal, yaitu pernikahan…,”
“Lalu, apakah boleh bila kita menyatakan cinta kepada wanita?”Aldo ikut-ikutan bertanya. Husin terperanjat mendengar pertanyaan Aldo barusan. Sepertinya Aldo ingin menyindir dirinya.
“Boleh saja. Kita menyatakan perasaan agar calon kita tersebut mengerti. Tapi dengan syarat kita tidak bermain-main dengan apa yang kita ucapkan dan mengharap ridho Allah untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius,”
Aldo melirik Husin yang tampak sedang tersenyum-senyum sendiri. Aldo mendapatkan satu poin penting yang berguna dalam hidupnya, begitu juga dengan Husin.
“Ok, Aa’ Nabil. Aldo rasa semua pertanyaan Husin sudah dijawab. Kami pamit dulu, assaalamu’alaikum,” pamit Aldo.
“Wa’alaikumsalam. Lho, kok buru-buru?”
“Iya, Aa’, masih banyak tugas yang belum selesai. Maklum, kuliah masih semester tiga, hehehehe….,”celetuk Husin ketika berada didepan pintu,”Makasih banyak ya, Aa’…,”
“Iya. Sama-sama, Dek…,” balas Nabil.
Saat akan memasang sepatu, Aldo teringat Najla.
“Salam buat Najla yah, Aa’…,” pesannya. Husin melirik Aldo sekilas. Didalam hati ia curiga, jangan-jangan sahabatnya ini….
“Iya. Nanti disampaikan,”jawab Nabil. Ia paham maksud terselubung Aldo. Mungkin saja Aldo memiliki perasaan lebih terhadap adiknya. Setelah lama tak bertemu sejak kesibukan kuliah beberapa minggu terakhir ini, Aldo jarang sekali bertemu dengan Najla. Aldo pun sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini lagi. Mungkinkah esok hari mereka akan bertemu kembali di kampus?
Husin baru saja akan menstarter mobilnya ketika Aldo bertanya,”Sin…, jadi lo udah mengerti Syifa, kan?”
Husin terdiam, matanya menatap Aldo.
“Sin…, kok diem?”
“Hah? Ng…, oh, iya…,tenang aja, gue udah dewasa untuk hal yang kayak gitu dan bisa memahami karakter dan keinginan Syifa,” ujarnya sambil menstarter mobil lalu menginjak pedal gas. Tujuan pertama adalah ke rumah Aldo terlebih dahulu, karena tadi Aldo memilih untuk nebeng mobil Husin. Setelah itu, Husin pulang ke rumahnya.
***
Sore ini Husin membuka iPad. Daripada menonton televisi, Husin lebih memilih untuk mengecek akun facebooknya. Ia melihat pemberitahuan bahwa Syifa membagikan tautan video olahraga kriket ke profilnya. Husin menonton video itu hingga tiga kali, yang membuatnya semakin ingin menghubungi Syifa. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Husin mencari nama Syifa di daftar kontak dan langsung menghubunginya. Tidak lama setelah itu, terdengar Syifa menjawab ponselnya,”Halo, assalamu’alaikum,”
Husin tak tahu harus menjawab apa selain hanya menjawab salam Syifa,”Wa…, wa’alaikum salam…,ng…,”Husin memikirkan apa yang hendak dikatakannya pada Syifa. Sementara itu, jauh di seberang benua, Syifa dengan sabar menunggu sepatah kata yang akan diucapkan Husin.
“A..., apa kabar, Fa?”
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri, Sin? Bagaimana kuliahnya?”
“Alhamdulillah lancar, Fa. Se…, sekarang disana udah malam, ya?” tanya Husin, ia menggaruki kepalanya seraya bergumam dalam hati,”pertanyaan konyol….,”
Syifa tersenyum. Jika saja mereka mengaktifkan 3G, tentu Husin akan dapat melihat wajah Syifa.
”Iya. Disini udah jam setengah sembilan, tapi matahari masih belum terbenam. Mungkin sebentar lagi, maklum sedang musim panas…., kalo disana bagaimana?” Syifa balik bertanya, yang membuat degup jantung Husin menjadi tak karuan.
“I…iya…, eh, maksudku disini masih sore…, ng…, kesibukan kamu sekarang apa, Fa?”
“Nothing. Just like another ordinary collegean. Go to campus and study…,”Syifa mencoba mencairkan suasana yang menurutnya kaku.
“Cie…., yang skor TOEFL nya udah 550. Hehehe…,”
Syifa tersipu malu,”Nggak sampai segitu, kok, Sin,”
“Yah, tapi yang jelas kamu lebih unggul dari segi manapun dibanding aku, Fa,”
“Aku biasa-biasa aja, Sin. Gak ada yang istimewa dari aku,”
Husin mengangkat sebelah alisnya,”Oh ya? Ng…, udah makan malam dong, ya?”
“Udah….,” jawab Syifa.
“Lalu bagaimana dengan Papa dan Mamamu, Fa? mereka baik-baik aja, kan?” tanya Husin.
”Alhamdulillah baik…,. O iya, bagaimana kabar staf redaksi majalah kampus, Sin? Aku udah kangen, nih. Apakah ada tulisan terbaru?”
“Staf redaksi…., berarti yang dimaksudnya adalah Navid…,”gumam Husin dalam hati. Ada rasa panas yang membara di hatinya, namun tidak ia perlihatkan. Husin hanya terdiam. Tangannya terasa kaku saat mengenggam ponsel.
“Halo…, Sin? Masih disana, kan?” tanya Syifa setelah beberapa detik ia tak mendengar respon apapun dari Husin.
“Hah? Ng…, iya, masih disini. Navid baik-baik aja, kok. Dia titip salam sama kamu. Oh iya, salam buat Mama dan Papamu, Fa. Aku mau mengerjakan tugas dulu, assalamu’alaikum,” tutup Husin terburu-buru.”
Wa…., wa’alaikumsalam,”Syifa menutup pembicaraan dengan heran. Ada apa sebenarnya dengan Husin? Mengapa tiba-tiba ia menjadi aneh?
“Navid? Aku kan nggak bertanya tentang Navid…?” gumamnya dalam hati. Syifa mencoba menghubungi Husin kembali, ia ingin meminta maaf seandainya ada kata-kata yang membuat Husin tersinggung. Tetapi Syifa harus menelan kekecewaan karena Husin tidak menjawab teleponnya. Syifa merasa sedih, ia tidak tahu apa yang membuat Husin memutuskan pembicaraan secara tiba-tiba. Adzan Maghribpun berkumandang. Syifa mencoba menjernihkan pikiran dengan mengambil wudhu’. Ia berharap siapa tahu saja nanti tiba-tiba Husin menghubunginya kembali. Tanpa Syifa sadari ibunya mendengar pembicaraan mereka di balik pintu kamar Syifa.
Selesai mengambil wudhu’ dan sholat, Syifa mengecek ponselnya lagi, ternyata ada lima panggilan tak terjawab. Syifa membuka log panggilan tersebut, ternyata dari Navid. Syifa malas untuk menghubunginya kembali. Untuk apa menghubungi seseorang yang….
Ponsel Syifa kembali berdering, dan lagi-lagi masih dari Navid. Syifa dengan ogah-ogahan menjawabnya,”Halo, assalamu’alaikum…,”
“Wa’alaikum salam, Cinta…,” sahut suara yang terdengar seperti dibuat-buat dari seberang.
“Maaf, ini siapa ya?!” tanya Syifa, heran. Tak biasanya Navid memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
“Lho…, ini kan Mas Navid. Kok kamu gitu sih, Cinta…? Kita kan mau merangkai masa depan…,”
Syifa semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Merangkai masa depan, maksudnya?
“Kita kan merangkai cinta untuk masa depan, Cin…,” lanjut Navid lagi. Syifa mengernyit, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Navid? Akhirnya ia memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab,“Syifa nggak mengerti maksud Mas apa, tapi maaf sebelumnya, Syifa harus mengerjakan tugas kuliah. Assalamu’alaikum!” Syifa memutus pembicaraannya. Sejak tragedi di ruang pimpinan redaksi beberapa waktu lalu, Syifa yang dulunya akrab dengan Navid kini berubah drastis menjadi ill-feel alias hilang feeling. Husin yang ia harapkan, kok malah jadi Navid yang menghubunginya balik?
Syifa terus menggenggam dan menatap layar ponselnya. Ia hanya bisa berharap Husin menghubunginya kembali dan mencoba berpikiran positif, siapa tahu tadi Husin memiliki keperluan penting sehingga terpaksa memutuskan pembicaraan. Syifa terus menunggu, namun tetap saja nihil. Husin tidak menghubunginya kembali.
Sementara itu di Jakarta, Husin merenungi apa yang baru saja dilakukannya. Ia merasa semua ini sia-sia saja. Bukankah semuanya sudah jelas bahwa Syifa menyukai Navid?. Lalu untuk apa dia menghubungi Syifa lagi? Ia hanya merusak hubungan seseorang yang sedang dikhitbah. Husin melirik iPadnya lagi. Ia menuliskan status di facebooknya:
Aku rela asalkan kamu bahagia, walaupun bukan diriku yang membahagiakanmu…
Mata Husin seolah tak beranjak memandangi status yang baru saja diketiknya. Ia merasa kata-kata tersebutlah yang cukup untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Bila Syifa berbahagia dengan Navid, mengapa Husin masih berharap akan bertemu Syifa kembali? Husin berpikiran tak ada gunanya ia berharap ‘lebih dari teman’ kepada Syifa, toh Syifa sudah menentukan pilihan. Sebuah pilihan yang hanya membuatnya gundah karena pilihan itu jatuh kepada Navid. Husin kembali menatap foto profil Syifa. Tiba-tiba ia memiliki ide.
***
Husin enggan melepas sesuatu yang ia genggam di tangan kirinya. Ponsel Husin berdering tepat saat ia hendak tidur, ternyata dari Aldo.“Gimana, bro?Udah menghubungi Syifa?” tanya Aldo.
Husin mengangguk pelan,”Udah, tapi rasanya percuma aja. Untuk apa gue menghubungi cewek yang sudah dikhitbah orang lain,”
Aldo terkejut,”Hah? Sejak kapan lo tahu istilah khitbah, Sin? Hehehe….,” ledek Aldo, dalam situasi tegang begini ia masih sempat-sempatnya mengajak bercanda.
“Gue serius, Do. Buktinya tadi Syifa nanyain Navid. Jelas banget kan kalo mereka sama-sama memiliki perasaan yang lebih. Dan kayaknya memang benar apa yang diucapkan Navid kalo mereka emang udah tunangan,”
Mulut Aldo ternganga. Ia nyaris tak percaya mengapa Husin mudah sekali percaya omongan orang lain. Ia lalu menasihati sahabatnya,”Gini yah, bos, seperti yang dikatakan Aa’ Nabil, dalam Islam mana ada istilah tunangan? Lagian lo kayak nggak tau Syifa aja, mana mau dia tunangan…?”
“Iya, tapi yang ada istilah khitbah, kan? Semuanya udah jelas, Do. Navid udah keburu mengkhitbah Syifa. Mungkin aja mereka married setelah tamat kuliah…,” jelas Husin, mengungkapkan uneg-unegnya. Aldo makin menganga, tentu saja Husin tidak melihat karena pembicaraan mereka melalui ponsel tanpa 3G.
“Lho, katanya lo udah mengerti dan sangat paham sifat Syifa…? Gimana sih?”tanya Aldo lagi.
“Untuk apa gue memahami sifat seorang gadis yang sudah dikhitbah. Itu namanya teman makan teman…,”
Aldo mengernyit tetapi ia berusaha menjelaskan dengan tenang,”Memangnya dia ada menanyakan hal spesifik tentang Navid misalnya ‘bagaimana kabar Navid’ atau ‘Navid gimana’, gitu, Sin?”
Husin berpikir sejenak,”Nggak sih…, tapi dia menanyakan bagaimana kabar staf redaksi majalah kampus. Udah jelas kan, yang dimaksudnya itu Navid? Dia hanya bersembunyi dibalik kalimat ‘staf redaksi majalah kampus’. Iya kan, Do?”
Aldo menggaruki kepalanya. Ia merasa emosi Husin sedang naik sekarang. Oleh karena itu, Aldo memilih untuk mengakhiri pembicaraan,”Jangan berpikiran yang macam-macam dulu, deh, Sin. Siapa tau Syifa memang bermaksud menanyakan teman-temannya? Mendingan lo sholat Isya dulu, deh. Besok kita bicarakan lagi di kampus. Assalamu’alaikum,”
Husin berpikiran bahwa Aldo hanya menghindari masalah. Dengan setengah hati ia menjawab salam Aldo, kemudian menutup ponselnya. Husin merebahkan diri diatas tempat tidur. Screen saver wajah Syifa kembali hadir dan menari-nari di monitornya, berkali-kali Husin mencoba menepis namun selalu saja gagal.
”Husin…!!! Just forget her!” Husin mengacak-acak rambut dengan tangan kanannya, seketika pandangan mata Husin beralih ke foto Syifa yang ia pegang dengan tangan kiri. Usai memperbarui statusnya di facebook tadi, dengan sengaja Husin menyimpan foto profil Syifa di iPadnya. Kemudian ia mencetak sendiri foto tersebut. Namun sayang, foto ini hanya untuk dikenang, tidak lebih…..
Husin menatap foto itu dengan wajah sendu. Didalam foto itu, Syifa memakai baju biru sambil tersenyum. Husin membayangkan Syifa tersenyum padanya. Didalam hati ia berjanji akan selalu menyimpan foto tersebut meskipun Syifa telah melupakannya. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan akan bersikap seperti ini, ia hanya bisa turut berbahagia bila Syifa berbahagia dengan seseorang yang dipilihnya. Malam semakin larut. Husin tertidur dengan tangan yang masih memegangi foto itu.
***
Tiga hari kemudian…Matahari baru saja terbit. Pagi ini Syifa keluar menuju halaman rumahnya, secara tak sengaja ia menemukan bunga mawar yang layu akibat terlalu banyak terpapar sinar matahari. Ia memetik tangkai bunga tersebut dan menanamnya kembali di sebuah pot kecil. Syifa mengambil selang air, kemudian menyiraminya. Sesaat kemudian ia melihat seseorang berdiri didepan gerbang, ternyata Donna. Syifa menyambutnya.
“Hey, Don.., how are you?”
“Alhamdulillah, I’m very well this morning,” jawab Donna. Meskipun lahir dan besar di Melbourne, tetapi Donna merupakan seorang muslimah keturunan Turki-Inggris. Ibunya keturunan Turki sedangkan ayahnya keturunan Inggris.
“Come here,” Syifa lalu mengajaknya masuk, lalu membuatkan minuman. Donna lalu menanyakan sesuatu pada Syifa, namun sebelumnya ia berharap agar Syifa tidak marah. Syifa tersenyum kecil, ia menjawab tentu saja ia tidak akan marah. Ia lalu bertanya ada apa yang terjadi.
Donna menumpahkan semua kekesalan di hatinya dengan memasang muka masam,“I really don’t like this guy. He often disturb me. He calls me everyday and often asks about my privacy and makes some boring jokes which make me hate him so much,” jelasnya sambil menyandarkan bahu di sofa. Syifa dapat melihat dengan jelas dahi Donna yang dibuat mengkerut, yang dengan tegas menyiratkan ia sangat tidak menyukai lelaki tersebut.
Syifa lalu menanyakan apakah ia boleh mengetahui siapa lelaki yang mengganggu privasi Donna tersebut. Donna lalu menunjukkan sebuah foto dari ponselnya,”do you know him, Syifa?”
Syifa melihat foto tersebut dan memperbesar agar kelihatan lebih jelas. Alangkah kagetnya Syifa ketika mengetahui bahwa foto tersebut adalah foto Navid, sahabat nya sejak kecil yang kini menjadi pimpinan redaksi majalah kampus. Syifa menggigit bibir, ia menatap Donna dengan pandangan mata tak percaya. Syifa menjelaskan pada Donna bahwa ia sebenarnya tidak percaya dengan siapa yang baru saja dilihatnya, namun Syifa mengakui ia memang mengenal sosok di foto itu, yaitu Navid, sahabatnya. Donna terperanjat mendengarnya. Donna tak menyangka bagaimana Syifa bisa bersahabat dengan orang yang seperti itu. Syifa lalu menjelaskan bahwa dulu mereka memang akrab karena satu sekolah. Navid adalah kakak kelas Syifa saat masih SD, lalu persahabatan mereka berlanjut hingga kuliah. Syifapun menceritakan peristiwa yang membuatnya kehilangan simpatik terhadap Navid. Donna mendengarkan sambil menatap mata Syifa, ia mengerti sekarang. Donna berharap Syifa tidak memilih seseorang seperti Navid untuk menjadi imam dalam rumah tangganya kelak. Syifa tertawa,”Of course not, Donna..,”
“Good….,”
Syifa lalu menanyakan darimana Navid tahu nomor ponsel Donna, karena setahunya ia tidak pernah memperkenalkan Donna kepada Navid ataupun sebaliknya. Donna menjelaskan bahwa Navid memperoleh nomor ponselnya dari info profil dirinya di facebook. Donna menyesal karena ia dengan mudah begitu saja mempublikasikan nomor ponselnya di jejaring sosial itu.
“Syifa, would you forgive me, please…?”
Syifa berusaha menghibur sahabatnya meskipun ia tidak dapat menyembunyikan rasa sedih di wajahnya,”Don’t worry. I’ll be okay…,”
Donna bertanya mengenai wajah Syifa yang masih terlihat murung, padahal baru saja Syifa mengatakan tidak marah padanya.
Dengan sedih, Syifa menceritakan Husin yang ia sendiri tidak mengerti penyebabnya mengapa tiba-tiba saja Husin bertingkah aneh. Syifa yakin ada hal yang ditutup-tutupi Husin darinya, namun Syifa tidak tahu mengenai hal tersebut.
Donna menghibur,“I’m sorry to hear that…, but I’m sure Husin will call you again someday. Trust me,”
Syifa menatap sahabatnya yang tersenyum dan berusaha menghibur dirinya. Disaat kesepian seperti ini Syifa merasa beruntung karena ia selalu ditemani sahabat yang begitu baik padanya.
***
Malam ini, Syifa berkumpul di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya sedang tidak sibuk hari ini. Syifa senang sekali, sampai-sampai ia menyiapkan hidangan makan malam spesial karena momen berkumpul bersama keluarga seperti ini jarang didapatinya.
“Fa…, kemarin Mama dengar kamu mengobrol dengan seseorang…, kamu memanggilnya ‘Sin’. Siapa dia, Fa? Kalau tidak salah mama pernah mendengar nama itu…., tapi mama lupa dimana, ya?”
Syifa mengingat-ingat,”Oh…, namanya Husin, Ma. Dia teman Syifa waktu masih di UI. Dia orang yang pernah Syifa kenalkan ke mama waktu di bandara. Orangnya baik banget…,” Syifa tersenyum sendiri saat menjelaskan siapa Husin pada ibunya.
“Kamu suka dengannya?”
Syifa menyunggingkan senyum. Semburat merah menyembul di pipinya,”katanya dia titip salam untuk Papa dan Mama,”
“Wa’alaikumsalam, kalau begitu. Sampaikan juga salam Mama,”Ibunya terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu yang ia sendiri ragu untuk mengatakannya.
“Lalu bagaimana dengan Navid? Dia sudah menghubungi kamu, Nak…?”
Syifa terlihat kurang suka ketika ibunya menyebutkan nama itu. Syifa sendiri berharap ayah dan ibunya melupakan Navid sesegera mungkin setelah ia tahu sifat jelek Navid.
“Ada. Tapi Syifa nggak terlalu menanggapi, Ma. Masa’ dia memanggil Syifa lain dari yang biasanya?”
”Memang dia memanggil kamu apa, Nak?”
“Cinta gitu, Ma. Syifa kan risih dipanggil begitu. Memang dia siapanya Syifa? Ya kan, Ma?”
Ibunya tersenyum. Syifa malah heran,”Kenapa sih, Mama malah senyum-senyum gitu?”
“Fa, sebenarnya dari dulu ada yang ingin Papa sampaikan…,” kata-kata ayahnya barusan membuat Syifa menoleh,”Ada apa, Pa?”
“Sebenarnya kamu dan Navid sudah dijodohkan…,”
Ucapan ayahnya itu membuat Syifa terkejut,”Mm…, maksudnya, Pa? seingat Syifa, Syifa nggak pernah menghadiri acara perjodohan dan sejenisnya?”
“Kamu ingat nggak, waktu dulu Mama membelikan cincin untuk kamu?” tanya ibu Syifa. Syifa mengangguk,”Iya. Tapi itu bukan cincin lamaran, kan, Ma?”
Ibunya mengangguk,”Itu cincin sebagai simbol peresmian lamaran Navid kepadamu, Syifa,”
“Tapi waktu itu Mas Navid gak ada…?” tanya Syifa heran.
“Benar, Mama dan ibu Navid saling membeli cincin. Mama membelikan cincin untuk Navid dan cincin yang kamu pakai itu…,” ibunya tak tega melanjutkan melihat mata putrinya yang mulai berkaca-kaca.
“Jadi ini dari Tante Rika, Ma?”Syifa menatap jemarinya yang memakai cincin tersebut,”maksud Mama, ini simbol yang sengaja tidak diberitahukan secara langsung? Tapi kenapa, Ma? Kenapa Mama nggak bilang dari dulu?”
“Mama nggak mau bilang dulu ke kamu karena rencananya setelah kuliah kamu dan Navid selesai, baru dilanjutkan ke tahap yang lebih serius,”
“Tapi Syifa hanya menganggap Mas Navid sebagai sahabat, Ma. Syifa nggak pernah ada perasaan yang lebih dari itu…,”
“Perasaan kan bisa berubah, sayang. Mama kamu dulu juga tidak menyukai Papa. Tapi seiring berjalannya waktu, bisa diliat sekarang, kan?” tambah ayahnya.
“Tapi Syifa belum siap, Pa. Syifa mau tidur dulu…,” Syifa pamit, ia mengalihkan topik pembicaraan lalu melangkah ke kamarnya. Setibanya di kamar, Syifa langsung mengunci kamarnya. Ia memeluk bantal guling diatas tempat tidur.
Terbayang kembali oleh Syifa saat Husin tiba-tiba memutuskan pembicaraan tanpa sebab yang jelas, kemudian menyusul Navid yang tiba-tiba menjadi aneh. Semuanya bercampur menjadi satu di pikirannya,“Syifa tahu Mas Navid hanya mencintai Syifa karena nafsu, Ma, Pa..,” gumamnya sambil sesenggukan, napasnya tersengal dan dada sebelah kirinya terasa sakit lagi, namun Syifa enggan memberitahukan hal itu pada kedua orangtuanya. Syifa mencoba untuk bertahan, membaca doa untuk meringankan rasa sakitnya. Tetapi Syifa merasa nyeri didadanya semakin bertambah parah, setelah itu iapun tidak tahu apa-apa lagi.
***
Syifa berada di ruangan serba putih. Ia melihat Husin dengan posisi sedang membelakanginya. Iapun memutuskan untuk menghampiri Husin,”Sin…,”Husin berbalik arah, kemudian menatap Syifa,”Aku akan menyusulmu, Fa,”
“Maksudnya? Kamu kan sudah ada disini, Sin? Kita dimana?” tanya Syifa tak mengerti. Husin mengangguk,”Iya, lain kali kita berdua akan berkunjung lagi ke tempat ini. Kamu suka tempat ini, kan?”
Syifa memandang ke sekeliling. Mereka ada didalam ruangan serba putih, namun terlihat dari jendela di seberang ada kebun bunga melati. Syifa yang sangat menggemari bunga merasa senang, ia ingin sekali berada diantara bunga-bunga itu,”tapi kita sedang ada dimana, Sin?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku harus pergi,”
“Tapi, Sin…?”
Cahaya terang menyilaukan mata Syifa. Syifa menyipitkan matanya, cahaya itu lalu menghilang. Syifa membuka matanya, ia berada di rumah sakit. Ternyata ia hanya bermimpi, sebuah mimpi yang indah karena didalam mimpi itu ia bertemu dengan Husin. Syifa menjadi ingin bertemu Husin kembali di dunia nyata. Syifa berharap Husin mengunjunginya yang sedang sakit, walaupun ia tahu hal tersebut tidak mungkin.
“Alhamdulillah, Nak, akhirnya kamu sudah sadar…,” ibu Syifa menghampirinya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Syifa melirik tangannya yang sedang diinfus,”Syifa kenapa, Ma?”
“Kemarin kamu pingsan. Mama sempat cemas ketika pintu kamar Syifa nggak bisa dibuka. Tidak biasanya kamu belum bangun sesudah azan Subuh, Nak….,”
“Terus bagaimana mama membuka pintu kamar Syifa, Ma?”
“Papa mendobrak pintu kamar, Nak. Lalu kamu dibawa kesini…,”
Seorang dokter lalu memasuki ruangan tempat Syifa dirawat,”Excuse me. I need to talk with Syifa’s parents,”
Dokter itu lalu mengajak kedua orangtua Syifa ke ruangannya. Syifa hanya bisa termangu dan berdoa semoga ia baik-baik saja.
“Tunggu sebentar ya, sayang..,” ayahnya menghibur Syifa. Kedua orangtuanya mengikuti dokter tersebut.
Setibanya di ruangan setelah berbincang sejenak dengan ayah Syifa, dokter menyarankan agar Syifa menjalani ekokardiografi, yaitu serangkaian tes untuk mengetahui klep jantung yang bermasalah karena menurut hasil diagnosis, klep jantung Syifa mengalami penyempitan. Untuk sementara, dokter akan memberi Syifa obat-obatan anti koagulan(anti penggumpalan darah) dan ia harus rajin mengontrol kesehatannya. Ibu Syifa tak kuasa menahan sedih. Sesaat kemudian, ayah dan ibu Syifa mohon pamit untuk kembali menemani Syifa.
“Ada apa dengan Syifa, Ma?”
Syifa melihat ibunya mengusap airmata,”nggak ada apa-apa kok, Nak..,”
“Terus kenapa mama nangis? Syifa sakit apa, Ma?” tanyanya cemas.
Ibunya menggeleng,”Hanya kelelahan biasa. Dokter sudah menyarankan agar Syifa jangan sampai lupa minum obat,”
Syifa tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, namun ia enggan bertanya lebih lanjut karena ia tahu hal itu akan semakin menambah pikiran kedua orangtuanya.
“Kelelahan? Lalu mengapa sampai separah ini?” gumam Syifa dalam hati.
“Jaga diri baik-baik ya, sayang? Papa berangkat kerja dulu,” ayah Syifa menghampiri putrinya. Syifa menyalami tangan ayahnya,”Iya, Pa…,”
Ayah Syifa keluar dan menutup pintu ruangan. Kemudian ibunya berujar,”Makan dulu, ya, Nak…., biar cepat sembuh,” ibunya lalu mengambil sepiring nasi yang terletak diatas meja. Syifa menggeleng,”Tapi sebelumnya mama harus jelasin dulu, Syifa sakit apa, Ma?”
Ibu Syifa berusaha menahan getaran hatinya, ia menghibur Syifa,”Nggak sakit apa-apa, Nak. Hanya kelelahan, ntar diperiksa dokter di ruangannya. Setelah itu tiga hari lagi kita pulang…,”
Akhirnya Syifa mau melahap makanannya. Setelah selesai, seorang perawat memasuki ruangan. Perawat tersebut mengatakan bahwa kini saatnya Syifa untuk memasuki ruangan ekokardiografi. Syifa mengetahui bahwa itu adalah alat rekam medis untuk mengetahui kondisi jantung. Syifapun tak kuasa menahan airmatanya. Ia hanya bisa pasrah ketika dibawa ke ruangan steril tersebut.
***
Dokter kembali mengajak ibu Syifa menuju ke ruangannya. Didalam ruangan itu, dokter menjelaskan bahwa ada penyempitan pada lubang katup yang menghubungkan ventrikel dan atrium kiri jantung Syifa. Kelainan struktur mitral ini menyebabkan gangguan pembukaan pengisian ventrikel kiri saat jantung mengembang (diastol). Ibu Syifa menjadi bimbang, haruskah ia memberitahu kondisi yang sebenarnya kepada putrinya itu? Ia yakin cepat atau lambat Syifa akan tahu kondisi tubuhnya. Ibu Syifa akhirnya memutuskan untuk memberitahu, walaupun ia harus memilih kata-kata yang tepat agar Syifa tidak terlalu terkejut dengan kondisinya saat ini.
Setibanya di ruangan Syifa, ibunya membelai rambut putrinya,”Nak…., ada yang ingin Mama sampaikan…,”
Syifa menggigit bibir,”Apakah ini tentang penyakit Syifa, Ma?”
Ibunya mengangguk dan berujar pelan,”Fa…, jangan sampai kecapean, ya? Nanti sakit lagi..,”
“Iya, tapi Syifa sakit apa, Ma?”
Dengan berat hati ibu Syifa menjawab,”Ada penyempitan di katup jantung yang mengharuskan kamu banyak istirahat, Fa..,”
Syifa termangu namun berusaha tetap tegar. Jantung? Jadi benar dugaannya tadi? Batin Syifa berkecamuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menahan perasaan sedih didepan orangtuanya. Syifa tidak tahu lagi harus bagaimana bila Husin mengetahui keadaan yang sebenarnya, mungkinkah Husin akan menghindarinya? Ia tidak tahu dan tidak pula dapat menebak.
***
Husin dan Aldo hendak memasuki ruangan tempat mata kuliah selanjutnya ketika mereka berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenali Aldo. Tanpa basa-basi lagi, Aldo segera menghampirinya.“Assalamu’alaikum, Najla,” sapa Aldo dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
“Wa’alaikumsalam warohmatullah,”balas Najla, ikut tersenyum.
“Ng…, ntar Aa’ Nabil ada di rumah, kan, La?” tanya Aldo dengan kerlingan mata yang lain dari biasanya.
“Iya, memangnya kenapa, atuh?” tanya Najla, logat Sunda-nya keluar.
“Ng…, kalau begitu boleh dong, aku bersilaturrahim ke rumah kamu?” tanya Aldo lagi, dan masih menatap mata Najla sambil tersenyum sendiri.
Najla mengangguk, ia memperhatikan pandangan Aldo yang ‘lain’ dari biasanya,”Kok lihat-lihat gitu, sih? Aku mau kesana dulu, ya,” pamit Najla.
“Ok…,” balas Aldo, kali ini lebih lembut. Ia terus memperhatikan Najla yang kini sudah menjauh darinya.
“Hmmmm….., ada yang perlu dicurigai, nih…,”ujar Husin sambil mengerling Aldo.
“Hehehehe…, cuma sekedar nitip salam dan mohon doa restu…,”
“Hah? Apaan????” Husin terperanjat mendengar ucapan Aldo barusan. Sementara itu, Aldo dengan cepat menghindar jauh dari Husin.
Husin berusaha memahami makna kalimat Aldo barusan.
“Do…., lo suka sama Najla, yaaaa….????!!!”seru Husin lagi, tetapi Aldo tak menghiraukan. Ia malah bersembunyi di balik pintu laboratorium mekanika tanah, kebetulan pintunya terbuka. Ia beruntung karena laboratorium sedang kosong.
“Lo nggak usah main petak umpet, deh,” ujar Husin yang tiba-tiba sudah berada didepan pintu.
Aldo keluar dari persembunyiannya sambil nyengir,”Hehehe…, tapi lo nggak keberatan, kan, kalo gue suka dengan Najla, Sin…?”
“Nggak. Malah gue bakalan ngasih restu seratus lima puluh persen,”jawab Husin sambil menahan tawanya.
“Thank’s yah, Sin. Lo memang sohib gue yang terbaik. Masuk yuk,” ajak Aldo ketika melihat dosen yang mereka tunggu berjalan menuju ruangan.
“Iya. Tapi kenapa sih lo bersembunyi dibalik alasan pengen ketemu Aa’ Nabil? Kenapa nggak terus terang aja, Do?”
“Hehehehe…., ya begitulah taktik cinta. Butuh teori dan logika, bro…,”kilah Aldo. Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan,”mungkin inilah yang namanya jodoh…,setelah sekian bulan gue berusaha menemuinya tapi nggak sempat melulu, akhirnya Najla dan gue dipertemukan lagi…, hehehehe…,”
Husin mengernyit, ia semakin tak mengerti. Memang susah memahami insan yang sedang kasmaran :-)
Baca juga Bab 11







0 komentar:
Posting Komentar