Tak terasa ujian tengah semester telah berakhir. Hari ini kegiatan belajar mengajar seperti biasapun dimulai. Siang ini, Husin ingin sekali bertemu Syifa. Kebetulan jadwal kuliahnya sudah selesai. Iapun lalu mencari-cari mahasiswa arsitek, mungkin saja diantara mereka ada yang kenal dengan Syifa dan bersedia membantunya.
“Do, lo liat Husin, gak? Kemana sih, dia?” tanya Jerry pada Aldo yang sedang duduk mengerjakan tugas dengan laptopnya tepat didepan kantor tata usaha. Aldo hanya menggeleng.
“Hmmm, kemana ya kira-kira? Suka menghilang kayak jin aja,”gumam Jerry pada diri sendiri. Iapun ikut duduk,”Lagi ngerjain apa sih, Do?”
“Ini.., gue lagi ngerjaen tugas pake AutoCAD…,”
“Ooh…, by the way kemana yah, si Husin? Suka ngilang, deh….,”ujar Jerry sambil celingukan.
Aldo tak menghiraukan, ia hanya menoleh sebentar pada Jerry,”lo kangen?”
“Nggak. Gue cuma mau minta tolong dia ngerjakan tugas gue, hehehehe…,”Jerry ngeles.
“Kalo ada tugas, kerjain sendiri dong,”
“Tapi kalo gue gak ngerti gimana, Do? Lo sih enak, kesayangan para dosen….,” gerutu Jerry, dalam hati ia iri melihat kecerdasan sahabatnya ini.
“Hahaha, kesayangan gimana? Gue kan bukan asisten dosen, Jer?”
“Ya iya, abisnya setiap kali dosen yang masuk pasti kenal ama lo dan Husin, lha gue?”
Aldo hanya tersenyum sambil membetulkan letak kacamata tipisnya,”Perasaan lo aja kali, Jer. Gue ini bukan siapa-siapa. Mungkin dosen kenal ama gue karena gue rajin…,”Aldo merendahkan diri, tapi meninggikan mutunya.
Jerry terdiam. Rasanya ia ingin mentransfer isi otak Aldo ke otaknya. Namun ia sendiri tak tahu harus bagaimana. Beberapa saat kemudian, Husin datang dengan langkah gontai.
“Eh, si Husin…, kemana aja lo, Sin? Ngumpet atau menghilang, lo? Gue cariin dari tadi…,” Jerry memberondong pertanyaan bertubi-tubi.
Husin ikut duduk bersama sahabatnya,”nyerah deh, gue….,” Husin bersandar pada bangku, raut wajahnya terlihat kusut, matanya menerawang keatas.
“Yah, si Husin, gue nanya kemana lo jawabnya dimana. Lo kenapa sih? Kok pasang tampang mumet gitu?”
Husin menjawab,”Nyerah deh gue ama tuh cewek. Dihubungi tapi ponselnya gak diangkat-angkat. Dicariin tapi gak ketemu-ketemu. Ya udah deh….,”
Jerry mengangguk paham, ternyata Husin sedang mencari Syifa. Jerry mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur Husin,”kan seperti yang lo bilang kemaren-kemaren kalo jodoh nggak akan kemana? Jadi santai aja kali, bro,”
Husin menatap Jerry yang sedang duduk santai sambil meletakkan kaki kanan diatas lutut kaki kirinya,”thank’s, Jer,” balas Husin. Sesaat kemudian ia teringat pada hal yang ditanyakannya kemarin,”Oya, Jer. Kemarin kan gue minta alamat emailnya…? Hahaha…, sekali lagi, thank’s banget yah, Jer!”
Husin kemudian meninggalkan Aldo dan Jerry yang terheran-heran melihat tingkah Husin yang tak biasa alias aneh. Husin berencana akan online via iPad yang tertinggal di rumahnya untuk kemudian menambahkan Syifa sebagai teman facebook dan menjadi follower di twitternya. Ia berharap untuk dapat melihat wajah Syifa dengan jelas untuk menjawab semua rasa ingin tahunya.
***
Husin baru saja pulang kuliah ketika jam menunjukkan pukul 5 sore. Ia lalu meraih ponselnya, di daftar kontak tertera nama Syifa. iseng-iseng timbul niatnya untuk segera menghubungi Syifa, sekedar ingin mengetahui kabar pemilik wajah dan hati yang selembut salju itu.
Husin mencoba menghubungi Syifa berkali-kali, namun hasilnya tetap nihil, tak ada jawaban. Apakah Syifa tidak suka bila Husin sekedar ingin mengenalnya lebih jauh? Husin merebahkan diri diatas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya dan berujar sendiri,”Fa, aku tahu aku memang bukan manusia sempurna, tapi aku ingin menjadi yang sempurna di matamu, Fa, sekali saja….,”
Hening, tak ada respon apapun dari ponsel itu. Husin semakin risau, ia harus menemui Syifa sesegera mungkin.
***
Husin datang ke kampus pagi-pagi sekali dan lebih awal dibanding biasanya. Ia berharap dapat bertemu Syifa. Ketika lewat didepan tata usaha, ia melihat Syifa keluar dari ruangan itu, dengan terburu-buru Husin menghampirinya,”Fa, gue mau bicara sebentar…,”
“Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Sin. Gue rasa semua ini sia-sia aja,” balas Syifa dengan wajah dingin, tetapi Husin dapat menangkap raut sedihnya.
Husin mengernyit, ia tak paham maksud Syifa,”maksudnya?”
“Gue akan pindah ke Melbourne, ikut orangtua. Jadi rasanya nggak perlu lagi lo nyariin gue disini,”
Bagaikan disambar petir di siang hari, Husin terpaku pada tempatnya. Ia tergagap,”Pp…pindah? Kap…, kapan?”
Syifa menunduk,”Tiga hari lagi. Gue sedang mengurus administrasi dan nilai-nilai semester sebelumnya….,” jawab Syifa dengan suara tertahan. Ia lalu melanjutkan,”Maaf kalo hari-hari terakhir ini gue nggak ngangkat telepon lo. Gue nggak ada maksud apa-apa….,”suara Syifa terputus-putus seperti menahan tangis. Husin tak dapat berbuat apa-apa, ingin rasanya ia selalu berada didekat Syifa dan menjaganya namun ia tahu hal itu tak mungkin.
”Maaf, mungkin gue ada banyak salah ama lo. Gue nggak tahu kapan bisa balik kesini lagi, tapi sekarang gue harus pergi,”
“Tap…, tapi, Fa, gue masih boleh kirim email dan menghubungi lo, kan?” harap Husin. Syifa mengangguk sedih, ia lalu berpamitan pada Husin. Syifa melangkah pelan menuju mobilnya dan meninggalkan Husin yang menatap Syifa dengan perasaan yang tak menentu. Syifa yang sudah melangkah kembali menoleh kearah Husin sekilas dengan tatapan nanar.
Secepat inikah akhir kisah mereka? Rasanya terlalu cepat bila ia harus merelakan Syifa. Husin berpikir takkan ada lagi penulis yang mewakili isi hatinya lewat mading dan majalah kampus, takkan ada lagi seseorang yang memiliki cahaya lembut dimatanya tersenyum untuk dirinya. Semua takkan ada lagi, tetapi Husin masih yakin satu hal, ia akan bertemu Syifa kembali walaupun ia sendiri tak tahu kapan dan dimana. Ia yakin walaupun jarak memisahkan mereka sejauh matahari ke planet Pluto pada titik aphelium namun bila takdir menentukan, mereka akan bertemu kembali. Husin hanya bisa bergumam didalam hati,”Bila ada pertemuan, pasti akan ada juga yang namanya perpisahan. Bila ini adalah takdir, aku akan menerimanya. Aku yakin suatu hari, bila memang jodoh, nanti akan dipertemukan kembali…,”dengan hati yang sedih, Husin menuju ruang kuliahnya.
***
Sesampainya di rumah, Husin lebih banyak terdiam dan tidak nafsu makan. Bi Ijah yang sudah menyiapkan semur ayam dan tahu goreng cabe favoritnya, dibuat bingung karena Husin lebih banyak melamun saat di ruang makan.
“Tiga hari lagi? Bagaimana caranya supaya aku bisa ketemuan dengannya?” Husin bergumam dalam hati. Ia ingin mengetahui jadwal keberangkatan Syifa agar ia bisa menemui Syifa walaupun mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, tetapi rasanya kurang etis bila ia menanyakan hal itu. Ia sendiri merasa segan, minder dan berbagai perasaan lain yang sulit diungkapkan. Husin memegangi kepalanya, rasa nyeri dan pusing itu kembali datang. Ia lalu membuka kotak obat dan meminum penghilang rasa sakit itu.
Sesaat kemudian azan Ashar berkumandang. Husin hanya bisa mendoakan semoga Syifa baik-baik saja. Selesai sholat, Husin merasa sakitnya sudah berkurang. Ia kembali membuka akun twitternya hanya untuk mengetahui pembaruan Syifa, namun sayang, Syifa mengunci semua aktivitas di jejaring sosialnya jika belum menjadi teman. Husin hanya bisa termangu menatap foto profil Syifa. Ia harus mengantarkan Syifa ke bandara, tak peduli bagaimanapun caranya. Ia harus bertemu dengan Syifa, walaupun ini mungkin untuk terakhir kalinya.
Husin melirik ponsel yang terletak tak jauh dari meja, ternyata ada sms masuk. Ia lalu membukanya.
From : Kak Aini
To : Husin
Aslm, Dek…, Maaf Kakak mengganggu waktu belajar kamu malam-malam begini. Sebenarnya ada yang Kakak tutupi tentang penyakit kamu saat di villa kemarin. Kakak sarankan sebaiknya kamu medical check up aja ya, Dek. Mudah-mudahan aja diagnosis Kakak kemarin salah…
Husin termangu. Hasil diagnosis salah gimana? Ia tahu kakak sepupunya adalah seseorang yang sangat teliti. Husin membalasnya.
From : Husin
To : Kak Aini
Wslm, Kak. Husin gak apa-apa kok. Sakit kepalanya juga udh gak ada lagi. Kakak gak perlu khawatir.
Husin tahu ia berbohong, tapi ia berpikir apa salahnya bila itu demi kebaikan. Ia tidak ingin merepotkan sepupunya, apalagi merepotkan kedua orangtuanya. Ia berpikiran positif, semoga ini hanya penyakit kepala biasa karena akhir-akhir ini ia kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran. Husin berusaha memfokuskan perhatiannya, namun pikirannya hanya tertuju pada satu pusat, wajah Syifa kembali menghiasi malamnya hari ini. Husin tersenyum, ia memiliki ide yang cukup ampuh untuk ikut mengantar Syifa ke bandara.
***
Syifa tak bisa tidur, besok adalah hari keberangkatannya. Ia hanya bisa memandangi kembali foto-foto yang terpajang di dinding kamarnya. Matanya tertuju pada salah satu foto, yaitu foto dirinya bersama Najla. Foto mereka berdua yang sedang tertawa lepas usai menjalani ospek di kampus setahun lalu. Syifa takut ia tidak bisa beradaptasi dengan suasana di Melbourne nantinya. Syifa masih mengingat persis saat ia bertemu dengan Najla untuk terakhir kalinya di kampus tadi siang.
“Maafin aku ya, La…, maaf kalo selama ini aku banyak salah…,”
“Aku juga, Fa. Jaga dirimu baik-baik disana. Aku ingin kamu kembali ke tanah air menjadi orang yang sukses…,”
Kata-kata dari Najla barusan begitu membekas di hati Syifa. Najla melanjutkan lagi,”Walau bagaimanapun, aku ingin kamu tahu bahwa kamulah satu-satunya sahabat terbaik yang pernah aku punya…,”ujar Najla, yang membuat Syifa refleks memeluknya. Syifa tidak dapat membendung airmatanya. Haruskah persahabatan yang telah terjalin setahun ini berakhir disini?
Najla mencoba menghibur,“Aku juga, Fa. Insya Allah jarak tidak akan merubah persahabatan kita, kita ketemu lagi jika saatnya sudah tiba…,”
“Aku akan selalu merindukan dan mendoakanmu, Najla…,”
“Iya, aku juga…, aku akan selalu menghubungimu….,”
Syifa sedih dan dadanya terasa sakit bila mengingat kejadian tadi siang. Ia berharap Najla ikut mengantarnya ke bandara esok hari, meskipun ia tahu hal tersebut tidak mungkin. Besok jadwal kuliah padat dari pagi hingga sore hari.
Syifa melirik jam yang tergantung di dinding tepat di depannya. Sekarang pukul 2 dini hari. Syifa mengambil wudhu’ dan mencurahkan segala isi hatinya kepada Sang Pemilik Hati.
***
Hari ini adalah hari keberangkatan Syifa dan keluarganya ke Melbourne. Syifa masih termenung sambil memegangi BB-nya. Ia berharap ada yang menghubunginya, atau minimal ada pesan masuk yang menyemangatinya dari siapapun itu, karena saat ini perasaannya tak menentu. Setelah ia memastikan tak ada yang menghubunginya menjelang keberangkatan ini, dengan berat hati ia meninggalkan rumah yang sejak kecil ia tempati. Sebelum memasuki mobil menuju bandara, Syifa agak lama memandangi rumahnya itu. Bisakah ia kembali lagi kesini?
“Kenapa, Fa? Berangkat yuk,” ajak ibunya yang sudah membuka pintu mobil, namun Syifa tetap diam sambil terus memperhatikan rumahnya.
Ibu Syifa kemudian mengambil inisiatif menggamit lengan Syifa yang hanya termangu melihat rumahnya untuk terakhir kali,”Ayo, Nak…,”
Syifa menuruti ibunya yang masuk kedalam mobil. Sesaat kemudian mobil meluncur ke bandara.
Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terlihat sangat sibuk. Setengah jam lagi Syifa dan keluarganya akan boarding. Sebelum masuk kedalam, Syifa celingukan dan berharap akan ada seseorang yang datang untuk mengucapkan sepatah kata padanya.
“Syifa….!!!!” panggil seseorang yang suaranya sangat dikenalinya. Spontan saja Syifa menoleh ke belakang. Tampak Husin menghampirinya setelah lelah berlarian.
“A…, assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam, Sin…, kamu…?” tanya Syifa terputus-putus, ia masih tak percaya.
Husin menunduk,”Aku kesini hanya berharap kamu nggak melupakan aku, Fa…,”
Syifa menatap Husin dengan mata sendu, rasanya ia ingin membatalkan perjalanan ini, namun ia tahu hal tersebut tidak mungkin. Syifa berusaha untuk tetap tegar,”aku nggak akan melupakanmu, Sin…, ”jawabnya,”Oh ya, ini kedua orangtuaku,”
Syifa memperkenalkan kedua orangtuanya pada Husin, kemudian Husin menyalami tangan mereka.
“Subhanallah, Nak…, kamu tampan sekali,” puji ibunda Syifa, sementara itu ayah Syifa melirik istrinya sambil tersenyum.
Husin tersipu malu,“Terima kasih, Tante. Saya temannya Syifa…,”
“Teman atau…?”ibu Syifa menyipitkan matanya, seperti agak curiga. Sementara itu Husin hanya menggaruki kepala dan mengalihkan pembicaraan,”Hanya teman, Tante. Oh ya, Semoga kamu sukses disana, ya, Fa…,”
Syifa mengangguk,”Makasih atas doanya, Sin…,”
“Insya Allah bila waktunya tiba, kita akan bertemu kembali. Aku akan menunggu kamu disini…,”
Syifa tersenyum senang,”Ya. Aku juga…,”
Husin turut berbahagia ketika ia kembali melihat wajah lembut itu tersenyum. Syifa lalu mohon pamit. Ia bersama kedua orangtuanya segera masuk kedalam bandara. Setelah check in, mereka lalu menaiki lantai atas untuk menunggu hingga tiba waktunya memasuki pesawat.
***
Syifa beserta keluarganya baru saja mendarat di bandara Tullamarine-Melbourne tepat jam 7 malam waktu setempat. Ketika sedang mencari taksi, ada pesan singkat yang masuk di ponsel Syifa.
From : Husin
To : Syifa
Aslm, Syifa…, ini Husin, maaf kalo tadi aku lancang menemuimu. Tapi mulai saat ini aku janji, kalo kamu butuh bantuan, aku siap membantu kapanpun itu .
Mata Syifa tak lepas menatap layar ponselnya. Ia tak percaya Husin kini telah bersikap diluar dugaannya. Ia mengirimi Syifa kata-kata yang menyejukkan hati. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Syifa membalas pesan singkat itu.
From : Syifa
To : Husin
Wslm. Nggak apa-apa kok, makasih ya, Sin…
Sesaat kemudian, Najla mengiriminya pesan via BB Messanger.
Aslm,○
Fa, good luck dan hati-hati yah disana. Aku selalu mendoakanmu…. ○
Syifa membalas messanger Najla:
Wslm, La. Makasih ya. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi, aku akan terus menghubungimu, La. Insya Allah…
Syifa merasa bahagia, akhirnya seseorang yang ditunggu menghubunginya, tetapi disisi lain ia juga merasa sedih, ia tidak tahu apakah ia masih bisa bertemu dengan Husin kembali atau justru sebaliknya. Syifa mengikuti orangtuanya menaiki taksi. Didalam taksi, iseng-iseng ia online lewat akun facebooknya.
Syifa tak menyangka dengan apa yang dilihatnya pada permintaan pertemanan. Ada Husin dengan fotonya yang sedang mempresentasikan makalahnya di kelas, sepertinya foto tersebut diambil oleh Jerry atau Aldo secara amatiran. Syifa tersenyum sendiri sambil mengklik button confirm di akunnya. Cuaca Melbourne serasa secerah hatinya saat ini. Besok pagi ayahnya akan pergi ke kantor baru dan ia sendiri akan ke universitas Monash, mengurus administrasinya sebagai mahasiswa baru.
***
Siang ini terasa berbeda. Tidak seperti biasanya, Husin ingin menyendiri dan sering merasa ada yang ‘hilang’ di lubuk hatinya, perasaannya begitu abstrak dan sulit dideskrispikan, sesulit merancang user interface pada Pascal dan sehampa PHP tanpa MySQL. Husin meraih ponselnya dan membaca ulang sms yang telah ia kirimkan pada Syifa kemarin. Husin sangat ingin menghubungi Syifa, tetapi ia bingung harus bagaimana dan ia tak memiliki keberanian untuk menghubungi Syifa.
Sebelum masuk ke ruangan mata kuliah selanjutnya, Husin menyempatkan diri untuk membaca mading sejenak, tetapi tulisan-tulisan yang ada masih sama seperti kemarin. Husin yang kecewa kemudian melangkah ke ruang redaksi majalah kampus. Ruangan itu terlihat sepi, tak ada siapapun didalamnya. Pintu ruanganpun dikunci sehingga Husinpun mengurungkan niatnya yang ingin bertemu dengan salah seorang anggota redaksi majalah. Husin berbalik arah hendak ke ruangan tempat mata kuliah selanjutnya ketika tiba-tiba seseorang menarik bahunya dari arah belakang. Husin menoleh, sepertinya ia mengenal mahasiswa tersebut, tetapi ia sendiri lupa.
“Jadi lo yang namanya Husin?” tanyanya sambil menatap Husin dengan tajam.
Husin mengangguk.
Mahasiswa itu kemudian berkata,”Bagus deh kalo gitu. Gue Navid. Gue harap lo jangan menghubungi Syifa lagi. Asalkan lo tau, dia udah tunangan sama gue. Nih, buktinya,” iapun memperlihatkan jarinya yang dilingkari cincin.
Husin balas menatap mata mahasiswa itu dengan lebih tajam. Sesaat kemudian Husin mengenalinya sebagai pimpinan redaksi majalah kampus,“Oh, ya? Maaf, lalu apa hubungannya dengan saya?”
“Jelas ada. Gara-gara lo Syifa jadi menghindari gue. Gue ingatin sebaiknya lo jangan banyak berkhayal tentang Syifa. Paham?”
Husin terdiam, ia mencoba untuk menguasai perasaannya,“Maaf, saya tidak ada waktu untuk berdebat dengan Anda. Permisi,”
Husin menghindar dari tempat itu, ia hanya tidak ingin terlibat konflik lebih jauh dan ia juga tidak ingin mencari masalah dengan siapapun. Padahal didalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah memang benar yang dikatakan Navid itu? Husin sendiri memang belum begitu mengenal Syifa, tetapi setelah melihat gadis itu, Husin yakin bahwa Syifa tidak seperti yang ia duga sebelumnya. Buru-buru Husin menepis pikiran negatifnya, ia lalu melangkah ke ruangan tempat mata kuliah selanjutnya. Didalam hati ia tetap optimis dan bertekad untuk memperbaiki diri, untuk serius menekuni kuliah hingga lulus sesuai targetnya, sehingga ia pantas berdampingan dengan Syifa.
Didalam ruangan, kedua sahabatnya telah menyediakan tempat duduk untuknya.
“Sin, lo dari mana aja sih?” bisik Jerry.
“Abis dari perpus, baca buku bentar,”ujarnya berbohong. Kali ini ia tak ingin membebani pikiran sahabatnya, biarlah masalah perkataan Navid tadi dipendamnya dalam hati. Ia hanya bisa berpikiran positif dan berdoa semoga apa yang dikatakan Navid kepadanya tadi tidak benar.
Setelah selesai jam perkuliahan, Jerry mencegat Husin yang hendak pulang,”Tunggu dulu, Sin…, ada yang mau gue tanyakan sama lo,”
Husin menghentikan langkahnya kemudian bertanya,”Emang ada apa, Jer?”
Jerry memperhatikan raut wajah Husin yang kelihatan bad mood. Jerry lalu mengurungkan niatnya,”Oh, nggak…., nggak ada apa-apa kok,”
Husin hanya diam dan mengiyakan ketika Jerry pamit pulang.
Baca juga Bab 6
Baca juga Bab 8








0 komentar:
Posting Komentar