Fast Blinking Hello Kitty

With My Lovely Mom

Foto barenk my lovely mom....

Bukit Naang

Dibawah flying fox

Hai.....

Gaya dulu yah.....

Dimana nih yaaa...?

Numpang foto dulu...., hehehehe

Papa dan Mama

My parents photo

28 Maret 2021

My Bestfriend




I have a nice and friendly bestfriend since I was at Junior High School. We are becoming friends until now. Actually, she is a smart and friendly girl, but sometimes a rigid a monotonous person. She always afraid of making mistakes, and wanna be perfect s long day. This is our picture while we were still in 6th semester at campus. 
We always have fun together, beating around the bush by binge watching movie, and once in a blue moon, I treat her some chicken noodles. She helps me a lot every time there are full of plate assignments on campus. So, that's why I had chosen her as my partner while we were having Field Industrial  Practice.

Doing homework and assignment was just a pinch of cake for her. Anyway, we also had a new friend from Pakistan. At that time, we want to practice our English skills by searching friends from abroad. We met a guy from Pakistan who taught us about Hindi language. Now, we had lost contact with him.
And for my best friend, she has already been married now. Hopefully her marriage life will be sakinah, mawaddah and warrahmah. Aamiin YRA.

01 November 2015

Nobody's Perfect

Saat masih remaja, kita cenderung mencari jati diri. Disaat menyukai seseorang, kita hanya akan fokus pada kelebihannya saja, sementara kekurangan dirinya akan tertutupi oleh ‘cinta’. Sebuah kata yang mampu mengubah pola pikir seseorang. Ketika kita mampu menguak kekurangan diri someone special kita itu, masih mampukah kita bertahan? Lalu, yakinkah diri kita bahwa dia itu adalah cinta sejati? Atau jangan-jangan hanya cinta semu belaka? Perlahan tapi pasti, seiring waktu berlalu kita menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bukannya gak mungkin kita akan selalu mencari dan terus mencari sosok yang lebih sempurna dan lebih memahami kita. Seiring luasnya pergaulan, semakin bertambah pula keinginan untuk mencari seseorang yang sempurna sesuai pola pikir kita tersebut. Mempertahankan itu memang tidak mudah, begitu pula menyatukan dua orang dengan pola pikir yang berbeda. Apalagi setelah kita memasuki bahtera rumah tangga yang bisa saja memiliki persoalan cenderung kompleks dibanding saat masih masa ‘pedekate’ yang lalu. Kini pertanyaan selanjutnya adalah : Apakah kita benar-benar ikhlas menerima belahan jiwa kita saat ini apa adanya? Sementara kita telah mengetahui segala hal tentang dirinya, mulai dari masa lalunya hingga saat ia memutuskan untuk menjadikan kita sebagai teman hidupnya. Terkadang kita masih saja mengharapkan yang lebih tanpa mengingat kelebihan dan kebaikan pasangan kita selama ini. Manusiawi sih, tapi bagaimana jika ternyata si dia memiliki kekurangan yang tak dapat kita tolerir? Okay, selama kekurangan tersebut tidak bertentangan dengan adab, norma dan nilai-nilai agama maka hal itu tidak menjadi masalah yang serius. Jika yang terjadi sebaliknya, maka bicarakanlah secara baik-baik. Jangan pernah sekalipun mengintimidasi pasangan karena hal itu akan membuatnya tertekan. Wajar saja jika kita ingin marah karena kita hanya manusia biasa. Akan tetapi lebih baik ketuklah hati nuraninya dan jangan menggunakan emosi, karena emosi hanya membuat suasana bertambah panas. Bagian terpenting dalam meredakan masalah adalah mencari solusi. Carilah solusi dengan mendiskusikan dan saling sepakat dengan pasangan, bila perlu buatlah komitmen dan perjanjian. Siapa yang melanggar, maka dia harus menerima konsekuensinya. Rumah tangga dibangun atas dasar kejujuran dan komitmen. Jika dahulu kita memilih dia karena kelebihannya, lalu sekarang untuk apa kita terlalu menuntut lebih atas kekurangannya? Hal terpenting yang harus kita lakukan bukannya menuntut, melainkan membantu. Bantulah ia menjadi sosok yang lebih baik dan menjadi teladan bagi anak-anak kelak. Bila perlu, bantulah ia menyelesaikan permasalahan yang sedang ia hadapi. Permasalahan dalam rumah tangga bukan menjadi tanggung jawab salah satu pasangan saja karena kita adalah dua jiwa yang menjadi satu, yang oleh karenanya akan lebih indah jika diselesaikan berdua. Bukankah berdua dengan dirinya pasti lebih baik dan kita sendiri meyakini itu?. Tetaplah berusaha dan berdoa agar kita selalu menjadi yang terbaik dimata pasangan. Menjalaninya memang tidak semudah yang diucapkan, namun setidaknya kita telah berusaha. Keep spirit....:)

15 Februari 2015

Love and Love (Again)

Haiiii..., sobat blogger semuanya. Maaf ya, Tia baru posting lagi. Kayaknya blog ini udah kangen banget ama empunya, hehehe... Well, maklum yah, pengaruh hormon berlebih pada bumil. Alhamdulillah cadebay di perut udah menginjak usia enam bulan. Kalo malam-malam berasa ada yang grasak grusuk gitu deh, dedeknya lapar kali, ya?.
Okay, tema kali ini adalah galau antara pacaran dan ta’aruf..., eh, nggak ding. Gak ada kata galau. Hari ini Tia akan membahas mengenai studi kaji perbandingan pacaran dan ta’aruf ditinjau dari segi perspektif (kayak judul tesis aja).
Dulunya, Tia juga sering bertanya-tanya dalam hati : ’Kenapa ya, Islam melarang pacaran? Trus, kalo gak pacaran, kita jadi gak kenal kepribadian calon, dong? Trus, kalo ternyata dianya gak baik, gimana? Rugi dong bertahun-tahun pacaran....?
Nah, disini kuncinya. Pertama kita bahas mengenai ta’aruf dulu. Ta’aruf adalah (menurut mbah google) proses perjodohan menurut cara islam. Untuk lebih lengkapnya lagi, tanya aja ke penulis buku ’Ta’aruf, Proses Perjodohan Menurut Syar’i Islam’ karya Layla Hana-penerbitnya ’Mizania’. Antara laki-laki dan wanita gak ada istilahnya ’berdua-duaan’, karena sesungguhnya jika hanya berduaan dengan non mahram, maka pihak ketiganya adalah syaitthonirrojim.
Tapi...., kalo lagi berduaan naik becak, yang ketiganya kan si abang becak? Eh...., itu lain lagi, itu bukan pihak ketiga namanya. Itu namanya kita membantu si abang becak mencari nafkah. Alangkah lebih indah bila kita berduaan naik becak dengan suami kita lho, bukan dengan pacar, sip?.
Trus, apa yang harus dilakukan sebagai pria sejati? Kan kalo gak pacaran, gak macho gitu?.
Justru kesetiaan dan keseriusan seorang cowok diukur dan dinili dari komitmennya. Bagaimana komitmennya untuk melamar dirimu? Bagaimana sikap dan kepribadiannya kepada wanita, khususnya kepada ibunya?. So, bagi yang (ngerasa) cowok, renungkanlah. Bila kamu merasa tertarik pada seorang wanita (akhwat), apakah kamu benar-benar serius atau hanya sekedar ingin menambah daftar pacar alias having fun? Kalo hanya ingin having fun, sebaiknya gak usah, karena wanita akan lebih menghargai lelaki yang memiliki komitmen, tanggung jawab dan keseriusan.
Trus, gimana cara mengetahui kepribadian calon? Disinilah letak istimewanya ta’aruf dibanding pacaran. Kalau pacaran, kita mengenal calon hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Ya iyalah yang namanya jatuh cinta,semuanya akan terasa indah. Ibarat tahi kucing akan jadi berasa alpokat, bau gas pun jadi beraroma stroberi. Kita jadi gak objektif, kan, dalam menilai calon kita sendiri? Ujung-ujungnya yang ada kita menyesal begitu kita tahu si ’ayank honey bunny sweety’ ada kekurangannya yang sebenarnya gak bisa kita terima.
Sementara ta’aruf, kita dituntut untuk mencari tahu kepribadian calon secara objektif, bukan subjektif. Objektif dalam hal ini, kita diizinkan mencari tahu lebih karakter calon pasangan lewat bertanya kepada ’yang lebih mengenal banget’ karakter calon kita. Carilah dan tanyakan pendapat ke mereka yang objektif, misalnya sahabatnya, tetangganya, dan lain-lain. Jadi, kita bisa memahami sifat dan karakter calon pasangan kita.
Ketika sudah menikah, tepatnya pas baru-baru aja jadi pengantin baru (hehehe...), akan ada rasa ’sesuatu’. Bahkan Tia aja ngalamin nih rasa ’sesuatu’ itu, gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Kalo pacaran kan, rasa yang awalnya ’sesuatu’ itu bisa aja berubah jadi ’biasa-biasa aja’, malahan ’nothing special’. Jadi gak berasa pengantin baru, deh...
So, pilih mana nih, pacaran or ta’aruf? It’s up to you, now ;)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites