Fast Blinking Hello Kitty

With My Lovely Mom

Foto barenk my lovely mom....

Bukit Naang

Dibawah flying fox

Hai.....

Gaya dulu yah.....

Dimana nih yaaa...?

Numpang foto dulu...., hehehehe

Papa dan Mama

My parents photo

31 Maret 2012

My Lovely Author Bab 12 Motivasi Cinta

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Husin bersemangat untuk bangun pagi. Bahkan ia yang membangunkan Pak Tarmo dan Bi Ijah untuk sholat Subuh. Mobilnya ia cuci sampai mengkilap. Husin berencana akan membuat sebuah perubahan besar pada dirinya, ia membayangkan ekspresi Aldo dan Jerry serta teman-teman satu kampus yang kemungkinan besar akan terpana bila melihat perubahannya sekarang.


Husin mengemudikan mobilnya menuju kampus, lagu-lagu kesayangan yang biasa didengarnya di radio pun ikut berubah menjadi lebih romantis. Husin mendengarkan lagu Swear It Again milik Westlife. Meskipun lagu tersebut sudah tergolong zaman dulu, namun ia merasa lagu itulah yang paling mewakili dirinya. Ia tak ingin membuat Syifa kembali sedih dengan perlakuan anehnya beberapa waktu lalu, rasanya ia ingin berbagi kebahagiaan dan kesedihan dengan Syifa walau ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Husin benar-benar telah berubah sekarang. Husin menyenandungkan lagu cinta hingga akhirnya tiba di kampus.
Di kampus, Husin begitu bersemangat menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Bahkan Husin mengalahkan Aldo yang kali ini harus menyerah mengerjakan latihan yang diberikan dosennya.
“Ini sudah satu jam, tapi mengapa hanya satu soal saja tidak ada yang mampu mengerjakannya?”
“Saya, Pak!” Husin mengacungkan tangannya.
“Ya, silakan,”
Husin melangkah menuju papan tulis untuk mengerjakan soal yang terbilang sangat rumit, dan diluar dugaan, hanya dalam hitungan menit ia dapat menyelesaikan soal yang memakai logika dan rumus tersebut. Dosennya memperhatikan hasil kerja Husin kemudian terdiam heran sejenak. Sambil menganggukkan kepala dosennya berujar,”Bagus. Kamu mulai menunjukkan prestasimu sekarang, Sin,”
“Terima kasih, Pak,” jawab Husin tersenyum kemudian kembali ke bangkunya.
“Wah…, mantap sekarang lo, Sin. Gue bener-bener nggak nyangka. Makan apa sih, kemaren?” tanya Jerry yang tercengang melihat perubahan sahabatnya sekarang. Jerry terlihat begitu bersemangat saat menanyakan makanan. Biasa deh, bila ingin mengetahui kuliner, tanyakan saja pada Jerry. Dijamin nggak bakalan nyesel.
“Sip! Sekarang gue dapat landasan teori selanjutnya, ternyata cinta bisa meningkatkan prestasi belajar, hmmm…,” mata Aldo menerawang ke langit-langit kelas,”tapi gue masih bingung, Sin. Kok bisa, ya? Apa hubungannya cinta dengan prestasi belajar? Kayaknya perlu diadakan penelitian lebih lanjut, nih…,”
“Jelas ada dong, Do. Cinta itu memotivasi kita untuk belajar lebih giat agar kita terlihat lebih sempurna di mata dia…, hahaha,”jelas Husin sambil tertawa.
“Sejak kapan lo jadi puitis begini, Sin?” tanya Jerry.
“Ini bukan puitis, guys. Ini hanya sebuah prinsip hidup,”
“Hmm…, iya deh. Kalo gitu gue juga mau menerapkan prinsip hidup lo itu supaya Najla bangga ama gue,” ujar Aldo sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
“Apa????!!!!” tanya Husin dan Jerry hampir berbarengan.
Giliran Husin yang bingung namun sekaligus senang. Sejenak Husin menimbang-nimbang, ternyata cinta adalah sebuah rasa yang sulit didefinisikan namun mampu membuat segalanya berubah, termasuk cara pandang dan pola pikir seseorang.

***
Sesampainya di rumah, Husin teringat pada Syifa. Iapun lalu menghubungi Syifa dan berharap kali ini Syifa menjawab sambungan ponselnya. Husin mencari nama Syifa didaftar kontaknya.
“Halo, assalamu’alaikum…?”
“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Syifa diseberang sana bagaikan semilir angin yang menyejukkan hati.
“A…, apa kabar, Fa?” tanya Husin yang mencoba untuk menutupi rasa gugupnya.
“Alhamdulillah, Sin. Kamu bagaimana?”
“Baik, Fa…,”jawab Husin dan ia kembali teringat tips dari Aldo,” Bagaimana keadaan mama dan papamu, Fa?”
“Alhamdulillah baik-baik aja. Kalau keadaan orangtuamu bagaimana, Sin?”
“Alhamdulillah baik juga. Sedang sibuk ya, Fa?”
“Nggak juga kok. Biasa, Sin. Rutinitas mahasiswa, sibuk sedikit deh. Hehehe…,”
Husin sudah lama merindukan tawa renyah itu, rasanya ia ingin melihat secara langsung wajah Syifa. Tanpa disadari olehnya, Husin bertanya,”Kapan kembali ke Indonesia, Fa? Aku kangen nih…,”
Husin menahan berbagai perasaan yang sulit diungkapkannya. Sementara itu, Syifa terkejut mendengar ucapan Husin barusan. Wajahnya langsung memerah. Ia sungguh tak menyangka Husin akan menanyakan hal demikian. Lalu dengan perasaan yang sama tak menentunya, Syifa menjawab,”Insya Allah kalau sudah selesai kuliah, aku akan kembali, Sin,”
Husin berujar pelan,”Aku akan selalu menantikan saat-saat itu, Fa. Aku selalu mendoakan semoga kamu cepat selesai, ya…,”
“Makasih banyak ya, Sin. Sampaikan salamku untuk mama papa, ya,”
“Iya nanti disampaikan. I will always be missing you, Fa. Assalamu’alaikum,”
Jantung Syifa seakan berhenti berdetak, dengan terbata-bata ia membalas salam Husin,”Wa…, wa’alaikumsalam,”
Syifa menutup ponselnya, begitu pula dengan Husin. Perasaan yang berbunga-bunga menghiasi hati mereka. Sambil merebahkan diri diatas tempat tidur, Husin membayangkan kata-kata yang baru saja ia ucapkan pada Syifa. Ia sendiri bingung mengapa tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulutnya.
***
Setelah perjuangan melelahkan menekuni semester 3, akhirnya KHS pun keluar. Husin yang melihatnya langsung mengucap syukur. Tak sia-sia ia belajar selama beberapa bulan ini. Kali ini indeks prestasinya meningkat.
Husin baru saja pulang kuliah ketika ia melihat kedua orangtuanya sedang berada di ruang tamu.
“Abi…? Mama…?”
Kedua orangtuanya tersenyum,”Iya, Nak. Abi dan Mama sengaja pulang, untuk mengetahui keadaan kamu…,”
Mata Husin berbinar,”tapi kok nggak ngasih tau Husin dulu, Ma? Husin kan bisa menjemput mama di bandara…,”
“Anggap saja ini kejutan karena kamu berhasil meningkatkan indeks prestasi di semester ini….,”jelas ayah Husin.
“Loh, kok Abi tau?” senyum Husin mengembang, ia senang karena janji pada ayahnya telah ia tepati.
“Abi sudah menduga sebelumnya. Abi tahu kamu adalah anak yang bertanggungjawab, konsisten serta menepati janji. Oh ya, Sin, ada yang ingin Abi dan Mama sampaikan..,”ayah Husin menjelaskan
Husin duduk didekat kedua orangtuanya,”Ada apa, Bi?”
“Abi sudah mendengar penjelasan Pak Tarmo, ditambah lagi Kak Aini juga sudah pernah menghubungi Abi lewat telepon. Katanya kamu sering sakit kepala. Benar itu, Sin?”
Husin mengangguk,”Iya, Bi…,”
“Sudah diperiksakan ke dokter?”
Husin menggeleng.
Ayah Husin bersandar di sofa,”Kalau begitu sebaiknya kita periksakan saja. Abi punya teman, dia seorang dokter terkenal disini. Kamu harus ikut Abi ke tempat prakteknya,”
“Tapi Husin gak apa-apa kok, Bi…,”
“Sekali saja. Setelah itu, kamu boleh mengatakan bahwa kamu tidak apa-apa,” tegas ayahnya.
“Iya, Bi. Besok Husin akan check up ke dokter,” jawab Husin berbohong, ia enggan karena didalam hatinya menolak untuk mengontrol kesehatannya. Husin merasa sakit yang dirasakannya hanya sakit biasa, efek trauma dari kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
***
Hari ini jadwal kuliah Husin kosong. Abi mengajaknya pergi ke dokter untuk menjalani medical check-up. Sebenarnya Husin merasa keberatan karena ia yakin tidak ada masalah dengan kesehatannya. Namun setelah dijelaskan oleh ibunya, Husin menyanggupi ajakan itu meskipun ia harus menjalani serangkaian tes kesehatan yang cukup melelahkan.
Didalam ruangan, dokter saraf yang menangani Husin memperhatikan hasil rontgen yang membuat Husin dan ayahnya cemas.
“Bagaimana hasil MRI nya, Dok?” tanya Abi.
Dokter masih terpaku menatap file MRI yang dipeganginya,”Kelihatannya baik-baik saja, Pak. Tak ada yang perlu dikhawatirkan….,” dokter itu kemudian menatap Husin,”kenapa, Sin? Apa ada yang membebani pikiranmu?”
Sambil tersenyum Husin menjawab, “Biasa deh, Om. Sindrom mahasiswa…, hehehe…,”
Dokter hanya menggeleng kemudian berujar,”Hmmm…., atau jangan-jangan sudah ada wanita yang mencuri hatimu, Sin?”
Husin menjawab dengan kikuk dan berkilah,”Harap maklum, Om. Galaunya anak muda,”
“Baiklah. Berdasarkan hasil file ini, kamu dinyatakan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak mikir. Jalani saja hidup ini sesuai takdir-Nya,”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok..,”ayah Husin berjabat tangan dengan dokter yang juga merupakan sahabatnya tersebut.
“Sama-sama…,”
Husin dan ayahnya pun keluar ruangan kemudian menuju tempat parkiran mobil. Sepanjang perjalanan, Husin dan ayahnya lebih banyak diam. Sesaat kemudian ayahnya berujar,”Sin…,”
“Iya, Abi?”
“Apa benar sudah ada seseorang yang kamu sukai?”
Husin yang sedang mengemudi terlihat agak terkejut namun berusaha menutupi perasaannya,”Sebenarnya ada, Abi. Tapi Husin ragu, apakah dia juga suka dengan Husin…., Husin gak tahu pasti, Bi,”
Ayahnya manggut-manggut,”Oh, jadi itu yang menjadi beban pikiranmu selama ini?”
Husin berkilah,”Husin nggak mikirin apa-apa kok, Bi. Abi kan pernah muda? Husin aja yang belum pernah tua. Hehehe..,”
“Hmm., iya deh. Anak-anak muda zaman sekarang. Ternyata berbeda dengan Abi dulu,”
“Iya, Bi. Sekarang ini zaman internet. Bisa berkomunikasi dengan seseorang di seberang benua hanya dalam hitungan menit,”
“Seberang benua? Jangan bilang kalau kamu…,” ayahnya menatap Husin curiga.
“Nggak, Bi. Dia teman satu kampus dengan Husin, tetapi dia sudah pindah ke seberang benua, di Australia. Ntar aja deh Husin kenalkan ke Abi kalau semuanya sudah positif ya, Bi?”
Ayahnya mengangguk setuju,”Siapapun itu, Abi mendukungmu. Tetapi yang penting lihatlah ia dari sisi agama dan kepribadiannya, bukan karena fisik dan hartanya,”
“Insya Allah, Bi. Karena agama dan kepribadiannya itulah yang membuat Husin yakin,” jawab Husin sambil membayangkan wajah Syifa yang sedang tersenyum. Hanya dengan cara itu Husin mengobati kerinduannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah. Husin memasukkan mobilnya ke garasi.
***
Tak terasa Husin dan teman-teman seangkatannya sudah memasuki kuliah tingkat akhir. Anggota D’ Handsome sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, sesuai dengan komitmen persahabatan mereka untuk menyelesaikan kuliah tepat waktunya. Husin kembali menghubungi Syifa, dan kali ini ia berusaha untuk mengendalikan perasaannya agar menjadi lebih tenang.
“Assalamu’alaikum, Syifa…,”
“Wa’alaikumsalam, Husin…,”
“Sedang apa, Fa? lagi sibuk ya?” tanya Husin.
“Biasa deh, sedang nyusun proposal, Sin. Kalau kamu sedang apa?”
“Sama dong. Mudah-mudahan kita cepat selesai ya, Fa?”
“Aamiin..,” jawab Syifa.
Husin melanjutkan,”dan kita bisa bertemu lagi. Oh ya, Fa, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Boleh. Ada apa, Sin?”
Husin terdiam sejenak, ia pikir inilah saatnya untuk menanyakan tentang Navid agar dirinya tidak salah dalam melangkah,”tapi sebelumnya maaf ya, Fa…, kalau pertanyaan ini kesannya agak pribadi,”
Syifa semakin bingung. Ia menjawab,”gak apa-apa. Tanyakan aja, Sin. Kita kan sudah lama kenal…?”
“Baiklah. Dengar-dengar Navid melamar Syifa, ya? Sekali lagi maaf ya, Fa, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu terlalu jauh, Fa…,”
Syifa bingung,”dengar isu darimana, Sin?”
Husin merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri,”ya dengar-dengar aja, Fa..,”
Syifa tersenyum,”Nggak, Sin. Itu hanya isu, belum ada yang melamar, Sin. Memang sih, Syifa dekat dengan Mas Navid, tetapi dia sudah Syifa anggap seperti saudara sendiri, karena ibu kami sudah bersahabat sejak dulu..,”
“Alhamdulillah….,” ujar Husin secara spontanitas. Hatinya merasa lega sekarang setelah mendengar jawaban langsung dari Syifa yang berarti masih ada secercah harapan untuknya. Husin melanjutkan pertanyaannya,”berarti masih ada tempat untukku kan, di hatimu, Fa?”
Syifa terdiam sejenak dan berusaha menenangkan perasaan hatinya,”biarlah waktu yang menjawab semuanya, Sin. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, berdo’a dan bertawakkal. Selebihnya kita serahkan pada takdir Allah yang menentukan,”
“Benar, Fa. semuanya sudah digariskan di Lauhul Mahfuz, tetapi aku berharap takdirku adalah bersamamu, Fa…,”ujar Husin sambil menahan getaran di hatinya.
“Insya Allah. Aamiin…,” jawab Syifa, begitu pula dengan Husin.
“Jangan lupa jaga kesehatan ya, Fa. Istirahat yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri. Sudah dulu ya, Fa. I will always be missing you. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam. Jangan lupa jaga kesehatan juga ya, Sin…,” jawab Syifa lalu mengakhiri pembicaraan. Saat menutup pembicaraannya dengan Husin, Syifa teringat dengan kondisi kesehatan jantungnya yang kurang baik. Apakah Husin tahu keadaan dirinya? Apakah Husin masih mau menerima dengan kondisinya yang seperti ini?.
Ditengah kegelisahannya, Syifa berdoa,”Ya Allah, jika Husin memang jodoh hamba, semoga ia mau menerima segala kekurangan hamba, Aamiin…,”

Husin menutup ponselnya. Malam ini hatinya sungguh lega setelah mendengar penjelasan Syifa barusan. Ia berharap semoga ini adalah awal dari hubungan yang lebih serius lagi, dan mudah-mudahan Syifa adalah jodoh yang telah disiapkan Allah untuknya.


Baca juga Bab 13

21 Maret 2012

My Lovely Author Bab 11 Makna Kesetiaan




“Ng…, Sin…, lo sendiri, gimana dengan Syifa?” tanya Aldo ketika sudah duduk didalam ruangan.
Husin menggeleng,”Kayaknya percuma aja, Do. Toh Syifa akan memilih Navid ketimbang gue…,”Husin mulai tak percaya diri ketika mengingat Navid.
Aldo menghibur sahabatnya,”belum tentu, Sin. Siapa tahu itu hanya gosip. Tau sendiri kan, Navid suka syirik ama lo. Yah, kali aja dia hanya manas-manasi lo,”
Husin menoleh,“Tapi kenapa kemarin Syifa tiba-tiba nitip salam untuk staf redaksi majalah? Berarti kan disana ada Navid, Do?”




“Yah, itu teh, basa-basi aja, atuh…. Seharusnya lo bilang terus terang mengenai perasaan lo yang sebenarnya. Dan jangan lupa, titip salam juga buat ortunya. Itu aja sih tips dari gue,”ujar Aldo sambil menyengir.
Husin merenungkan saran Aldo barusan. Walaupun ia sendiri merasa kurang yakin, namun sepertinya tips ini cukup jitu untuk dicoba. Mata kuliah hari itu sangat menyenangkan bagi Husin. Ia belajar penuh semangat demi merangkai masa depan. Dalam hati ia bertekad untuk lulus sesegera mungkin, kemudian merangkai masa depan bersama penyembuh luka batinnya.

***

Setibanya di rumah, genggaman tangan Husin tak lepas dari ponselnya. Sesekali ia melirik layar ponsel dan menatap keluar jendela kamar. Ia ingin sekali menghubungi Syifa tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Husin beranjak ke dekat jendela dan menatap langit sore ini yang sangat cerah, mencoba mengukir sebuah nama diatas sana. Husin mencoba mempraktekkan usul Aldo saat di kampus tadi dan berharap semuanya akan berjalan lancar. Ia harus menghubungi Syifa, tidak bisa ditunda lagi. Cepat-cepat Husin mencari nama Syifa di daftar kontaknya, namun Husin harus menelan kekecewaan karena ponsel Syifa tidak aktif. Apakah Syifa marah atas perlakuannya beberapa waktu lalu? Apakah Syifa tidak ingin mengenalnya lagi? Apakah ia terlalu tergesa-gesa dan membuat Syifa bingung atas sikapnya? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Husin melirik kalender yang tergantung di dinding kamarnya, hari ini tepat dua minggu setelah ia memutuskan pembicaraan secara tiba-tiba. Husin termangu dan memutuskan untuk mencoba menghubungi Syifa kembali, bila waktunya sudah tepat. Husin yakin bila saatnya sudah tiba, Husin akan menyampaikan sesuatu hal yang belum pernah Syifa duga sebelumnya dan yang belum pernah Husin jelaskan kepada wanita manapun juga.
***
“Pa, setamat kuliah nanti, Syifa pengen kerja di Jakarta aja, ya?” pinta Syifa ketika keluarga mereka sedang makan malam.
“Kenapa, Fa? Kamu nggak suka bekerja disini saja?”
“Bukan begitu, Pa. Syifa kangen sama Nenek. Syifa berencana mau tinggal di rumah Nenek aja, tapi kalau mama papa masih ingin tetap disini nggak apa-apa kok…,” jawab Syifa.
Ayahnya mempertimbangkan keputusan Syifa sejenak,”Baiklah. Bila itu memang keinginan kamu, Papa mendukung kok. Ya kan, Ma?”
Ibu Syifa juga mengangguk,”apapun yang kamu inginkan, Mama harap itulah yang terbaik,”
“Dan masalah Mas Navid….,” Syifa menggantung kalimatnya,”Syifa masih ingin fokus ke kuliah dulu. Syifa masih belum memikirkan hal itu, Ma….,” ujarnya. Sebenarnya Syifa ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin memberi harapan yang tak jelas kepada Navid, tetapi Syifa juga tidak ingin mengecewakannya. Sejenak ia bingung mengenai apa yang harus dikatakannya agar tidak menyinggung perasaan Navid.
Setelah makan malam, Syifa masuk kekamarnya untuk menyelesaikan tugas. Ia membuka laptopnya dan mulai membuka Microsoft Word untuk membuat makalah sebagai tugas selama liburan. Tiba-tiba ponsel Syifa berdering, ternyata dari Navid.
“Halo, assalamu’alaikum…,” sapa Syifa.
“Wa’alaikum salam, Cinta….,”
Hhhh…, panggilan itu lagi. Namun Syifa berusaha bersikap santai.
“Udah makan malam?”
“Udah, Mas,” jawab Syifa.
Navid bingung ia harus menanyakan apa lagi. Kemudian ia mengutarakan isi hatinya,“Fa…, kamu tahu kan, kalau kita dijodohkan?”
Syifa terdiam sejenak lalu dengan pelan berucap,“Iya…,”
“Mas memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kakak-adik dan sahabat, Fa. Mas ingin kita merangkai masa depan bersama-sama…,”
Ucapan Navid barusan membuat Syifa semakin dilema. Setelah berpikir sejenak, Syifa memberanikan diri untuk menegaskan kata-kata hatinya selama ini,”Mas…, maaf sebelumnya jika Syifa mengecewakan Mas Navid. Tetapi selama ini Syifa hanya menganggap Mas Navid sebagai kakak, dan Syifa masih ingin konsentrasi ke kuliah dulu….,”
Hening. Tak ada jawaban dari Navid.
“Bila Mas tak sanggup menunggu, Mas boleh mencari pengganti Syifa,”tegasnya.
Navid merenung sejenak. Ia menggenggam ponselnya dengan erat,“Mas akan setia menunggumu, Fa. Insya Allah… ya udah, Mas mau mengetik proposal dulu, ya. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”tutup Syifa. Kini perasaannya mulai lega. Ia berharap semoga saja ia tidak mengecewakan Navid, karena walau bagaimanapun Navid telah mengenalnya dengan baik sejak di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Ia lalu melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya yang lumayan banyak. Disaat kembali asyik mengerjakan tugas, Husin menghubunginya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa Husin.
“Wa’alaikumsalam, Sin…, apa kabar?” tanya Syifa.
“Alhamdulillah baik…, kamu sendiri gimana, Fa?”
“Sama. Alhamdulillah…,”
“Ng…, Fa…,” panggil Husin. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Syifa, tetapi ia ragu dan takut Syifa akan tersinggung karena pertanyaannya.
“Sebelumnya maaf banget karena udah dua minggu ini aku gak menghubungimu. Kamu gak marah sama aku atas kejadian dulu, kan?” tanya Husin, suaranya semakin pelan.
“Nggak, Sin. Apa yang harus aku marahkan? Aku kan nggak bisa marah, hehehehe…,”Syifa berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Husin berkeringat dingin dan mencoba mengontrol emosinya,”Fa, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan…,”
“Oh, bilang aja, Sin…,”
“Tapi gimana kalo kita mengobrol via Yahoo Messanger? Ada banyak hal yang ingin aku ketahui, Fa. kamu gak keberatan, kan?” tanya Husin, agak ragu.
Syifa tersenyum,”Tentu aja nggak, Sin. Kita kan udah temenan….,”Syifa memelankan suaranya tepat disaat ia mengucapkan kata ‘temenan’. Suara di sudut hatinya memberontak dan ingin membantah bahwa sebenarnya Syifa menganggap Husin lebih dari sekedar teman.
“Oh…, iya, jadi bagaimana kalo sekarang? Kamu gak keberatan, kan, Fa?”
“Ok, deh. Aku juga sedang berada didepan laptop, kok, sekarang,” jawab Syifa. Mereka memutus pembicaraan dan beberapa menit kemudian Syifa masuk ke akun Yahoo Messanger-nya dan melihat Husin mengaktifkan mode video.
“Assalamu’alaikum, Fa..,”Husin mengetikkan kalimat di laptopnya. Ia sedang memakai baju kaus berwarna biru. Sekilas Syifa melirik warna baju yang dikenakannya, ternyata mereka berdua sama-sama mengenakan baju berwarna biru.
Syifa : Wa’alaikumsalam, Sin….
Husin : Aku terlihat ganteng, kan, di videomu? :-D
Syifa menatap wajah Husin melalui video. Iseng-iseng ia mengetikkan sebuah kalimat yang tidak menyetujui, namun tidak pula membantah hipotesis Husin tersebut.
Syifa : Hm…, ganteng gak yaaaa….??????
Husin : Btw, kok kita bisa sama-sama pake baju biru, sih?
Syifa : Hah? Iya yah…? :-<>
Husin : Wah, tumben kita kompak :-D
Syifa : Hmmm…, kok bisa ya? Aneh tapi nyata…. .
Rahasia Illahi, Sin…
Husin : Oh iya, maaf soal kejadian beberapa hari lalu, Fa.
Kemarin aku tidak bermaksud untuk menyakitimu..
Aku hanya ingin kita tetap bersahabat baik….
Syifa : Iya, Sin, aku ngerti kok
Husin : Oh ya, gimana dengan aktivitas kamu disana?
Kamu masih suka menulis?
Syifa : Alhamdulillah semuanya disini lancar
Iya dong, kalo sehari aja nggak nulis, hampa rasanya :-D
Husin : Tulis tentang aku, dong, Fa. tapi jangan yang macem-macem, ya?
Syifa :  Ok deh. Seep seep (y)
Husin : Salam buat mama papa, yah, Fa. Katakan dari seseorang, hehehe
Syifa : Ok deh, Sin. Aman deh….
Husin : Hehehe. Aku sign out dulu ya. Assalamu’alaikum, cute :-D
Syifa terkejut ketika membaca kata terakhir dari Husin. Setelah menjawab salam, Syifa keluar dari akunnya sambil tersenyum simpul.
Syifa tersenyum, sebuah virus unforgettablelove.exe berhasil memasuki pertahanan sistem hatinya. Syifa membuka akun blognya dan mulai menulis kejadian apa saja yang ia alami hari ini. Hatinya bagaikan secerah sinar rembulan yang memasuki jendela kamarnya.
***
Navid termenung didepan laptopnya. Proposal yang sedang ia ketik terhenti seketika saat bayangan Syifa dan wajah lembutnya melintas di pikirannya. Seorang gadis yang tak mudah mengatakan cinta dan menurut Navid, Syifa adalah tipe gadis setia. Syifa dan Navid sudah sangat akrab sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama. Sayangnya Navid seringkali tidak menyadari hal-hal yang dilakukannya setelah kuliah ini bertentangan dengan prinsip Syifa. Bicara mengenai prinsip membuat Navid merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Seolah kehilangan arah dan tidak tahu apa tujuan hidupnya, jauh berbeda dengan Syifa. Navidpun menjadi merasa bersalah pada Syifa sebab entah sudah berapa kali ia menyakiti Syifa, memberi rayuan dengan begitu mudahnya pada wanita lain. Tanpa disadari sifatnya tersebut menjadi kebiasaan, begitu banyak wanita yang ia dekati menaruh harapan padanya, kecuali Syifa. Masih membekas juga dalam ingatannya ketika ia melihat dari jauh wajah sumringah Syifa saat bertemu Husin menjelang ujian tengah semester. Navid dapat melihat sinar cinta di mata Syifa, meskipun itu bukan untuknya. Terkadang kita baru menyadari makna kesetiaan setelah kita kehilangan.
Navidpun memutuskan sesuatu, ia lalu mengetikkan sebuah surat yang akan dikirimnya via e-mail kepada Syifa.
From : naveed_athaila90@yahoo.com
Cc :
To : asheefa_chai92@gmail.com
Subject : Notice
Assalamu’alaikum wr., wb
Kepada Syifa yang lembut hatinya, jujur kata-katanya dan sopan tingkah lakunya, e-mail ini sengaja Mas kirimkan dengan tujuan agar kita tidak ada kesalah pahaan diantara kita nantinya. Sebelumnya maaf bila Dek Syifa keberatan dengan tingkah Mas yang aneh akhir-akhir ini. Mas hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Mas sendiri merasa sangat bodoh mengapa Mas sejak dulu tidak berterus terang tentang rasa ini kepadamu, Fa…, selama bertahun-tahun ini Mas hanya memendam rasa yang sebenarnya sudah lama ingin Mas sampaikan. Kamu adalah wanita yang memancarkan kelembutan dan menyadarkan Mas tentang arti cinta sebenarnya, Fa. Ketulusanmu membuat Mas sadar mengenai makna cinta sejati. Izinkanlah Mas merangkai masa depan bersamamu dengan tulus walau Mas sendiri kurang yakin kamu juga memiliki rasa yang sama seperti yang Mas rasakan saat ini. Mas tidak akan memaksamu, Fa…, biarlah takdir yang mempertemukan kita bila Allah swt., memperkenankan kita mengarungi hidup bersama. Tetapi bila tidak, Mas akan menjauh dari kehidupanmu karena Mas mengerti bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki.
Wassalam,
Dari yang mencintaimu,
Navid Athaila

Navid keluar dari kamarnya. Ia menemui kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Navid harus menceritakan semuanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keluarga Navid dan Syifa.
“Pa…, Ma…, ada yang ingin Navid sampaikan…,”
Kedua orangtuanya menatap Navid penuh tanya,”ada apa, Nak?” tanya ibu Navid.
“Ini tentang Syifa…,” Navid berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan malam ini. Ia tidak ingin membebani Syifa, namun disisi lain ia tidak ingin melukai hati kedua orangtuanya.
“Ma…, Navid mengundurkan diri dari perjodohan ini…,” ujar Navid pelan. Ibunya agak terperanjat. Navid kembali menjelaskan,”Navid berpikir alangkah lebih baik bila Navid meneruskan magister dulu. Navid tidak ingin membebani Syifa, bila dia juga ingin melanjutkan pendidikannya, Navid tidak akan memaksanya…,”
Kedua orangtuanya terdiam, sesaat kemudian ayahnya mengambil keputusan,”Baiklah bila itu memang pilihanmu. Papa harap kamu bisa konsisten dan berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan,”
“Mama gimana…?” tanya Navid sambil menatap ibunya yang terlihat agak keberatan menerima keputusan putranya yang mendadak ini. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, ibu Navid menginginkan agar hubungan kedua keluarga yang sudah terjalin baik selama beberapa tahun ini tidak terputus begitu saja.
Setelah mempertimbangkan aspek baik-buruknya, akhirnya ibu Navid berujar,”Mama tidak akan memaksa. Kamu sudah dewasa dan bisa mengambil sikap,”
“Makasih, Pa…, Ma…, Navid harap keputusan ini tidak mengubah tali silaturrahim antara keluarga kita dan keluarga Syifa,”ujarnya.
Ibunya mengangguk,”Nanti Mama akan coba bicara dengan mamanya Syifa. mudah-mudahan mereka bisa mengerti,”
Navid merasa agak lega sekarang. Meski berat, namun Navid berusaha untuk ikhlas, ia harus menerima konsekuensi dari sikap-sikapnya selama ini yang dengan begitu mudahnya mengumbar kata-kata mesra pada banyak wanita, yang tanpa disadarinya telah membuat hati Syifa terluka. Terkadang kita baru mengerti arti kesetiaan setelah merasakan kehilangan.

Baca juga Bab 12

13 Maret 2012

My Lovely Author Bab 10 Bertemu Kembali

Musim panas sudah sekian minggu menyinari Australia. Syifa sedang menikmati liburannya. Walaupun begitu, seabrek tugas sudah menanti di masa liburan mereka kali ini. Syifa dan Donna berencana menonton pertandingan kriket karena hari ini adalah Boxing Day, yaitu hari pertandingan persahabatan olahraga kriket antarnegara yang selalu diadakan setiap tahunnya di Melbourne Cricket Ground. Permainan ini menggunakan bola dan pemukul yang biasa disebut “bat”. Olahraga ini juga termasuk 5 olahraga paling populer di Asia selain sepakbola, senam, beladiri dan tenis meja.


Sesampainya di stadion, Donna mengeluarkan handycamnya dan sibuk merekam aktivitas pemain menjelang pertandingan dimulai. Syifapun memiliki ide. Ia meminta tolong pada Donna untuk merekamnya lewat handycam tersebut.
“Oh, sure. You want to show it to Husin, right?” tebak Donna sambil mengangkat sebelah alisnya. Syifa tersenyum simpul. Donnapun dengan senang hati merekam aktivitas Syifa.
Syifa maju selangkah ke depan dan mulai memperkenalkan stadion Melbourne yang sangat luas, tak lupa ia memperkenalkan apa itu Boxing Day melalui rekaman video itu. Sesekali Donna menyorot pemain yang tengah mempersiapkan diri. Syifa dapat melihat betapa Donna terpaku saat menyoroti dirinya. Syifa yang merasa aneh tidak segan untuk bertanya,”What’s wrong, Donna? Is there something wrong with my shirt?”
Syifa memperhatikan pakaian yang dikenakannya, tak ada yang spesial. Hanya baju merah yang dipadu dengan kardigan berwarna ungu. Donna menggeleng, ia hanya mengatakan,”I have just realized that you looks so beautiful today. I bet Husin will be speechless,”
Syifa tersenyum. Ia berasumsi bahwa Donna pasti hanya sedang bercanda. Donna memasang wajah serius untuk meyakinkan Syifa atas ucapannya barusan. Syifa mengalah dan berterima kasih atas pujiannya, namun Syifa tidak terlalu menanggapi hal tersebut. ia melanjutkan perkenalan dirinya, sesaat kemudian Syifa teringat Lily, sahabat kecilnya.
Sambil menonton pertandingan, Syifa teringat pada Husin. Kira-kira sedang apa dia sekarang?
***

Husin dan Aldo bertamu ke rumah Najla. Sore ini usai jam kuliah, Aldo mengajak Husin untuk mampir sebentar ke rumahnya, dan dari sana Husin dapat berkunjung ke rumah Najla. Sebuah rumah mungil yang dihiasi beraneka macam bunga di taman depannya.
“Assalamu’alaikum,”sapa Husin ketika seseorang membuka pintu. Aldo langsung mengenalinya sebagai Nabil, kakak Najla. Nabil memiliki wajah yang teduh, sorot matanya tajam namun lembut, sesuai dengan karakter dan kepribadiannya.
“Wa’alaikumsalam, cari siapa, ya?”
“Aa’ Nabil, ini teman saya, namanya Husin. Dia ingin belajar banyak hal sama Aa’, kalau nggak keberatan…,” jelas Aldo sambil memperkenalkan Husin.
“Oh, begitu. Ya gak apa-apa. Silakan masuk,” Nabil lalu mempersilakan mereka masuk.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Nabil dengan ramah setelah sebelumnya mempersilakan mereka untuk duduk.
“Tapi maaf sebelumnya jika saya merepotkan…,”ujar Husin.
“Gak apa-apa. Tanyakan saja,” jawab Nabil, tak keberatan.
“Saya hanya ingin tahu…., bagaimana caranya agar menjadi pribadi seperti Aa’ Nabil?”
Nabil hanya tersenyum simpul,”Memangnya saya kenapa?”
Husin menyikut Aldo. Aldo menjelaskan,”Begini lho..., Husin ini ingin sekali belajar agama. Aldo pikir, Aa’ Nabil orang yang tepat karena Aldo sering melihat Aa’ aktif di organisasi keislaman di kampus,”
“Jujur saya sendiri masih banyak belajar…, sama seperti adik-adik juga. Tapi, baiklah. Saya akan memberi tahu rahasianya,” ujar Nabil yang membuat Husin semakin penasaran.
“Pada dasarnya semua laki-laki adalah imam, minimal menjadi imam di rumah tangganya kelak. Oleh karena itu, dia harus belajar tentang agama, kesabaran dan keikhlasan….,”
Nasihat itu direkam oleh Husin. Processor otaknya bekerja keras namun tetap santai untuk mencerna setiap kata yang terucap.
“Sekian dulu dari saya. Apa ada yang ingin ditanyakan?” tanya Nabil, membuat Husin yang termenung akhirnya kembali sadar.
“Ng…., eh, ada, A’. Mengapa didalam islam istilah pacaran itu tidak ada?” tanya Husin yang membuat Aldo menepuk jidatnya sendiri sambil bergumam,”Hadeh, pertanyaan konyol…,”
Nabil menjelaskan dengan mengambil sebuah perumpamaan,”Misalkan ada dua buah cincin berlian. Cincin yang satu masih tersimpan rapi pada kotaknya tanpa pernah disentuh oleh siapapun. Sementara cincin yang satu lagi warnanya sudah pudar karena sudah pernah dipakai banyak orang. Bila keduanya dipajang di etalase toko, kamu lebih memilih yang mana?”
Husin yang terpana kemudian menjawab,”Jelas yang masih didalam kotak, dong, Aa’…,”
Nabil tersenyum,”Itulah maksud saya. Kita harus menghargai wanita sebagaimana cincin yang berada didalam kotak tersebut. kita hanya bisa membukanya dengan cara yang halal, yaitu pernikahan…,”
“Lalu, apakah boleh bila kita menyatakan cinta kepada wanita?”Aldo ikut-ikutan bertanya. Husin terperanjat mendengar pertanyaan Aldo barusan. Sepertinya Aldo ingin menyindir dirinya.
“Boleh saja. Kita menyatakan perasaan agar calon kita tersebut mengerti. Tapi dengan syarat kita tidak bermain-main dengan apa yang kita ucapkan dan mengharap ridho Allah untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius,”
Aldo melirik Husin yang tampak sedang tersenyum-senyum sendiri. Aldo mendapatkan satu poin penting yang berguna dalam hidupnya, begitu juga dengan Husin.
“Ok, Aa’ Nabil. Aldo rasa semua pertanyaan Husin sudah dijawab. Kami pamit dulu, assaalamu’alaikum,” pamit Aldo.
“Wa’alaikumsalam. Lho, kok buru-buru?”
“Iya, Aa’, masih banyak tugas yang belum selesai. Maklum, kuliah masih semester tiga, hehehehe….,”celetuk Husin ketika berada didepan pintu,”Makasih banyak ya, Aa’…,”
“Iya. Sama-sama, Dek…,” balas Nabil.
Saat akan memasang sepatu, Aldo teringat Najla.
“Salam buat Najla yah, Aa’…,” pesannya. Husin melirik Aldo sekilas. Didalam hati ia curiga, jangan-jangan sahabatnya ini….
“Iya. Nanti disampaikan,”jawab Nabil. Ia paham maksud terselubung Aldo. Mungkin saja Aldo memiliki perasaan lebih terhadap adiknya. Setelah lama tak bertemu sejak kesibukan kuliah beberapa minggu terakhir ini, Aldo jarang sekali bertemu dengan Najla. Aldo pun sudah lama tidak berkunjung ke rumah ini lagi. Mungkinkah esok hari mereka akan bertemu kembali di kampus?
Husin baru saja akan menstarter mobilnya ketika Aldo bertanya,”Sin…, jadi lo udah mengerti Syifa, kan?”
Husin terdiam, matanya menatap Aldo.
“Sin…, kok diem?”
“Hah? Ng…, oh, iya…,tenang aja, gue udah dewasa untuk hal yang kayak gitu dan bisa memahami karakter dan keinginan Syifa,” ujarnya sambil menstarter mobil lalu menginjak pedal gas. Tujuan pertama adalah ke rumah Aldo terlebih dahulu, karena tadi Aldo memilih untuk nebeng mobil Husin. Setelah itu, Husin pulang ke rumahnya.
***

Sore ini Husin membuka iPad. Daripada menonton televisi, Husin lebih memilih untuk mengecek akun facebooknya. Ia melihat pemberitahuan bahwa Syifa membagikan tautan video olahraga kriket ke profilnya. Husin menonton video itu hingga tiga kali, yang membuatnya semakin ingin menghubungi Syifa. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Husin mencari nama Syifa di daftar kontak dan langsung menghubunginya. Tidak lama setelah itu, terdengar Syifa menjawab ponselnya,”Halo, assalamu’alaikum,”
Husin tak tahu harus menjawab apa selain hanya menjawab salam Syifa,”Wa…, wa’alaikum salam…,ng…,”Husin memikirkan apa yang hendak dikatakannya pada Syifa. Sementara itu, jauh di seberang benua, Syifa dengan sabar menunggu sepatah kata yang akan diucapkan Husin.
“A..., apa kabar, Fa?”
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri, Sin? Bagaimana kuliahnya?”
“Alhamdulillah lancar, Fa. Se…, sekarang disana udah malam, ya?” tanya Husin, ia menggaruki kepalanya seraya bergumam dalam hati,”pertanyaan konyol….,”
Syifa tersenyum. Jika saja mereka mengaktifkan 3G, tentu Husin akan dapat melihat wajah Syifa.
”Iya. Disini udah jam setengah sembilan, tapi matahari masih belum terbenam. Mungkin sebentar lagi, maklum sedang musim panas…., kalo disana bagaimana?” Syifa balik bertanya, yang membuat degup jantung Husin menjadi tak karuan.
“I…iya…, eh, maksudku disini masih sore…, ng…, kesibukan kamu sekarang apa, Fa?”
“Nothing. Just like another ordinary collegean. Go to campus and study…,”Syifa mencoba mencairkan suasana yang menurutnya kaku.
“Cie…., yang skor TOEFL nya udah 550. Hehehe…,”
Syifa tersipu malu,”Nggak sampai segitu, kok, Sin,”
“Yah, tapi yang jelas kamu lebih unggul dari segi manapun dibanding aku, Fa,”
“Aku biasa-biasa aja, Sin. Gak ada yang istimewa dari aku,”
Husin mengangkat sebelah alisnya,”Oh ya? Ng…, udah makan malam dong, ya?”
“Udah….,” jawab Syifa.
“Lalu bagaimana dengan Papa dan Mamamu, Fa? mereka baik-baik aja, kan?” tanya Husin.
”Alhamdulillah baik…,. O iya, bagaimana kabar staf redaksi majalah kampus, Sin? Aku udah kangen, nih. Apakah ada tulisan terbaru?”
“Staf redaksi…., berarti yang dimaksudnya adalah Navid…,”gumam Husin dalam hati. Ada rasa panas yang membara di hatinya, namun tidak ia perlihatkan. Husin hanya terdiam. Tangannya terasa kaku saat mengenggam ponsel.
“Halo…, Sin? Masih disana, kan?” tanya Syifa setelah beberapa detik ia tak mendengar respon apapun dari Husin.
“Hah? Ng…, iya, masih disini. Navid baik-baik aja, kok. Dia titip salam sama kamu. Oh iya, salam buat Mama dan Papamu, Fa. Aku mau mengerjakan tugas dulu, assalamu’alaikum,” tutup Husin terburu-buru.”
Wa…., wa’alaikumsalam,”Syifa menutup pembicaraan dengan heran. Ada apa sebenarnya dengan Husin? Mengapa tiba-tiba ia menjadi aneh?
“Navid? Aku kan nggak bertanya tentang Navid…?” gumamnya dalam hati. Syifa mencoba menghubungi Husin kembali, ia ingin meminta maaf seandainya ada kata-kata yang membuat Husin tersinggung. Tetapi Syifa harus menelan kekecewaan karena Husin tidak menjawab teleponnya. Syifa merasa sedih, ia tidak tahu apa yang membuat Husin memutuskan pembicaraan secara tiba-tiba. Adzan Maghribpun berkumandang. Syifa mencoba menjernihkan pikiran dengan mengambil wudhu’. Ia berharap siapa tahu saja nanti tiba-tiba Husin menghubunginya kembali. Tanpa Syifa sadari ibunya mendengar pembicaraan mereka di balik pintu kamar Syifa.
Selesai mengambil wudhu’ dan sholat, Syifa mengecek ponselnya lagi, ternyata ada lima panggilan tak terjawab. Syifa membuka log panggilan tersebut, ternyata dari Navid. Syifa malas untuk menghubunginya kembali. Untuk apa menghubungi seseorang yang….
Ponsel Syifa kembali berdering, dan lagi-lagi masih dari Navid. Syifa dengan ogah-ogahan menjawabnya,”Halo, assalamu’alaikum…,”
“Wa’alaikum salam, Cinta…,” sahut suara yang terdengar seperti dibuat-buat dari seberang.
“Maaf, ini siapa ya?!” tanya Syifa, heran. Tak biasanya Navid memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
“Lho…, ini kan Mas Navid. Kok kamu gitu sih, Cinta…? Kita kan mau merangkai masa depan…,”
Syifa semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Merangkai masa depan, maksudnya?
“Kita kan merangkai cinta untuk masa depan, Cin…,” lanjut Navid lagi. Syifa mengernyit, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Navid? Akhirnya ia memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab,“Syifa nggak mengerti maksud Mas apa, tapi maaf sebelumnya, Syifa harus mengerjakan tugas kuliah. Assalamu’alaikum!” Syifa memutus pembicaraannya. Sejak tragedi di ruang pimpinan redaksi beberapa waktu lalu, Syifa yang dulunya akrab dengan Navid kini berubah drastis menjadi ill-feel alias hilang feeling. Husin yang ia harapkan, kok malah jadi Navid yang menghubunginya balik?
Syifa terus menggenggam dan menatap layar ponselnya. Ia hanya bisa berharap Husin menghubunginya kembali dan mencoba berpikiran positif, siapa tahu tadi Husin memiliki keperluan penting sehingga terpaksa memutuskan pembicaraan. Syifa terus menunggu, namun tetap saja nihil. Husin tidak menghubunginya kembali.

Sementara itu di Jakarta, Husin merenungi apa yang baru saja dilakukannya. Ia merasa semua ini sia-sia saja. Bukankah semuanya sudah jelas bahwa Syifa menyukai Navid?. Lalu untuk apa dia menghubungi Syifa lagi? Ia hanya merusak hubungan seseorang yang sedang dikhitbah. Husin melirik iPadnya lagi. Ia menuliskan status di facebooknya:

Aku rela asalkan kamu bahagia, walaupun bukan diriku yang membahagiakanmu…

Mata Husin seolah tak beranjak memandangi status yang baru saja diketiknya. Ia merasa kata-kata tersebutlah yang cukup untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Bila Syifa berbahagia dengan Navid, mengapa Husin masih berharap akan bertemu Syifa kembali? Husin berpikiran tak ada gunanya ia berharap ‘lebih dari teman’ kepada Syifa, toh Syifa sudah menentukan pilihan. Sebuah pilihan yang hanya membuatnya gundah karena pilihan itu jatuh kepada Navid. Husin kembali menatap foto profil Syifa. Tiba-tiba ia memiliki ide.

***
Husin enggan melepas sesuatu yang ia genggam di tangan kirinya. Ponsel Husin berdering tepat saat ia hendak tidur, ternyata dari Aldo.
“Gimana, bro?Udah menghubungi Syifa?” tanya Aldo.
Husin mengangguk pelan,”Udah, tapi rasanya percuma aja. Untuk apa gue menghubungi cewek yang sudah dikhitbah orang lain,”
Aldo terkejut,”Hah? Sejak kapan lo tahu istilah khitbah, Sin? Hehehe….,” ledek Aldo, dalam situasi tegang begini ia masih sempat-sempatnya mengajak bercanda.
“Gue serius, Do. Buktinya tadi Syifa nanyain Navid. Jelas banget kan kalo mereka sama-sama memiliki perasaan yang lebih. Dan kayaknya memang benar apa yang diucapkan Navid kalo mereka emang udah tunangan,”
Mulut Aldo ternganga. Ia nyaris tak percaya mengapa Husin mudah sekali percaya omongan orang lain. Ia lalu menasihati sahabatnya,”Gini yah, bos, seperti yang dikatakan Aa’ Nabil, dalam Islam mana ada istilah tunangan? Lagian lo kayak nggak tau Syifa aja, mana mau dia tunangan…?”
“Iya, tapi yang ada istilah khitbah, kan? Semuanya udah jelas, Do. Navid udah keburu mengkhitbah Syifa. Mungkin aja mereka married setelah tamat kuliah…,” jelas Husin, mengungkapkan uneg-unegnya. Aldo makin menganga, tentu saja Husin tidak melihat karena pembicaraan mereka melalui ponsel tanpa 3G.
“Lho, katanya lo udah mengerti dan sangat paham sifat Syifa…? Gimana sih?”tanya Aldo lagi.
“Untuk apa gue memahami sifat seorang gadis yang sudah dikhitbah. Itu namanya teman makan teman…,”
Aldo mengernyit tetapi ia berusaha menjelaskan dengan tenang,”Memangnya dia ada menanyakan hal spesifik tentang Navid misalnya ‘bagaimana kabar Navid’ atau ‘Navid gimana’, gitu, Sin?”
Husin berpikir sejenak,”Nggak sih…, tapi dia menanyakan bagaimana kabar staf redaksi majalah kampus. Udah jelas kan, yang dimaksudnya itu Navid? Dia hanya bersembunyi dibalik kalimat ‘staf redaksi majalah kampus’. Iya kan, Do?”
Aldo menggaruki kepalanya. Ia merasa emosi Husin sedang naik sekarang. Oleh karena itu, Aldo memilih untuk mengakhiri pembicaraan,”Jangan berpikiran yang macam-macam dulu, deh, Sin. Siapa tau Syifa memang bermaksud menanyakan teman-temannya? Mendingan lo sholat Isya dulu, deh. Besok kita bicarakan lagi di kampus. Assalamu’alaikum,”
Husin berpikiran bahwa Aldo hanya menghindari masalah. Dengan setengah hati ia menjawab salam Aldo, kemudian menutup ponselnya. Husin merebahkan diri diatas tempat tidur. Screen saver wajah Syifa kembali hadir dan menari-nari di monitornya, berkali-kali Husin mencoba menepis namun selalu saja gagal.
”Husin…!!! Just forget her!” Husin mengacak-acak rambut dengan tangan kanannya, seketika pandangan mata Husin beralih ke foto Syifa yang ia pegang dengan tangan kiri. Usai memperbarui statusnya di facebook tadi, dengan sengaja Husin menyimpan foto profil Syifa di iPadnya. Kemudian ia mencetak sendiri foto tersebut. Namun sayang, foto ini hanya untuk dikenang, tidak lebih…..
Husin menatap foto itu dengan wajah sendu. Didalam foto itu, Syifa memakai baju biru sambil tersenyum. Husin membayangkan Syifa tersenyum padanya. Didalam hati ia berjanji akan selalu menyimpan foto tersebut meskipun Syifa telah melupakannya. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan akan bersikap seperti ini, ia hanya bisa turut berbahagia bila Syifa berbahagia dengan seseorang yang dipilihnya. Malam semakin larut. Husin tertidur dengan tangan yang masih memegangi foto itu.

***
Tiga hari kemudian…
Matahari baru saja terbit. Pagi ini Syifa keluar menuju halaman rumahnya, secara tak sengaja ia menemukan bunga mawar yang layu akibat terlalu banyak terpapar sinar matahari. Ia memetik tangkai bunga tersebut dan menanamnya kembali di sebuah pot kecil. Syifa mengambil selang air, kemudian menyiraminya. Sesaat kemudian ia melihat seseorang berdiri didepan gerbang, ternyata Donna. Syifa menyambutnya.
“Hey, Don.., how are you?”
“Alhamdulillah, I’m very well this morning,” jawab Donna. Meskipun lahir dan besar di Melbourne, tetapi Donna merupakan seorang muslimah keturunan Turki-Inggris. Ibunya keturunan Turki sedangkan ayahnya keturunan Inggris.
“Come here,” Syifa lalu mengajaknya masuk, lalu membuatkan minuman. Donna lalu menanyakan sesuatu pada Syifa, namun sebelumnya ia berharap agar Syifa tidak marah. Syifa tersenyum kecil, ia menjawab tentu saja ia tidak akan marah. Ia lalu bertanya ada apa yang terjadi.
Donna menumpahkan semua kekesalan di hatinya dengan memasang muka masam,“I really don’t like this guy. He often disturb me. He calls me everyday and often asks about my privacy and makes some boring jokes which make me hate him so much,” jelasnya sambil menyandarkan bahu di sofa. Syifa dapat melihat dengan jelas dahi Donna yang dibuat mengkerut, yang dengan tegas menyiratkan ia sangat tidak menyukai lelaki tersebut.
Syifa lalu menanyakan apakah ia boleh mengetahui siapa lelaki yang mengganggu privasi Donna tersebut. Donna lalu menunjukkan sebuah foto dari ponselnya,”do you know him, Syifa?”
Syifa melihat foto tersebut dan memperbesar agar kelihatan lebih jelas. Alangkah kagetnya Syifa ketika mengetahui bahwa foto tersebut adalah foto Navid, sahabat nya sejak kecil yang kini menjadi pimpinan redaksi majalah kampus. Syifa menggigit bibir, ia menatap Donna dengan pandangan mata tak percaya. Syifa menjelaskan pada Donna bahwa ia sebenarnya tidak percaya dengan siapa yang baru saja dilihatnya, namun Syifa mengakui ia memang mengenal sosok di foto itu, yaitu Navid, sahabatnya. Donna terperanjat mendengarnya. Donna tak menyangka bagaimana Syifa bisa bersahabat dengan orang yang seperti itu. Syifa lalu menjelaskan bahwa dulu mereka memang akrab karena satu sekolah. Navid adalah kakak kelas Syifa saat masih SD, lalu persahabatan mereka berlanjut hingga kuliah. Syifapun menceritakan peristiwa yang membuatnya kehilangan simpatik terhadap Navid. Donna mendengarkan sambil menatap mata Syifa, ia mengerti sekarang. Donna berharap Syifa tidak memilih seseorang seperti Navid untuk menjadi imam dalam rumah tangganya kelak. Syifa tertawa,”Of course not, Donna..,”
“Good….,”
Syifa lalu menanyakan darimana Navid tahu nomor ponsel Donna, karena setahunya ia tidak pernah memperkenalkan Donna kepada Navid ataupun sebaliknya. Donna menjelaskan bahwa Navid memperoleh nomor ponselnya dari info profil dirinya di facebook. Donna menyesal karena ia dengan mudah begitu saja mempublikasikan nomor ponselnya di jejaring sosial itu.
“Syifa, would you forgive me, please…?”
Syifa berusaha menghibur sahabatnya meskipun ia tidak dapat menyembunyikan rasa sedih di wajahnya,”Don’t worry. I’ll be okay…,”
Donna bertanya mengenai wajah Syifa yang masih terlihat murung, padahal baru saja Syifa mengatakan tidak marah padanya.
Dengan sedih, Syifa menceritakan Husin yang ia sendiri tidak mengerti penyebabnya mengapa tiba-tiba saja Husin bertingkah aneh. Syifa yakin ada hal yang ditutup-tutupi Husin darinya, namun Syifa tidak tahu mengenai hal tersebut.
Donna menghibur,“I’m sorry to hear that…, but I’m sure Husin will call you again someday. Trust me,”
Syifa menatap sahabatnya yang tersenyum dan berusaha menghibur dirinya. Disaat kesepian seperti ini Syifa merasa beruntung karena ia selalu ditemani sahabat yang begitu baik padanya.
***
Malam ini, Syifa berkumpul di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya. Kedua orangtuanya sedang tidak sibuk hari ini. Syifa senang sekali, sampai-sampai ia menyiapkan hidangan makan malam spesial karena momen berkumpul bersama keluarga seperti ini jarang didapatinya.
“Fa…, kemarin Mama dengar kamu mengobrol dengan seseorang…, kamu memanggilnya ‘Sin’. Siapa dia, Fa? Kalau tidak salah mama pernah mendengar nama itu…., tapi mama lupa dimana, ya?”
Syifa mengingat-ingat,”Oh…, namanya Husin, Ma. Dia teman Syifa waktu masih di UI. Dia orang yang pernah Syifa kenalkan ke mama waktu di bandara. Orangnya baik banget…,” Syifa tersenyum sendiri saat menjelaskan siapa Husin pada ibunya.
“Kamu suka dengannya?”
Syifa menyunggingkan senyum. Semburat merah menyembul di pipinya,”katanya dia titip salam untuk Papa dan Mama,”
“Wa’alaikumsalam, kalau begitu. Sampaikan juga salam Mama,”Ibunya terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu yang ia sendiri ragu untuk mengatakannya.
“Lalu bagaimana dengan Navid? Dia sudah menghubungi kamu, Nak…?”
Syifa terlihat kurang suka ketika ibunya menyebutkan nama itu. Syifa sendiri berharap ayah dan ibunya melupakan Navid sesegera mungkin setelah ia tahu sifat jelek Navid.
“Ada. Tapi Syifa nggak terlalu menanggapi, Ma. Masa’ dia memanggil Syifa lain dari yang biasanya?”
”Memang dia memanggil kamu apa, Nak?”
“Cinta gitu, Ma. Syifa kan risih dipanggil begitu. Memang dia siapanya Syifa? Ya kan, Ma?”
Ibunya tersenyum. Syifa malah heran,”Kenapa sih, Mama malah senyum-senyum gitu?”
“Fa, sebenarnya dari dulu ada yang ingin Papa sampaikan…,” kata-kata ayahnya barusan membuat Syifa menoleh,”Ada apa, Pa?”
“Sebenarnya kamu dan Navid sudah dijodohkan…,”
Ucapan ayahnya itu membuat Syifa terkejut,”Mm…, maksudnya, Pa? seingat Syifa, Syifa nggak pernah menghadiri acara perjodohan dan sejenisnya?”
“Kamu ingat nggak, waktu dulu Mama membelikan cincin untuk kamu?” tanya ibu Syifa. Syifa mengangguk,”Iya. Tapi itu bukan cincin lamaran, kan, Ma?”
Ibunya mengangguk,”Itu cincin sebagai simbol peresmian lamaran Navid kepadamu, Syifa,”
“Tapi waktu itu Mas Navid gak ada…?” tanya Syifa heran.
“Benar, Mama dan ibu Navid saling membeli cincin. Mama membelikan cincin untuk Navid dan cincin yang kamu pakai itu…,” ibunya tak tega melanjutkan melihat mata putrinya yang mulai berkaca-kaca.
“Jadi ini dari Tante Rika, Ma?”Syifa menatap jemarinya yang memakai cincin tersebut,”maksud Mama, ini simbol yang sengaja tidak diberitahukan secara langsung? Tapi kenapa, Ma? Kenapa Mama nggak bilang dari dulu?”
“Mama nggak mau bilang dulu ke kamu karena rencananya setelah kuliah kamu dan Navid selesai, baru dilanjutkan ke tahap yang lebih serius,”
“Tapi Syifa hanya menganggap Mas Navid sebagai sahabat, Ma. Syifa nggak pernah ada perasaan yang lebih dari itu…,”
“Perasaan kan bisa berubah, sayang. Mama kamu dulu juga tidak menyukai Papa. Tapi seiring berjalannya waktu, bisa diliat sekarang, kan?” tambah ayahnya.
“Tapi Syifa belum siap, Pa. Syifa mau tidur dulu…,” Syifa pamit, ia mengalihkan topik pembicaraan lalu melangkah ke kamarnya. Setibanya di kamar, Syifa langsung mengunci kamarnya. Ia memeluk bantal guling diatas tempat tidur.
Terbayang kembali oleh Syifa saat Husin tiba-tiba memutuskan pembicaraan tanpa sebab yang jelas, kemudian menyusul Navid yang tiba-tiba menjadi aneh. Semuanya bercampur menjadi satu di pikirannya,“Syifa tahu Mas Navid hanya mencintai Syifa karena nafsu, Ma, Pa..,” gumamnya sambil sesenggukan, napasnya tersengal dan dada sebelah kirinya terasa sakit lagi, namun Syifa enggan memberitahukan hal itu pada kedua orangtuanya. Syifa mencoba untuk bertahan, membaca doa untuk meringankan rasa sakitnya. Tetapi Syifa merasa nyeri didadanya semakin bertambah parah, setelah itu iapun tidak tahu apa-apa lagi.

***
Syifa berada di ruangan serba putih. Ia melihat Husin dengan posisi sedang membelakanginya. Iapun memutuskan untuk menghampiri Husin,”Sin…,”
Husin berbalik arah, kemudian menatap Syifa,”Aku akan menyusulmu, Fa,”
“Maksudnya? Kamu kan sudah ada disini, Sin? Kita dimana?” tanya Syifa tak mengerti. Husin mengangguk,”Iya, lain kali kita berdua akan berkunjung lagi ke tempat ini. Kamu suka tempat ini, kan?”
Syifa memandang ke sekeliling. Mereka ada didalam ruangan serba putih, namun terlihat dari jendela di seberang ada kebun bunga melati. Syifa yang sangat menggemari bunga merasa senang, ia ingin sekali berada diantara bunga-bunga itu,”tapi kita sedang ada dimana, Sin?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku harus pergi,”
“Tapi, Sin…?”
Cahaya terang menyilaukan mata Syifa. Syifa menyipitkan matanya, cahaya itu lalu menghilang. Syifa membuka matanya, ia berada di rumah sakit. Ternyata ia hanya bermimpi, sebuah mimpi yang indah karena didalam mimpi itu ia bertemu dengan Husin. Syifa menjadi ingin bertemu Husin kembali di dunia nyata. Syifa berharap Husin mengunjunginya yang sedang sakit, walaupun ia tahu hal tersebut tidak mungkin.
“Alhamdulillah, Nak, akhirnya kamu sudah sadar…,” ibu Syifa menghampirinya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Syifa melirik tangannya yang sedang diinfus,”Syifa kenapa, Ma?”
“Kemarin kamu pingsan. Mama sempat cemas ketika pintu kamar Syifa nggak bisa dibuka. Tidak biasanya kamu belum bangun sesudah azan Subuh, Nak….,”
“Terus bagaimana mama membuka pintu kamar Syifa, Ma?”
“Papa mendobrak pintu kamar, Nak. Lalu kamu dibawa kesini…,”
Seorang dokter lalu memasuki ruangan tempat Syifa dirawat,”Excuse me. I need to talk with Syifa’s parents,”
Dokter itu lalu mengajak kedua orangtua Syifa ke ruangannya. Syifa hanya bisa termangu dan berdoa semoga ia baik-baik saja.
“Tunggu sebentar ya, sayang..,” ayahnya menghibur Syifa. Kedua orangtuanya mengikuti dokter tersebut.
Setibanya di ruangan setelah berbincang sejenak dengan ayah Syifa, dokter menyarankan agar Syifa menjalani ekokardiografi, yaitu serangkaian tes untuk mengetahui klep jantung yang bermasalah karena menurut hasil diagnosis, klep jantung Syifa mengalami penyempitan. Untuk sementara, dokter akan memberi Syifa obat-obatan anti koagulan(anti penggumpalan darah) dan ia harus rajin mengontrol kesehatannya. Ibu Syifa tak kuasa menahan sedih. Sesaat kemudian, ayah dan ibu Syifa mohon pamit untuk kembali menemani Syifa.
“Ada apa dengan Syifa, Ma?”
Syifa melihat ibunya mengusap airmata,”nggak ada apa-apa kok, Nak..,”
“Terus kenapa mama nangis? Syifa sakit apa, Ma?” tanyanya cemas.
Ibunya menggeleng,”Hanya kelelahan biasa. Dokter sudah menyarankan agar Syifa jangan sampai lupa minum obat,”
Syifa tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, namun ia enggan bertanya lebih lanjut karena ia tahu hal itu akan semakin menambah pikiran kedua orangtuanya.
“Kelelahan? Lalu mengapa sampai separah ini?” gumam Syifa dalam hati.
“Jaga diri baik-baik ya, sayang? Papa berangkat kerja dulu,” ayah Syifa menghampiri putrinya. Syifa menyalami tangan ayahnya,”Iya, Pa…,”
Ayah Syifa keluar dan menutup pintu ruangan. Kemudian ibunya berujar,”Makan dulu, ya, Nak…., biar cepat sembuh,” ibunya lalu mengambil sepiring nasi yang terletak diatas meja. Syifa menggeleng,”Tapi sebelumnya mama harus jelasin dulu, Syifa sakit apa, Ma?”
Ibu Syifa berusaha menahan getaran hatinya, ia menghibur Syifa,”Nggak sakit apa-apa, Nak. Hanya kelelahan, ntar diperiksa dokter di ruangannya. Setelah itu tiga hari lagi kita pulang…,”
Akhirnya Syifa mau melahap makanannya. Setelah selesai, seorang perawat memasuki ruangan. Perawat tersebut mengatakan bahwa kini saatnya Syifa untuk memasuki ruangan ekokardiografi. Syifa mengetahui bahwa itu adalah alat rekam medis untuk mengetahui kondisi jantung. Syifapun tak kuasa menahan airmatanya. Ia hanya bisa pasrah ketika dibawa ke ruangan steril tersebut.

***
Dokter kembali mengajak ibu Syifa menuju ke ruangannya. Didalam ruangan itu, dokter menjelaskan bahwa ada penyempitan pada lubang katup yang menghubungkan ventrikel dan atrium kiri jantung Syifa. Kelainan struktur mitral ini menyebabkan gangguan pembukaan pengisian ventrikel kiri saat jantung mengembang (diastol). Ibu Syifa menjadi bimbang, haruskah ia memberitahu kondisi yang sebenarnya kepada putrinya itu? Ia yakin cepat atau lambat Syifa akan tahu kondisi tubuhnya. Ibu Syifa akhirnya memutuskan untuk memberitahu, walaupun ia harus memilih kata-kata yang tepat agar Syifa tidak terlalu terkejut dengan kondisinya saat ini.
Setibanya di ruangan Syifa, ibunya membelai rambut putrinya,”Nak…., ada yang ingin Mama sampaikan…,”
Syifa menggigit bibir,”Apakah ini tentang penyakit Syifa, Ma?”
Ibunya mengangguk dan berujar pelan,”Fa…, jangan sampai kecapean, ya? Nanti sakit lagi..,”
“Iya, tapi Syifa sakit apa, Ma?”
Dengan berat hati ibu Syifa menjawab,”Ada penyempitan di katup jantung yang mengharuskan kamu banyak istirahat, Fa..,”
Syifa termangu namun berusaha tetap tegar. Jantung? Jadi benar dugaannya tadi? Batin Syifa berkecamuk dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menahan perasaan sedih didepan orangtuanya. Syifa tidak tahu lagi harus bagaimana bila Husin mengetahui keadaan yang sebenarnya, mungkinkah Husin akan menghindarinya? Ia tidak tahu dan tidak pula dapat menebak.
***
Husin dan Aldo hendak memasuki ruangan tempat mata kuliah selanjutnya ketika mereka berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenali Aldo. Tanpa basa-basi lagi, Aldo segera menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, Najla,” sapa Aldo dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
“Wa’alaikumsalam warohmatullah,”balas Najla, ikut tersenyum.
“Ng…, ntar Aa’ Nabil ada di rumah, kan, La?” tanya Aldo dengan kerlingan mata yang lain dari biasanya.
“Iya, memangnya kenapa, atuh?” tanya Najla, logat Sunda-nya keluar.
“Ng…, kalau begitu boleh dong, aku bersilaturrahim ke rumah kamu?” tanya Aldo lagi, dan masih menatap mata Najla sambil tersenyum sendiri.
Najla mengangguk, ia memperhatikan pandangan Aldo yang ‘lain’ dari biasanya,”Kok lihat-lihat gitu, sih? Aku mau kesana dulu, ya,” pamit Najla.
“Ok…,” balas Aldo, kali ini lebih lembut. Ia terus memperhatikan Najla yang kini sudah menjauh darinya.
“Hmmmm….., ada yang perlu dicurigai, nih…,”ujar Husin sambil mengerling Aldo.
“Hehehehe…, cuma sekedar nitip salam dan mohon doa restu…,”
“Hah? Apaan????” Husin terperanjat mendengar ucapan Aldo barusan. Sementara itu, Aldo dengan cepat menghindar jauh dari Husin.
Husin berusaha memahami makna kalimat Aldo barusan.
“Do…., lo suka sama Najla, yaaaa….????!!!”seru Husin lagi, tetapi Aldo tak menghiraukan. Ia malah bersembunyi di balik pintu laboratorium mekanika tanah, kebetulan pintunya terbuka. Ia beruntung karena laboratorium sedang kosong.
“Lo nggak usah main petak umpet, deh,” ujar Husin yang tiba-tiba sudah berada didepan pintu.
Aldo keluar dari persembunyiannya sambil nyengir,”Hehehe…, tapi lo nggak keberatan, kan, kalo gue suka dengan Najla, Sin…?”
“Nggak. Malah gue bakalan ngasih restu seratus lima puluh persen,”jawab Husin sambil menahan tawanya.
“Thank’s yah, Sin. Lo memang sohib gue yang terbaik. Masuk yuk,” ajak Aldo ketika melihat dosen yang mereka tunggu berjalan menuju ruangan.
“Iya. Tapi kenapa sih lo bersembunyi dibalik alasan pengen ketemu Aa’ Nabil? Kenapa nggak terus terang aja, Do?”
“Hehehehe…., ya begitulah taktik cinta. Butuh teori dan logika, bro…,”kilah Aldo. Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan,”mungkin inilah yang namanya jodoh…,setelah sekian bulan gue berusaha menemuinya tapi nggak sempat melulu, akhirnya Najla dan gue dipertemukan lagi…, hehehehe…,”
Husin mengernyit, ia semakin tak mengerti. Memang susah memahami insan yang sedang kasmaran :-) 

Baca juga Bab 11

11 Maret 2012

Bab 9 Bintang Kecil



Usai jam kuliah siang ini, Syifa sibuk membaca majalah kampusnya. Sesaat kemudian Syifa menjadi rindu Jakarta, terutama kampusnya dulu. Ia ingin kembali aktif menulis, walaupun singkat, namun bermakna dan memiliki kesan tersendiri bagi orang yang membacanya. Syifa tidak berharap banyak melalui tulisannya yang ia buat. Ia tidak memimpikan menjadi bintang yang bersinar karena tulisannya, tetapi ia hanya ingin menjadi bintang kecil bagi keluarga dan sahabat-sahabat yang mengenalnya. Syifa asyik membaca majalah itu hingga ia tak memperhatikan bahwa Donna sudah berdiri disampingnya.

Tampaknya Donna mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan Syifa,”Do you love writing?”
Syifa menoleh kearah Donna,”Yeah, but I’m not sure…,”
Donna lalu menyarankan agar Syifa mengikuti organisasi majalah kampus. Kebetulan Donna memiliki sahabat yang notabene adalah bendahara umum majalah tersebut. Donna sendiri sudah aktif sebagai anggota semacam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, jika di Indonesia. Bisa dibayangkan betapa sibuknya Donna sehingga iapun harus pandai-pandai membagi waktu. Oleh karena itu ia tidak sempat lagi bila harus ditambah dengan organisasi lain. Donna kemudian berinisiatif menghubungi sahabatnya itu. Beberapa menit kemudian, Donna menutup ponselnya. Ia tersenyum dan berkata,”Congrat’s, Fa. A new author is urgently needed,”
Mata Syifa berbinar, tinggal selangkah lagi impiannya akan terwujud. Syifa akan kembali menulis untuk menyalurkan hobinya. Sebelum Syifa mendaftarkan diri, Donna mengajaknya makan di kantin.
Setibanya disana, Syifa terlihat ragu ketika ingin menyampaikan sesuatu pada Donna, namun Donna mengatakan bahwa ia tidak keberatan mendengarkan keluh kesah Syifa.
“Husin…, he didn’t respond me,” ungkap Syifa dengan wajah sedih. Donna mencoba menghiburnya. Ia mengatakan mungkin saja Husin sedang sibuk sehingga belum sempat mengecek email dan situs jejaring sosialnya. Syifa membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya didalam hati.
Setelah selesai makan, mereka lalu menuju ruang redaksi majalah. Disana, Katy yang merupakan bendahara umum sekaligus merupakan sahabat Donna sudah menunggu, ia menyambut Syifa dan Donna dengan hangat.
Donna lalu memperkenalkan Syifa kepada Katy. Syifa dan Katy berjabat tangan.
“It’s very nice to meet you, Syifa. Please send us your resumee as soon as possible,” ujar Katy menyambut positif permintaan Syifa. Mata Syifa langsung berbinar seketika begitu mengetahui bahwa ia akan aktif menulis lagi, walaupun itu hanya sebuah kata yang ia harapkan menjadi bermakna. Syifa berterima kasih. Besok ia berencana akan mengirimkan CV dan biodatanya. Syifa dan Donna kemudian mohon pamit. Mereka berdua keluar kampus. Sekarang merupakan peralihan dari musim semi ke musim panas dan kelihatannya cuaca Melbourne tidak terlalu mengkhawatirkan.
Syifa mendengar ponselnya berdering, di layar tertera nama Navid. Syifapun menjawab,”Halo, assalamu’alaikum…,”
“Wa’alaikumsalam, apa kabar, Fa?”
“Alhamdulillah baik, Mas…,”
“Lagi sibuk ya, Fa?”
“Nggak kok, Syifa mau jalan bareng temen, nih. Jam kuliah udah selesai,”
“Oh…, ya udah ntar Mas telepon lagi, ya…,”
Sesaat kemudian Syifa menutup pembicaraan, ia melirik Donna yang tampaknya sudah bosan menunggui obrolan Syifa dan Navid yang tiada habisnya. Mereka pun lalu menuju Bourke Street Walk untuk berbelanja sekaligus menyegarkan pikiran dengan mendengarkan lagu-lagu dari pengamen jalanan. Namun jangan salah, pengamen disini justru ingin menawarkan CD album mereka.
***

Hari ini adalah hari tersibuk bagi Husin. Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, ia kembali ke rumah. Husin meraih iPad kemudian mengecek akun jejaring sosialnya.
Husin terkejut sekaligus senang begitu mengetahui ada video yang dikirimkan padanya yang ternyata dari Syifa. Saat itu juga Husin mengklik tombol play pada video itu.
“Assalamu’alaikum, Husin. Selamat ulang tahun, ya. Aku berharap semoga kamu makin sukses di segala hal, bijak dalam menentukan keputusan dan semakin sholeh…,”
Pandangan mata Husin terhenti pada satu video di hadapannya. Berulangkali ia memutar video tersebut. Ia memperhatikan wajah Syifa yang memakai baju berwarna biru cerah, baju yang sama dengan dikenakannya saat mereka bertemu untuk terakhir kalinya didepan tata usaha saat itu. Perasaannya campur aduk, ia merasa senang namun sekaligus juga kesal karena di pikirannya, Syifa hanya mempermainkan dirinya dengan menerima pinangan Navid. Husin merasa dirinya bukanlah siapa-siapa. Rasanya tidak mungkin Syifa menyukai dirinya mengingat mereka belum lama berkenalan, sementara Navid? Tentu saja Syifa sudah lama dekat dengannya, apalagi mereka satu tim redaksi majalah kampus. Husin juga pernah mendengar dari Aldo bahwa Navid adalah anak konglomerat, ayahnya adalah pemilik bank swasta terbesar di Indonesia, sementara ibunya adalah pengusaha yang dikenal oleh kalangan atas. Sementara dirinya? Husin memilih untuk tidak subjektif dalam penilaian tersebut, meskipun didalam hati yang sebenarnya ia ragu apakah Syifa benar-benar telah menerima Navid atau Navid hanya berbohong saja? Untuk memastikan keraguannya, Husin lalu mengklik tautan menuju profil facebook Syifa. Alangkah terkejutnya Husin begitu mengetahui pada album foto, terdapat foto Syifa bersama salah seorang yang dikenalinya sebagai Navid. Syifa berada ditengah-tengah diantara Navid dan seorang mahasiswi yang dikenali Husin saat menanyakan keberadaan Syifa di kampus beberapa waktu lalu. Tak hanya itu, Husin juga melihat keterangan ‘Kenangan Bareng Tim Redaksi’ di bawah foto. Tak ada yang istimewa dari foto itu, tetapi ibarat baja yang mengalami perubahan struktur ketika dipanaskan, Husin merasakan rambatan panas yang berkonveksi di hatinya saat melihat di foto itu Syifa berdiri tepat disamping Navid.
“Ternyata benar dugaanku, Syifa hanya mempermainkan perasaanku saja…,”gumamnya dalam hati. Akhirnya dengan perasaan sedih Husin keluar dari situs jejaring sosialnya. Sesaat kemudian ponselnya berdering. Husin meliriknya, ternyata dari Aldo.
“Halo, assalamu’alaikum…?”sapa Husin.
“Wa’alaikumsalam. Lo kemana aja sih, Sin? Gue cariin dari tadi di kampus…, lagi dimana, Sin?” cerocos Aldo.
“Ya gue lagi galau, nih, cuma di rumah doang. Biasa…,” jawab Husin, sesaat kemudian ia ingat suasana hatinya yang kurang kondusif,”Do, kalo ada waktu, tolong ke rumah gue yah?”
“Ada apa, Sin?” tanya Aldo heran.
“Ada yang mau gue tanyakan ke lo. Ini tentang Syifa,”
Dheg!!
Aldo terperanjat. Ia takut Husin salah paham. Ia benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadap Syifa dan ia juga tidak tahu apa-apa tentangnya. Aldo berpikir sejenak. Disisi lain ia takut terjadi hal buruk yang menimpanya, namun disisi lain ia merasa tidak enak hati bila harus menolak permintaan sahabatnya.
“Oh…, ok, ntar sore gue kesana, ya…,” ujar Aldo menyanggupi, ia lalu menutup ponselnya. Aldo berpikir lagi, namun ia tak dapat menebak apa yang hendak ditanyakan Husin padanya. Ia takut sahabatnya itu salah sangka, padahal ia sendiri tidak pernah sekedar bertegur sapa dengan Syifa, apalagi mengobrol lebih jauh. Aldo memilih untuk mengalihkan perhatian dengan cara membereskan kamarnya yang berantakan.

***
Aldo berangkat ke rumah Husin setelah menunaikan sholat Ashar. Jam menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit ketika ia sampai disana. Husin mengajaknya masuk kedalam rumah. Beberapa saat kemudian, segelas minuman telah terhidang untuknya.
“Emangnya lo mau cerita apa?” tanya Aldo sambil menatap Husin.
“Lo kenal sama Navid…?” Husin balik bertanya sambil memelankan volume suaranya saat menyebut nama Navid.
Aldo mengangguk,”Ya jelas dong, dia kan pimpinan redaksi majalah kampus. Bisa rusak reputasi gue kalo dengan dia aja gue nggak kenal. Hehehehe…,” Aldo mencoba mencairkan suasana agar terlihat santai dan tidak terlalu tegang.
“Terus lo yakin kalo dia udah tunangan???” tanya Husin lagi, kali ini ia memasang wajah serius. Aldo gelagapan tetapi ia pandai menyembunyikan rasa gugupnya.
“Ng…., kalo yang itu gue nggak yakin sih, Sin. Tapi setahu gue Navid suka merayu cewek. Tapi gue bener-bener nggak yakin kalo dia udah tunangan…..,”
“Kalo ternyata bener dia udah tunangan dan emang bener dengan Syifa? Terus gue…?” Husin menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan mengiba. Ia masih harus belajar arti keikhlasan dan kesabaran.
“Yah…, tapi terkadang kan dia nggak bisa dipercaya, Sin…,” lanjut Aldo, pelan. Suasana berubah menjadi hening. Husin merenung, masih pantaskah ia mengharapkan Syifa?
“Aha!!!” seru Aldo, mengikuti iklan salah satu modem yang ada di televisi,”Gue ada ide, Sin!”
Husin kembali menatap Aldo dengan penuh tanda tanya,”Apa?”
“Kenapa lo nggak hubungi aja ponselnya? Terus bilang aja kalo lo suka sama dia…, gampang, kan?” tawar Aldo sambil senyam-senyum tak jelas. Ia merasa idenya kali ini cemerlang.
“Gue segan, Do. Gue ini bukan siapa-siapa…,” lirih Husin yang kemudian langsung dibantah Aldo,”Bukan siapa-siapa gimana? Hello…., lo itu juga anak konglomerat, Sin. Cuma terpisah jarak Jakarta-Semarang doang, lo punya segalanya, jadi apa yang membuat lo minder?”
Husin hanya tersenyum simpul,”Maksud gue, gue ini bukan siapa-siapa dari segi emosi gue yang masih labil…,”jelas Husin,”ilmu agama gue pun masih jauuuh banget dibawah standar,”
Aldo berpikir sejenak mengenai solusi apa yang paling tepat untuk masalah ini. Kemudian ia memberitahu Husin,”Gimana kalo lo belajar mengendalikan emosi lewat bahasa isyarat kita-kita aja…?”
“Maksudnya?” tanya Husin.
“Maksud gue, kalo lo sedang emosi, gue dan Jerry akan memberitahu lewat bahasa isyarat supaya lo lebih bisa meredam amarah lo…,”
“Widih…, bahasa apaan tuh? Bahasa Tarzan?” tanya Husin, sepertiga meledek (bosen pakai setengah mulu!).
Aldo manyun,”Bukan, bahasa monyet,”
Husin menahan tawanya,”Terus kalo belajar agama? Lo kan tau gue nggak alim-alim banget, Do…,” lirih Husin yang diikuti anggukan Aldo.
“Ya sama dong, gue juga nggak alim-alim banget. Apalagi si Jerry, bisa berabe kalo dia yang ngajar,” Aldo menahan tawanya. Ia berpikir sejenak,”Gimana kalo kita minta tolong Najla aja? Dia punya kakak laki-laki yang kayaknya sih alim gitu. Gue kagum dengan penjelasannya saat menjadi pemakalah dalam seminar Islam beberapa waktu lalu, yang nggak ikut cuma lo doang, Sin…, ”
“Haha.., kalo dulu gue mana doyan dengan hal-hal begituan, Do. By the way, lo tadi menyebut nama Najla? Siapa dia?” tanya Husin sambil mengernyit.
Aldo tertawa,”Yah…, si Bos kok kuper sih? Najla itu sahabatnya Syifa,” jelasnya.
“Oooo…,” Husin mengangguk paham,”Kakaknya Najla itu kuliah dimana? Terus kapan kita bisa mulai?”
Aldo menepuk jidatnya,“Hadeh. Dia anak UI juga, tapi dari Fakultas Ilmu Budaya semester 7. Yah kalo bisa sih secepat mungkin. Lebih cepat lebih baik,”
“Ok. Kalo gitu besok kita temui Najla. Mudah-mudahan dia bisa membantu, ya, Do,” harap Husin.
“Ya. Tapi ntar gue juga bakalan dapat komisi kan, Sin?”
“Hah? Komisi Pemberantasan? Tapi gue kan nggak korupsi, Do?” Husin balik bertanya dan memasang tampang lugu.
“Terserah lo aja deh…,” Aldo memilih menyerah daripada meladeni debat Husin.
Husin menyengir,“Haha…, iya, khusus untuk urusan itu, bisa diatur kok, Do,”
“Azeeeehhhh….,” Aldo tersenyum, lalu membayangkan ribuan dolar mengalir ke rekeningnya. Sekedar info, selain berusaha untuk lulus casting, Aldo juga berusaha dengan berbisnis pulsa kecil-kecilan. Dengan modal tampang yang lumayan cakep, ia berhasil menarik perhatian pelanggan setianya yang mayoritas adalah cewek, untuk mengisi pulsa.
“Oh ya, Do, lo tau dimana rumah Syifa?”
Giliran Aldo yang bengong,”Nggak, Sin. Kan udah gue bilang kalo gue nggak begitu deket dengan anak arsitek…, lagian kan dia udah pindah, Sin…?”
“Ya sih, gue cuma penasaran aja dengan rumahnya yang lama. Kenapa dia bisa memotret rumah gue, emangnya dia kenal sama gue?”
“Nggak tau juga, Sin. Gue nggak punya temen deket anak arsitek…,”
Husin yang heran lalu bertanya,”Terus darimana lo kenal ama Najla? Dia kan anak arsitek juga?”
“Ooh, itu…, rumahnya kan berdeketan dengan rumah gue, Sin. Kami satu kompleks perumahan…,”
“Terus lo pernah tanya ke Najla tentang alamat Syifa?”
Aldo menggeleng pelan.
“Hadeh…,” Husin menepuk jidatnya, jarak antara rumahnya dan rumah Aldo cukup jauh. Tak mungkin sore ini ia mengunjungi rumah Najla, apalagi bila hanya untuk menanyakan alamat rumah Syifa.
“Kenapa, Bos?”
“Kalo lo yang supel aja nggak tahu alamatnya, apalagi gue yang kuper ini, Do…,”
Aldo menghibur,”Ya udah gue coba hubungi Najla dulu ya,”ia berinisiatif menghubungi ponsel Najla. Sesaat kemudian Aldo menutup kembali ponselnya.
“Kenapa?” tanya Husin.
“Gak diangkat, kayaknya dia lagi sibuk,”
Husin pasrah. Sesaat kemudian, ia memiliki ide yang menurutnya bagus untuk dicoba,”Do, lo harus ikut gue,” ujarnya sambil meraih kunci mobil yang terletak diatas meja.
“Loh? Mau kemana, Sin?”
“Udah, ikut aja,” jawab Husin, ia menuju garasi sambil menekan tombol buka kunci di remote mobilnya. Sesaat kemudian mobil meluncur di jalanan. Husin membelokkan strir kearah kiri, disana terdapat kawasan perumahan bergaya modern minimalis. Husin memelankan kecepatannya sambil melirik kearah kiri dan kanan, siapa tahu ia menemukan rumah Syifa saat masih tinggal disini, meskipun Husin tidak yakin ia akan menemukan rumah tersebut.
Saat sedang asyik menyetir tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil, kira-kira berusia 8 tahun dan berambut panjang sedang berdiri termangu didepan gerbang sebuah rumah yang terletak di ujung jalan sebelah kanan. Sambil memeluk boneka kesayangannya, gadis kecil itu menatap rumah yang ada dihadapannya. Husin yang penasaran kemudian memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah tersebut. Ia lalu turun dari mobil. Aldo heran melihatnya, dalam hati ia bergumam,”Ngapain sih, si Bos…?” . Tetapi ia ikut turun dari mobil untuk mengatasi rasa penasarannya.
Husin menghampiri gadis kecil itu,”Cari siapa, Dek…?”
Seketika ia menoleh kearah Husin dengan pandangan mata sayu, dengan suara yang sangat pelan ia menjawab,”Cari Kak Syifa, Bang. Kok rumahnya udah dijual…?” tunjuknya kearah rumah yang ternyata sudah ditempeli dengan tulisan ‘Rumah Ini Dijual’.
Husin nyaris berbunga-bunga ketika gadis kecil itu menyebut nama Syifa. Untuk meyakinkan, Husin bertanya,”Kak Syifa itu orangnya kayak apa, Dek?”
“Orangnya baik banget, tingginya segini, terus pake jilbab,” ia menjelaskan sambil mengangkat tangannya, mendefinisikan Syifa.
Husin semakin yakin bahwa Syifa yang dicarinyalah yang dimaksud oleh gadis kecil itu,”Kak Syifa udah pindah, Dek,” Husin berlutut hingga tingginya hampir menyamai gadis kecil itu,”Adek dengan siapa kesini? Oh iya, nama adek siapa?”
“Jalan kaki, Bang. Nama saya Lily,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
Jalan kaki? Apa rumahnya dekat dari sini? Tapi rasanya tidak mungkin. Husin melihat gadis kecil itu kelelahan seperti usai berjalan jauh.
“Kalo boleh tau, adek kok bisa kenal dengan Kak Syifa?” tanya Husin.
“Iya, waktu itu Kak Syifa kayak lagi pulang kuliah, terus tiba-tiba datang ke rumah Lily. Katanya sih ada tugas, sejak itu Kak Syifa sering ngajak Lily main ke rumahnya…,”
“Oooo…,” Husin mengangguk paham. Kemudian ia mengajak Lily pulang, “Kita pulang aja yuk? Abang boleh main ke rumah Lily, nggak?” tanya Husin, yang membuat Aldo takjub. Secepat inikah Husin berubah? Setahunya, Husin paling tidak suka dengan anak kecil.
“Abang siapa…?” tanya Lily, sepertinya ia waspada terhadap orang yang belum dikenalinya.
“Abang temennya Kak Syifa. Ikut yuk,”
Awalnya Lily ragu, tetapi setelah dibujuk akhirnya dengan polos Lily mengikuti Husin masuk kedalam mobil. Husin membukakan pintu belakang. Lily menaikinya. Didalam mobil, Lily bercerita banyak hal tentang Syifa,”Abang yang sering ke rumahnya Kak Syifa itu, ya?”
Husin gelagapan,”Hah?” ia berusaha untuk tetap tenang mengemudikan mobilnya,”Hehehe…, ng…, ya…, kenapa, Ly?”
“Nggak ada, Lily cuma nanya aja,” jawab Lily sambil memainkan ujung rambutnya.
Aldo baru saja membuka mulut untuk menginterupsi, tetapi keburu dipotong oleh Husin,”Ya…, lumayan sering deh…, hehehe…,”
“Oh, kalo begitu nama abang pasti Navid Athaila, kan?” tebaknya dengan lugu, iapun memamerkan senyumnya yang semakin membuat Husin kikuk diluar, namun emosional didalam hati.
“Bb…, bukan…., nama abang Husin…,”
Lily membentuk bibirnya menjadi seperti huruf ‘O’,”Tapi kok Kak Syifa nggak pernah cerita tentang abang…? Abang siapanya sih?” tanya Lily dengan nada yang mulai curiga. Seketika ia teringat pesan ibunya, jangan mudah mempercayai seseorang yang baru dikenal. Seketika wajah gadis cilik itu berubah menjadi ketakutan. Husin yang memperhatikan wajah Lily dari kaca spion depan berujar,”Abang temen Kak Syifa juga. Tenang aja, abang nggak bakalan macem-macem, kok, Dek,”
Sementara itu, Aldo hanya diam. Setiap kali Aldo membuka mulut, pasti langsung dipotong oleh Husin. Itulah hal yang membuat Aldo ‘gondok’.
Beberapa menit kemudian, Husin memberhentikan mobilnya karena Lily memintanya berhenti.
“Loh? Itu kan jalan layang, Ly? Rumah Lily dimana?” tanya Husin, heran. Ia tidak menemukan rumah apapun. Lily mengajak Husin dan Aldo turun dari mobil. Kemudian mereka menyeberangi jalan.
“Nah, ini rumah Lily. Ayo masuk, Bang,”
Husin dan Aldo mengikuti Lily yang memasuki lorong dibawah jalan layang tersebut. Setelah berjalan sedikit, akhirnya mereka tiba di rumah Lily. Husin memandang ke sekelilingnya, ia tertegun melihat kondisi rumah-rumah kecil yang terbuat dari kardus bekas yang berdempetan. Disana-sini terlihat kondisi bangunan yang tidak terawat, bahkan ada pula yang melakukan segala aktivitas tepat dibawah lorong jalan layang itu.
Lily membuka pintu, hanya ada sebuah ruangan disana. Di ruangan itulah gadis kecil dan keluarganya beraktivitas. Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita sedang tertidur diatas kasur kecil.
“Ini Ibu Lily, sedang sakit…,” ujar Lily sambil tertunduk sedih. Husin menghampiri Lily,”udah dibawa berobat, Dek..?”
Lily menggeleng,”biasanya kalo Kak Syifa kesini, dia suka menghibur Lily. Udah gitu, Kak Syifa suka bawain buah…,”
Husin terdiam, didalam hati ia tidak habis berpikir mengenai hati Syifa yang entah terbuat dari apa. Syifa sama sekali tidak ada hubungan saudara dengan Lily, tetapi perhatiannya terhadap Lily begitu besar nyaris seperti adik kandungnya. Husin memilih untuk mendekati ibu Lily, lalu meletakkan tangannya keatas dahi ibu Lily yang terasa panas,”Udah berapa lama Ibu sakit, Dek? Panasnya tinggi, ibu adek harus dibawa ke dokter,”
Lily tertunduk. Untuk bisa makan pada hari ini saja ia sudah sangat bersyukur, namun bila harus mencari dana untuk ke dokter? Ia bingung harus mencari dimana dan minta bantuan kepada siapa.
Lily mulai sesenggukan,”Udah sejak kemarin Ibu sakit, Bang…,”
Husin tertegun. Ia dapat merasakan apa yang juga dirasakan Lily. Husin berpikir sejenak,”Ya udah kalo gitu, abang bantuin Lily cari obat, yah, Lily tunggu aja disini…,”
Lily mengangguk. Husin dan Aldo kemudian mohon pamit. Sesampainya di luar, sambil berjalan menuju seberang, Aldo menyikut Husin,”Sin, lo serius mau bantuin Lily?”
Husin mengangguk,”Iya, emang kenapa…?”
Aldo takjub dan nyaris tak percaya,”Gue gak mimpi, kan?”tanyanya sambil mencubit lengan Husin.
“Aduh!! Sakit!!!” teriak Husin, tetapi ia tidak membalas cubitan Aldo.
“Alhamdulillah….,” Aldo mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah. Husin malah bengong,”Emangnya kenapa, Do?”
“Hahaha…, ternyata cinta bisa merubah sifat dan prilaku seseorang. Dapat deh gue hipotesis pertama…,” Aldo menerawang keatas. Kemudian ia meralat,”eh, bukan, ini sih udah jadi landasan teori! Wkwkwkwk…,”
“Hmm…, iya deh, anak dosen yang mengampu mata kuliah Metode Penelitian…,” ujar Husin. Husin mengetahui ayah Aldo adalah seorang dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta.
“Teori kedua, ternyata cinta bisa membuat seseorang insomnia,” lanjut Aldo.
“Hah? Buktinya? “ tanya Husin, heran.
“Iya, buktinya lo sampe gak bisa tidur tadi malam. Iya kan…? Ngaku aja deh…,”
Husin terkejut. Ia memang tidak bisa tidur tadi malam dan sebagai pelampiasan ia browsing internet hingga dini hari. Husin menyengir,”Kok lo tau sih?”
“Yah, percaya atau nggak, sebenarnya gue ini indigo, loh, Sin. Sayangnya bakat ini nggak gue gunakan…, jadinya ya begini deh,”
Jelas saja Husin tidak percaya. Aldo hanya berkilah dan bersembunyi dibalik kata indigo tersebut karena ia berhasil menebak kegiatan Husin malam tadi. Ia yakin tadi malam Aldo juga membuka akun jejaring sosial sama seperti dirinya.
“Gue nggak percaya. Udah, kita beli obat dulu yuk!” ajak Husin.
“Eit, tunggu dulu, masih ada teori ketiga….,”
“Apaan tuh..?” tanya Husin sambil memasang tampang bĂȘte.
“Ternyata, cowok itu butuh perhatian yang lebih ketimbang cewek!” ujar Aldo sambil tertawa. Husin hanya manyun.
Mereka lalu menyeberangi jalan kembali ke mobil lalu singgah di apotek terdekat. Husin membeli Dumin dan antibiotik yang biasa dibelinya ketika sakit. Ia teringat pesan salah seorang kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter mengenai obat yang manjur untuk meredakan panas.
Setelah membeli obat tersebut, Husin kembali lagi ke rumah Lily. Ia mengetuk pintu, tampak Lily sudah menunggu dengan harap cemas. Husin menghampirinya, “Dek, ini obatnya, “
Lily tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Lalu ia menghampiri ibunya yang sedang duduk diatas kasur.
“Bu, ini temannya Kak Syifa. Namanya Bang Husin,” Lily memperkenalkan Husin kepada ibunya.
“Kalo abang nggak dikenalin, nih…?” tanya Aldo hampir ngambek.
Lily cengengesan,”O iya, abang ini namanya Aldo,”
Ibunya melihat Husin yang berdiri kaku didepan pintu.
“Subhanallah, kamu tampan sekali, Nak. Mari masuk,”ujar Ibu Lily ketika melihat Husin.
Husin tersipu malu ketika dipuji oleh ibu Lily. Sementara itu, Aldo berdehem. Mereka lalu memasuki rumah. Husin mendekati ibu Lily dan menyalami tangannya,”Ibu sudah makan?”
Ibu Lily menggeleng,”Belum, Nak….,”
“Kalo gitu, Ibu makan dulu, ya,” bujuk Husin, lalu ia meminta tolong kepada Lily untuk mengambilkan makanan. Dengan telaten, Husin menyuapi Ibu Lily. Ia menjadi teringat pada ibunya yang ia sendiri tidak tahu sedang apa sekarang.
“Oya, Bu, ada yang ingin Husin tanyakan…, boleh?” tanya Husin hati-hati.
“Boleh, tentang apa itu, Nak?”
“Kenapa Lily bisa kenal dengan Syifa?”
Ibu Lily berpikir sejenak,”Oh…, waktu itu Syifa kesini bersama temannya, namanya Najla, kalau Ibu tidak salah. Katanya sedang ada tugas kuliah. Dia bertanya-tanya tentang segala hal pada Ibu, lalu dia mengajak ngobrol Lily. Akhirnya mereka jadi akrab. Ibu sendiri heran, biasanya Lily paling susah percaya apalagi dekat dengan seseorang yang baru dikenalnya. Tapi dengan Syifa, seperti sudah kenal lama aja, lebih seperti kakak adik…,”
Husin mendengarkan dengan baik tanpa ada sepatah katapun terlewatkan. Ia semakin mengerti dengan sifat Syifa. Ia memang sosok penyembuh luka bagi mereka yang membutuhkan.
“Oh, ya, Nak Husin kenal dengan Navid?”
Husin terperanjat. Ada apa ini? Mengapa Ibu Lily juga kenal dengan pimpinan redaksi yang sombong itu? Apa istimewanya dia sehingga Syifa pun tidak segan menceritakan dia pada orang lain?
Husin mengangguk pelan,”Ya, memangnya kenapa, Bu?”
“Syifa pernah cerita ia memiliki teman sejak kecil yang namanya Navid. Tetapi Syifa tidak pernah mengajaknya kesini. Ibu pikir tadi kamu adalah Navid, tapi ternyata bukan,”
Husin berusaha meredam emosinya. Ternyata Syifa lebih sering bercerita tentang Navid dibanding dirinya. Ternyata dugaannya benar, Syifa hanya menganggap dia sebagai teman, tidak lebih dari itu.
Setelah Ibu Lily selesai makan dan meminum obat, Husin dan Aldo kemudian mohon pamit. Mereka berjanji jika ada waktu luang akan kembali lagi kesini.
Diluar, Aldo mengingatkan Husin mengenai rencana mereka saat masih di rumah tadi,”Sin…., lo jadi minta bantuan kakaknya Najla?” tanya Aldo hati-hati.
Sambil berjalan menuju ke jalan utama, Husin menoleh,”Iya dong, butuh bantuan dari orang yang bisa mengajari gue soal agama…., gue ingin menjadi yang terbaik bila ingin mendapatkan yang terbaik juga…,”
Aldo berdehem lagi,”Ehem! Kayaknya si Bos udah mulai dewasa, nih…,”
“Emang udah. Gue kan 19 tahun?” Husin menginterupsi.
“Hehe. Ok, kalo gitu di kampus aja kita temui Najla. Sekarang kita sholat Maghrib dulu. Ok?” saran Aldo yang diikuti anggukan setuju Husin. Mereka lalu menuju ke mesjid terdekat.

***

Husin berbaring di tempat tidurnya. Ia membayangkan peristiwa yang tadi sore dialaminya. Husin sebenarnya ingin menghubungi Syifa untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi batinnya menolak, ia lebih memilih untuk mengenal Syifa dari jauh. Husin mempelajari hal baru hari ini. Ia telah bertemu dengan bintang kecil yang secara tak langsung membuatnya mengerti sifat Syifa dan menyadarkan dirinya tentang pentingnya membantu sesama. Bintang kecil itu adalah Lily, yang memberinya makna sebuah kehidupan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites