Fast Blinking Hello Kitty

With My Lovely Mom

Foto barenk my lovely mom....

Bukit Naang

Dibawah flying fox

Hai.....

Gaya dulu yah.....

Dimana nih yaaa...?

Numpang foto dulu...., hehehehe

Papa dan Mama

My parents photo

17 April 2012

10 April 2012

My Lovely Author Bab 15 Catatan Blog Syifa

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Aldo dan Najla. Walaupun hanya sederhana, mereka tak menyangka begitu banyak sahabat lamanya datang untuk mengucapkan selamat. Sayangnya Husin tak terlihat dalam acara pesta itu. Aldo maklum karena pastilah Husin lebih memilih untuk memprioritaskan keluarganya terlebih dahulu. Disaat sedang asyik bersalaman, dari kejauhan Aldo melihat Husin menghampirinya untuk turut mengucapkan selamat. “Thank’s ya, bro….,” ujar Aldo ketika tangannya dijabat Husin. “Sama-sama, Do. Semoga langgeng dunia akhirat…,” “Aamiiin. Oh ya, gimana dengan Jerry, Sin?” Aldo tersenyum membayangkan kira-kira seperti apa wajah sahabatnya itu sekarang karena ia menghilang sejak selesai diwisuda. Aldo memaklumi karena pastilah Jerry sibuk menyelesaikan pendidikannya di Singapura. “Insya Allah dia juga akan menyusul,” ujar Husin sambil mengangkat sebelah alisnya,”oh ya, maaf Syifa nggak bisa datang. Dia masih butuh banyak istirahat, tapi dia titip salam buat kalian berdua,” Najla mengangguk,”Iya. Tadi pagi aku juga sudah menghubunginya, salam buat Syifa juga ya, Sin…,” “Baiklah, nanti akan aku sampaikan. Sekali lagi selamat ya, sobat!” Husin lalu mohon pamit. 

*** 
“Cinta.., aku masih ingin tahu, kenapa kamu bisa tahu hari ulang tahunku waktu itu?” tanya Husin saat ia dan Syifa sedang bersantai di ruang keluarga. “Hmmm…., semua pertanyaanmu ada di blog, sayang…,” “Oh ya?” ujar Husin dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, segera ia membuka situs blog tersebut. September8th, 2011 Ya Allah, Bila Hamba Jatuh Cinta… Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu membimbing hamba untuk mencintai-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu mengingatkan hamba di saat lalai kepada-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang menutupi kekurangan hamba dan hambapun mampu menutupi kekurangannya, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Jangan biarkan hamba mencintainya melebihi rasa cinta hamba kepada-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Cintakanlah hamba kepada seseorang yang tawadhu’ dan senantiasa mencintai-Mu… October26th, 2011 I’m Fallin’ In Love Kemarin aku menghadiri acara seminar bedah buku. Lumayan ramai mahasiswa yang turut menghadiri acara tersebut. namun ada satu hal yang tidak lepas dari ingatanku. Perhatianku tertuju pada seseorang yang beberapa hari lalu menabrakku. Aku tak menyangka ia hadir dan malahan ia turut berpartisipasi dengan bertanya dan akhirnya berhasil mendapatkan doorprize. Pada awalnya aku ragu, apakah ia benar-benar tulus menghadiri acara bedah buku itu. Tetapi setelah kuperhatikan ternyata sebenarnya ia seorang mahasiswa yang baik dan penuh tanggungjawab. Aku dapat melihat pancaran sifat itu dari matanya…. October29th,2011 Rumah Cinta Beberapa waktu yang lalu aku memotret sebuah rumah yang berada tak jauh dari kompleks perumahanku. Sebuah rumah yang kujadikan inspirasi dalam menulis buku tentang hunian bergaya modern minimalis. Aku jadi teringat tentang bukuku mengenai rumah modern minimalis. Rumah yang menurutku berkonsep modern namun tidak terlalu memperlihatkan unsur kemewahan. Entah mengapa aku ingin sekali mendesain sebuah rumah, yang walaupun hanya sederhana namun dibangun dengan rasa cinta. Cinta terhadap seseorang yang mampu membimbingku untuk menuju jalan yang diridhoi Allah swt. Rumah yang dijaga oleh ketulusan cinta karena mengharap restu Sang Pemilik Cinta, seperti terlihat pada gambar yang kuunggah ini. Aku ingin bersamanya, meniti jalan untuk kemudian bertemu di surga nanti, Insya Allah… Husin sudah menduganya, ternyata apa yang ia pikirkan selama ini memang benar bahwa Syifa-lah yang memotret rumahnya. Husin mengamati desain gambar rumah yang diunggah Syifa tersebut, dibawahnya terdapat tulisan ‘Rumah Cinta’. Ia harus mewujudkannya, semua ini ia lakukan demi cintanya kepada seseorang yang telah menyadarkannya kepada Sang Pencipta. November27th, 2011 Husin’s birthday Hari ini adalah hari ulang tahun Husin. Perasaanku yang tak menentu adalah pertanda bahwa aku juga bingung harus menganggap dirinya sebagai siapa. Namun yang jelas, aku ingin bersahabat dengannya, walau didalam hatiku seolah ada yang mengatakan bahwa perasaan yang kumiliki terhadapnya adalah perasaan ‘yang lebih dari sahabat’. Aku sudah mengunggah video ucapan selamat ulang tahun dariku ke facebooknya. Aku harap ia menonton video itu. Selamat ulang tahun, sahabatku…, (ehm, aku bingung, apakah ia juga menganggapku sebagai sahabat?). Aku harap semoga dengan bertambahnya usia adalah langkah awal perubahan menuju kearah yang lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu… January2nd, 2012 Masuk RS Aku sungguh tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, entah mengapa akhir-akhir ini dadaku seringkali terasa nyeri, setelah aku bertanya kepada Mama, ternyata aku harus menghadapi kenyataan bahwa penyakitku ini adalah jantung. Ya Allah, tabahkanlah hamba, kuatkanlah hamba bila ini memang sebuah ujian dari-Mu… February10th, 2012 Chat with him… Akhirnya ia menghubungiku setelah sekian lama . Ternyata Husin adalah tipe sahabat yang asyik, nggak kaku dan cukup menyenangkan. Ternyata ia juga tidak seperti lelaki lain yang hanya fokus kepada diriku saja, namun ia juga memperhatikan kedua orangtuaku. Ia sangat perhatian dan juga pandai meraih simpatiku… Husin melihat berbagai catatan yang terdapat di blog Syifa. Husin melirik Syifa yang asyik menonton televisi. Ternyata gadis itu sudah lama memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, walaupun ia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Agak lama mata Husin membaca tulisan tersebut. Masih membekas di ingatannya tentang perjuangan Syifa untuk sembuh dari penyakitnya, “Aku akan membangun istana cinta untukmu, Fa…, aku janji…,” gumam Husin didalam hati. Mata Husin berkaca-kaca, ia menutup situs blog Syifa dan mencoba memahami setiap kata yang tersirat pada tulisannya, membayangkan gadis yang pertama kali berhasil meraih hatinya hanya karena melalui sebuah tulisan. Husin melirik sebuah buku yang ia simpan di lemari rahasianya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Syifa, Husin mengeluarkan buku Goresan Cinta, sebuah buku yang belum pernah dibacanya. Husin membuka halaman pertama, disana tertulis: Buku ini kupersembahkan dengan goresan cinta, kepada siapa saja yang ingin mengenal arti cinta… 
*** 
Pagi ini Husin telah berangkat keluar rumah, ia berencana mencari lahan kosong untuk membangun rumah cinta. Untuk mencari lahan di Jakarta memang rada susah, tetapi Husin tidak pantang menyerah. Ia terus menyetir mobilnya hingga menemukan sebuah lahan kosong yang dijual di sebuah kompleks perumahan dekat Bogor. Husin menghubungi nomor ponsel yang tertera di pengumuman itu. Setelah mencoba bernegosiasi, akhirnya Husin menyetujui untuk membeli lahan di kompleks perumahan tersebut. Husin tersenyum, kini tinggal selangkah lagi menuju terwujudnya impian mereka untuk memiliki rumah cinta. Ia akan membangun sebuah rumah yang berlandaskan cinta tulus mengharap restu dari Sang Illahi. 
*** 

Setahun kemudian… Pagi ini Husin mengajak Syifa menuju ke sebuah tempat yang masih Syifa sendiri tidak tahu dimana. Syifa ingin bertanya lebih jauh namun Husin hanya tersenyum penuh rahasia. Syifa sendiri sudah memaklumi sifat Husin yang susah ditebak. “Cinta, aku punya kejutan untukmu,” ujar Husin ketika ia dan Syifa berhenti di sebuah rumah berkonsep modern minimalis berpagar abu-abu. “Ini rumah siapa, sayang?” tanya Syifa. Husin tersenyum penuh rahasia. Ia lalu mengajak Syifa memasuki rumah itu. Syifa yang digandeng Husin melangkah dan terpana ketika memasuki rumah tersebut. Ia disambut oleh sebuah jendela kaca besar di ujung ruangan, jendela itu tembus ke taman belakang yang dihiasi bermacam bunga, mulai dari bunga melati hingga aglaonema. Syifa berdecak kagum,”Ini semua…?” “Iya, Cinta…, ini rumah cinta kita berdua,” jawab Husin singkat, kemudian ia menunjuk ke bangunan di sebelah rumah itu,”Di sebelah sana adalah rumah cinta kita untuk anak-anak jalanan yang putus sekolah. Mereka bisa belajar dengan dididik oleh tenaga yang profesional dan mau bekerjasama dengan pihak kita,” Mata Syifa berbinar, sudah lama ia mengidamkan membangun sebuah rumah cinta khusus untuk mereka yang membutuhkan, dan kini Husin telah mewujudkan impiannya itu. Husin dan Syifa lalu duduk di sebuah sofa,“Cinta, kamu pasti tau siapa salah satu tenaga pengajarnya….?” Syifa merenung sejenak, menebak siapakah sahabatnya yang pintar mengajar dan sabar. Ia lalu teringat,”Najla?” tebaknya sambil menatap Husin. Husin mengangguk,”dan tentunya dibantu Aldo, hehehehe…,” “Makasih banyak ya, sayang…,” “Terima kasih banyak juga, ya, Cinta…,”Husin hendak merapatkan badannya ke badan Syifa ketika Syifa mencegah,”Eitss…., ada yang ngeliat lho…,” Husin terkejut sambil celingukan,”Hah??? Siapa??? Mana???”

04 April 2012

My Lovely Author Bab 14 Rumah Cinta

Syifa diterima bekerja di sebuah perusahaan desain interior ternama di Jakarta. Mengingat IPK nya yang cumlaude dan berbagai prestasi yang diraihnya selama masih menjadi mahasiswa, membuat perusahaan interior tersebut menerima Syifa melalui prosedur yang tidak begitu sulit. Saking asyiknya bekerja, Syifa sampai melupakan rutinitasnya meminum obat. “Astaghfirullah!” Syifa memegangi dada kirinya, nyeri itu datang lagi. Napasnya tersengal dan persendiannya pun ikut terasa nyeri. Syifa pun baru ingat apa yang terjadi pada dirinya, namun tak mungkin ia kembali pulang ke rumah hanya untuk mengambil obatnya yang tertinggal. Sementara itu, dadanya terasa semakin sakit dan napasnya sesak. Syifa yang tak kuat akhirnya jatuh pingsan. Beberapa pegawai yang melihat Syifa langsung melarikannya ke rumah sakit. Hari itu juga ia dirawat di ICU. Pihak rumah sakit segera menghubungi Nenek Syifa. Kedua orangtua Syifa yang dihubungi dan khawatir akan keadaan putrinya, langsung menyusul ke Indonesia dan tiba di Jakarta pada malam hari, disaat kedatangan pesawat terakhir. Husin tak dapat tidur malam ini, entah mengapa sejak sore tadi ia merasa tidak nyaman. Ia terus teringat pada Syifa, ia takut dan cemas bila terjadi sesuatu terhadap penulis yang dicintainya, yang menyadarkannya tentang pentingnya keikhlasan dan kesabaran. Husin membentangkan sajadahnya, malam ini ia ingin mencurahkan segala isi hatinya dan memohon kepada Sang Pemilik Cinta. “Ya Allah, hamba memohon satu hal pada-Mu, berikanlah hamba ketulusan cinta…, bila hamba jatuh cinta, maka cintakanlah hamba pada seseorang yang mencintai-Mu, dan mampu mengingatkan hamba dikala lalai…. Ya Allah, bila Syifa memang yang terbaik bagi hamba, jadikanlah ia sebagai penyembuh luka batin ini, namun bila tidak, janganlah Engkau menyiksa hamba dengan cinta ini, Aamiin…” Husin menutup doanya. Dua hari lagi ia berencana akan bersilaturrahmi ke rumah Syifa dengan membawa serta kedua orangtuanya. Husin berharap semuanya akan baik-baik saja. *** Keesokan harinya, Ibu Syifa yang baru saja selesai mengambil wudhu’ untuk melaksanakan sholat Zuhur, menatap putrinya dengan perasaan yang tak menentu. Menurut penjelasan dokter, secepatnya harus dilakukan tindakan operasi penggantian katup. “Sepertinya Syifa sudah beberapa hari belakangan ini lupa dengan obatnya. Oleh karena itu harus dilakukan tindakan bedah secepatnya. Namun tentu saja kita menunggu hingga kondisinya relatif stabil,” Ibu Syifa hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi putrinya. Syifa yang terbaring diatas ranjang rumah sakit mengigaukan nama seseorang. Ibu Syifa yang hendak membaca Al-Qur’an ketika tiba-tiba terkejut. “Syifa…?” ibunya menghampiri putrinya yang masih dalam keadaan setengah sadar. “Hu….sin….,” Ibunya berusaha mendengar lagi, mungkin saja tadi ia salah dengar. Sesaat kemudian ibu Syifa mendengar putrinya mengigaukan nama itu lagi. “Hu….sin…,” Ibunya bingung, Syifa memang pernah menceritakan Husin, namun belum sempat menyampaikan niat Husin yang akan bersilaturrahmi bersama kedua orangtuanya, Syifa sudah keburu sakit. Ibu Syifa juga tidak mengetahui keberadaan Husin sekarang, beliau melirik ponsel putrinya yang terletak diatas meja. *** Husin baru saja pulang setelah melaksanakan sholat Jum’at ketika ia teringat pada Syifa. Firasatnya yang mulai tidak enak membuat ia lalu meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Syifa, sekedar memastikan penulis goresan cinta itu baik-baik saja. “Halo…, assalamu’alaikum…,” “Wa’alaikumsalam…., ini siapa ya?” tanya seseorang yang terdengar seperti suara seorang wanita. Husin bingung, tetapi bukan suara Syifa. Husin berpikiran bahwa mungkin itu adalah suara orangtua Syifa. “Ini Husin, Tante. Teman Syifa..,” “Oh, Husin…,” “Iya…, Tante…., Tante apa kabar? Syifanya ada?” “Alhamdulillah, Tante baik-baik aja, Nak…., kebetulan, apakah Nak Husin bisa datang ke rumah sakit?” “Bisa…, memangnya siapa yang dirawat, Tante?” “Syifa sedang sakit. Bila ada waktu datanglah kemari….,” Husin terpaku pada tempatnya berdiri. Mengapa firasatnya tadi malam menjadi nyata? Apakah hal ini pertanda bahwa Syifa masih mengingatnya?. Husinpun menyanggupi,“Baiklah, Tante. Saya akan segera kesana,” ujar Husin setelah ibu Syifa memberitahu alamat rumah sakitnya. Namun sebelum menuju ke rumah sakit, Husin mampir sebentar ke sebuah toko bunga. Toko itu menjual berbagai macam bunga kesayangan Syifa, salah satunya adalah bunga mawar putih. Husin memasuki toko itu dan memilih salah satu bunga. “Mbak…, saya beli yang ini, ya,” Husin menggenggam buket bunga tersebut, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di rumah sakit yang dituju, Husin lalu menuju ruangan perawatan. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seorang gadis tegar yang dikaguminya kini terbaring lemah ditemani alat pemantau detak jantung disamping kirinya. Masih teringat jelas di bayangannya saat-saat pertama ia bertemu dengan Syifa. Ia sungguh tak berhati-hati. Ia juga emosional saat itu, sudah jelas ia yang terlebih dahulu menabrak Syifa, namun ia malah menuduh Syifa yang menabraknya. Perlahan Husin menghampiri gadis yang terbaring tak berdaya itu. Buket bunga yang digenggamnya ia letakkan diatas meja, kemudian menghampiri Syifa yang tak sadarkan diri. Husin mendekati ibu Syifa dan berusaha menghibur semampunya,”Husin yakin Syifa adalah gadis yang kuat, Tante…,” Husin menatap ibu Syifa,”Insya Allah Syifa bisa melewati masa-masa kritisnya, Tante,” Husin tidak tega melihat kondisi Syifa yang seperti ini, seandainya bisa, ia lebih memilih agar penyakit yang diderita Syifa dipindahkan kepada dirinya. Hatinya bergetar sambil berucap lirih,“Ya Allah, bila hamba boleh meminta, sembuhkanlah Syifa seperti hamba melihatnya dulu, hati hamba tidak kuat melihatnya didalam kondisi seperti ini, seakan hati inipun ikut tersayat merasakan sakit yang dideritanya….,” Husin kembali diliputi rasa bersalah, seandainya ia bisa memutar waktu, ia memilih untuk melamar Syifa secepatnya, sehingga disaat-saat seperti ini ia bisa mendampingi Syifa siang dan malam. Melihat kondisi Syifa yang kian melemah, Husin memutuskan untuk menemui ayah Syifa yang sedang menunggu diluar. “Tante, Husin permisi keluar sebentar, ya?” ujar Husin mohon pamit. Ibu Syifa mengangguk. Husin melihat ayah Syifa sedang berdiri diluar ruangan intensif, kemudian menghampirinya. Ayah Syifa mengintip keadaan putrinya dari balik jendela. Ia tidak tega melihat putri kesayangannya terbaring lemah tak berdaya, tanpa disadari airmatanya menetes. “Maaf, Om…,” ujar Husin. Ayah Syifa menoleh memandangi Husin yang menunduk,”Ada apa, Nak?” “Ada yang ingin saya bicarakan…,” Ayah Syifa mempersilakan Husin mengutarakan maksudnya, dan akhirnya mengalirlah hal yang selama ini ada di hatinya, sebuah perasaan yang telah ia sampaikan kepada Syifa, namun belum sempat ia membawa kedua orangtuanya menemui orangtua Syifa, Syifa sudah jatuh sakit. Padahal Husin berencana akan melamar Syifa setibanya di Indonesia, tetapi Allah berkehendak lain. Terkadang apa yang kita impikan tidak sejalan dengan kehendak-Nya, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umatnya dan memberikannya pada saat yang tepat. “Maaf bila sebelumnya Husin terkesan mendadak, padahal sebenarnya hal ini sudah lama Husin rencanakan. Tetapi melihat keadaan Syifa yang seperti ini, Husin tidak bisa lagi menundanya…,” Husin menghentikan kalimatnya, berusaha menahan airmatanya agar ia terlihat tegar dan mencari kalimat yang tepat agar semuanya menjadi jelas dan tidak terjadi salah paham,”Husin ingin selalu berada di sisi Syifa dalam keadaan seperti ini, Husin hanya tidak ingin timbul fitnah. Sebenarnya Husin ingin sekali terus berada disamping Syifa. kalau Om mengizinkan, Husin ingin melamar dan menikahi Syifa, Husin ingin menjadi yang halal baginya,” Ayah Syifa terkejut sekaligus haru mendengar ucapan Husin yang tulus,”Tapi…, apakah mungkin dengan keadaan Syifa yang seperti ini kamu benar-benar ingin mendampingi Syifa? Sebaiknya dipikirkan dulu baik-buruknya, Nak. Supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari….,” Husin menatap wajah ayah Syifa dan berucap,”Justru disaat seperti ini Husin ingin membuktikan bahwa Husin tidak pernah bermain-main dengan komitmen yang telah Husin tanamkan sejak dulu, Om. Bila Om izinkan, secepatnya saya akan menikahi Syifa,” Melihat kesungguhan yang ada dibalik pancaran sinar mata Husin, Ayah Syifapun yakin. Sambil tersenyum beliau berujar,”Bila itu sudah menjadi keputusanmu, Om merestuinya, karena Om melihat kesungguhan yang terpancar di matamu, dan Om yakin kamu bisa menjadi imam untuk Syifa. Tapi itu semua Om serahkan pada Syifa,” ayah Syifa merangkul Husin untuk kembali masuk ruangan tempat putrinya dirawat. Husin menghampiri Syifa. “Fa, ini aku…, Husin…,” Husin duduk dan berbisik di telinga Syifa. Ia memandangi wajah yang disinari cahaya kelembutan itu, tak terasa buliran bening menjatuhi pipinya,”Masih ingat, nggak, waktu aku dapat doorprize di acara bedah buku waktu itu? Aku senang banget, Fa…, aku nggak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu…,” Syifa tetap tak kunjung membuka matanya. Mata Husin berkaca-kaca. “A…, aku udah lama mengagumimu, Fa. Setelah setahun aku mencari, akhirnya kita bisa ketemu untuk pertama kalinya…,” Husin melanjutkan,”Aku mencintaimu karena Allah, Fa…, aku harap kita bisa bersama…,”Husin berusaha menahan perasaannya,”aku akan menjagamu, Fa…., kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, dan bila kamu sedih maka aku akan lebih sedih, Fa…,” Husin melihat Syifa menggerakkan telunjuknya perlahan. Husin berujar pelan,”Jika kamu mengizinkan, aku ingin melamar dan menikahimu, Fa. Tolong beri aku tanda bila kamu menyetujui lamaranku, Fa….,” Syifa seolah mendengar ucapan Husin. Ia meneteskan airmata dan menggerakkan jemari tangan yang kali ini lebih jelas terlihat. “Aku mohon bertahanlah demi cinta kita,” Perlahan-lahan Syifa mulai membuka matanya. “Fa…?” panggil Husin pelan. Syifa menoleh kesampingnya. Husin mengucap syukur,”Alhamdulillah…,” Ayah dan Ibu Syifa terkejut sekaligus bahagia melihat perkembangan putrinya. Mereka terharu melihat kesungguhan Husin terhadap putrinya, mereka masih mengingat dengan jelas saat bertemu Husin pertama kali di bandara. *** Perkembangan Syifa semakin membaik dari hari ke hari. Setelah memastikan Syifa dalam kondisi yang stabil, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, Husin menikahi Syifa di rumah sakit. Seluruh keluarga mendukung keputusan tersebut, karena mereka tahu Husin ingin menjadi yang halal bagi Syifa. Syifa menitikkan airmata terharu, akhirnya apa yang ia impikan selama ini terwujud. Allah mengabulkan doanya. “Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin menjadi imam yang mampu membimbingmu, aku ingin menjagamu sampai hanya maut yang memisahkan kita…,”lirih Husin. “Makasih, Sin..., aku juga. Ada yang ingin aku sampaikan…,” “Apa, Cinta?” Dengan bisikan lemah Syifa menjawab,“Aku ingin mendesain rumah yang penuh cinta…, ” Husin terdiam, matanya menatap Syifa dengan penuh cinta. Didalam hati Husin mengagumi kepribadian Syifa yang sungguh tak ia sangka sebelumnya,“Aku akan membangunnya, Cinta. Aku janji,” ujar Husin. Seorang perawat lalu memasuki ruangan,”Nona Syifa…, saatnya operasi dijalankan…, tapi sebelumnya minum obat dulu, ya,” ujar perawat tersebut sambil tersenyum. Husin menghibur dengan bisikannya,”harus mau ya, Cinta? Demi aku…?” Syifa menatap Husin dengan sinar matanya yang penuh kelembutan. Semua perkataan yang terucap dari bibir memang bisa dimanipulasi, namun apa yang terpancar dari mata sama sekali tidak bisa direkayasa. Itulah sebabnya ada istilah ‘mata tak dapat berbohong’. Syifa memang tak dapat memungkiri rasa bahagianya setelah mengetahui Husin menjenguknya, ditambah lagi kenyataan bahwa Husin telah resmi menjadi imam yang akan membimbingnya menuju ridho Allah. Sebelum operasi dimulai, Husin terus menemani Syifa hingga masuk ke ruangannya,”yang kuat, ya, Cinta? Aku akan terus mendoakanmu…,” Syifapun memasuki ruangan operasi. Sementara itu, Husin pun segera menuju musholla rumah sakit untuk menunaikan sholat Ashar dan berdo’a mudah-mudahan operasinya berjalan lancar. “Ya Allah yang Maha Menyembuhkan, Engkau yang menggenggam jiwa ini dan Engkau yang memiliki kuasa atas apa yang telah Engkau tuliskan di Lauhul Mahfudz, hamba memohon pada-Mu, jika Engkau mengizinkan hamba bersama dengan belahan jiwa yang hamba cintai, maka sembuhkanlah ia sebagaimana hamba melihat keceriaannya dahulu, namun jika Engkau lebih mencintainya dibanding cinta hamba kepadanya, maka hamba akan ikhlas, Ya Allah, Aamiiin…”lirihnya. Dengan rasa yang tak menentu, Husin meninggalkan musholla dan bergegas untuk menunggu didepan ruangan operasi. Husin terus menatap lampu didepan ruangan operasi yang masih menyala. Detik demi detik telah berganti, setiap menit yang terlewati seakan menghujam batinnya. Husin tidak mampu mendeskripsikan limit cemas dan sedihnya yang tak terhingga, seakan semuanya menjadi satu. Dari kejauhan, Husin melihat Najla datang bersama Nabil dan Aldo. Husin memperhatikan gadis kecil yang digandeng Najla, ia mengenalinya sebagai Lily. “Lily….?” Husin menghampirinya. “Kak Syifa kenapa, Bang?” tanya Lily dengan mata berkaca-kaca. “Kak Syifa nggak apa-apa kok, Ly. Ntar lagi juga sembuh. Lily doakan Kak Syifa, ya….?” Gadis kecil itu mengangguk. “Lily udah pulang sekolah…?” tanya Husin. Lily menggeleng,”Lily nggak sekolah lagi, Bang…,” gadis kecil itu menunduk sedih. “Lily harus sekolah supaya pintar, ya?” Lily mengangguk, Husin dapat melihat keinginan yang kuat dari gadis kecil itu untuk melanjutkan pendidikan. Husin menjadi teringat pada ketulusan Syifa yang suka membantu anak-anak kurang mampu. Husin memiliki sebuah rencana untuk mewujudkan keinginan Syifa yang belum tercapai. Husin berharap Syifa juga akan setuju dengan rencananya tersebut. Lampu ruangan operasipun padam yang artinya operasi telah selesai. Dokter membuka pintu ruangan. Cepat-cepat Husin menghampiri,”Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?” “Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, namun tetap saja Syifa harus bed rest hingga kondisinya dinyatakan benar-benar pulih..,” “Alhamdulillah..,” Husin bersujud syukur, namun hatinya masih was-was. Selain dirawat intensif di ICU, Syifa juga harus menjalani terapi pemulihan dan bila kondisinya dinyatakan baik oleh dokter, ia akan diizinkan pulang. Syifapun dibawa kembali dibawa ke ruangan intensif. *** Hari ini Syifa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ia tampak lebih baik meskipun masih tampak raut kelelahan di wajahnya. Sejak pagi tadi Husin selalu menemani Syifa. ”Alhamdulillah, Cinta, operasinya berjalan lancar…,”ujar Husin. Syifa menatap Husin sambil tersenyum,”Terima kasih atas do’anya…, sayang…,” Untuk pertama kalinya Husin mendengar Syifa mengucapkan kata-kata itu. Sekilas Husin melirik sepiring makanan yang terletak diatas meja. Ia lalu mengambil piring itu dan menyuapkan sesendok nasi pada Syifa. “Cinta, makan ya…,” Syifa mengangguk, dengan sabar Husin mendampingi Syifa yang belum boleh banyak bergerak. Pintu ruangan terbuka. “Assalamu’alaikum, Sin…,” salam Aldo sambil membuka gagang pintu. Husin menatap Aldo yang baru saja datang bersama Nabil, Najla dan Lily,”Wa’alaikumsalam, mari masuk teman-teman,” “Gimana keadaan kamu, Fa? udah agak mendingan?” tanya Najla yang menghampiri Syifa. Syifa mengangguk,”Alhamdulillah, La. Berkat do’a kamu juga,” Sementara itu Aldo menghampiri Husin,”Wah, akhirnya lo duluan juga, Sin. Nggak nyangka, tapi selamat ya!” Aldo menjabat tangan Husin. “Makasih, Do. Oh iya, ada yang mau gue sampaikan. Tapi sebaiknya kita bicara diluar aja, ya?”ajak Husin sambil memberi isyarat mata pada Aldo. Aldo yang heran pasrah saja ketika diajak keluar. “Hmm…, mau ngomongin apa, sih?” tanya Najla memasang tampang curiga. Husin meyakinkan Najla mengenai tak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah menutup pintu, Husin meyampaikan ide cemerlang yang ada di pikirannya,”Gue mau bantuin Lily, Do….,gimana kalau kita membantu Lily untuk kembali sekolah?” Aldo berpikir sejenak,”Ide bagus, sih, Sin. Tapi gimana caranya?” Husin tersenyum,”Kalau boleh jujur, gue suka dengan cara lo mengajar. Jadi gue berencana membuat rumah khusus untuk anak-anak jalanan, dan disana mereka juga akan belajar. Kalau boleh, lo nggak keberatan mengajar mereka, kan, Do?” Aldo mengangkat sebelah alisnya,”Hmm.., kalau memang niatnya baik, kenapa nggak? Gue setuju,” “Ok…, kalau begitu kesimpulannya lo bener-bener ikhlas dan nggak keberatan sama sekali, kan, Do?” tanya Husin. Aldo mengangguk,”Iya, sebagai sahabat gue akan terus mendukung lo selama hal itu benar. Nanti gue juga akan mengajak Najla. Terus rencana lo selanjutnya apa, Sin?” “Liat aja ntar,”ujar Husin, masih merahasiakan. Didalam hati ia merasa sangat senang, tinggal selangkah lagi ia akan dapat mewujudkan rumah cinta impian Syifa, tidak hanya untuk mereka berdua, namun juga bagi mereka yang membutuhkan. 
Baca juga Bab 15

01 April 2012

My Lovely Author Bab 13 Graduation

Pagi ini adalah hari yang bersejarah bagi Husin dan sesama rekannya anggota D’Handsome. Perjuangan yang tiada henti selama 3 tahun 6 bulan akhirnya memberikan hasil. Ruangan ini menjadi saksi keberhasilan mereka, dan Husin lulus sebagai pemuncak dari tingkat Fakultas. IPK-nya hanya berbeda tipis dengan Aldo yang notabene dulunya adalah langganan juara umum. Husin sendiri tidak menyangka karena yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya agar ia lulus dengan tepat waktu dan baik, ia ingin menunjukkan pada Syifa bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Kedua orangtuanya yang turut hadir bangga dengan prestasi putranya. Saat namanya dipanggil oleh moderator, tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Husin merasa senang namun jauh di relung hatinya, ada perasaan hampa. Hampa karena ketidakhadiran Syifa yang menyaksikan keberhasilannya. Walaupun ia telah menerima pesan singkat yang berisi ucapan selamat dari kepingan hatinya itu, tetapi Husin merasa hal tersebut belum cukup. Ia membayangkan Syifa hadir disini, diantara ratusan pasang mata yang sedang menyaksikan dirinya memakai toga, pastilah kebahagiaannya akan lebih sempurna. Namun Husin hanya bisa membayangkan dan berdoa mudah-mudahan Syifa secepatnya kembali ke Indonesia untuk menyempurnakan kebahagiaannya. 
*** 
Husin diterima di sebuah perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta. Ia baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian menjalani rutinitas kerja. Kini selain bekerja, Husin juga sibuk untuk menyelesaikan magisternya di salah satu perguruan tinggi ternama. Disaat sedang menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali menghubungi Syifa dan tak lama kemudian terdengar suara Syifa menjawab ponselnya. Husin menanyakan kuliah Syifa, ternyata Syifa juga telah menyelesaikan kuliahnya. “Alhamdulillah, Sin. Insya Allah besok aku akan pulang ke Indonesia….,” Husin lega mendengarnya. Inilah puncak dari penantiannya selama bertahun-tahun. Masih membekas dalam ingatannya saat ia menyusul Syifa ke bandara, tentulah Syifa yang sekarang sudah jauh berbeda. “Najla sudah diberitahu, Fa?” tanya Husin, singkat. “Sudah, Sin..,” jawab Syifa,”kemarin dia menelepon. Dia bilang akan datang menjemput bersama kakaknya,” “Oh, bagus dong…,” Husin memelankan suaranya. Menurut Husin inilah saat yang tepat untuk membuktikan keseriusannya. Husin akan ikut menjemput Syifa seperti janjinya beberapa tahun lalu. Ia akan menunggu Syifa di tempat yang sama saat terakhir kali mereka bertemu. Beberapa saat kemudian mereka mengakhiri pembicaraan. 

*** 
Ketika membelokkan stir ke halaman rumah, sekilas Husin melihat mobil Yaris yang dikemudikan Aldo. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Husin keluar dari mobilnya, tampak Aldo sudah berdiri didepan gerbang. “Aldo?”sambut Husin dengan mata berbinar. Ia sungguh tak percaya pada apa yang dilihatnya. Aldo masih seperti yang dulu, hanya saja ia terlihat lebih berwibawa. ”Mari masuk,” Aldo masih berdiri didepan gerbang dan tersenyum,”Sin, gue kesini mau mengantarkan ini,” Aldo lalu menyerahkan sebuah surat undangan berwarna emas dari ransel yang dibawanya. Husin membukanya,”Wah, undangan married?”Husin membaca tulisan yang tertera disana,”Jadi lo sama..,” “Najla,”sambung Aldo, tak henti-hentinya menebar senyum. “Alhamdulillah, selamat ya sobat!” Husin menjabat tangan sahabatnya,”akhirnya lo lebih duluan juga ketimbang gue…, padahal kan gue yang duluan pendekatan ke Syifa. gak nyangka ternyata lo cepat mengambil keputusan ya, Do…,” “Makasih, Sin. Kalo niat yang baik, kenapa ditunda-tunda? Kalo sudah sama-sama cocok, jangan ditunda karena kalo terlalu lama ntar menimbulkan fitnah, lho, Sin…,” “Wah, benar-benar hebat, lo, Do. Sekali lagi, selamat ya, sobat!” “Lagian nikah itu kan ibadah, Sin. Jadi sempurna deh ibadah gue. Hahaha…,” Husin terpana mendengar penjelasan Aldo,”Ternyata lo memang jauh lebih dewasa ya, Do. Secepat inikah perubahan lo, Do?” “Haha…, gue dapat landasan teori berikutnya. Ternyata cinta bisa membuat orang bersikap lebih dewasa. Tapi masih dua minggu lagi, kok. Oh iya, lo tau nggak kabarnya Jerry, Sin?” Husin mengangguk,”Iya, dia bilang dia minta maaf nggak sempat ngasih tau lo, dia lagi sibuk menyelesaikan magister di Nanyang-Singapura. Kalo lo sendiri gimana ngajarnya, Do? Akhirnya jadi dosen juga…, hehehe…, ” Aldo menjawab,”Biasa aja, Sin. Alhamdulillah CV gue diterima…,” Husin berbinar,”Ckckckck…, wah, cocok banget! Dari dulu lo memang ada bakat mengajar, Do. Gue mendukung!” Aldo tersenyum,”Thank’s Bos…,” “Haha…, gak usah manggil gue Bos lagi, deh, Do. Karena kita sama-sama udah jadi Bos sekarang…,” ujar Husin,”oh iya, ngapain sih diluar aja? Masuk yuk!” Husin mempersilakan Aldo memasuki rumahnya. Aldo lalu duduk di sofa ruang tamu,”Oh iya, Sin. Gimana kabar Syifa?” Husin hanya tersenyum. “Syifa akan kembali ke Indonesia. Dia memilih untuk bekerja disini. Kalo boleh jujur, gue seneng banget waktu dia ngasih tau akan kembali lagi kesini. Kita jemput, yuk, Do?” ajak Husin. Ia membayangkan kira-kira seperti apa wajah dan keadaan Syifa sekarang. Apakah tatapan matanya masih selembut dulu? Apakah tutur katanya masih menyejukkan seperti embun di pagi hari? Husin berharap Syifa masih seperti yang dulu, mungkin saja wajahnya akan berubah, namun Husin berharap hatinya masih seperti yang dulu. Aldo berkata pelan,”Kayaknya gue nggak mungkin ikut, Sin…,” “Lho, kenapa? Emangnya lo nggak kangen dengan sahabat lama? Besok jam 7 malam pesawatnya landing. Kita ke bandara bareng-bareng, ya? Najla juga udah ditelepon Syifa. Dia juga ikut menjemput bareng Aa’ Nabil…,” “Jadi Najla ikut juga???” tanya Aldo dengan mata berbinar,“Hmmm, ok, deh…,” ujar Aldo menyanggupi, kali ini penuh semangat.
 *** 
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika pesawat yang ditumpangi Syifa mendarat. Pesawat yang ditumpangi Syifa delay selama setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Dari kejauhan Husin melihat sosok yang lama-kelamaan semakin mendekat, jelas dan nyata. Syifa berjalan dengan begitu anggunnya. Husin semakin tak dapat menahan segala rasa, begitu pula dengan Syifa. Syifa menghampiri mereka dan dengan kepala yang sedikit menunduk. Husinpun tak kalah gugupnya, sehingga tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tetapi untunglah Aldo mencoba mencairkan suasana,”Assalamu’alaikum, Syifa. Apa kabar nih? Udah lama gak ketemu, ya..?” Syifa tersenyum,“Alhamdulillah baik, Do…,” Aldo menangkap suasana yang masih terlihat kaku itu,”Hei…, kok pada bengong?” Mendengar perkataan Aldo, Husin langsung terkejut. Ia refleks menyapa Syifa,”Selamat datang kembali ke Jakarta, Fa…,” Syifa menjawab dengan senyuman,”Makasih, Sin…., sudah rindu juga nih dengan Jakarta,” “Hmmm…., rindu dengan Jakarta atau rindu dengan orang Jakarta nih…?” goda Aldo yang membuat wajah Syifa memerah. Husinpun menjadi ikut salah tingkah. Syifa kembali teringat kenangan saat-saat ia akan meninggalkan Jakarta. Ketika itu ia melihat Husin menghampirinya dengan tergopoh-gopoh hanya untuk menyampaikan salam perpisahan. Saat itu Husin berjanji akan menunggunya di bandara ini, dan sekarang Husin menepati janjinya itu. Syifa merasa terharu, ia dapat melihat kesungguhan hati Husin terhadapnya… “Syifa!! kok ngelamun???” Najla menepuk pundak Syifa yang membuat Syif terkejut. “Oh, maaf…, kamu bilang apa tadi, La?” Najla mengangkat sebelah alisnya,”hmmm, iya deh yang udah lama nggak ketemu…, udah ketemupun masih ngelamun…,” “Kalo gitu, tunggu apalagi? Cepetan lamar Syifa…,” bisik Aldo dengan bahasa isyarat yang tentunya hanya dipahami oleh Husin, Aldo dan Jerry, anggota D’Handsome. Aldo mendekati Husin dan berbisik,”Kalo kelamaan, ntar keburu dilamar Navid lho, Sin. CTK BGT begini…,” “Apaan tuh CTK BGT?” Najla menatap Aldo yang sedang menggoda Husin. “Ng…, maksudnya, Najla Cantik BanGeT,” kilah Aldo pada Najla. “Cieee…, iya deh, calon pengantin baru….,” Husin berujar semangat. Akhirnya mereka impas dan ia berhasil mengatasi rasa gugupnya. Sebenarnya Husin malas menanggapi ide konyol Aldo, tetapi perasaan hatinya tidak dapat lagi dibohongi. Husin menatap Syifa. “Ng…, Fa…,” panggil Husin pelan, yang membuat Syifa menoleh. Degup jantung Husinpun menjadi semakin tak karuan. “Ya, ada apa, Sin?” “Ng…, nggak ada, kok. Selamat yah, akhirnya kamu kembali lagi kesini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi partner…,” perkataan Husin terputus, ia ragu harus mengatakan sebuah kalimat yang sudah sejak lama dipendamnya. “Partner kerja? Hmmm…, sepertinya asyik…,”ujar Syifa sambil tersenyum. Husin mengangguk. Aldo menepuk jidatnya,”Bukan partner kerja, Fa. Maksud Husin, dia mau ngelamar kamu menjadi partner dalam rumah tangganya, hehehe…,”timpal Aldo, kali ini entah sudah berapa kali ia menggoda Husin dan Syifa. Husin menatap Syifa sambil menganggukkan kepala. Syifa hanya bisa tersenyum malu, Husinpun mengajak Syifa dan teman-temannya untuk makan malam di sebuah restoran di bandara. Mereka memilih untuk duduk didekat jendela. Syifa dan Najla duduk berdampingan. Aldo dan Husin juga duduk bersebelahan sedangkan Nabil duduk di sebelah kiri Najla. “Selamat malam, Mbak, mau pesan minuman apa?” seorang waitress menghampiri dengan menggenggam buku daftar menu. “Teh botol,”ujar Husin dan Syifa bersamaan. Melihat kejadian barusan, Aldo dan Najla tersenyum-senyum. Sementara itu Syifa dan Husin sama-sama terkejut. “Makanannya?” tanya waitress itu lagi. “Nasi goreng,” jawab Husin dan Syifa, kali ini nyaris bersamaan. “Ehem…! Ada yang salting, nih…,”goda Aldo ketika waitress itu sudah berlalu. Ia melihat Husin dan Syifa sama-sama kikuk. “Biasa aja….,” Husin ngeles, padahal badannya terasa panas-dingin. Tampang Husin yang kelihatan aneh seperti ini adalah kesempatan bagi Aldo. Yah, minimal untuk menambah ceria suasana,”oh ya…? Masa’sih? Kalo biasa-biasa aja, kenapa lo sampai keringetan begitu, Sin?” ledek Aldo. “Iya nih, gue liat pipi Syifa memerah gitu,” tambah Najla yang kemudian memasang tampang innocent. Syifa melirik Najla yang duduk disampingnya,”Mukaku emang begini, La…,”Syifa menunjuk pipi kanannya untuk meluruskan perkataan Najla. “Oh iya, kata Husin dia mau ngomong sesuatu sama kamu, Fa,” tanpa basa-basi lagi Aldo langsung menyatakan kalimat yang ia pendam sejak tadi. Husin gelagapan,”Hah? Oh, nggak…, nggak ada apa-apa, kok. Bener, deh,”elak Husin sambil tersenyum. Syifa menundukkan kepalanya. Diam-diam Husin memperhatikan wajah lembut tersebut, melihatnya saja Husin sudah merasa senang, apalagi bila…. “Astaghfirullah!”gumam Husin didalam hati. Ia menepis pikiran itu,”Jangan banyak berkhayal!” gumamnya kepada dirinya sendiri. Sesaat kemudian minuman yang mereka pesan datang. “Wah, wah, wah…., sekarang lagi musim hujan, tapi kok ada yang keringetan, ya?” sindir Aldo ketika melihat tubuh Husin dibanjiri peluh, sepertinya ia gugup atau perasaan lain yang sejenis itu. Husin yang sedang meminum teh botol langsung tersedak, ia terlihat semakin kikuk,”Hah? Siapa…?” tanya Husin yang mencoba rileks. “Hmmm…, entahlah, gue gak tau juga,”jawab Aldo. Najla memperingatkan Aldo melalui isyarat mata. Aldo tersenyum simpul. Aldo melihat wajah Najla yang begitu bersinar hari ini. Insya Allah dua minggu lagi harapannya akan terwujud. Syifa mengalihkan perhatian,”Abis ini mampir ke rumah nenekku dulu, ya? Nenek bilang karena hari ini special day, jadi ada acara kecil-kecilan…,” “Wah, keren, Fa! Lain kali adakan special day lagi ya!”celetuk Aldo, yang diikuti anggukan persetujuan Najla. “Kamu ikut mobil aku aja, Fa. Soalnya kalau di mobil Aldo bisa-bisa ada yang salting lho…,”Najla melirik Husin sekilas. Syifa mengangguk,”Ok. Gak apa-apa kan, Sin?” Husin terperanjat,”Hah? Oh…, iya…, gak apa-apa…,” Najla dan Aldo kompak mengangkat sebelah alisnya. Kedua calon pengantin itu terlihat semakin kompak saja akhir-akhir ini. “Najla, aku titip oleh-oleh untuk Lily, ya,” ujar Syifa yang diikuti anggukan Najla. Melihat keakraban Najla dan Syifa itu, Husin merasa agak iri. Andai saja ia dan Syifa bisa…… “Astaghfirullah! Ngelamun lagi!” gumam Husin dalam hati, cepat-cepat ia menghabiskan makanan dan minuman yang telah terhidang. 

*** 
Dan akhirnya mereka sampai di rumah nenek Syifa, terlihat neneknya sudah menunggu di teras depan rumah. “Assalamu’alaikum,”sapa Husin ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah itu. “Wa’alaikumsalam,” sambut nenek Syifa, Husin dan teman-temannya menghampiri. Nenek Syifa terlihat terkesima saat Husin menyalami tangannya dan tanpa berpikir lebih lama lagi beliau berujar,”Subhanallah, kamu tampan sekali, Nak…,” Husin tersenyum simpul,”Terima kasih, Nek…,” “Akhlakmu juga sepertinya baik. Mari masuk, Nak,” lanjut Nenek Syifa. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Husin ingin mengatakan bahwa wajahnya belum seberapa dibanding ketampanan Nabi Yusuf dan akhlaknya pun masih belum dapat ia duga. Husin tak dapat membayangkan apa jadinya bila ia tidak segera memperbaiki diri, mungkin saat ini ia masih seperti Husin yang dulu, emosional tingkat tinggi. Hal tersebut memang sudah menjadi masa lalu, namun dari masa lalu itulah Husin banyak belajar tentang pahit getirnya kehidupan. Husin belajar makna keikhlasan dan kesabaran, sebuah pelajaran berharga yang tak dapat dinilai oleh apapun. Husin dan teman-teman lalu duduk di sofa ruang tamu. “Siapa diantara kita yang ngantarin Syifa ke bandara beberapa tahun lalu?” tanya Najla sambil tersenyum. Didalam hatinya ia sedang menguji keberanian Husin untuk mengungkapkan semua yang ada didalam hatinya. Najla mengharapkan Syifa, sahabatnya akan hidup bahagia bersama seseorang yang tepat yang dapat menjadi imamnya kelak. Mendengar pertanyaan Najla barusan, Husin terperanjat, sementara itu Husin melihat teman-temannya memasang tampang pura-pura tidak tahu. “Ng…, siapa ya? Aku juga nggak tahu…,” Husin menutup-nutupi hal yang selama ini dirahasiakannya. “Oh, ya? Nggak tahu atau nggak tempe…? Kayaknya aku pernah melihat orang yang wajahnya mirip kamu di bandara, deh, Sin. Apa itu bukan kamu, ya?” tanya Najla sambil memegangi dagunya. Husin makin salah tingkah, kini Syifa sudah berada di hadapannya untuk membawakan minuman. Syifa meletakkan gelas-gelas itu, dan sekilas menatap Husin. “Ciiieee….., uhuk uhuk! Gue tiba-tiba batuk nih, gue minum dulu ya, Fa,” tukas Aldo yang kemudian mengambil sebuah gelas yang ada di hadapannya. Syifa tersenyum, “Silakan. O iya, gimana kalo kita foto bareng? Yah, untuk kenang-kenangan seandainya aja kita nggak jumpa lagi…,”usulnya dengan suara yang makin terdengar pelan. “Jangan bilang gitu dong, Fa. Insya Allah persahabatan kita akan terus terjaga…,”protes Husin. Aldo melirik Husin dengan tatapan usil,“Oh ya…..?” Husin tak menjawab, ia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan,”Ya udah, gue bawa kamera digital. Kita foto bareng, ya…,” Syifa dan teman-teman lainnya setuju. Husin mencari modus jepretan otomatis pada kameranya. Namun sebelumnya mereka mengatur posisi masing-masing agar terlihat pas di kamera. Setelah asyik berfoto bersama, mereka lalu pamit pulang. Sebelum pulang Husin sempat berbicara dengan Syifa. Setelah memasang sepatu iapun berdiri menatap Syifa yang berada tepat di hadapannya,”Fa…, ada yang ingin kusampaikan…,” Syifa menatap Husin dengan penuh tanda tanya,”Ya, ada apa, Sin?” “Aku ingin mengenalmu lebih dekat dan membawa kedua orangtuaku untuk bersilaturrahmi kesini, Fa..,” bisik Husin pelan. Syifa terpana, akhirnya terlontarlah pernyataan yang sekian lama ini ditunggunya. Agak lama Syifa menatap Husin, seolah tak percaya dengan yang didengarnya barusan. Syifa menjawab dengan senyum simpul. Cahaya matanya seolah ingin menyatakan persetujuannya. Husin membalas senyuman Syifa, itu saja sudah cukup menjadi penyembuh luka batinnya selama bertahun-tahun ini. Husin mohon pamit karena Aldo, Najla dan kakaknya sudah menunggu di mobil. Aldo yang duduk disamping Husin melirik dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “Sin…, lo kenapa…?” “Ada deh, mau tahu aja,”kilah Husin sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menatap foto Syifa yang sedang memakai baju biru tersenyum di layar ponselnya. “Hmmmm….., udah dewasa sekarang ya?!” ledek Aldo yang kemudian menstarter mobil. Husin hanya tersenyum simpul. Ia membayangkan kedua orangtuanya datang menemui orangtua Syifa. Husin menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit, salah satunya bersinar paling terang, seterang hatinya saat ini.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites