Fast Blinking Hello Kitty

With My Lovely Mom

Foto barenk my lovely mom....

Bukit Naang

Dibawah flying fox

Hai.....

Gaya dulu yah.....

Dimana nih yaaa...?

Numpang foto dulu...., hehehehe

Papa dan Mama

My parents photo

24 Desember 2012

Romantic Poem

Dinda...
Wajahmu, senyummu membuat penatku hilang,
Hatimu membuat ku sejuk di kala panasku,
Semangatmu membuat ku panas di kala sendu ku...
Kemurnian cintamu membuatku yakin akan kekuatan ini
Untuk menggapaimu menuju kebaghagiaan sejati,
Kesetiaanmu membuat ku tenang di kala berlari menuju garis finish ku
Ku tak berharap apa-apa karena ku tak punya apa-apa,
Namun ku hanya ingin memilikimu seutuhnya,
Ku sudah tak ingin memeilih-milih lagi,
Karena ku yakin, ini yang terakhir
Aku tak menilai dari apa yang kamu punya,
Namun sesuai dengan sunah Rasul....
Itu pedomanku
Dan dinda-lah yang kuanggap memenuhi sunnah Rasul itu bagiku pribadi,
Dinda-lah yang selama ini kucari,
Di tengah kuarungi pengalaman cintaku,
Ku harap Allah swt meridhoi ini,
Karena semua yang diusahakan tetap Allah swt juga yang menentukan
Namun aku yakin ridho-Nya yang terbaik, apapun yang terjadi...
Dinda....
Aku menyayangimu tulus dari hatiku,
meskipun seperti rakyat yang mengharapkan permaisuri,
aku akan tetap berharap,
Rasa ini tak bisa kuingkari begitu saja,
Meski singkat komunikasi kita,
Meski singkat kita bertemu,
Namun tiap detiknya berharga bagiku,
Memang ku tak bisa menghindar dari fakta,
Jika aku bukanlah apa-apa,
Namun izinkanlah aku masuk kedalam lubuk hatimu,
Mengisi hatimu yang begitu istimewa,
Karena kamu begitu spesial,
Ku akhiri untaian kata-kata ini dengan tiga kata,
Yang selalu diucapkan semua pasangan,
Mungkin terasa biasa,
Namun jujur dari hatiku dengan penuh perasaan,
meski bagi lidah begitu fasih tuk mengucapkan,
Namun di hati, hanya kedua insan yangda pat merasakan,
Kesucian cinta yang terasa didalam jiwa,
Begitu sempurna, amazing, begitu suci....
Aku sayang kamu,
Tuliskanlah dalam karyamu,
Agar terasa abadi dan terngiang
tiap kali membacanya,
karena kata-kata hanya dapat diingat,
Jika kita menyimpannya dalam suatu karya yang suci,
Untuk mengingatkan kita,
Amiin
Maafkan jika aku tak seperti yang lainnya yang mempunyai rasa yang sama denganku,
jika kamu tak berkenan dengan kondisiku,
Aku ikhlas jika kamu tidak memilihku,Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga...
By : MZM

31 Juli 2012

Happy Birthday, My Mom...:)

Mama.
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk penulis dan Mama. Sedikit kecewa karena penulis tidak bisa memberikan apa-apa, kecuali ucapan tulus selamat ulang tahun pada Mama. Penulis berharap semoga Mama slalu diberi kesehatan, murah rezeki dan diberi kesabaran yang luar biasa untuk membimbing penulis. 
Penulis menyukai sebuah puisi, yang penulis rasa tepat untuk menggambarkan suasana hati saat ini.

Mom,
You're the strongest woman I ever know,
The only one who cares and be able to listen to every my deep feelings...
In this case I just want to say thank you,
Thank you so much for every love you have given,
For understanding me,
For your advice and guidance,
Mom,
You 're just like the sunshine in the morning,
And your love is just like a  morning dew,
I can't imagine how will I be without you,
For my dearest mom....:)

20 Juli 2012

WILL IT BE BESTFRIEND FOREVER???

Bestfriends are those who will be able to wipe these tears when we sad, those who never leave us alone, and this friendship can be last longer, hopeless.
Teristimewa untuk sahabat-sahabat penulis semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang senantiasa memberikan dukungan, inspirasi dan semangat kepada penulis, di hari pertama puasa Ramadhan ini penulis ingin memohon maaf lahir batin. Tak terasa 6 tahun sudah kebersamaan kita hingga saat ini. Telah banyak kenangan indah mulai dari saat pertama kali bertemu, berkenalan dan kemudian berlanjut hingga ke persahabatan. Bila berputar balik kembali ke masa lalu, penulis masih merindukan momen-momen kebersamaan kita selama Ramadhan, seperti mengadakan berbagai lomba, yaitu lomba nasyid, membaca puisi, lomba hafalan surat Yaasiin, lomba ceramah agama, dan sebagainya.

Setelah kebersamaan kita di bangku sekolah berakhir, kitapun juga mengadakan acara buka bersama untuk mempererat tali silaturrahim diantara kita. Pertanyaan selanjutnya adalah : Apakah kebersamaan kita ini akan terus berlanjut hingga seterusnya? Mungkin banyak diantara kita yang tanpa disadari atau tidak, telah berlebihan dalam bercanda, telah salah pengertian dalam penyampaian maksud, dan telah salah pengertian dalam memahami suatu pernyataan yang terlontar diantara kita. Tetapi itu semua menjadikan kita untuk lebih dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan. Seperti halnya cuaca, setelah mendung, terkadang turun hujan lebat, namun setelah hujan itu muncullah pelangi yang indah. Begitu pula halnya dengan persahabatan ini yang tidak akan indah bila semuanya berjalan baik-baik saja, tentu akan ada duri yang dan kerikil-kerikil kecil yang menguji persahabatan diantara kita, dan hal tersebut bertujuan untuk menjadikan kita memahami arti kehidupan.

Happy 6th anniversary and happy fasting day, friends ^_^

03 Mei 2012

My BestFriend, My True Love


Sebelumnya, aku tidak pernah tahu makna cinta, karena menurutku yang lebih indah dari semua itu adalah persahabatan. Persahabatan lebih dari apapun, karena mencari sahabat sejati begitu susahnya, seperti mencari sebatang jarum diantara tumpukan jerami. Bersama seorang sahabat kita dapat berbagi cerita tentang kebahagiaan dan kesedihan, bahkan sampai ke hal-hal yang pribadi. Aku sendiri mempunyai seorang sahabat yang sangat kupercaya yang kukenal sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Sorot matanya yang teduh bagaikan cahaya yang menerangi disaat gelap, senyumnya seperti embun pagi yang menyejukkan hati, serta sikapnya yang lembut namun juga mampu tegas dan bijaksana membuat siapapun merasa dekat dengannya. Tapi jangan salah sangka dulu, ia bukan tipe orang yang sangat serius. Ia juga bisa bercanda, dan hanya saat bersamanyalah aku bisa melupakan kesedihan hatiku, walaupun hanya untuk sejenak.

Aku banyak belajar dari dirinya, begitupun sebaliknya. Aku merasa sangat nyaman bersahabat dengan seseorang yang kupercayai. Ia selalu ada disaat aku senang, menghibur disaat sedih, dan mengingatkan disaatku lalai. Dulunya aku adalah seorang yang procrastinator alias sering menunda-nunda waktu. Kemudian ia datang dan mengajariku mengenai pentingnya mengatur waktu karena fokus dan tujuan hidupnya selalu berorientasi pada waktu. Ia mampu mengatur, mengelola dan mengorganisir waktunya dengan baik .
“Udah bikin tugas, belom?” tanyanya disaat kami masih berseragam putih abu-abu, tetapi aku hanya menggeleng.
“Kenapa? Ada materi yang belum dimengerti, ya, Fi?” tanyanya lagi yang membuat senyumku mengembang.
“Ya udah, sini aku ajarin,” lalu dengan sabarnya ia mengajari diriku yang belum seberapa kemampuannya bila dibandingkan dengannya.
Setelah sekian tahun berlalu, tanpa terasa kini kami sudah duduk di perguruan tinggi. Beberapa waktu lalu ia mengunjungi rumahku, dan seperti biasanya ia menceritakan banyak hal yang membuatku lupa waktu. Penampilannya sederhana, dan sikapnya terhadapku juga sama seperti biasanya, tak ada yang berubah. Tetapi suasana hatiku yang terlalu bahagia saat itu membuatku bertanya padanya,”Ehem…, tumben rapi banget? Janjian dengan doi, ya?”
Dan saat itu ia bersemangat menceritakan seseorang yang berhasil mencuri hatinya. Ia mengatakan padaku bahwa ini adalah cinta pertamanya. Aku sangat berharap ia sedang menceritakan diriku, tetapi….
“Kalau kamu sendiri gimana, Fia? Udah punya gebetan juga?”
Hatiku langsung ciut saat ia malah balik bertanya padaku, tetapi aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, bahwa Ayyas, sahabatku itu pasti sedang menguji hatiku. Sementara itu, aku hanya menggeleng sambil berusaha tetap tersenyum, meskipun didalam hati aku merasakan perih yang teramat dalam.
Untuk memastikan siapa gerangan yang sedang ia ceritakan, akupun memberanikan diri untuk bertanya,”Memangnya siapa dia, Yas? Cantik, ya?”
Aku melihatnya hanya tersenyum simpul, seperti orang yang sedang kasmaran. Matanya yang teduh menerawang ke langit-langit ruang tamu rumahku,”dia cantik, dan sifatnya secantik wajahnya. Namanya Bella, teman satu kampus denganku,”
Ayyaspun bercerita mengenai Bella secara detail. Bella adalah tipe wanita yang jauh lebih unggul dibandingku. Secara akademis ia berhasil membawa nama baik sekolahnya saat SMA setelah memenangkan medali emas dalam ajang olimpiade Matematika se-provinsi. Selain itu, ia juga sungguh mempesona karena keanggunan dan kepribadiannya yang sholehah. Aku dapat merasakan panas didalam hatiku, tapi aku berusaha menutupinya. Aku hanya tak ingin dia mengetahui perasaanku, setidaknya untuk saat ini.
“Oh….,”hanya itu yang keluar dari mulutku, aku tak dapat berkata apapun lagi.
“Kok itu doang, Fia? Kasih selamat dong, atau apa kek, gitu….?”tanya Ayyas membuyarkan lamunanku.
Kemudian ia menatap mataku, dalam waktu yang relatif lama kami beradu pandang. Ada satu hal yang membedakan kami yaitu ia menatapku penuh tanda tanya, sedangkan aku menatapnya tajam. Herannya, Ayyas sama sekali tidak marah, ia malah mengeluarkan jurus andalannya yaitu tersenyum manis sambil memasang wajah lucu. Akhirnya kali ini aku menyerah, dengan setengah hati aku menuruti permintaannya,”Selamat ya, Yas. Mudah-mudahan jadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah…,”
“Hahahaha!!! Hari gini kamu masih sempet-sempetnya bercanda, ya, Fi.., kami kan belum married, hahaha….!” tawanya.
Aku manyun. Sementara itu ia bingung melihat perubahan sikapku yang boleh dikatakan drastis.
“Hmmm…, tadi ketawa, sekarang kok manyun?”
“Gak tau…,”sahutku ketus.
“Jangan gitu donk, sobat…., ntar kesambet, lho….,”kilahnya sambil memasang wajah lucu yang membuatku tak dapat lagi menahaan tawa.
“Nah, gitu dong. Senyum dikit…, kan keliatan cantiknya,”ia mulai merayuku lagi. Aku sendiri tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Sejujurnya aku ingin marah, tetapi aku tak ingin memarahinya hanya karena perasaanku, karena itu berarti aku ingin menang sendiri. Namun anehnya, di hatiku terbersit sebuah rasa senang yang sulit kuungkapkan saat ia berujar seperti tadi. Aku tak ingin menghancurkan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena rasa ‘aneh’ ini.
“Anyway, gimana kuliahmu, Fi? Kapan ujian semesteran?”
“Dua minggu lagi,”jawabku singkat.
“Gak nanya balik? Biasanya kamu nanya balik ke aku…?” tanyanya.
“Ok…, kalau kamu?” tanyaku sambil memandangnya sekilas.
“Kalau aku seminggu lagi. Doakan ya, semoga lancar,”
“Aamiin,”jawabku singkat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi didalam hatiku, seolah ada rasa yang ingin memberontak, tetapi aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya.
Ia melirik jam tangannya, saat itu memang sudah sore. Iapun pamit.
“Fi, aku pulang dulu, ya, Insya Allah kalau ada waktu aku kesini lagi. Masih ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan. Assalamu’alaikum,” pamitnya sambil melangkah keluar.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku pelan. Didalam hati aku benar-benar gusar. Untuk apa dia menceritakan ‘seseorang spesial’nya itu kepadaku? Untuk memanas-manasi hatiku? Atau untuk memamerkan padaku? Aku sungguh tak mengerti, aku merasa ia telah berubah dan tak lagi seperti Ayyas yang dulu kukenal.
Dan sejak saat itulah aku tak lagi bertemu dengannya. Janji hanya tinggal janji. Dulu ia mengatakan padaku masih banyak hal yang ingin ia ceritakan, tetapi sampai sekarang ia tak pernah menepatinya. Malam ini tepat tiga bulan setelah kejadian tersebut, dan sejak itulah kami tak lagi saling berkomunikasi. Hari-hariku menjadi sepi tanpanya, namun aku mencoba kuat. Ingin rasanya aku kembali menghubunginya, tetapi aku tahu hal tersebut akan menjadi sia-sia. Ia tidak pernah sekalipun peduli mengenai perasaanku, ia tidak pernah tahu, bahkan tidak pernah mempedulikan arti sebuah rasa yang telah lama tersimpan di hatiku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjatuhkan pilihanku padanya, jujur aku tidak pernah memimpikannya menjadi pangeranku. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja rasa itu hadir ditengah seringnya intensitas kebersamaan kami. Ia menjelma menjadi seseorang yang menghapus luka disaat diriku sedih, menolongku untuk bangkit disaat aku terjatuh, dan mendukungku disaat senang, aku tahu seharusnya aku mengabaikan saja semua ini, karena aku tahu dia dan aku berbeda.
Ya, berbeda. Ia jauh lebih unggul dibandingkan aku. Ia memiliki segalanya, sedangkan aku? Aku ini bukan siapa-siapa, hanya seorang mahasiswi biasa yang tidak sepopuler dia. Dalam bidang akademis, aku juga harus mengaku kalah. Ia menjadi tumpuan harapan teman-temannya disaat ujian. Biasa deh, jadi sesepuh, hehe. Namun bukan itu hal yang membuat aku mengaguminya. Menurutku ia lebih dari sekedar seseorang yang baik. Sama seperti yang kujelaskan tadi, Ayyas adalah orang yang bijaksana dan bertanggungjawab. Aku merasa ada medan magnet yang tak mampu kutarik dari hatinya. Sebuah asa yang nyaris kugapai ternyata harus pupus begitu aku mendengar cerita darinya.
Satu hal yang tidak bisa kupahami adalah, mengapa aku menjatuhkan pilihan padanya? Padahal sudah begitu banyak lelaki yang menyatakan perasaannya padaku, mulai dari yang malu-malu tapi mau, hingga menyatakan langsung alias to the point. Mulai dari seseorang yang biasa saja hingga yang luar biasa dan bertalenta. Tetapi itu semua masih saja belum cukup untuk memudarkan perasaanku padanya. Aku tidak tahu entah magnet apa yang ada didalam hatinya, sebuah magnet yang berhasil menarik hatiku. Aku tidak tahu hal apa lagi yang hendak disampaikannya padaku, mungkin saja ia sudah lupa, bahkan mungkin saja sama sekali ia sudah tidak mengingatku lagi.
Nggak, nggak mungkin, aku yakin pasti dia sedang mengingatku juga disana, walaupun hanya sekilas. Dalam keheningan malam ini aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untukku, apapun itu.
Berbicara mengenai Bella, aku memang belum mengenalnya, apalagi melihat wajahnya. Tetapi setelah mendengar cerita Ayyas itu, aku mengambil kesimpulan bahwa aku memang bukanlah orang yang tepat untuknya. Mulai saat ini aku tak ingin mengingatnya lagi. Tak ada gunanya mengharapkan seseorang yang tidak pernah mempedulikan diriku. Biarlah ia bahagia bersama pilihan hatinya, dan aku juga akan bahagia untuk itu. Setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Aku yakin tulang rusuk tidak akan pernah tertukar dengan pemiliknya dan akan dipertemukan kembali pada saat yang tepat. Aku akan sangat bersyukur bila ia adalah jodoh yang ditakdirkan Allah swt untukku, namun bila kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, aku akan berusaha ikhlas dan mendoakan yang terbaik untuknya. Terkadang hal yang kita inginkan dan harapkan berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Setiap fase kehidupan yang kita lalui di dunia ini pasti ada hikmahnya. Dibalik semua kejadian yang terjadi saat kita lahir, dewasa, hingga ajal menjemput memiliki hikmah tersendiri. Aku sendiri baru saja melewati fase kehidupan mengenal arti cinta. Aku mengerti cinta itu adalah sebuah rasa yang tak dapat dipaksakan. Kita tidak dapat melarang atau memaksakan seseorang untuk menjatuhkan pilihan hatinya kepada kita, hanya saja tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Pada dasarnya cinta terbagi dua, cinta karena mengharap ridho Allah dan cinta berlandaskan nafsu semata. Aku berharap semoga aku tidak menjatuhkan pilihan hati kepada seseorang hanya karena fisik dan hartanya, karena yang lebih kekal daripada itu adalah hati dan keimanannya.
Aku melirik ponselku yang terletak diatas meja, dan ternyata hasilnya masih sama sepert hari-hari kemarin sejak kejadian itu. Tidak ada BBM yang biasanya membangunkan aku saat dini hari untuk mengingatkan tahajud, dan juga tidak ada missedcall darinya yang terkadang membuatku kesal sekaligus senang. Kesal karena ia berhasil mengerjaiku ditengah malam sekaligus senang karena ia mengingatkanku untuk bertahajud cinta.
Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Disaat aku sedang online di akun YM atau Skype pun hasilnya akan nihil. Ia benar-benar sudah melupakan aku. Itulah kenyataan yang menghujam perasaanku.
***
Pagi ini mentari bersinar cerah. Aku ingin seperti mentari yang tak pernah ingkar janji untuk selalu menghangatkan bumi dengan sinarnya. Kini aku telah terbiasa tanpa kabar darinya. Sambil bersenandung kecil, aku mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Aku ingin menjadi seperti Fia yang dulu, menjadi seseorang yang periang dan bersemangat menjalani hari-hari. . Aku tidak ingin dia tahu tentang perasaanku ini, perasaanku padanya cukup kusimpan dan kututup rapat-rapat di relung hatiku yang terdalam. Sekarang aku berusaha untuk tidak menodai persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun, walau terkadang batin ini sering bertentangan dengan ucapanku.
Ponselku tiba-tiba berdering. Sebenarnya aku malas untuk mengangkatnya, tetapi firasat hati ini membuatku melangkah mengambil ponsel yang terletak diatas meja. Kulihat nama yang tertera dilayar ponsel. Sebuah nama yang sudah tiga bulan ini tidak pernah muncur di layar ponselku. Perasaanku langsung berubah tak menentu begitu membaca nama yang tertera. Ada apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa tiba-tiba Ayyas menghubungiku?
“Halo, assalamu’alaikum….,” sapa Ayyas.
Aku terdiam cukup lama untuk membalasnya,”Wa…, wa’alaikumsalam,”
“Heiii…, apa kabar, Fia? Udah kelar, kan, ujian semesterannya?”
Tanpa merasa bersalah sedikitpun ia menanyakan pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.
“Sekarang ini aku sudah mid semester selanjutnya, mengapa masih menanyakan ‘ujian semesteran’ lagi? Memangnya dia belum mid semester, apa?” gumamku dalam hati.
“Fia, aku mau curhat lagi nih, boleh, kan….?” tanyanya santai.
Aku membalasnya dingin,”Boleh. Curhat aja,”
“Lho, kok ketus gitu sih jawabannya…? Kemana Fia-ku yang dulu? Yang lembut, manis, penuh ceria dan optimis?”
“Fia yang dulu udah meninggal!”
“Astaghfirullah, Fia.., pamali ngomong gitu…, jadi ngambek nih, ceritanya….?”
Aku hanya diam seribu bahasa.
“Hm…, ok, ok, aku ngaku salah. Aku minta maaf banget ya, Fia, karena udah tiga bulan ini nggak menghubungimu. Maklum, sindrom mahasiswa, apalagi mahasiswa tingkat akhir kan banyak galaunya. Yah sekalian juga sibuk sama si doi…, hehehehe….,”
Mendengar kata-kata itu aku berusaha mencairkan suasana,”Ok, aku maklum kok. Iya deh, orang penting pasti sibuk banget, ya? Sampai-sampai untuk menghubungi akupun nggak sempat,”
“Ya…, kan aku udah minta maaf…? Forgive me, please, Fia….,”
Ayyas mulai mengeluarkan jurus yang cukup ampuh untuk meredam emosiku.
“Ok…, katanya kamu mau curhat? Curhat apa, Yas?” tanyaku.
“Ng…, ini bukan curhat sih, Fi. Sebenarnya aku ingin meminta penilaianmu sebelum aku melangkah lebih serius lagi dengan Bella. Kapan kita bisa ketemuan? Kan kamu udah lama nggak jumpa dengan aku?"
Aku berpikir sejenak, aku teringat besok aku tidak ada jadwal kuliah,”gimana kalo besok aja, Yas? Besok aku free, jadi kita bisa ketemuan,”
“Wah, sama dong, Fi. Besok aku juga free. Gimana kalo di tempat biasa? Tempat yang sering kita kunjungi dulu bareng teman-teman se-gank?”
“Ok. Besok ba’da Ashar kita ketemuan di tempat biasa,” tutupku.
Batinku menjadi tak menentu, aku mencoba menerka-nerka, kira-kira apa yang hendak disampaikan Ayyas.
Setelah menutup pembicaraan, akupun bersiap-siap berangkat ke kampus. Sekarang sudah jam 8 pagi, namun tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung, seakan-akan ikut merasakan kesedihan yang ada di hatiku. Ya Allah, kuatkan hatiku. Aku tak ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya, cukup hanya Engkau yang Maha Mengetahui isi hati yang tersirat dan tersurat ini.
Aku bahkan ragu untuk menyetir menuju ke kampus karena aku tak yakin mampu menyetir dalam cuaca dan hatiku yang tak menentu seperti ini. Lalu bagaimana dengan presentasiku pagi ini? Sekarang adalah giliran kelompokku untuk mempresentasikan perbandingan software aplikasi, sejak jauh-jauh hari aku mengunduh beberapa software aplikasi yang menurutku menarik untuk ditinjau kelebihan dan kekurangannya. Bila aku tidak datang, tentu saja itu merugikan aku dan juga teman-temanku sesama anggota kelompok.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi aku berangkat ke kampus, lalu mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Di tengah perjalanan aku masih mengingat dengan jelas saat-saat kebersamaan kami di SMA dulu.
Aku memutuskan untuk melewati jalan pintas agar cepat sampai di kampus. Aku melewati sebuah gang kecil yang hanya cukup untuk satu arah. Disaat aku berbelok ke kiri menuju jalan utama yang memiliki satu jalur dua arah, tiba-tiba dari arah depan aku melihat sebuah truk yang melaju kearahku. Truk itu keluar dari jalur yang seharusnya, entah apa penyebabnya aku tidak tahu. Akupun tidak tahu apa-apa lagi karena semuanya berubah gelap….

***
“Fia kemana sih? Kok lama banget datangnya?” tanya seorang mahasiswi kepada teman disebelahnya. Mahasiswi yang duduk disebelahnya menggeleng,”gak tau juga, Mel. Biasanya kan dia yang lebih duluan datang ketimbang kita…, kenapa nggak ditelepon aja?” usul mahasiswi tersebut. Mahasiswi yang ternyata bernama Mela itupun berinisiatif menghubungi ponsel Fia. Sesaat kemudian ia menyerah karena sudah tiga kali ia mencoba untuk menghubungi, tetapi panggilannya tak kunjung dijawab. Mela memandang sahabat yang duduk disebelahnya,”Gak dijawab, Fan. Apa mungkin masih di jalan?” gumamnya pelan.
“Tapi ini sudah duapuluh menit, Mel. Nggak biasa-biasanya Fia itu telat,” ujar Fany, khawatir.
“Santai aja, Fan, Insya Allah ntar lagi dia sampai, kok. Kita kan mau presentasi…, tahu sendiri Fia itu tipe orang perfeksionis? Dia pasti ingin menampilkan yang terbaik untuk kelompok kita….,” hibur Mela.
“Hmm., ya udah deh, kalo gitu kita tunggu aja. Tapi kalo dia nggak datang, gimana nasib presentasi kita hari ini?”
Mela menatap Fany agak lama. Ia berpikir sejenak lalu berujar,”terpaksa deh, minggu depan,”
Ternyata dugaan mereka benar. Fia tidak datang. Kedua sahabatnyapun bertanya-tanya, apakah mungkin Fia sakit? Atau karena cuaca yang sedang tidak bersahabat membuatnya malas datang ke kampus? Hingga jam kuliah usai, kedua bersahabat itu bergantian menghubungi Fia. Saat Mela mencoba menghubungi untuk yang kesekian kalinya, akhirnya ponselpun dijawab, namun suara yang terdengar bukanlah orang yang mereka cari, melainkan petugas rumah sakit yang memberitahukan bahwa Fia sedang berada disalah satu rumah sakit dalam keadaan kritis. Mela menutup ponselnya dengan perasaan yang tak menentu.
“Fia di rumah sakit….,”gumamnya.
“Siapa yang sakit? Orangtuanya, Mel?” tanya Fany, cemas. Mela menggeleng,”Sebaiknya kita kesana…,”
Mereka berdua lalu menuju ke sebuah rumah sakit tempat Fia dirawat dan ternyata ia berada di ICU. Didalam ruangan itu tampak seorang dokter bersama perawat sedang menangani Fia. Mela dan Fany hanya bisa menahan sedih dibalik jendela. Beberapa menit kemudian, Ayyas datang.
“Maaf, apakah kalian berdua temannya Fia?” tanya Ayyas. Mela dan Fany mengangguk.
“Bagaimana keadaan Fia? Dd…., dia kenapa…???” tanya Ayyas.
“Masih belum tau juga. Kamu sendiri siapanya Fia?” tanya Mela yang membuat Ayyas gelagapan,”Ng…, saya teman sekolah Fia dulu….,”
Suasana kembali hening. Sesaat kemudian dokter keluar dari ICU. Dengan wajah yang terlihat agak tegang dokter tersebut berujar,” Fia kehilangan cukup banyak darah. Ia membutuhkan donor. Ada yang bergolongan B positif?”
“Golongan darah saya juga B positif, Dokter, ambil saja darah saya…,”ucap Ayyas, menawarkan diri. Beberapa saat kemudian bayangan Fia melintas di pikirannya, semua kenangan yang ada bercampur menjadi satu. Ayyas menjadi merasa sedih. Apakah ia salah bila mengenalkan Bella kepada Fia yang notabene merupakan sahabatnya sendiri? Seingatnya Fia hanya menganggapnya sebagai sahabat dan tidak pernah lebih dari itu, meskipun didalam hati Ayyas pernah tersimpan sebuah rasa yang lebih untuk Fia.
Ayyas mengikuti dokter tersebut untuk menuju ke sebuah ruangan untuk mendonorkan darah. Didalam hatinya, ia berharap dan mendoakan yang terbaik untuk Fia, sahabatnya.
 
***
Alat pemantau detak jantung yang terletak disamping Fia membuat hati Ayyas menjadi tak menentu. Ayyas mencemaskan keadaan Fia, namun ditutup-tutupinya dengan berusaha tegar. Ayyas tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Ia ingin menjadi seseorang yang kuat menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya.
“Maaf, apakah Anda keluarganya Fia?” tanya seorang perawat yang keluar dari ruangan menghampiri Ayyas. Ayyas menoleh kearah perawat tersebut,”Saya temannya….,”
“Di mobil Fia kami menemukan ini…,” perawat itu menyodorkan sebuah komputer tablet kepada Ayyas. Ayyas menerima dengan perasaan gundah.
”Permisi,” ujarnya lalu pamit.
Merasa penasaran, Ayyaspun menghidupkan tablet PC tersebut . Tampak wallpaper Fia muncul di home screen layar. Wajah yang membuat Ayyas senang sekaligus sedih. Senang karena bisa melihat wajah itu tersenyum di layar monitor, sekaligus sedih karena Ayyas tak dapat berbuat banyak demi Fia saat ini. Saat sedang melamun, secara tak sengaja jari Ayyas menyentuh Catatan, dan terbukalah sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan.
Dear my notes,
Aku tak dapat menjabarkan apa yang sedang kurasa, hanya disinilah aku mengungkapkan semuanya. Semua yang ada di pikiranku, di jiwaku, bahkan di relung hatiku. Aku akan mengatakannya secara harfiah, se-mu-a-nya.
Dear my notes,
Apa kabar dirinya saat ini? Aku hanya ingin mengetahui keadaannya. Lama tak berjumpa setelah pertemuan terakhir beberapa waktu yang lalu. Ya, mungkin saja itu yang terakhir, walaupun sebenarnya aku tidak menginginkan pertemuan saat itu menjadi yang terakhir. Aku ingin melihatnya lagi, melihat pancaran sinar matanya yang lembut dan meneduhkan dan mendengarkan nasihatnya yang membuatku termotivasi.
Tetapi entah mengapa aku merasa pertemuan beberapa waktu yang lalu adalah pertemuan kami yang terakhir. Ia sudah menemukan seseorang yang tepat, dan itu bukan aku. Aku akan ikut berbahagia untuknya. Aku akan mendoakan yang terbaik baginya karena setiap tulang rusuk telah ditakdirkan untuk bertemu sesuai dengan pemiliknya.
Dear my notes,
Bila ada mentari yang bersinar di langit, pasti akan ada pula hujan yang jatuh membasahi bumi. Bila ada kebahagiaan, pasti juga ada kesedihan yang mengiringi. Kesedihan yang menjadikan diri kita menjadi lebih tegar dan kuat. Kesedihan yang menempa kita menjadi mandiri dan mampu menghadapi hidup.

Dear my notes,
Aku ingin menyampaikan pada 'dia', bahwa jika suatu saat ia ingin menangis, hubungi aku, ku berjanji akan membuatnya tersenyum. Jika suatu saat ia tak ingin mendengarkan siapapun, hubungi aku, kuberjanji akan diam menemaninya. Jika suatu saat ia belari untuk menghindar, hubungi aku, maka aku akan menemaninya hingga ia lelah dan berhenti. Tetapi bila suatu saat ia menghubungiku, namun tak pernah ada jawaban, aku berharap ia datang untuk melihatku, karena aku sudah tak ada lagi di dunia ini, dan yang masih tertinggal hanya batu nisanku.
Dear my notes,
Sungguh saat ini aku turut berbahagia. Aku hanya ingin menyampaikan salam untuknya melalui semilir angin. Namun aku tidak tahu apakah angin membawa salamku sampai ke tujuannya...
 
Mata Ayyas berkaca-kaca, mengapa Fia begitu tertutup padanya? Khayalannya kembali pada Fia yang kini sedang terbaring lemah. Terbersit sebuah rasa terhadap seseorang yang telah lama berada di hatinya, meskipun ia tak pernah mengungkapkannya.

"Seandainya kamu tahu, Fia..., aku sengaja memperkenalkan Bella kepadamu, aku berharap kamu akan cemburu. Tetapi ternyata kamu terlalu pandai untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya. Aku berharap mungkin dengan cara ini, aku dapat meminta maaf padamu dan masih ada kesempatan untukku menyampaikan perasaanku...,"
Tiba-tiba , dokter membuka pintu ruangan ICU. 
"Maaf, apakah Anda keluarga Fia?"
"Ss..., saya temannya, dok...," jawab Ayyas, berbarengan dengan Mela dan Fany.
"Dokter tersebut terdiam sejenak,"Maaf, kami dari tim dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ternyata Sang Pemilik Kehidupan lebih menyayanginya daripada kita. Dia telah pergi....,"
Ayyas terduduk lemas, tanpa disadari airmata Ayyas jatuh bercucuran di pipinya,"Mengapa kamu meninggalkanku begitu cepat, Fia? Disaat aku ingin mengungkapkan semuanya....,"
***
Jika dunia tidak merestui cinta kita, biarlah di alam sana nanti kita bersama,
Tunggu aku di pintu surga,
Sahabatku,
Cinta sejatiku....
Inspired by : Kisah cinta seorang sahabat. Sahabatku, semoga engkau tabah dan sabar menghadapi semua ini, karena semua sudah dituliskan di Lauhul Mahfuz, dan kita hanya bisa berencana, selebihnya kuasa Allah yang menentukan.
 

17 April 2012

10 April 2012

My Lovely Author Bab 15 Catatan Blog Syifa

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Aldo dan Najla. Walaupun hanya sederhana, mereka tak menyangka begitu banyak sahabat lamanya datang untuk mengucapkan selamat. Sayangnya Husin tak terlihat dalam acara pesta itu. Aldo maklum karena pastilah Husin lebih memilih untuk memprioritaskan keluarganya terlebih dahulu. Disaat sedang asyik bersalaman, dari kejauhan Aldo melihat Husin menghampirinya untuk turut mengucapkan selamat. “Thank’s ya, bro….,” ujar Aldo ketika tangannya dijabat Husin. “Sama-sama, Do. Semoga langgeng dunia akhirat…,” “Aamiiin. Oh ya, gimana dengan Jerry, Sin?” Aldo tersenyum membayangkan kira-kira seperti apa wajah sahabatnya itu sekarang karena ia menghilang sejak selesai diwisuda. Aldo memaklumi karena pastilah Jerry sibuk menyelesaikan pendidikannya di Singapura. “Insya Allah dia juga akan menyusul,” ujar Husin sambil mengangkat sebelah alisnya,”oh ya, maaf Syifa nggak bisa datang. Dia masih butuh banyak istirahat, tapi dia titip salam buat kalian berdua,” Najla mengangguk,”Iya. Tadi pagi aku juga sudah menghubunginya, salam buat Syifa juga ya, Sin…,” “Baiklah, nanti akan aku sampaikan. Sekali lagi selamat ya, sobat!” Husin lalu mohon pamit. 

*** 
“Cinta.., aku masih ingin tahu, kenapa kamu bisa tahu hari ulang tahunku waktu itu?” tanya Husin saat ia dan Syifa sedang bersantai di ruang keluarga. “Hmmm…., semua pertanyaanmu ada di blog, sayang…,” “Oh ya?” ujar Husin dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, segera ia membuka situs blog tersebut. September8th, 2011 Ya Allah, Bila Hamba Jatuh Cinta… Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu membimbing hamba untuk mencintai-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu mengingatkan hamba di saat lalai kepada-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang menutupi kekurangan hamba dan hambapun mampu menutupi kekurangannya, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Jangan biarkan hamba mencintainya melebihi rasa cinta hamba kepada-Mu, Ya Allah, bila hamba jatuh cinta, Cintakanlah hamba kepada seseorang yang tawadhu’ dan senantiasa mencintai-Mu… October26th, 2011 I’m Fallin’ In Love Kemarin aku menghadiri acara seminar bedah buku. Lumayan ramai mahasiswa yang turut menghadiri acara tersebut. namun ada satu hal yang tidak lepas dari ingatanku. Perhatianku tertuju pada seseorang yang beberapa hari lalu menabrakku. Aku tak menyangka ia hadir dan malahan ia turut berpartisipasi dengan bertanya dan akhirnya berhasil mendapatkan doorprize. Pada awalnya aku ragu, apakah ia benar-benar tulus menghadiri acara bedah buku itu. Tetapi setelah kuperhatikan ternyata sebenarnya ia seorang mahasiswa yang baik dan penuh tanggungjawab. Aku dapat melihat pancaran sifat itu dari matanya…. October29th,2011 Rumah Cinta Beberapa waktu yang lalu aku memotret sebuah rumah yang berada tak jauh dari kompleks perumahanku. Sebuah rumah yang kujadikan inspirasi dalam menulis buku tentang hunian bergaya modern minimalis. Aku jadi teringat tentang bukuku mengenai rumah modern minimalis. Rumah yang menurutku berkonsep modern namun tidak terlalu memperlihatkan unsur kemewahan. Entah mengapa aku ingin sekali mendesain sebuah rumah, yang walaupun hanya sederhana namun dibangun dengan rasa cinta. Cinta terhadap seseorang yang mampu membimbingku untuk menuju jalan yang diridhoi Allah swt. Rumah yang dijaga oleh ketulusan cinta karena mengharap restu Sang Pemilik Cinta, seperti terlihat pada gambar yang kuunggah ini. Aku ingin bersamanya, meniti jalan untuk kemudian bertemu di surga nanti, Insya Allah… Husin sudah menduganya, ternyata apa yang ia pikirkan selama ini memang benar bahwa Syifa-lah yang memotret rumahnya. Husin mengamati desain gambar rumah yang diunggah Syifa tersebut, dibawahnya terdapat tulisan ‘Rumah Cinta’. Ia harus mewujudkannya, semua ini ia lakukan demi cintanya kepada seseorang yang telah menyadarkannya kepada Sang Pencipta. November27th, 2011 Husin’s birthday Hari ini adalah hari ulang tahun Husin. Perasaanku yang tak menentu adalah pertanda bahwa aku juga bingung harus menganggap dirinya sebagai siapa. Namun yang jelas, aku ingin bersahabat dengannya, walau didalam hatiku seolah ada yang mengatakan bahwa perasaan yang kumiliki terhadapnya adalah perasaan ‘yang lebih dari sahabat’. Aku sudah mengunggah video ucapan selamat ulang tahun dariku ke facebooknya. Aku harap ia menonton video itu. Selamat ulang tahun, sahabatku…, (ehm, aku bingung, apakah ia juga menganggapku sebagai sahabat?). Aku harap semoga dengan bertambahnya usia adalah langkah awal perubahan menuju kearah yang lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu… January2nd, 2012 Masuk RS Aku sungguh tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, entah mengapa akhir-akhir ini dadaku seringkali terasa nyeri, setelah aku bertanya kepada Mama, ternyata aku harus menghadapi kenyataan bahwa penyakitku ini adalah jantung. Ya Allah, tabahkanlah hamba, kuatkanlah hamba bila ini memang sebuah ujian dari-Mu… February10th, 2012 Chat with him… Akhirnya ia menghubungiku setelah sekian lama . Ternyata Husin adalah tipe sahabat yang asyik, nggak kaku dan cukup menyenangkan. Ternyata ia juga tidak seperti lelaki lain yang hanya fokus kepada diriku saja, namun ia juga memperhatikan kedua orangtuaku. Ia sangat perhatian dan juga pandai meraih simpatiku… Husin melihat berbagai catatan yang terdapat di blog Syifa. Husin melirik Syifa yang asyik menonton televisi. Ternyata gadis itu sudah lama memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, walaupun ia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Agak lama mata Husin membaca tulisan tersebut. Masih membekas di ingatannya tentang perjuangan Syifa untuk sembuh dari penyakitnya, “Aku akan membangun istana cinta untukmu, Fa…, aku janji…,” gumam Husin didalam hati. Mata Husin berkaca-kaca, ia menutup situs blog Syifa dan mencoba memahami setiap kata yang tersirat pada tulisannya, membayangkan gadis yang pertama kali berhasil meraih hatinya hanya karena melalui sebuah tulisan. Husin melirik sebuah buku yang ia simpan di lemari rahasianya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Syifa, Husin mengeluarkan buku Goresan Cinta, sebuah buku yang belum pernah dibacanya. Husin membuka halaman pertama, disana tertulis: Buku ini kupersembahkan dengan goresan cinta, kepada siapa saja yang ingin mengenal arti cinta… 
*** 
Pagi ini Husin telah berangkat keluar rumah, ia berencana mencari lahan kosong untuk membangun rumah cinta. Untuk mencari lahan di Jakarta memang rada susah, tetapi Husin tidak pantang menyerah. Ia terus menyetir mobilnya hingga menemukan sebuah lahan kosong yang dijual di sebuah kompleks perumahan dekat Bogor. Husin menghubungi nomor ponsel yang tertera di pengumuman itu. Setelah mencoba bernegosiasi, akhirnya Husin menyetujui untuk membeli lahan di kompleks perumahan tersebut. Husin tersenyum, kini tinggal selangkah lagi menuju terwujudnya impian mereka untuk memiliki rumah cinta. Ia akan membangun sebuah rumah yang berlandaskan cinta tulus mengharap restu dari Sang Illahi. 
*** 

Setahun kemudian… Pagi ini Husin mengajak Syifa menuju ke sebuah tempat yang masih Syifa sendiri tidak tahu dimana. Syifa ingin bertanya lebih jauh namun Husin hanya tersenyum penuh rahasia. Syifa sendiri sudah memaklumi sifat Husin yang susah ditebak. “Cinta, aku punya kejutan untukmu,” ujar Husin ketika ia dan Syifa berhenti di sebuah rumah berkonsep modern minimalis berpagar abu-abu. “Ini rumah siapa, sayang?” tanya Syifa. Husin tersenyum penuh rahasia. Ia lalu mengajak Syifa memasuki rumah itu. Syifa yang digandeng Husin melangkah dan terpana ketika memasuki rumah tersebut. Ia disambut oleh sebuah jendela kaca besar di ujung ruangan, jendela itu tembus ke taman belakang yang dihiasi bermacam bunga, mulai dari bunga melati hingga aglaonema. Syifa berdecak kagum,”Ini semua…?” “Iya, Cinta…, ini rumah cinta kita berdua,” jawab Husin singkat, kemudian ia menunjuk ke bangunan di sebelah rumah itu,”Di sebelah sana adalah rumah cinta kita untuk anak-anak jalanan yang putus sekolah. Mereka bisa belajar dengan dididik oleh tenaga yang profesional dan mau bekerjasama dengan pihak kita,” Mata Syifa berbinar, sudah lama ia mengidamkan membangun sebuah rumah cinta khusus untuk mereka yang membutuhkan, dan kini Husin telah mewujudkan impiannya itu. Husin dan Syifa lalu duduk di sebuah sofa,“Cinta, kamu pasti tau siapa salah satu tenaga pengajarnya….?” Syifa merenung sejenak, menebak siapakah sahabatnya yang pintar mengajar dan sabar. Ia lalu teringat,”Najla?” tebaknya sambil menatap Husin. Husin mengangguk,”dan tentunya dibantu Aldo, hehehehe…,” “Makasih banyak ya, sayang…,” “Terima kasih banyak juga, ya, Cinta…,”Husin hendak merapatkan badannya ke badan Syifa ketika Syifa mencegah,”Eitss…., ada yang ngeliat lho…,” Husin terkejut sambil celingukan,”Hah??? Siapa??? Mana???”

04 April 2012

My Lovely Author Bab 14 Rumah Cinta

Syifa diterima bekerja di sebuah perusahaan desain interior ternama di Jakarta. Mengingat IPK nya yang cumlaude dan berbagai prestasi yang diraihnya selama masih menjadi mahasiswa, membuat perusahaan interior tersebut menerima Syifa melalui prosedur yang tidak begitu sulit. Saking asyiknya bekerja, Syifa sampai melupakan rutinitasnya meminum obat. “Astaghfirullah!” Syifa memegangi dada kirinya, nyeri itu datang lagi. Napasnya tersengal dan persendiannya pun ikut terasa nyeri. Syifa pun baru ingat apa yang terjadi pada dirinya, namun tak mungkin ia kembali pulang ke rumah hanya untuk mengambil obatnya yang tertinggal. Sementara itu, dadanya terasa semakin sakit dan napasnya sesak. Syifa yang tak kuat akhirnya jatuh pingsan. Beberapa pegawai yang melihat Syifa langsung melarikannya ke rumah sakit. Hari itu juga ia dirawat di ICU. Pihak rumah sakit segera menghubungi Nenek Syifa. Kedua orangtua Syifa yang dihubungi dan khawatir akan keadaan putrinya, langsung menyusul ke Indonesia dan tiba di Jakarta pada malam hari, disaat kedatangan pesawat terakhir. Husin tak dapat tidur malam ini, entah mengapa sejak sore tadi ia merasa tidak nyaman. Ia terus teringat pada Syifa, ia takut dan cemas bila terjadi sesuatu terhadap penulis yang dicintainya, yang menyadarkannya tentang pentingnya keikhlasan dan kesabaran. Husin membentangkan sajadahnya, malam ini ia ingin mencurahkan segala isi hatinya dan memohon kepada Sang Pemilik Cinta. “Ya Allah, hamba memohon satu hal pada-Mu, berikanlah hamba ketulusan cinta…, bila hamba jatuh cinta, maka cintakanlah hamba pada seseorang yang mencintai-Mu, dan mampu mengingatkan hamba dikala lalai…. Ya Allah, bila Syifa memang yang terbaik bagi hamba, jadikanlah ia sebagai penyembuh luka batin ini, namun bila tidak, janganlah Engkau menyiksa hamba dengan cinta ini, Aamiin…” Husin menutup doanya. Dua hari lagi ia berencana akan bersilaturrahmi ke rumah Syifa dengan membawa serta kedua orangtuanya. Husin berharap semuanya akan baik-baik saja. *** Keesokan harinya, Ibu Syifa yang baru saja selesai mengambil wudhu’ untuk melaksanakan sholat Zuhur, menatap putrinya dengan perasaan yang tak menentu. Menurut penjelasan dokter, secepatnya harus dilakukan tindakan operasi penggantian katup. “Sepertinya Syifa sudah beberapa hari belakangan ini lupa dengan obatnya. Oleh karena itu harus dilakukan tindakan bedah secepatnya. Namun tentu saja kita menunggu hingga kondisinya relatif stabil,” Ibu Syifa hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi putrinya. Syifa yang terbaring diatas ranjang rumah sakit mengigaukan nama seseorang. Ibu Syifa yang hendak membaca Al-Qur’an ketika tiba-tiba terkejut. “Syifa…?” ibunya menghampiri putrinya yang masih dalam keadaan setengah sadar. “Hu….sin….,” Ibunya berusaha mendengar lagi, mungkin saja tadi ia salah dengar. Sesaat kemudian ibu Syifa mendengar putrinya mengigaukan nama itu lagi. “Hu….sin…,” Ibunya bingung, Syifa memang pernah menceritakan Husin, namun belum sempat menyampaikan niat Husin yang akan bersilaturrahmi bersama kedua orangtuanya, Syifa sudah keburu sakit. Ibu Syifa juga tidak mengetahui keberadaan Husin sekarang, beliau melirik ponsel putrinya yang terletak diatas meja. *** Husin baru saja pulang setelah melaksanakan sholat Jum’at ketika ia teringat pada Syifa. Firasatnya yang mulai tidak enak membuat ia lalu meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Syifa, sekedar memastikan penulis goresan cinta itu baik-baik saja. “Halo…, assalamu’alaikum…,” “Wa’alaikumsalam…., ini siapa ya?” tanya seseorang yang terdengar seperti suara seorang wanita. Husin bingung, tetapi bukan suara Syifa. Husin berpikiran bahwa mungkin itu adalah suara orangtua Syifa. “Ini Husin, Tante. Teman Syifa..,” “Oh, Husin…,” “Iya…, Tante…., Tante apa kabar? Syifanya ada?” “Alhamdulillah, Tante baik-baik aja, Nak…., kebetulan, apakah Nak Husin bisa datang ke rumah sakit?” “Bisa…, memangnya siapa yang dirawat, Tante?” “Syifa sedang sakit. Bila ada waktu datanglah kemari….,” Husin terpaku pada tempatnya berdiri. Mengapa firasatnya tadi malam menjadi nyata? Apakah hal ini pertanda bahwa Syifa masih mengingatnya?. Husinpun menyanggupi,“Baiklah, Tante. Saya akan segera kesana,” ujar Husin setelah ibu Syifa memberitahu alamat rumah sakitnya. Namun sebelum menuju ke rumah sakit, Husin mampir sebentar ke sebuah toko bunga. Toko itu menjual berbagai macam bunga kesayangan Syifa, salah satunya adalah bunga mawar putih. Husin memasuki toko itu dan memilih salah satu bunga. “Mbak…, saya beli yang ini, ya,” Husin menggenggam buket bunga tersebut, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di rumah sakit yang dituju, Husin lalu menuju ruangan perawatan. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seorang gadis tegar yang dikaguminya kini terbaring lemah ditemani alat pemantau detak jantung disamping kirinya. Masih teringat jelas di bayangannya saat-saat pertama ia bertemu dengan Syifa. Ia sungguh tak berhati-hati. Ia juga emosional saat itu, sudah jelas ia yang terlebih dahulu menabrak Syifa, namun ia malah menuduh Syifa yang menabraknya. Perlahan Husin menghampiri gadis yang terbaring tak berdaya itu. Buket bunga yang digenggamnya ia letakkan diatas meja, kemudian menghampiri Syifa yang tak sadarkan diri. Husin mendekati ibu Syifa dan berusaha menghibur semampunya,”Husin yakin Syifa adalah gadis yang kuat, Tante…,” Husin menatap ibu Syifa,”Insya Allah Syifa bisa melewati masa-masa kritisnya, Tante,” Husin tidak tega melihat kondisi Syifa yang seperti ini, seandainya bisa, ia lebih memilih agar penyakit yang diderita Syifa dipindahkan kepada dirinya. Hatinya bergetar sambil berucap lirih,“Ya Allah, bila hamba boleh meminta, sembuhkanlah Syifa seperti hamba melihatnya dulu, hati hamba tidak kuat melihatnya didalam kondisi seperti ini, seakan hati inipun ikut tersayat merasakan sakit yang dideritanya….,” Husin kembali diliputi rasa bersalah, seandainya ia bisa memutar waktu, ia memilih untuk melamar Syifa secepatnya, sehingga disaat-saat seperti ini ia bisa mendampingi Syifa siang dan malam. Melihat kondisi Syifa yang kian melemah, Husin memutuskan untuk menemui ayah Syifa yang sedang menunggu diluar. “Tante, Husin permisi keluar sebentar, ya?” ujar Husin mohon pamit. Ibu Syifa mengangguk. Husin melihat ayah Syifa sedang berdiri diluar ruangan intensif, kemudian menghampirinya. Ayah Syifa mengintip keadaan putrinya dari balik jendela. Ia tidak tega melihat putri kesayangannya terbaring lemah tak berdaya, tanpa disadari airmatanya menetes. “Maaf, Om…,” ujar Husin. Ayah Syifa menoleh memandangi Husin yang menunduk,”Ada apa, Nak?” “Ada yang ingin saya bicarakan…,” Ayah Syifa mempersilakan Husin mengutarakan maksudnya, dan akhirnya mengalirlah hal yang selama ini ada di hatinya, sebuah perasaan yang telah ia sampaikan kepada Syifa, namun belum sempat ia membawa kedua orangtuanya menemui orangtua Syifa, Syifa sudah jatuh sakit. Padahal Husin berencana akan melamar Syifa setibanya di Indonesia, tetapi Allah berkehendak lain. Terkadang apa yang kita impikan tidak sejalan dengan kehendak-Nya, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umatnya dan memberikannya pada saat yang tepat. “Maaf bila sebelumnya Husin terkesan mendadak, padahal sebenarnya hal ini sudah lama Husin rencanakan. Tetapi melihat keadaan Syifa yang seperti ini, Husin tidak bisa lagi menundanya…,” Husin menghentikan kalimatnya, berusaha menahan airmatanya agar ia terlihat tegar dan mencari kalimat yang tepat agar semuanya menjadi jelas dan tidak terjadi salah paham,”Husin ingin selalu berada di sisi Syifa dalam keadaan seperti ini, Husin hanya tidak ingin timbul fitnah. Sebenarnya Husin ingin sekali terus berada disamping Syifa. kalau Om mengizinkan, Husin ingin melamar dan menikahi Syifa, Husin ingin menjadi yang halal baginya,” Ayah Syifa terkejut sekaligus haru mendengar ucapan Husin yang tulus,”Tapi…, apakah mungkin dengan keadaan Syifa yang seperti ini kamu benar-benar ingin mendampingi Syifa? Sebaiknya dipikirkan dulu baik-buruknya, Nak. Supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari….,” Husin menatap wajah ayah Syifa dan berucap,”Justru disaat seperti ini Husin ingin membuktikan bahwa Husin tidak pernah bermain-main dengan komitmen yang telah Husin tanamkan sejak dulu, Om. Bila Om izinkan, secepatnya saya akan menikahi Syifa,” Melihat kesungguhan yang ada dibalik pancaran sinar mata Husin, Ayah Syifapun yakin. Sambil tersenyum beliau berujar,”Bila itu sudah menjadi keputusanmu, Om merestuinya, karena Om melihat kesungguhan yang terpancar di matamu, dan Om yakin kamu bisa menjadi imam untuk Syifa. Tapi itu semua Om serahkan pada Syifa,” ayah Syifa merangkul Husin untuk kembali masuk ruangan tempat putrinya dirawat. Husin menghampiri Syifa. “Fa, ini aku…, Husin…,” Husin duduk dan berbisik di telinga Syifa. Ia memandangi wajah yang disinari cahaya kelembutan itu, tak terasa buliran bening menjatuhi pipinya,”Masih ingat, nggak, waktu aku dapat doorprize di acara bedah buku waktu itu? Aku senang banget, Fa…, aku nggak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu…,” Syifa tetap tak kunjung membuka matanya. Mata Husin berkaca-kaca. “A…, aku udah lama mengagumimu, Fa. Setelah setahun aku mencari, akhirnya kita bisa ketemu untuk pertama kalinya…,” Husin melanjutkan,”Aku mencintaimu karena Allah, Fa…, aku harap kita bisa bersama…,”Husin berusaha menahan perasaannya,”aku akan menjagamu, Fa…., kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, dan bila kamu sedih maka aku akan lebih sedih, Fa…,” Husin melihat Syifa menggerakkan telunjuknya perlahan. Husin berujar pelan,”Jika kamu mengizinkan, aku ingin melamar dan menikahimu, Fa. Tolong beri aku tanda bila kamu menyetujui lamaranku, Fa….,” Syifa seolah mendengar ucapan Husin. Ia meneteskan airmata dan menggerakkan jemari tangan yang kali ini lebih jelas terlihat. “Aku mohon bertahanlah demi cinta kita,” Perlahan-lahan Syifa mulai membuka matanya. “Fa…?” panggil Husin pelan. Syifa menoleh kesampingnya. Husin mengucap syukur,”Alhamdulillah…,” Ayah dan Ibu Syifa terkejut sekaligus bahagia melihat perkembangan putrinya. Mereka terharu melihat kesungguhan Husin terhadap putrinya, mereka masih mengingat dengan jelas saat bertemu Husin pertama kali di bandara. *** Perkembangan Syifa semakin membaik dari hari ke hari. Setelah memastikan Syifa dalam kondisi yang stabil, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, Husin menikahi Syifa di rumah sakit. Seluruh keluarga mendukung keputusan tersebut, karena mereka tahu Husin ingin menjadi yang halal bagi Syifa. Syifa menitikkan airmata terharu, akhirnya apa yang ia impikan selama ini terwujud. Allah mengabulkan doanya. “Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin menjadi imam yang mampu membimbingmu, aku ingin menjagamu sampai hanya maut yang memisahkan kita…,”lirih Husin. “Makasih, Sin..., aku juga. Ada yang ingin aku sampaikan…,” “Apa, Cinta?” Dengan bisikan lemah Syifa menjawab,“Aku ingin mendesain rumah yang penuh cinta…, ” Husin terdiam, matanya menatap Syifa dengan penuh cinta. Didalam hati Husin mengagumi kepribadian Syifa yang sungguh tak ia sangka sebelumnya,“Aku akan membangunnya, Cinta. Aku janji,” ujar Husin. Seorang perawat lalu memasuki ruangan,”Nona Syifa…, saatnya operasi dijalankan…, tapi sebelumnya minum obat dulu, ya,” ujar perawat tersebut sambil tersenyum. Husin menghibur dengan bisikannya,”harus mau ya, Cinta? Demi aku…?” Syifa menatap Husin dengan sinar matanya yang penuh kelembutan. Semua perkataan yang terucap dari bibir memang bisa dimanipulasi, namun apa yang terpancar dari mata sama sekali tidak bisa direkayasa. Itulah sebabnya ada istilah ‘mata tak dapat berbohong’. Syifa memang tak dapat memungkiri rasa bahagianya setelah mengetahui Husin menjenguknya, ditambah lagi kenyataan bahwa Husin telah resmi menjadi imam yang akan membimbingnya menuju ridho Allah. Sebelum operasi dimulai, Husin terus menemani Syifa hingga masuk ke ruangannya,”yang kuat, ya, Cinta? Aku akan terus mendoakanmu…,” Syifapun memasuki ruangan operasi. Sementara itu, Husin pun segera menuju musholla rumah sakit untuk menunaikan sholat Ashar dan berdo’a mudah-mudahan operasinya berjalan lancar. “Ya Allah yang Maha Menyembuhkan, Engkau yang menggenggam jiwa ini dan Engkau yang memiliki kuasa atas apa yang telah Engkau tuliskan di Lauhul Mahfudz, hamba memohon pada-Mu, jika Engkau mengizinkan hamba bersama dengan belahan jiwa yang hamba cintai, maka sembuhkanlah ia sebagaimana hamba melihat keceriaannya dahulu, namun jika Engkau lebih mencintainya dibanding cinta hamba kepadanya, maka hamba akan ikhlas, Ya Allah, Aamiiin…”lirihnya. Dengan rasa yang tak menentu, Husin meninggalkan musholla dan bergegas untuk menunggu didepan ruangan operasi. Husin terus menatap lampu didepan ruangan operasi yang masih menyala. Detik demi detik telah berganti, setiap menit yang terlewati seakan menghujam batinnya. Husin tidak mampu mendeskripsikan limit cemas dan sedihnya yang tak terhingga, seakan semuanya menjadi satu. Dari kejauhan, Husin melihat Najla datang bersama Nabil dan Aldo. Husin memperhatikan gadis kecil yang digandeng Najla, ia mengenalinya sebagai Lily. “Lily….?” Husin menghampirinya. “Kak Syifa kenapa, Bang?” tanya Lily dengan mata berkaca-kaca. “Kak Syifa nggak apa-apa kok, Ly. Ntar lagi juga sembuh. Lily doakan Kak Syifa, ya….?” Gadis kecil itu mengangguk. “Lily udah pulang sekolah…?” tanya Husin. Lily menggeleng,”Lily nggak sekolah lagi, Bang…,” gadis kecil itu menunduk sedih. “Lily harus sekolah supaya pintar, ya?” Lily mengangguk, Husin dapat melihat keinginan yang kuat dari gadis kecil itu untuk melanjutkan pendidikan. Husin menjadi teringat pada ketulusan Syifa yang suka membantu anak-anak kurang mampu. Husin memiliki sebuah rencana untuk mewujudkan keinginan Syifa yang belum tercapai. Husin berharap Syifa juga akan setuju dengan rencananya tersebut. Lampu ruangan operasipun padam yang artinya operasi telah selesai. Dokter membuka pintu ruangan. Cepat-cepat Husin menghampiri,”Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?” “Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, namun tetap saja Syifa harus bed rest hingga kondisinya dinyatakan benar-benar pulih..,” “Alhamdulillah..,” Husin bersujud syukur, namun hatinya masih was-was. Selain dirawat intensif di ICU, Syifa juga harus menjalani terapi pemulihan dan bila kondisinya dinyatakan baik oleh dokter, ia akan diizinkan pulang. Syifapun dibawa kembali dibawa ke ruangan intensif. *** Hari ini Syifa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ia tampak lebih baik meskipun masih tampak raut kelelahan di wajahnya. Sejak pagi tadi Husin selalu menemani Syifa. ”Alhamdulillah, Cinta, operasinya berjalan lancar…,”ujar Husin. Syifa menatap Husin sambil tersenyum,”Terima kasih atas do’anya…, sayang…,” Untuk pertama kalinya Husin mendengar Syifa mengucapkan kata-kata itu. Sekilas Husin melirik sepiring makanan yang terletak diatas meja. Ia lalu mengambil piring itu dan menyuapkan sesendok nasi pada Syifa. “Cinta, makan ya…,” Syifa mengangguk, dengan sabar Husin mendampingi Syifa yang belum boleh banyak bergerak. Pintu ruangan terbuka. “Assalamu’alaikum, Sin…,” salam Aldo sambil membuka gagang pintu. Husin menatap Aldo yang baru saja datang bersama Nabil, Najla dan Lily,”Wa’alaikumsalam, mari masuk teman-teman,” “Gimana keadaan kamu, Fa? udah agak mendingan?” tanya Najla yang menghampiri Syifa. Syifa mengangguk,”Alhamdulillah, La. Berkat do’a kamu juga,” Sementara itu Aldo menghampiri Husin,”Wah, akhirnya lo duluan juga, Sin. Nggak nyangka, tapi selamat ya!” Aldo menjabat tangan Husin. “Makasih, Do. Oh iya, ada yang mau gue sampaikan. Tapi sebaiknya kita bicara diluar aja, ya?”ajak Husin sambil memberi isyarat mata pada Aldo. Aldo yang heran pasrah saja ketika diajak keluar. “Hmm…, mau ngomongin apa, sih?” tanya Najla memasang tampang curiga. Husin meyakinkan Najla mengenai tak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah menutup pintu, Husin meyampaikan ide cemerlang yang ada di pikirannya,”Gue mau bantuin Lily, Do….,gimana kalau kita membantu Lily untuk kembali sekolah?” Aldo berpikir sejenak,”Ide bagus, sih, Sin. Tapi gimana caranya?” Husin tersenyum,”Kalau boleh jujur, gue suka dengan cara lo mengajar. Jadi gue berencana membuat rumah khusus untuk anak-anak jalanan, dan disana mereka juga akan belajar. Kalau boleh, lo nggak keberatan mengajar mereka, kan, Do?” Aldo mengangkat sebelah alisnya,”Hmm.., kalau memang niatnya baik, kenapa nggak? Gue setuju,” “Ok…, kalau begitu kesimpulannya lo bener-bener ikhlas dan nggak keberatan sama sekali, kan, Do?” tanya Husin. Aldo mengangguk,”Iya, sebagai sahabat gue akan terus mendukung lo selama hal itu benar. Nanti gue juga akan mengajak Najla. Terus rencana lo selanjutnya apa, Sin?” “Liat aja ntar,”ujar Husin, masih merahasiakan. Didalam hati ia merasa sangat senang, tinggal selangkah lagi ia akan dapat mewujudkan rumah cinta impian Syifa, tidak hanya untuk mereka berdua, namun juga bagi mereka yang membutuhkan. 
Baca juga Bab 15

01 April 2012

My Lovely Author Bab 13 Graduation

Pagi ini adalah hari yang bersejarah bagi Husin dan sesama rekannya anggota D’Handsome. Perjuangan yang tiada henti selama 3 tahun 6 bulan akhirnya memberikan hasil. Ruangan ini menjadi saksi keberhasilan mereka, dan Husin lulus sebagai pemuncak dari tingkat Fakultas. IPK-nya hanya berbeda tipis dengan Aldo yang notabene dulunya adalah langganan juara umum. Husin sendiri tidak menyangka karena yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya agar ia lulus dengan tepat waktu dan baik, ia ingin menunjukkan pada Syifa bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Kedua orangtuanya yang turut hadir bangga dengan prestasi putranya. Saat namanya dipanggil oleh moderator, tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Husin merasa senang namun jauh di relung hatinya, ada perasaan hampa. Hampa karena ketidakhadiran Syifa yang menyaksikan keberhasilannya. Walaupun ia telah menerima pesan singkat yang berisi ucapan selamat dari kepingan hatinya itu, tetapi Husin merasa hal tersebut belum cukup. Ia membayangkan Syifa hadir disini, diantara ratusan pasang mata yang sedang menyaksikan dirinya memakai toga, pastilah kebahagiaannya akan lebih sempurna. Namun Husin hanya bisa membayangkan dan berdoa mudah-mudahan Syifa secepatnya kembali ke Indonesia untuk menyempurnakan kebahagiaannya. 
*** 
Husin diterima di sebuah perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta. Ia baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian menjalani rutinitas kerja. Kini selain bekerja, Husin juga sibuk untuk menyelesaikan magisternya di salah satu perguruan tinggi ternama. Disaat sedang menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali menghubungi Syifa dan tak lama kemudian terdengar suara Syifa menjawab ponselnya. Husin menanyakan kuliah Syifa, ternyata Syifa juga telah menyelesaikan kuliahnya. “Alhamdulillah, Sin. Insya Allah besok aku akan pulang ke Indonesia….,” Husin lega mendengarnya. Inilah puncak dari penantiannya selama bertahun-tahun. Masih membekas dalam ingatannya saat ia menyusul Syifa ke bandara, tentulah Syifa yang sekarang sudah jauh berbeda. “Najla sudah diberitahu, Fa?” tanya Husin, singkat. “Sudah, Sin..,” jawab Syifa,”kemarin dia menelepon. Dia bilang akan datang menjemput bersama kakaknya,” “Oh, bagus dong…,” Husin memelankan suaranya. Menurut Husin inilah saat yang tepat untuk membuktikan keseriusannya. Husin akan ikut menjemput Syifa seperti janjinya beberapa tahun lalu. Ia akan menunggu Syifa di tempat yang sama saat terakhir kali mereka bertemu. Beberapa saat kemudian mereka mengakhiri pembicaraan. 

*** 
Ketika membelokkan stir ke halaman rumah, sekilas Husin melihat mobil Yaris yang dikemudikan Aldo. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Husin keluar dari mobilnya, tampak Aldo sudah berdiri didepan gerbang. “Aldo?”sambut Husin dengan mata berbinar. Ia sungguh tak percaya pada apa yang dilihatnya. Aldo masih seperti yang dulu, hanya saja ia terlihat lebih berwibawa. ”Mari masuk,” Aldo masih berdiri didepan gerbang dan tersenyum,”Sin, gue kesini mau mengantarkan ini,” Aldo lalu menyerahkan sebuah surat undangan berwarna emas dari ransel yang dibawanya. Husin membukanya,”Wah, undangan married?”Husin membaca tulisan yang tertera disana,”Jadi lo sama..,” “Najla,”sambung Aldo, tak henti-hentinya menebar senyum. “Alhamdulillah, selamat ya sobat!” Husin menjabat tangan sahabatnya,”akhirnya lo lebih duluan juga ketimbang gue…, padahal kan gue yang duluan pendekatan ke Syifa. gak nyangka ternyata lo cepat mengambil keputusan ya, Do…,” “Makasih, Sin. Kalo niat yang baik, kenapa ditunda-tunda? Kalo sudah sama-sama cocok, jangan ditunda karena kalo terlalu lama ntar menimbulkan fitnah, lho, Sin…,” “Wah, benar-benar hebat, lo, Do. Sekali lagi, selamat ya, sobat!” “Lagian nikah itu kan ibadah, Sin. Jadi sempurna deh ibadah gue. Hahaha…,” Husin terpana mendengar penjelasan Aldo,”Ternyata lo memang jauh lebih dewasa ya, Do. Secepat inikah perubahan lo, Do?” “Haha…, gue dapat landasan teori berikutnya. Ternyata cinta bisa membuat orang bersikap lebih dewasa. Tapi masih dua minggu lagi, kok. Oh iya, lo tau nggak kabarnya Jerry, Sin?” Husin mengangguk,”Iya, dia bilang dia minta maaf nggak sempat ngasih tau lo, dia lagi sibuk menyelesaikan magister di Nanyang-Singapura. Kalo lo sendiri gimana ngajarnya, Do? Akhirnya jadi dosen juga…, hehehe…, ” Aldo menjawab,”Biasa aja, Sin. Alhamdulillah CV gue diterima…,” Husin berbinar,”Ckckckck…, wah, cocok banget! Dari dulu lo memang ada bakat mengajar, Do. Gue mendukung!” Aldo tersenyum,”Thank’s Bos…,” “Haha…, gak usah manggil gue Bos lagi, deh, Do. Karena kita sama-sama udah jadi Bos sekarang…,” ujar Husin,”oh iya, ngapain sih diluar aja? Masuk yuk!” Husin mempersilakan Aldo memasuki rumahnya. Aldo lalu duduk di sofa ruang tamu,”Oh iya, Sin. Gimana kabar Syifa?” Husin hanya tersenyum. “Syifa akan kembali ke Indonesia. Dia memilih untuk bekerja disini. Kalo boleh jujur, gue seneng banget waktu dia ngasih tau akan kembali lagi kesini. Kita jemput, yuk, Do?” ajak Husin. Ia membayangkan kira-kira seperti apa wajah dan keadaan Syifa sekarang. Apakah tatapan matanya masih selembut dulu? Apakah tutur katanya masih menyejukkan seperti embun di pagi hari? Husin berharap Syifa masih seperti yang dulu, mungkin saja wajahnya akan berubah, namun Husin berharap hatinya masih seperti yang dulu. Aldo berkata pelan,”Kayaknya gue nggak mungkin ikut, Sin…,” “Lho, kenapa? Emangnya lo nggak kangen dengan sahabat lama? Besok jam 7 malam pesawatnya landing. Kita ke bandara bareng-bareng, ya? Najla juga udah ditelepon Syifa. Dia juga ikut menjemput bareng Aa’ Nabil…,” “Jadi Najla ikut juga???” tanya Aldo dengan mata berbinar,“Hmmm, ok, deh…,” ujar Aldo menyanggupi, kali ini penuh semangat.
 *** 
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika pesawat yang ditumpangi Syifa mendarat. Pesawat yang ditumpangi Syifa delay selama setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Dari kejauhan Husin melihat sosok yang lama-kelamaan semakin mendekat, jelas dan nyata. Syifa berjalan dengan begitu anggunnya. Husin semakin tak dapat menahan segala rasa, begitu pula dengan Syifa. Syifa menghampiri mereka dan dengan kepala yang sedikit menunduk. Husinpun tak kalah gugupnya, sehingga tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tetapi untunglah Aldo mencoba mencairkan suasana,”Assalamu’alaikum, Syifa. Apa kabar nih? Udah lama gak ketemu, ya..?” Syifa tersenyum,“Alhamdulillah baik, Do…,” Aldo menangkap suasana yang masih terlihat kaku itu,”Hei…, kok pada bengong?” Mendengar perkataan Aldo, Husin langsung terkejut. Ia refleks menyapa Syifa,”Selamat datang kembali ke Jakarta, Fa…,” Syifa menjawab dengan senyuman,”Makasih, Sin…., sudah rindu juga nih dengan Jakarta,” “Hmmm…., rindu dengan Jakarta atau rindu dengan orang Jakarta nih…?” goda Aldo yang membuat wajah Syifa memerah. Husinpun menjadi ikut salah tingkah. Syifa kembali teringat kenangan saat-saat ia akan meninggalkan Jakarta. Ketika itu ia melihat Husin menghampirinya dengan tergopoh-gopoh hanya untuk menyampaikan salam perpisahan. Saat itu Husin berjanji akan menunggunya di bandara ini, dan sekarang Husin menepati janjinya itu. Syifa merasa terharu, ia dapat melihat kesungguhan hati Husin terhadapnya… “Syifa!! kok ngelamun???” Najla menepuk pundak Syifa yang membuat Syif terkejut. “Oh, maaf…, kamu bilang apa tadi, La?” Najla mengangkat sebelah alisnya,”hmmm, iya deh yang udah lama nggak ketemu…, udah ketemupun masih ngelamun…,” “Kalo gitu, tunggu apalagi? Cepetan lamar Syifa…,” bisik Aldo dengan bahasa isyarat yang tentunya hanya dipahami oleh Husin, Aldo dan Jerry, anggota D’Handsome. Aldo mendekati Husin dan berbisik,”Kalo kelamaan, ntar keburu dilamar Navid lho, Sin. CTK BGT begini…,” “Apaan tuh CTK BGT?” Najla menatap Aldo yang sedang menggoda Husin. “Ng…, maksudnya, Najla Cantik BanGeT,” kilah Aldo pada Najla. “Cieee…, iya deh, calon pengantin baru….,” Husin berujar semangat. Akhirnya mereka impas dan ia berhasil mengatasi rasa gugupnya. Sebenarnya Husin malas menanggapi ide konyol Aldo, tetapi perasaan hatinya tidak dapat lagi dibohongi. Husin menatap Syifa. “Ng…, Fa…,” panggil Husin pelan, yang membuat Syifa menoleh. Degup jantung Husinpun menjadi semakin tak karuan. “Ya, ada apa, Sin?” “Ng…, nggak ada, kok. Selamat yah, akhirnya kamu kembali lagi kesini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi partner…,” perkataan Husin terputus, ia ragu harus mengatakan sebuah kalimat yang sudah sejak lama dipendamnya. “Partner kerja? Hmmm…, sepertinya asyik…,”ujar Syifa sambil tersenyum. Husin mengangguk. Aldo menepuk jidatnya,”Bukan partner kerja, Fa. Maksud Husin, dia mau ngelamar kamu menjadi partner dalam rumah tangganya, hehehe…,”timpal Aldo, kali ini entah sudah berapa kali ia menggoda Husin dan Syifa. Husin menatap Syifa sambil menganggukkan kepala. Syifa hanya bisa tersenyum malu, Husinpun mengajak Syifa dan teman-temannya untuk makan malam di sebuah restoran di bandara. Mereka memilih untuk duduk didekat jendela. Syifa dan Najla duduk berdampingan. Aldo dan Husin juga duduk bersebelahan sedangkan Nabil duduk di sebelah kiri Najla. “Selamat malam, Mbak, mau pesan minuman apa?” seorang waitress menghampiri dengan menggenggam buku daftar menu. “Teh botol,”ujar Husin dan Syifa bersamaan. Melihat kejadian barusan, Aldo dan Najla tersenyum-senyum. Sementara itu Syifa dan Husin sama-sama terkejut. “Makanannya?” tanya waitress itu lagi. “Nasi goreng,” jawab Husin dan Syifa, kali ini nyaris bersamaan. “Ehem…! Ada yang salting, nih…,”goda Aldo ketika waitress itu sudah berlalu. Ia melihat Husin dan Syifa sama-sama kikuk. “Biasa aja….,” Husin ngeles, padahal badannya terasa panas-dingin. Tampang Husin yang kelihatan aneh seperti ini adalah kesempatan bagi Aldo. Yah, minimal untuk menambah ceria suasana,”oh ya…? Masa’sih? Kalo biasa-biasa aja, kenapa lo sampai keringetan begitu, Sin?” ledek Aldo. “Iya nih, gue liat pipi Syifa memerah gitu,” tambah Najla yang kemudian memasang tampang innocent. Syifa melirik Najla yang duduk disampingnya,”Mukaku emang begini, La…,”Syifa menunjuk pipi kanannya untuk meluruskan perkataan Najla. “Oh iya, kata Husin dia mau ngomong sesuatu sama kamu, Fa,” tanpa basa-basi lagi Aldo langsung menyatakan kalimat yang ia pendam sejak tadi. Husin gelagapan,”Hah? Oh, nggak…, nggak ada apa-apa, kok. Bener, deh,”elak Husin sambil tersenyum. Syifa menundukkan kepalanya. Diam-diam Husin memperhatikan wajah lembut tersebut, melihatnya saja Husin sudah merasa senang, apalagi bila…. “Astaghfirullah!”gumam Husin didalam hati. Ia menepis pikiran itu,”Jangan banyak berkhayal!” gumamnya kepada dirinya sendiri. Sesaat kemudian minuman yang mereka pesan datang. “Wah, wah, wah…., sekarang lagi musim hujan, tapi kok ada yang keringetan, ya?” sindir Aldo ketika melihat tubuh Husin dibanjiri peluh, sepertinya ia gugup atau perasaan lain yang sejenis itu. Husin yang sedang meminum teh botol langsung tersedak, ia terlihat semakin kikuk,”Hah? Siapa…?” tanya Husin yang mencoba rileks. “Hmmm…, entahlah, gue gak tau juga,”jawab Aldo. Najla memperingatkan Aldo melalui isyarat mata. Aldo tersenyum simpul. Aldo melihat wajah Najla yang begitu bersinar hari ini. Insya Allah dua minggu lagi harapannya akan terwujud. Syifa mengalihkan perhatian,”Abis ini mampir ke rumah nenekku dulu, ya? Nenek bilang karena hari ini special day, jadi ada acara kecil-kecilan…,” “Wah, keren, Fa! Lain kali adakan special day lagi ya!”celetuk Aldo, yang diikuti anggukan persetujuan Najla. “Kamu ikut mobil aku aja, Fa. Soalnya kalau di mobil Aldo bisa-bisa ada yang salting lho…,”Najla melirik Husin sekilas. Syifa mengangguk,”Ok. Gak apa-apa kan, Sin?” Husin terperanjat,”Hah? Oh…, iya…, gak apa-apa…,” Najla dan Aldo kompak mengangkat sebelah alisnya. Kedua calon pengantin itu terlihat semakin kompak saja akhir-akhir ini. “Najla, aku titip oleh-oleh untuk Lily, ya,” ujar Syifa yang diikuti anggukan Najla. Melihat keakraban Najla dan Syifa itu, Husin merasa agak iri. Andai saja ia dan Syifa bisa…… “Astaghfirullah! Ngelamun lagi!” gumam Husin dalam hati, cepat-cepat ia menghabiskan makanan dan minuman yang telah terhidang. 

*** 
Dan akhirnya mereka sampai di rumah nenek Syifa, terlihat neneknya sudah menunggu di teras depan rumah. “Assalamu’alaikum,”sapa Husin ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah itu. “Wa’alaikumsalam,” sambut nenek Syifa, Husin dan teman-temannya menghampiri. Nenek Syifa terlihat terkesima saat Husin menyalami tangannya dan tanpa berpikir lebih lama lagi beliau berujar,”Subhanallah, kamu tampan sekali, Nak…,” Husin tersenyum simpul,”Terima kasih, Nek…,” “Akhlakmu juga sepertinya baik. Mari masuk, Nak,” lanjut Nenek Syifa. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Husin ingin mengatakan bahwa wajahnya belum seberapa dibanding ketampanan Nabi Yusuf dan akhlaknya pun masih belum dapat ia duga. Husin tak dapat membayangkan apa jadinya bila ia tidak segera memperbaiki diri, mungkin saat ini ia masih seperti Husin yang dulu, emosional tingkat tinggi. Hal tersebut memang sudah menjadi masa lalu, namun dari masa lalu itulah Husin banyak belajar tentang pahit getirnya kehidupan. Husin belajar makna keikhlasan dan kesabaran, sebuah pelajaran berharga yang tak dapat dinilai oleh apapun. Husin dan teman-teman lalu duduk di sofa ruang tamu. “Siapa diantara kita yang ngantarin Syifa ke bandara beberapa tahun lalu?” tanya Najla sambil tersenyum. Didalam hatinya ia sedang menguji keberanian Husin untuk mengungkapkan semua yang ada didalam hatinya. Najla mengharapkan Syifa, sahabatnya akan hidup bahagia bersama seseorang yang tepat yang dapat menjadi imamnya kelak. Mendengar pertanyaan Najla barusan, Husin terperanjat, sementara itu Husin melihat teman-temannya memasang tampang pura-pura tidak tahu. “Ng…, siapa ya? Aku juga nggak tahu…,” Husin menutup-nutupi hal yang selama ini dirahasiakannya. “Oh, ya? Nggak tahu atau nggak tempe…? Kayaknya aku pernah melihat orang yang wajahnya mirip kamu di bandara, deh, Sin. Apa itu bukan kamu, ya?” tanya Najla sambil memegangi dagunya. Husin makin salah tingkah, kini Syifa sudah berada di hadapannya untuk membawakan minuman. Syifa meletakkan gelas-gelas itu, dan sekilas menatap Husin. “Ciiieee….., uhuk uhuk! Gue tiba-tiba batuk nih, gue minum dulu ya, Fa,” tukas Aldo yang kemudian mengambil sebuah gelas yang ada di hadapannya. Syifa tersenyum, “Silakan. O iya, gimana kalo kita foto bareng? Yah, untuk kenang-kenangan seandainya aja kita nggak jumpa lagi…,”usulnya dengan suara yang makin terdengar pelan. “Jangan bilang gitu dong, Fa. Insya Allah persahabatan kita akan terus terjaga…,”protes Husin. Aldo melirik Husin dengan tatapan usil,“Oh ya…..?” Husin tak menjawab, ia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan,”Ya udah, gue bawa kamera digital. Kita foto bareng, ya…,” Syifa dan teman-teman lainnya setuju. Husin mencari modus jepretan otomatis pada kameranya. Namun sebelumnya mereka mengatur posisi masing-masing agar terlihat pas di kamera. Setelah asyik berfoto bersama, mereka lalu pamit pulang. Sebelum pulang Husin sempat berbicara dengan Syifa. Setelah memasang sepatu iapun berdiri menatap Syifa yang berada tepat di hadapannya,”Fa…, ada yang ingin kusampaikan…,” Syifa menatap Husin dengan penuh tanda tanya,”Ya, ada apa, Sin?” “Aku ingin mengenalmu lebih dekat dan membawa kedua orangtuaku untuk bersilaturrahmi kesini, Fa..,” bisik Husin pelan. Syifa terpana, akhirnya terlontarlah pernyataan yang sekian lama ini ditunggunya. Agak lama Syifa menatap Husin, seolah tak percaya dengan yang didengarnya barusan. Syifa menjawab dengan senyum simpul. Cahaya matanya seolah ingin menyatakan persetujuannya. Husin membalas senyuman Syifa, itu saja sudah cukup menjadi penyembuh luka batinnya selama bertahun-tahun ini. Husin mohon pamit karena Aldo, Najla dan kakaknya sudah menunggu di mobil. Aldo yang duduk disamping Husin melirik dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “Sin…, lo kenapa…?” “Ada deh, mau tahu aja,”kilah Husin sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menatap foto Syifa yang sedang memakai baju biru tersenyum di layar ponselnya. “Hmmmm….., udah dewasa sekarang ya?!” ledek Aldo yang kemudian menstarter mobil. Husin hanya tersenyum simpul. Ia membayangkan kedua orangtuanya datang menemui orangtua Syifa. Husin menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit, salah satunya bersinar paling terang, seterang hatinya saat ini.

31 Maret 2012

My Lovely Author Bab 12 Motivasi Cinta

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Husin bersemangat untuk bangun pagi. Bahkan ia yang membangunkan Pak Tarmo dan Bi Ijah untuk sholat Subuh. Mobilnya ia cuci sampai mengkilap. Husin berencana akan membuat sebuah perubahan besar pada dirinya, ia membayangkan ekspresi Aldo dan Jerry serta teman-teman satu kampus yang kemungkinan besar akan terpana bila melihat perubahannya sekarang.


Husin mengemudikan mobilnya menuju kampus, lagu-lagu kesayangan yang biasa didengarnya di radio pun ikut berubah menjadi lebih romantis. Husin mendengarkan lagu Swear It Again milik Westlife. Meskipun lagu tersebut sudah tergolong zaman dulu, namun ia merasa lagu itulah yang paling mewakili dirinya. Ia tak ingin membuat Syifa kembali sedih dengan perlakuan anehnya beberapa waktu lalu, rasanya ia ingin berbagi kebahagiaan dan kesedihan dengan Syifa walau ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Husin benar-benar telah berubah sekarang. Husin menyenandungkan lagu cinta hingga akhirnya tiba di kampus.
Di kampus, Husin begitu bersemangat menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Bahkan Husin mengalahkan Aldo yang kali ini harus menyerah mengerjakan latihan yang diberikan dosennya.
“Ini sudah satu jam, tapi mengapa hanya satu soal saja tidak ada yang mampu mengerjakannya?”
“Saya, Pak!” Husin mengacungkan tangannya.
“Ya, silakan,”
Husin melangkah menuju papan tulis untuk mengerjakan soal yang terbilang sangat rumit, dan diluar dugaan, hanya dalam hitungan menit ia dapat menyelesaikan soal yang memakai logika dan rumus tersebut. Dosennya memperhatikan hasil kerja Husin kemudian terdiam heran sejenak. Sambil menganggukkan kepala dosennya berujar,”Bagus. Kamu mulai menunjukkan prestasimu sekarang, Sin,”
“Terima kasih, Pak,” jawab Husin tersenyum kemudian kembali ke bangkunya.
“Wah…, mantap sekarang lo, Sin. Gue bener-bener nggak nyangka. Makan apa sih, kemaren?” tanya Jerry yang tercengang melihat perubahan sahabatnya sekarang. Jerry terlihat begitu bersemangat saat menanyakan makanan. Biasa deh, bila ingin mengetahui kuliner, tanyakan saja pada Jerry. Dijamin nggak bakalan nyesel.
“Sip! Sekarang gue dapat landasan teori selanjutnya, ternyata cinta bisa meningkatkan prestasi belajar, hmmm…,” mata Aldo menerawang ke langit-langit kelas,”tapi gue masih bingung, Sin. Kok bisa, ya? Apa hubungannya cinta dengan prestasi belajar? Kayaknya perlu diadakan penelitian lebih lanjut, nih…,”
“Jelas ada dong, Do. Cinta itu memotivasi kita untuk belajar lebih giat agar kita terlihat lebih sempurna di mata dia…, hahaha,”jelas Husin sambil tertawa.
“Sejak kapan lo jadi puitis begini, Sin?” tanya Jerry.
“Ini bukan puitis, guys. Ini hanya sebuah prinsip hidup,”
“Hmm…, iya deh. Kalo gitu gue juga mau menerapkan prinsip hidup lo itu supaya Najla bangga ama gue,” ujar Aldo sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
“Apa????!!!!” tanya Husin dan Jerry hampir berbarengan.
Giliran Husin yang bingung namun sekaligus senang. Sejenak Husin menimbang-nimbang, ternyata cinta adalah sebuah rasa yang sulit didefinisikan namun mampu membuat segalanya berubah, termasuk cara pandang dan pola pikir seseorang.

***
Sesampainya di rumah, Husin teringat pada Syifa. Iapun lalu menghubungi Syifa dan berharap kali ini Syifa menjawab sambungan ponselnya. Husin mencari nama Syifa didaftar kontaknya.
“Halo, assalamu’alaikum…?”
“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Syifa diseberang sana bagaikan semilir angin yang menyejukkan hati.
“A…, apa kabar, Fa?” tanya Husin yang mencoba untuk menutupi rasa gugupnya.
“Alhamdulillah, Sin. Kamu bagaimana?”
“Baik, Fa…,”jawab Husin dan ia kembali teringat tips dari Aldo,” Bagaimana keadaan mama dan papamu, Fa?”
“Alhamdulillah baik-baik aja. Kalau keadaan orangtuamu bagaimana, Sin?”
“Alhamdulillah baik juga. Sedang sibuk ya, Fa?”
“Nggak juga kok. Biasa, Sin. Rutinitas mahasiswa, sibuk sedikit deh. Hehehe…,”
Husin sudah lama merindukan tawa renyah itu, rasanya ia ingin melihat secara langsung wajah Syifa. Tanpa disadari olehnya, Husin bertanya,”Kapan kembali ke Indonesia, Fa? Aku kangen nih…,”
Husin menahan berbagai perasaan yang sulit diungkapkannya. Sementara itu, Syifa terkejut mendengar ucapan Husin barusan. Wajahnya langsung memerah. Ia sungguh tak menyangka Husin akan menanyakan hal demikian. Lalu dengan perasaan yang sama tak menentunya, Syifa menjawab,”Insya Allah kalau sudah selesai kuliah, aku akan kembali, Sin,”
Husin berujar pelan,”Aku akan selalu menantikan saat-saat itu, Fa. Aku selalu mendoakan semoga kamu cepat selesai, ya…,”
“Makasih banyak ya, Sin. Sampaikan salamku untuk mama papa, ya,”
“Iya nanti disampaikan. I will always be missing you, Fa. Assalamu’alaikum,”
Jantung Syifa seakan berhenti berdetak, dengan terbata-bata ia membalas salam Husin,”Wa…, wa’alaikumsalam,”
Syifa menutup ponselnya, begitu pula dengan Husin. Perasaan yang berbunga-bunga menghiasi hati mereka. Sambil merebahkan diri diatas tempat tidur, Husin membayangkan kata-kata yang baru saja ia ucapkan pada Syifa. Ia sendiri bingung mengapa tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulutnya.
***
Setelah perjuangan melelahkan menekuni semester 3, akhirnya KHS pun keluar. Husin yang melihatnya langsung mengucap syukur. Tak sia-sia ia belajar selama beberapa bulan ini. Kali ini indeks prestasinya meningkat.
Husin baru saja pulang kuliah ketika ia melihat kedua orangtuanya sedang berada di ruang tamu.
“Abi…? Mama…?”
Kedua orangtuanya tersenyum,”Iya, Nak. Abi dan Mama sengaja pulang, untuk mengetahui keadaan kamu…,”
Mata Husin berbinar,”tapi kok nggak ngasih tau Husin dulu, Ma? Husin kan bisa menjemput mama di bandara…,”
“Anggap saja ini kejutan karena kamu berhasil meningkatkan indeks prestasi di semester ini….,”jelas ayah Husin.
“Loh, kok Abi tau?” senyum Husin mengembang, ia senang karena janji pada ayahnya telah ia tepati.
“Abi sudah menduga sebelumnya. Abi tahu kamu adalah anak yang bertanggungjawab, konsisten serta menepati janji. Oh ya, Sin, ada yang ingin Abi dan Mama sampaikan..,”ayah Husin menjelaskan
Husin duduk didekat kedua orangtuanya,”Ada apa, Bi?”
“Abi sudah mendengar penjelasan Pak Tarmo, ditambah lagi Kak Aini juga sudah pernah menghubungi Abi lewat telepon. Katanya kamu sering sakit kepala. Benar itu, Sin?”
Husin mengangguk,”Iya, Bi…,”
“Sudah diperiksakan ke dokter?”
Husin menggeleng.
Ayah Husin bersandar di sofa,”Kalau begitu sebaiknya kita periksakan saja. Abi punya teman, dia seorang dokter terkenal disini. Kamu harus ikut Abi ke tempat prakteknya,”
“Tapi Husin gak apa-apa kok, Bi…,”
“Sekali saja. Setelah itu, kamu boleh mengatakan bahwa kamu tidak apa-apa,” tegas ayahnya.
“Iya, Bi. Besok Husin akan check up ke dokter,” jawab Husin berbohong, ia enggan karena didalam hatinya menolak untuk mengontrol kesehatannya. Husin merasa sakit yang dirasakannya hanya sakit biasa, efek trauma dari kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
***
Hari ini jadwal kuliah Husin kosong. Abi mengajaknya pergi ke dokter untuk menjalani medical check-up. Sebenarnya Husin merasa keberatan karena ia yakin tidak ada masalah dengan kesehatannya. Namun setelah dijelaskan oleh ibunya, Husin menyanggupi ajakan itu meskipun ia harus menjalani serangkaian tes kesehatan yang cukup melelahkan.
Didalam ruangan, dokter saraf yang menangani Husin memperhatikan hasil rontgen yang membuat Husin dan ayahnya cemas.
“Bagaimana hasil MRI nya, Dok?” tanya Abi.
Dokter masih terpaku menatap file MRI yang dipeganginya,”Kelihatannya baik-baik saja, Pak. Tak ada yang perlu dikhawatirkan….,” dokter itu kemudian menatap Husin,”kenapa, Sin? Apa ada yang membebani pikiranmu?”
Sambil tersenyum Husin menjawab, “Biasa deh, Om. Sindrom mahasiswa…, hehehe…,”
Dokter hanya menggeleng kemudian berujar,”Hmmm…., atau jangan-jangan sudah ada wanita yang mencuri hatimu, Sin?”
Husin menjawab dengan kikuk dan berkilah,”Harap maklum, Om. Galaunya anak muda,”
“Baiklah. Berdasarkan hasil file ini, kamu dinyatakan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak mikir. Jalani saja hidup ini sesuai takdir-Nya,”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok..,”ayah Husin berjabat tangan dengan dokter yang juga merupakan sahabatnya tersebut.
“Sama-sama…,”
Husin dan ayahnya pun keluar ruangan kemudian menuju tempat parkiran mobil. Sepanjang perjalanan, Husin dan ayahnya lebih banyak diam. Sesaat kemudian ayahnya berujar,”Sin…,”
“Iya, Abi?”
“Apa benar sudah ada seseorang yang kamu sukai?”
Husin yang sedang mengemudi terlihat agak terkejut namun berusaha menutupi perasaannya,”Sebenarnya ada, Abi. Tapi Husin ragu, apakah dia juga suka dengan Husin…., Husin gak tahu pasti, Bi,”
Ayahnya manggut-manggut,”Oh, jadi itu yang menjadi beban pikiranmu selama ini?”
Husin berkilah,”Husin nggak mikirin apa-apa kok, Bi. Abi kan pernah muda? Husin aja yang belum pernah tua. Hehehe..,”
“Hmm., iya deh. Anak-anak muda zaman sekarang. Ternyata berbeda dengan Abi dulu,”
“Iya, Bi. Sekarang ini zaman internet. Bisa berkomunikasi dengan seseorang di seberang benua hanya dalam hitungan menit,”
“Seberang benua? Jangan bilang kalau kamu…,” ayahnya menatap Husin curiga.
“Nggak, Bi. Dia teman satu kampus dengan Husin, tetapi dia sudah pindah ke seberang benua, di Australia. Ntar aja deh Husin kenalkan ke Abi kalau semuanya sudah positif ya, Bi?”
Ayahnya mengangguk setuju,”Siapapun itu, Abi mendukungmu. Tetapi yang penting lihatlah ia dari sisi agama dan kepribadiannya, bukan karena fisik dan hartanya,”
“Insya Allah, Bi. Karena agama dan kepribadiannya itulah yang membuat Husin yakin,” jawab Husin sambil membayangkan wajah Syifa yang sedang tersenyum. Hanya dengan cara itu Husin mengobati kerinduannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah. Husin memasukkan mobilnya ke garasi.
***
Tak terasa Husin dan teman-teman seangkatannya sudah memasuki kuliah tingkat akhir. Anggota D’ Handsome sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, sesuai dengan komitmen persahabatan mereka untuk menyelesaikan kuliah tepat waktunya. Husin kembali menghubungi Syifa, dan kali ini ia berusaha untuk mengendalikan perasaannya agar menjadi lebih tenang.
“Assalamu’alaikum, Syifa…,”
“Wa’alaikumsalam, Husin…,”
“Sedang apa, Fa? lagi sibuk ya?” tanya Husin.
“Biasa deh, sedang nyusun proposal, Sin. Kalau kamu sedang apa?”
“Sama dong. Mudah-mudahan kita cepat selesai ya, Fa?”
“Aamiin..,” jawab Syifa.
Husin melanjutkan,”dan kita bisa bertemu lagi. Oh ya, Fa, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Boleh. Ada apa, Sin?”
Husin terdiam sejenak, ia pikir inilah saatnya untuk menanyakan tentang Navid agar dirinya tidak salah dalam melangkah,”tapi sebelumnya maaf ya, Fa…, kalau pertanyaan ini kesannya agak pribadi,”
Syifa semakin bingung. Ia menjawab,”gak apa-apa. Tanyakan aja, Sin. Kita kan sudah lama kenal…?”
“Baiklah. Dengar-dengar Navid melamar Syifa, ya? Sekali lagi maaf ya, Fa, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu terlalu jauh, Fa…,”
Syifa bingung,”dengar isu darimana, Sin?”
Husin merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri,”ya dengar-dengar aja, Fa..,”
Syifa tersenyum,”Nggak, Sin. Itu hanya isu, belum ada yang melamar, Sin. Memang sih, Syifa dekat dengan Mas Navid, tetapi dia sudah Syifa anggap seperti saudara sendiri, karena ibu kami sudah bersahabat sejak dulu..,”
“Alhamdulillah….,” ujar Husin secara spontanitas. Hatinya merasa lega sekarang setelah mendengar jawaban langsung dari Syifa yang berarti masih ada secercah harapan untuknya. Husin melanjutkan pertanyaannya,”berarti masih ada tempat untukku kan, di hatimu, Fa?”
Syifa terdiam sejenak dan berusaha menenangkan perasaan hatinya,”biarlah waktu yang menjawab semuanya, Sin. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, berdo’a dan bertawakkal. Selebihnya kita serahkan pada takdir Allah yang menentukan,”
“Benar, Fa. semuanya sudah digariskan di Lauhul Mahfuz, tetapi aku berharap takdirku adalah bersamamu, Fa…,”ujar Husin sambil menahan getaran di hatinya.
“Insya Allah. Aamiin…,” jawab Syifa, begitu pula dengan Husin.
“Jangan lupa jaga kesehatan ya, Fa. Istirahat yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri. Sudah dulu ya, Fa. I will always be missing you. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam. Jangan lupa jaga kesehatan juga ya, Sin…,” jawab Syifa lalu mengakhiri pembicaraan. Saat menutup pembicaraannya dengan Husin, Syifa teringat dengan kondisi kesehatan jantungnya yang kurang baik. Apakah Husin tahu keadaan dirinya? Apakah Husin masih mau menerima dengan kondisinya yang seperti ini?.
Ditengah kegelisahannya, Syifa berdoa,”Ya Allah, jika Husin memang jodoh hamba, semoga ia mau menerima segala kekurangan hamba, Aamiin…,”

Husin menutup ponselnya. Malam ini hatinya sungguh lega setelah mendengar penjelasan Syifa barusan. Ia berharap semoga ini adalah awal dari hubungan yang lebih serius lagi, dan mudah-mudahan Syifa adalah jodoh yang telah disiapkan Allah untuknya.


Baca juga Bab 13

21 Maret 2012

My Lovely Author Bab 11 Makna Kesetiaan




“Ng…, Sin…, lo sendiri, gimana dengan Syifa?” tanya Aldo ketika sudah duduk didalam ruangan.
Husin menggeleng,”Kayaknya percuma aja, Do. Toh Syifa akan memilih Navid ketimbang gue…,”Husin mulai tak percaya diri ketika mengingat Navid.
Aldo menghibur sahabatnya,”belum tentu, Sin. Siapa tahu itu hanya gosip. Tau sendiri kan, Navid suka syirik ama lo. Yah, kali aja dia hanya manas-manasi lo,”
Husin menoleh,“Tapi kenapa kemarin Syifa tiba-tiba nitip salam untuk staf redaksi majalah? Berarti kan disana ada Navid, Do?”




“Yah, itu teh, basa-basi aja, atuh…. Seharusnya lo bilang terus terang mengenai perasaan lo yang sebenarnya. Dan jangan lupa, titip salam juga buat ortunya. Itu aja sih tips dari gue,”ujar Aldo sambil menyengir.
Husin merenungkan saran Aldo barusan. Walaupun ia sendiri merasa kurang yakin, namun sepertinya tips ini cukup jitu untuk dicoba. Mata kuliah hari itu sangat menyenangkan bagi Husin. Ia belajar penuh semangat demi merangkai masa depan. Dalam hati ia bertekad untuk lulus sesegera mungkin, kemudian merangkai masa depan bersama penyembuh luka batinnya.

***

Setibanya di rumah, genggaman tangan Husin tak lepas dari ponselnya. Sesekali ia melirik layar ponsel dan menatap keluar jendela kamar. Ia ingin sekali menghubungi Syifa tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Husin beranjak ke dekat jendela dan menatap langit sore ini yang sangat cerah, mencoba mengukir sebuah nama diatas sana. Husin mencoba mempraktekkan usul Aldo saat di kampus tadi dan berharap semuanya akan berjalan lancar. Ia harus menghubungi Syifa, tidak bisa ditunda lagi. Cepat-cepat Husin mencari nama Syifa di daftar kontaknya, namun Husin harus menelan kekecewaan karena ponsel Syifa tidak aktif. Apakah Syifa marah atas perlakuannya beberapa waktu lalu? Apakah Syifa tidak ingin mengenalnya lagi? Apakah ia terlalu tergesa-gesa dan membuat Syifa bingung atas sikapnya? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Husin melirik kalender yang tergantung di dinding kamarnya, hari ini tepat dua minggu setelah ia memutuskan pembicaraan secara tiba-tiba. Husin termangu dan memutuskan untuk mencoba menghubungi Syifa kembali, bila waktunya sudah tepat. Husin yakin bila saatnya sudah tiba, Husin akan menyampaikan sesuatu hal yang belum pernah Syifa duga sebelumnya dan yang belum pernah Husin jelaskan kepada wanita manapun juga.
***
“Pa, setamat kuliah nanti, Syifa pengen kerja di Jakarta aja, ya?” pinta Syifa ketika keluarga mereka sedang makan malam.
“Kenapa, Fa? Kamu nggak suka bekerja disini saja?”
“Bukan begitu, Pa. Syifa kangen sama Nenek. Syifa berencana mau tinggal di rumah Nenek aja, tapi kalau mama papa masih ingin tetap disini nggak apa-apa kok…,” jawab Syifa.
Ayahnya mempertimbangkan keputusan Syifa sejenak,”Baiklah. Bila itu memang keinginan kamu, Papa mendukung kok. Ya kan, Ma?”
Ibu Syifa juga mengangguk,”apapun yang kamu inginkan, Mama harap itulah yang terbaik,”
“Dan masalah Mas Navid….,” Syifa menggantung kalimatnya,”Syifa masih ingin fokus ke kuliah dulu. Syifa masih belum memikirkan hal itu, Ma….,” ujarnya. Sebenarnya Syifa ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin memberi harapan yang tak jelas kepada Navid, tetapi Syifa juga tidak ingin mengecewakannya. Sejenak ia bingung mengenai apa yang harus dikatakannya agar tidak menyinggung perasaan Navid.
Setelah makan malam, Syifa masuk kekamarnya untuk menyelesaikan tugas. Ia membuka laptopnya dan mulai membuka Microsoft Word untuk membuat makalah sebagai tugas selama liburan. Tiba-tiba ponsel Syifa berdering, ternyata dari Navid.
“Halo, assalamu’alaikum…,” sapa Syifa.
“Wa’alaikum salam, Cinta….,”
Hhhh…, panggilan itu lagi. Namun Syifa berusaha bersikap santai.
“Udah makan malam?”
“Udah, Mas,” jawab Syifa.
Navid bingung ia harus menanyakan apa lagi. Kemudian ia mengutarakan isi hatinya,“Fa…, kamu tahu kan, kalau kita dijodohkan?”
Syifa terdiam sejenak lalu dengan pelan berucap,“Iya…,”
“Mas memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kakak-adik dan sahabat, Fa. Mas ingin kita merangkai masa depan bersama-sama…,”
Ucapan Navid barusan membuat Syifa semakin dilema. Setelah berpikir sejenak, Syifa memberanikan diri untuk menegaskan kata-kata hatinya selama ini,”Mas…, maaf sebelumnya jika Syifa mengecewakan Mas Navid. Tetapi selama ini Syifa hanya menganggap Mas Navid sebagai kakak, dan Syifa masih ingin konsentrasi ke kuliah dulu….,”
Hening. Tak ada jawaban dari Navid.
“Bila Mas tak sanggup menunggu, Mas boleh mencari pengganti Syifa,”tegasnya.
Navid merenung sejenak. Ia menggenggam ponselnya dengan erat,“Mas akan setia menunggumu, Fa. Insya Allah… ya udah, Mas mau mengetik proposal dulu, ya. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”tutup Syifa. Kini perasaannya mulai lega. Ia berharap semoga saja ia tidak mengecewakan Navid, karena walau bagaimanapun Navid telah mengenalnya dengan baik sejak di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Ia lalu melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya yang lumayan banyak. Disaat kembali asyik mengerjakan tugas, Husin menghubunginya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa Husin.
“Wa’alaikumsalam, Sin…, apa kabar?” tanya Syifa.
“Alhamdulillah baik…, kamu sendiri gimana, Fa?”
“Sama. Alhamdulillah…,”
“Ng…, Fa…,” panggil Husin. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Syifa, tetapi ia ragu dan takut Syifa akan tersinggung karena pertanyaannya.
“Sebelumnya maaf banget karena udah dua minggu ini aku gak menghubungimu. Kamu gak marah sama aku atas kejadian dulu, kan?” tanya Husin, suaranya semakin pelan.
“Nggak, Sin. Apa yang harus aku marahkan? Aku kan nggak bisa marah, hehehehe…,”Syifa berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Husin berkeringat dingin dan mencoba mengontrol emosinya,”Fa, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan…,”
“Oh, bilang aja, Sin…,”
“Tapi gimana kalo kita mengobrol via Yahoo Messanger? Ada banyak hal yang ingin aku ketahui, Fa. kamu gak keberatan, kan?” tanya Husin, agak ragu.
Syifa tersenyum,”Tentu aja nggak, Sin. Kita kan udah temenan….,”Syifa memelankan suaranya tepat disaat ia mengucapkan kata ‘temenan’. Suara di sudut hatinya memberontak dan ingin membantah bahwa sebenarnya Syifa menganggap Husin lebih dari sekedar teman.
“Oh…, iya, jadi bagaimana kalo sekarang? Kamu gak keberatan, kan, Fa?”
“Ok, deh. Aku juga sedang berada didepan laptop, kok, sekarang,” jawab Syifa. Mereka memutus pembicaraan dan beberapa menit kemudian Syifa masuk ke akun Yahoo Messanger-nya dan melihat Husin mengaktifkan mode video.
“Assalamu’alaikum, Fa..,”Husin mengetikkan kalimat di laptopnya. Ia sedang memakai baju kaus berwarna biru. Sekilas Syifa melirik warna baju yang dikenakannya, ternyata mereka berdua sama-sama mengenakan baju berwarna biru.
Syifa : Wa’alaikumsalam, Sin….
Husin : Aku terlihat ganteng, kan, di videomu? :-D
Syifa menatap wajah Husin melalui video. Iseng-iseng ia mengetikkan sebuah kalimat yang tidak menyetujui, namun tidak pula membantah hipotesis Husin tersebut.
Syifa : Hm…, ganteng gak yaaaa….??????
Husin : Btw, kok kita bisa sama-sama pake baju biru, sih?
Syifa : Hah? Iya yah…? :-<>
Husin : Wah, tumben kita kompak :-D
Syifa : Hmmm…, kok bisa ya? Aneh tapi nyata…. .
Rahasia Illahi, Sin…
Husin : Oh iya, maaf soal kejadian beberapa hari lalu, Fa.
Kemarin aku tidak bermaksud untuk menyakitimu..
Aku hanya ingin kita tetap bersahabat baik….
Syifa : Iya, Sin, aku ngerti kok
Husin : Oh ya, gimana dengan aktivitas kamu disana?
Kamu masih suka menulis?
Syifa : Alhamdulillah semuanya disini lancar
Iya dong, kalo sehari aja nggak nulis, hampa rasanya :-D
Husin : Tulis tentang aku, dong, Fa. tapi jangan yang macem-macem, ya?
Syifa :  Ok deh. Seep seep (y)
Husin : Salam buat mama papa, yah, Fa. Katakan dari seseorang, hehehe
Syifa : Ok deh, Sin. Aman deh….
Husin : Hehehe. Aku sign out dulu ya. Assalamu’alaikum, cute :-D
Syifa terkejut ketika membaca kata terakhir dari Husin. Setelah menjawab salam, Syifa keluar dari akunnya sambil tersenyum simpul.
Syifa tersenyum, sebuah virus unforgettablelove.exe berhasil memasuki pertahanan sistem hatinya. Syifa membuka akun blognya dan mulai menulis kejadian apa saja yang ia alami hari ini. Hatinya bagaikan secerah sinar rembulan yang memasuki jendela kamarnya.
***
Navid termenung didepan laptopnya. Proposal yang sedang ia ketik terhenti seketika saat bayangan Syifa dan wajah lembutnya melintas di pikirannya. Seorang gadis yang tak mudah mengatakan cinta dan menurut Navid, Syifa adalah tipe gadis setia. Syifa dan Navid sudah sangat akrab sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama. Sayangnya Navid seringkali tidak menyadari hal-hal yang dilakukannya setelah kuliah ini bertentangan dengan prinsip Syifa. Bicara mengenai prinsip membuat Navid merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Seolah kehilangan arah dan tidak tahu apa tujuan hidupnya, jauh berbeda dengan Syifa. Navidpun menjadi merasa bersalah pada Syifa sebab entah sudah berapa kali ia menyakiti Syifa, memberi rayuan dengan begitu mudahnya pada wanita lain. Tanpa disadari sifatnya tersebut menjadi kebiasaan, begitu banyak wanita yang ia dekati menaruh harapan padanya, kecuali Syifa. Masih membekas juga dalam ingatannya ketika ia melihat dari jauh wajah sumringah Syifa saat bertemu Husin menjelang ujian tengah semester. Navid dapat melihat sinar cinta di mata Syifa, meskipun itu bukan untuknya. Terkadang kita baru menyadari makna kesetiaan setelah kita kehilangan.
Navidpun memutuskan sesuatu, ia lalu mengetikkan sebuah surat yang akan dikirimnya via e-mail kepada Syifa.
From : naveed_athaila90@yahoo.com
Cc :
To : asheefa_chai92@gmail.com
Subject : Notice
Assalamu’alaikum wr., wb
Kepada Syifa yang lembut hatinya, jujur kata-katanya dan sopan tingkah lakunya, e-mail ini sengaja Mas kirimkan dengan tujuan agar kita tidak ada kesalah pahaan diantara kita nantinya. Sebelumnya maaf bila Dek Syifa keberatan dengan tingkah Mas yang aneh akhir-akhir ini. Mas hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Mas sendiri merasa sangat bodoh mengapa Mas sejak dulu tidak berterus terang tentang rasa ini kepadamu, Fa…, selama bertahun-tahun ini Mas hanya memendam rasa yang sebenarnya sudah lama ingin Mas sampaikan. Kamu adalah wanita yang memancarkan kelembutan dan menyadarkan Mas tentang arti cinta sebenarnya, Fa. Ketulusanmu membuat Mas sadar mengenai makna cinta sejati. Izinkanlah Mas merangkai masa depan bersamamu dengan tulus walau Mas sendiri kurang yakin kamu juga memiliki rasa yang sama seperti yang Mas rasakan saat ini. Mas tidak akan memaksamu, Fa…, biarlah takdir yang mempertemukan kita bila Allah swt., memperkenankan kita mengarungi hidup bersama. Tetapi bila tidak, Mas akan menjauh dari kehidupanmu karena Mas mengerti bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki.
Wassalam,
Dari yang mencintaimu,
Navid Athaila

Navid keluar dari kamarnya. Ia menemui kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Navid harus menceritakan semuanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keluarga Navid dan Syifa.
“Pa…, Ma…, ada yang ingin Navid sampaikan…,”
Kedua orangtuanya menatap Navid penuh tanya,”ada apa, Nak?” tanya ibu Navid.
“Ini tentang Syifa…,” Navid berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan malam ini. Ia tidak ingin membebani Syifa, namun disisi lain ia tidak ingin melukai hati kedua orangtuanya.
“Ma…, Navid mengundurkan diri dari perjodohan ini…,” ujar Navid pelan. Ibunya agak terperanjat. Navid kembali menjelaskan,”Navid berpikir alangkah lebih baik bila Navid meneruskan magister dulu. Navid tidak ingin membebani Syifa, bila dia juga ingin melanjutkan pendidikannya, Navid tidak akan memaksanya…,”
Kedua orangtuanya terdiam, sesaat kemudian ayahnya mengambil keputusan,”Baiklah bila itu memang pilihanmu. Papa harap kamu bisa konsisten dan berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan,”
“Mama gimana…?” tanya Navid sambil menatap ibunya yang terlihat agak keberatan menerima keputusan putranya yang mendadak ini. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, ibu Navid menginginkan agar hubungan kedua keluarga yang sudah terjalin baik selama beberapa tahun ini tidak terputus begitu saja.
Setelah mempertimbangkan aspek baik-buruknya, akhirnya ibu Navid berujar,”Mama tidak akan memaksa. Kamu sudah dewasa dan bisa mengambil sikap,”
“Makasih, Pa…, Ma…, Navid harap keputusan ini tidak mengubah tali silaturrahim antara keluarga kita dan keluarga Syifa,”ujarnya.
Ibunya mengangguk,”Nanti Mama akan coba bicara dengan mamanya Syifa. mudah-mudahan mereka bisa mengerti,”
Navid merasa agak lega sekarang. Meski berat, namun Navid berusaha untuk ikhlas, ia harus menerima konsekuensi dari sikap-sikapnya selama ini yang dengan begitu mudahnya mengumbar kata-kata mesra pada banyak wanita, yang tanpa disadarinya telah membuat hati Syifa terluka. Terkadang kita baru mengerti arti kesetiaan setelah merasakan kehilangan.

Baca juga Bab 12

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites