Pagi ini adalah hari yang bersejarah bagi Husin dan sesama rekannya anggota D’Handsome. Perjuangan yang tiada henti selama 3 tahun 6 bulan akhirnya memberikan hasil. Ruangan ini menjadi saksi keberhasilan mereka, dan Husin lulus sebagai pemuncak dari tingkat Fakultas. IPK-nya hanya berbeda tipis dengan Aldo yang notabene dulunya adalah langganan juara umum. Husin sendiri tidak menyangka karena yang ada di pikirannya hanya bagaimana caranya agar ia lulus dengan tepat waktu dan baik, ia ingin menunjukkan pada Syifa bahwa ia bisa menjadi yang terbaik.
Kedua orangtuanya yang turut hadir bangga dengan prestasi putranya. Saat namanya dipanggil oleh moderator, tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Husin merasa senang namun jauh di relung hatinya, ada perasaan hampa. Hampa karena ketidakhadiran Syifa yang menyaksikan keberhasilannya. Walaupun ia telah menerima pesan singkat yang berisi ucapan selamat dari kepingan hatinya itu, tetapi Husin merasa hal tersebut belum cukup. Ia membayangkan Syifa hadir disini, diantara ratusan pasang mata yang sedang menyaksikan dirinya memakai toga, pastilah kebahagiaannya akan lebih sempurna. Namun Husin hanya bisa membayangkan dan berdoa mudah-mudahan Syifa secepatnya kembali ke Indonesia untuk menyempurnakan kebahagiaannya.
***
Husin diterima di sebuah perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta. Ia baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian menjalani rutinitas kerja. Kini selain bekerja, Husin juga sibuk untuk menyelesaikan magisternya di salah satu perguruan tinggi ternama. Disaat sedang menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali menghubungi Syifa dan tak lama kemudian terdengar suara Syifa menjawab ponselnya. Husin menanyakan kuliah Syifa, ternyata Syifa juga telah menyelesaikan kuliahnya.
“Alhamdulillah, Sin. Insya Allah besok aku akan pulang ke Indonesia….,”
Husin lega mendengarnya. Inilah puncak dari penantiannya selama bertahun-tahun. Masih membekas dalam ingatannya saat ia menyusul Syifa ke bandara, tentulah Syifa yang sekarang sudah jauh berbeda.
“Najla sudah diberitahu, Fa?” tanya Husin, singkat.
“Sudah, Sin..,” jawab Syifa,”kemarin dia menelepon. Dia bilang akan datang menjemput bersama kakaknya,”
“Oh, bagus dong…,” Husin memelankan suaranya. Menurut Husin inilah saat yang tepat untuk membuktikan keseriusannya. Husin akan ikut menjemput Syifa seperti janjinya beberapa tahun lalu. Ia akan menunggu Syifa di tempat yang sama saat terakhir kali mereka bertemu. Beberapa saat kemudian mereka mengakhiri pembicaraan.
***
Ketika membelokkan stir ke halaman rumah, sekilas Husin melihat mobil Yaris yang dikemudikan Aldo. Setelah memarkirkan mobil di garasi, Husin keluar dari mobilnya, tampak Aldo sudah berdiri didepan gerbang.
“Aldo?”sambut Husin dengan mata berbinar. Ia sungguh tak percaya pada apa yang dilihatnya. Aldo masih seperti yang dulu, hanya saja ia terlihat lebih berwibawa.
”Mari masuk,”
Aldo masih berdiri didepan gerbang dan tersenyum,”Sin, gue kesini mau mengantarkan ini,” Aldo lalu menyerahkan sebuah surat undangan berwarna emas dari ransel yang dibawanya. Husin membukanya,”Wah, undangan married?”Husin membaca tulisan yang tertera disana,”Jadi lo sama..,”
“Najla,”sambung Aldo, tak henti-hentinya menebar senyum.
“Alhamdulillah, selamat ya sobat!” Husin menjabat tangan sahabatnya,”akhirnya lo lebih duluan juga ketimbang gue…, padahal kan gue yang duluan pendekatan ke Syifa. gak nyangka ternyata lo cepat mengambil keputusan ya, Do…,”
“Makasih, Sin. Kalo niat yang baik, kenapa ditunda-tunda? Kalo sudah sama-sama cocok, jangan ditunda karena kalo terlalu lama ntar menimbulkan fitnah, lho, Sin…,”
“Wah, benar-benar hebat, lo, Do. Sekali lagi, selamat ya, sobat!”
“Lagian nikah itu kan ibadah, Sin. Jadi sempurna deh ibadah gue. Hahaha…,”
Husin terpana mendengar penjelasan Aldo,”Ternyata lo memang jauh lebih dewasa ya, Do. Secepat inikah perubahan lo, Do?”
“Haha…, gue dapat landasan teori berikutnya. Ternyata cinta bisa membuat orang bersikap lebih dewasa. Tapi masih dua minggu lagi, kok. Oh iya, lo tau nggak kabarnya Jerry, Sin?”
Husin mengangguk,”Iya, dia bilang dia minta maaf nggak sempat ngasih tau lo, dia lagi sibuk menyelesaikan magister di Nanyang-Singapura. Kalo lo sendiri gimana ngajarnya, Do? Akhirnya jadi dosen juga…, hehehe…, ”
Aldo menjawab,”Biasa aja, Sin. Alhamdulillah CV gue diterima…,”
Husin berbinar,”Ckckckck…, wah, cocok banget! Dari dulu lo memang ada bakat mengajar, Do. Gue mendukung!”
Aldo tersenyum,”Thank’s Bos…,”
“Haha…, gak usah manggil gue Bos lagi, deh, Do. Karena kita sama-sama udah jadi Bos sekarang…,” ujar Husin,”oh iya, ngapain sih diluar aja? Masuk yuk!” Husin mempersilakan Aldo memasuki rumahnya. Aldo lalu duduk di sofa ruang tamu,”Oh iya, Sin. Gimana kabar Syifa?”
Husin hanya tersenyum.
“Syifa akan kembali ke Indonesia. Dia memilih untuk bekerja disini. Kalo boleh jujur, gue seneng banget waktu dia ngasih tau akan kembali lagi kesini. Kita jemput, yuk, Do?” ajak Husin. Ia membayangkan kira-kira seperti apa wajah dan keadaan Syifa sekarang. Apakah tatapan matanya masih selembut dulu? Apakah tutur katanya masih menyejukkan seperti embun di pagi hari? Husin berharap Syifa masih seperti yang dulu, mungkin saja wajahnya akan berubah, namun Husin berharap hatinya masih seperti yang dulu.
Aldo berkata pelan,”Kayaknya gue nggak mungkin ikut, Sin…,”
“Lho, kenapa? Emangnya lo nggak kangen dengan sahabat lama? Besok jam 7 malam pesawatnya landing. Kita ke bandara bareng-bareng, ya? Najla juga udah ditelepon Syifa. Dia juga ikut menjemput bareng Aa’ Nabil…,”
“Jadi Najla ikut juga???” tanya Aldo dengan mata berbinar,“Hmmm, ok, deh…,” ujar Aldo menyanggupi, kali ini penuh semangat.
***
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika pesawat yang ditumpangi Syifa mendarat. Pesawat yang ditumpangi Syifa delay selama setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Dari kejauhan Husin melihat sosok yang lama-kelamaan semakin mendekat, jelas dan nyata. Syifa berjalan dengan begitu anggunnya. Husin semakin tak dapat menahan segala rasa, begitu pula dengan Syifa.
Syifa menghampiri mereka dan dengan kepala yang sedikit menunduk. Husinpun tak kalah gugupnya, sehingga tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tetapi untunglah Aldo mencoba mencairkan suasana,”Assalamu’alaikum, Syifa. Apa kabar nih? Udah lama gak ketemu, ya..?”
Syifa tersenyum,“Alhamdulillah baik, Do…,”
Aldo menangkap suasana yang masih terlihat kaku itu,”Hei…, kok pada bengong?”
Mendengar perkataan Aldo, Husin langsung terkejut. Ia refleks menyapa Syifa,”Selamat datang kembali ke Jakarta, Fa…,”
Syifa menjawab dengan senyuman,”Makasih, Sin…., sudah rindu juga nih dengan Jakarta,”
“Hmmm…., rindu dengan Jakarta atau rindu dengan orang Jakarta nih…?” goda Aldo yang membuat wajah Syifa memerah. Husinpun menjadi ikut salah tingkah.
Syifa kembali teringat kenangan saat-saat ia akan meninggalkan Jakarta. Ketika itu ia melihat Husin menghampirinya dengan tergopoh-gopoh hanya untuk menyampaikan salam perpisahan. Saat itu Husin berjanji akan menunggunya di bandara ini, dan sekarang Husin menepati janjinya itu. Syifa merasa terharu, ia dapat melihat kesungguhan hati Husin terhadapnya…
“Syifa!! kok ngelamun???” Najla menepuk pundak Syifa yang membuat Syif terkejut.
“Oh, maaf…, kamu bilang apa tadi, La?”
Najla mengangkat sebelah alisnya,”hmmm, iya deh yang udah lama nggak ketemu…, udah ketemupun masih ngelamun…,”
“Kalo gitu, tunggu apalagi? Cepetan lamar Syifa…,” bisik Aldo dengan bahasa isyarat yang tentunya hanya dipahami oleh Husin, Aldo dan Jerry, anggota D’Handsome. Aldo mendekati Husin dan berbisik,”Kalo kelamaan, ntar keburu dilamar Navid lho, Sin. CTK BGT begini…,”
“Apaan tuh CTK BGT?” Najla menatap Aldo yang sedang menggoda Husin.
“Ng…, maksudnya, Najla Cantik BanGeT,” kilah Aldo pada Najla.
“Cieee…, iya deh, calon pengantin baru….,” Husin berujar semangat. Akhirnya mereka impas dan ia berhasil mengatasi rasa gugupnya.
Sebenarnya Husin malas menanggapi ide konyol Aldo, tetapi perasaan hatinya tidak dapat lagi dibohongi. Husin menatap Syifa.
“Ng…, Fa…,” panggil Husin pelan, yang membuat Syifa menoleh. Degup jantung Husinpun menjadi semakin tak karuan.
“Ya, ada apa, Sin?”
“Ng…, nggak ada, kok. Selamat yah, akhirnya kamu kembali lagi kesini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi partner…,” perkataan Husin terputus, ia ragu harus mengatakan sebuah kalimat yang sudah sejak lama dipendamnya.
“Partner kerja? Hmmm…, sepertinya asyik…,”ujar Syifa sambil tersenyum. Husin mengangguk. Aldo menepuk jidatnya,”Bukan partner kerja, Fa. Maksud Husin, dia mau ngelamar kamu menjadi partner dalam rumah tangganya, hehehe…,”timpal Aldo, kali ini entah sudah berapa kali ia menggoda Husin dan Syifa.
Husin menatap Syifa sambil menganggukkan kepala. Syifa hanya bisa tersenyum malu, Husinpun mengajak Syifa dan teman-temannya untuk makan malam di sebuah restoran di bandara. Mereka memilih untuk duduk didekat jendela. Syifa dan Najla duduk berdampingan. Aldo dan Husin juga duduk bersebelahan sedangkan Nabil duduk di sebelah kiri Najla.
“Selamat malam, Mbak, mau pesan minuman apa?” seorang waitress menghampiri dengan menggenggam buku daftar menu.
“Teh botol,”ujar Husin dan Syifa bersamaan. Melihat kejadian barusan, Aldo dan Najla tersenyum-senyum. Sementara itu Syifa dan Husin sama-sama terkejut.
“Makanannya?” tanya waitress itu lagi.
“Nasi goreng,” jawab Husin dan Syifa, kali ini nyaris bersamaan.
“Ehem…! Ada yang salting, nih…,”goda Aldo ketika waitress itu sudah berlalu. Ia melihat Husin dan Syifa sama-sama kikuk.
“Biasa aja….,” Husin ngeles, padahal badannya terasa panas-dingin. Tampang Husin yang kelihatan aneh seperti ini adalah kesempatan bagi Aldo. Yah, minimal untuk menambah ceria suasana,”oh ya…? Masa’sih? Kalo biasa-biasa aja, kenapa lo sampai keringetan begitu, Sin?” ledek Aldo.
“Iya nih, gue liat pipi Syifa memerah gitu,” tambah Najla yang kemudian memasang tampang innocent. Syifa melirik Najla yang duduk disampingnya,”Mukaku emang begini, La…,”Syifa menunjuk pipi kanannya untuk meluruskan perkataan Najla.
“Oh iya, kata Husin dia mau ngomong sesuatu sama kamu, Fa,” tanpa basa-basi lagi Aldo langsung menyatakan kalimat yang ia pendam sejak tadi.
Husin gelagapan,”Hah? Oh, nggak…, nggak ada apa-apa, kok. Bener, deh,”elak Husin sambil tersenyum. Syifa menundukkan kepalanya. Diam-diam Husin memperhatikan wajah lembut tersebut, melihatnya saja Husin sudah merasa senang, apalagi bila….
“Astaghfirullah!”gumam Husin didalam hati. Ia menepis pikiran itu,”Jangan banyak berkhayal!” gumamnya kepada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian minuman yang mereka pesan datang.
“Wah, wah, wah…., sekarang lagi musim hujan, tapi kok ada yang keringetan, ya?” sindir Aldo ketika melihat tubuh Husin dibanjiri peluh, sepertinya ia gugup atau perasaan lain yang sejenis itu.
Husin yang sedang meminum teh botol langsung tersedak, ia terlihat semakin kikuk,”Hah? Siapa…?” tanya Husin yang mencoba rileks.
“Hmmm…, entahlah, gue gak tau juga,”jawab Aldo.
Najla memperingatkan Aldo melalui isyarat mata. Aldo tersenyum simpul.
Aldo melihat wajah Najla yang begitu bersinar hari ini. Insya Allah dua minggu lagi harapannya akan terwujud.
Syifa mengalihkan perhatian,”Abis ini mampir ke rumah nenekku dulu, ya? Nenek bilang karena hari ini special day, jadi ada acara kecil-kecilan…,”
“Wah, keren, Fa! Lain kali adakan special day lagi ya!”celetuk Aldo, yang diikuti anggukan persetujuan Najla.
“Kamu ikut mobil aku aja, Fa. Soalnya kalau di mobil Aldo bisa-bisa ada yang salting lho…,”Najla melirik Husin sekilas.
Syifa mengangguk,”Ok. Gak apa-apa kan, Sin?”
Husin terperanjat,”Hah? Oh…, iya…, gak apa-apa…,”
Najla dan Aldo kompak mengangkat sebelah alisnya. Kedua calon pengantin itu terlihat semakin kompak saja akhir-akhir ini.
“Najla, aku titip oleh-oleh untuk Lily, ya,” ujar Syifa yang diikuti anggukan Najla.
Melihat keakraban Najla dan Syifa itu, Husin merasa agak iri. Andai saja ia dan Syifa bisa……
“Astaghfirullah! Ngelamun lagi!” gumam Husin dalam hati, cepat-cepat ia menghabiskan makanan dan minuman yang telah terhidang.
***
Dan akhirnya mereka sampai di rumah nenek Syifa, terlihat neneknya sudah menunggu di teras depan rumah.
“Assalamu’alaikum,”sapa Husin ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di rumah itu.
“Wa’alaikumsalam,” sambut nenek Syifa, Husin dan teman-temannya menghampiri. Nenek Syifa terlihat terkesima saat Husin menyalami tangannya dan tanpa berpikir lebih lama lagi beliau berujar,”Subhanallah, kamu tampan sekali, Nak…,”
Husin tersenyum simpul,”Terima kasih, Nek…,”
“Akhlakmu juga sepertinya baik. Mari masuk, Nak,” lanjut Nenek Syifa.
Sebenarnya jauh di lubuk hatinya Husin ingin mengatakan bahwa wajahnya belum seberapa dibanding ketampanan Nabi Yusuf dan akhlaknya pun masih belum dapat ia duga. Husin tak dapat membayangkan apa jadinya bila ia tidak segera memperbaiki diri, mungkin saat ini ia masih seperti Husin yang dulu, emosional tingkat tinggi. Hal tersebut memang sudah menjadi masa lalu, namun dari masa lalu itulah Husin banyak belajar tentang pahit getirnya kehidupan. Husin belajar makna keikhlasan dan kesabaran, sebuah pelajaran berharga yang tak dapat dinilai oleh apapun. Husin dan teman-teman lalu duduk di sofa ruang tamu.
“Siapa diantara kita yang ngantarin Syifa ke bandara beberapa tahun lalu?” tanya Najla sambil tersenyum. Didalam hatinya ia sedang menguji keberanian Husin untuk mengungkapkan semua yang ada didalam hatinya. Najla mengharapkan Syifa, sahabatnya akan hidup bahagia bersama seseorang yang tepat yang dapat menjadi imamnya kelak. Mendengar pertanyaan Najla barusan, Husin terperanjat, sementara itu Husin melihat teman-temannya memasang tampang pura-pura tidak tahu.
“Ng…, siapa ya? Aku juga nggak tahu…,” Husin menutup-nutupi hal yang selama ini dirahasiakannya.
“Oh, ya? Nggak tahu atau nggak tempe…? Kayaknya aku pernah melihat orang yang wajahnya mirip kamu di bandara, deh, Sin. Apa itu bukan kamu, ya?” tanya Najla sambil memegangi dagunya.
Husin makin salah tingkah, kini Syifa sudah berada di hadapannya untuk membawakan minuman. Syifa meletakkan gelas-gelas itu, dan sekilas menatap Husin.
“Ciiieee….., uhuk uhuk! Gue tiba-tiba batuk nih, gue minum dulu ya, Fa,” tukas Aldo yang kemudian mengambil sebuah gelas yang ada di hadapannya.
Syifa tersenyum, “Silakan. O iya, gimana kalo kita foto bareng? Yah, untuk kenang-kenangan seandainya aja kita nggak jumpa lagi…,”usulnya dengan suara yang makin terdengar pelan.
“Jangan bilang gitu dong, Fa. Insya Allah persahabatan kita akan terus terjaga…,”protes Husin.
Aldo melirik Husin dengan tatapan usil,“Oh ya…..?”
Husin tak menjawab, ia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan,”Ya udah, gue bawa kamera digital. Kita foto bareng, ya…,”
Syifa dan teman-teman lainnya setuju. Husin mencari modus jepretan otomatis pada kameranya. Namun sebelumnya mereka mengatur posisi masing-masing agar terlihat pas di kamera. Setelah asyik berfoto bersama, mereka lalu pamit pulang. Sebelum pulang Husin sempat berbicara dengan Syifa. Setelah memasang sepatu iapun berdiri menatap Syifa yang berada tepat di hadapannya,”Fa…, ada yang ingin kusampaikan…,”
Syifa menatap Husin dengan penuh tanda tanya,”Ya, ada apa, Sin?”
“Aku ingin mengenalmu lebih dekat dan membawa kedua orangtuaku untuk bersilaturrahmi kesini, Fa..,” bisik Husin pelan.
Syifa terpana, akhirnya terlontarlah pernyataan yang sekian lama ini ditunggunya. Agak lama Syifa menatap Husin, seolah tak percaya dengan yang didengarnya barusan. Syifa menjawab dengan senyum simpul. Cahaya matanya seolah ingin menyatakan persetujuannya. Husin membalas senyuman Syifa, itu saja sudah cukup menjadi penyembuh luka batinnya selama bertahun-tahun ini. Husin mohon pamit karena Aldo, Najla dan kakaknya sudah menunggu di mobil. Aldo yang duduk disamping Husin melirik dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Sin…, lo kenapa…?”
“Ada deh, mau tahu aja,”kilah Husin sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menatap foto Syifa yang sedang memakai baju biru tersenyum di layar ponselnya.
“Hmmmm….., udah dewasa sekarang ya?!” ledek Aldo yang kemudian menstarter mobil.
Husin hanya tersenyum simpul. Ia membayangkan kedua orangtuanya datang menemui orangtua Syifa. Husin menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit, salah satunya bersinar paling terang, seterang hatinya saat ini.