Fast Blinking Hello Kitty

With My Lovely Mom

Foto barenk my lovely mom....

Bukit Naang

Dibawah flying fox

Hai.....

Gaya dulu yah.....

Dimana nih yaaa...?

Numpang foto dulu...., hehehehe

Papa dan Mama

My parents photo

29 Februari 2012

My Lovely Author Bab 3 Siapa Dia?



Husin berada di tengah lapangan kampus. Ia dan teman-teman sekelas sedang bermain futsal, ketika tiba-tiba seorang cewek memanggil namanya.
“Husin….!!!”
Husin menoleh, tapi yang ada kepalanya di bagian depan malah terbentur bola. Husin pusing. Belum sempat ia melihat wajah gadis itu, tiba-tiba pandangan matanya gelap. Ketika Husin membuka mata, yang dilihatnya ternyata hanya kedua sahabatnya sedang menunggu dengan cemas. Ternyata kejadian barusan hanya mimpi.



“Gu…, gue dimana, Jer? Do?” tanya Husin, nyeri di kepalanya masih terasa sakit.
“Mobil lo tadi nabrak tiang. Kepala lo terbentur stir, tapi syukurlah mobil lo gak kenapa-napa, cuma lecet dikit, sekarang mobil lo di bengkel. Kami juga gak apa-apa, cuma lo aja yang pingsan,” jelas Aldo.
“Jadi lo ngedoain gue yang macam-macam, ya?” tanya Husin, yang dijawab gelengan kepala Jerry,”jangan mikir yang nggak nggak, Sin. Gue liat tadi lo tuh ngantuk, tapi lo paksain juga buat nyetir. Kita justru cemas ama lo, Sin. Lo gak apa-apa, kan?”
“Nggak, gue baek-baek aja. Trus motor kalian gimana, guys? Kan masih di kampus?”
Jerry tersenyum,”udah kami ambil, tadi Pak Tarmo yang nganterin kami ke kampus,”
Pak Tarmo adalah orang kepercayaan Abinya Husin. Beliau menjaga Husin sejak kecil hingga sekarang dan ikut tinggal dengan keluarga Husin.
“Jadi gue dimana sekarang?” tanya Husin.
“Udah di rumah, kok. Ini kan kamar lo, lupa yah?” tanya Aldo, geli.
Husin memandang ke sekeliling,”O iya,”
“Lo udah mendingan, kan, Sin?” tanya Jerry, tampangnya kelihatan cemas sekali.
“Tumben perhatian ama gue, Jer?” Husin yang masih bingung malah balik bertanya, sementara yang ditanya malah cengengesan,”ya gue khawatir aja ama lo, ntar kalo lo kenapa-napa, nyokap lo marahin gue,”
“Ngeles!” ledek Husin yang disambut,”emang iya kok!” dari Jerry.
“Stop! Udah, jangan berantem lagi. Capek, tauuu!!” lerai Aldo.
“Tumben, biasanya lo ngomporin kita,” ucap Husin.
“Hehehe, gue udah tobat, bro,” ujar Aldo.
“Bagus, deh. Oya, tau gak, tadi gue mimpi ketemu cewek…,” ujar Husin, teman-temannya mendekat, seolah ingin tahu apa mimpi Husin.
“Terus, lo liat wajahnya, Sin?” tanya Jerry, penasaran. Dalam hati ia juga ingin bertemu dengan gadis itu, namun ia tak tahu kapan persisnya.
Husin menggeleng,”Nggak, abisnya tadi gue mimpi sedang main futsal. Terus tiba-tiba ada cewek yang manggil nama gue. Saat gue menoleh, eh, malah kepala gue kejedot bola. Ya gue pingsan, deh…,” ujar Husin dengan rasa kecewa karena mimpinya yang tertunda dan tidak sempat melihat wajah gadis itu.
“Yeee, kirain apaan!” gerutu kedua sahabatnya.
“Lho, emangnya kenapa?”
“Ya…, kirain lo ngimpiin si Aglaonema. Kan kita-kita penasaran juga dengan si Aglaonema itu, Sin,” jawab Jerry.
“Lo kan udah dapat nomor ponselnya?” Husin balik bertanya.
“Iya sih…, tapi waktu gue hubungi balik, eh, nomornya malah nggak aktif lagi. Jangan-jangan nomornya fiktif, Sin. Inget gak dengan adegan di salah satu film horor yang pernah kita tonton?” Jerry menakut-nakuti. Husin mencoba mengingatnya. Waktu itu mereka menonton film yang menayangkan tentang nomor fiktif, ada suara yang menjawab telepon, tetapi manusianya tidak terlihat. Hanya suaranya saja yang terdengar.
“Enak aja. Hari gini lo masih nyoba nakut-nakutin gue? Nggak lah yaw,”Husin sama sekali tidak terpengaruh dengan ocehan Jerry barusan.
“Ya udah, kalo gitu gue pulang dulu, ya, Sin. Jika butuh sesuatu, hubungi aja gue,” pamit Aldo. Jerry ikut-ikutan,”Gue juga yah, Sin. Nyokap dari tadi udah nelepon gue. Maklum, masih anak mami. Kalo terlambat pulang, ntar bisa di calling sampe lima kali. Hehehe….”
“Perlu dianter?” tanya Husin yang bergegas bangkit dari tempat tidurnya.
“Gak usah, lo kan masih sakit, Sin. Gue gak apa-apa kok pulang sendiri. Gak tau ya, kalo si Jerry,” lirik Aldo. Jerry manyun,”gue berani sendiri, kok, Sin. Lo istirahat aja…,”
Saat akan turun ke lantai bawah, Aldo menambahkan,” See you tomorrow at campus, Sin!,”
“Yap. Makasih banyak, guys!” Husin berujar, diikuti anggukan kedua sahabatnya.
Husin termangu didekat tempat tidur. Rasanya ia ingin bermimpi lagi, melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda. Ia ingin bertemu dengan gadis khayalannya itu, seseorang yang mengungkapkan isi hatinya selama ini lewat mading kampus, bahkan gadis itu juga yang telah mempublikasikan rumahnya secara tak langsung lewat buku. Segala hal bisa saja terjadi lewat tulisan. Melalui tulisan, semua kata hati yang sulit diungkapkan secara lisan bisa diungkapkan, namun lewat tulisan juga bisa saja terjadi kebohongan. Sebuah kejujuran yang seharusnya dikatakan bisa dimanipulasi lewat tulisan.
Husin memejamkan mata, ia ingin tidur dan bermimpi lagi. Tiba-tiba…
Dor!!!!!!!!
“Udah mendingan belom, Bang? Hehehehe….” ledek Husna, adik sepupunya yang paling bontot yang masih berusia 10 tahun mengagetkannya. Husna adalah anak dari Tante Husin yang paling bungsu.
“Eh, Husna…, ngapain kesini?” Husin buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
“Eit, Abang gak boleh bangun. Mama bilang katanya abang lagi sakit. Jadi Husna datang kesini. Ini Husna bawain apel kesukaan abang…,”
“ Taruh aja disitu. Emangnya mama kemana, sih?”
“Mama lagi pergi sama Bi Ijah dan Pak Tarmo, bang. Katanya ke apotek beli obat, jadi Husna disuruh jagain abang ganteng,” jelasnya sambil berkedip centil.
Husin mencoba tidur lagi dan kali ini di sofa yang tak jauh dari tempat tidur. Ia berharap dapat melanjutkan mimpinya tadi tetapi ternyata usahanya sia-sia, matanya tak mau dipejamkan.
Husna dengan setia duduk disamping Husin, tetapi Husin malah memintanya keluar.
“Keluar, ya, Dek. Abang mau tidur,”
“Nggak mau. Kan Husna disuruh Mama jagain abang?“
“Iya, tapi abang lagi pengen sendirian, gak mau ditemenin…,”
“Husna bilangin mama, loh!” ancamnya. Lalu ia pergi keluar dan berteriak “Mamaaaaa…….!!!!” rengek Husna lalu menangis menuju teras depan, berharap ibunya segera pulang.
Sementara itu, Husna yang ngambek nekat pergi ke dekat pintu pagar. Ia berjalan sambil mengusap airmatanya. Sementara itu, Husin pusing mencari Husna.
“Aduh, ntar gue diomeli lagi…,” gumamnya dalam hati sambil terus mencari adiknya.
Seorang gadis yang kebetulan melewati rumah itu kemudian menghampiri Husna. Ia agak menunduk hingga tingginya hampir menyamai Husna, kemudian bertanya,”Adek, kok nangis? Kenapa?” tanyanya sambil tersenyum. Husna hanya menggeleng sambil terus menangis.
“Siapa yang jahat, Dek?”
“Abang Husin…, didalam itu orangnya…, huhu….,” rengeknya sambil menunjuk kearah rumah Husin.
Gadis itu tersenyum simpul, lalu ia menggandeng tangan Husna masuk kedalam rumah dan mengantar Husna hingga ke ruang tamu,”adek gak boleh gitu…,”
“Nah itu dia orangnya, Kak!” tunjuk Husna tepat ketika Husin melenggang ke ruang tamu dengan sebuah apel di tangannya.
“Astaghfirullah!!!” seketika cewek itu refleks menutup mukanya.
“Eh, lo kenapa? Ada yang aneh ama gue???!!!” hardik Husin, marah-marah dan lagi-lagi sambil melotot. ‘Singa’nya mengaum lagi.
Gadis itu tetap menutup matanya, kemudian dengan pelan ia berujar,”aurat lo keliatan….,”
Husin mengernyit. Ia menunduk mencoba memastikan tak ada yang aneh, ia hanya memakai kaos basket tanpa lengan dan celana pendek selutut. Ia sendiri bingung, auratnya yang mana?.
“Pokoknya aurat lo keliatan! Gue permisi dulu, assalamu’alaikum!” pamit gadis itu, lagi-lagi masih menutup wajah dengan tangannya.
“Eh, tunggu dulu! Hey….,”Husin mencoba memanggil dan menyusul hingga ke depan pagar, tapi cewek itu keburu pergi. Dengan langkah gontai, Husin kembali masuk kedalam rumah sambil ngedumel,”dasar cewek aneh!”
Husna yang masih sesenggukan berujar,”abang tuh yang aneh. Kakak itu ngucapin salam gak abang balas. Udah gitu kakaknya baik malah abang suruh pergi! Jahatttttt!!! Huaaaaa…..!!!!” Husna berlari ke ruang keluarga dan menangis diatas sofa.
“Yeeee…, dasar cengeng!” gerutu Husin lalu melanjutkan melahap apel di ruang tamu. Tetapi dalam hati ia penasaran juga, siapa sih cewek tadi? Siapa dia? Mengapa ia bertingkah aneh? Husin sangat penasaran, belum sempat ia dengan jelas menatap wajah gadis itu karena si misterius itu buru-buru menutup wajahnya.
“Eh, kok gue jadi mikirin dia? Jangan sampe deh!” Husin menepis pikirannya terhadap gadis tadi. Gadis manis dengan postur tubuh tinggi, berjilbab biru…., tiba-tiba Husin teringat seseorang.
Jangan-jangan….
“Ah, nggak! Aglaonema pasti lebih cantik dari itu!” gumam Husin dalam hati. Ia tak tahu mengapa ia selalu memikirkan penulis misterius tersebut. Cara menulisnya yang menyentuh hati dan mewakili isi hatinya membuat Husin tidak berhenti memikirkannya.
Sekilas Husin menoleh kearah sepupunya di ruang keluarga, ternyata ia tertidur di sofa. Adik sepupunya cantik, tapi sayang ia tidak bisa membujuk anak kecil, apalagi kalau sedang menangis. Nalurinya belum ada…., hehehehe….
Husin berjalan pelan ke ruang keluarga, menghampiri Husna yang tertidur pulas. Ia lalu menggendong Husna ke kamarnya yang terletak di lantai atas.
“Wah, ternyata naluri gue sebagai abang lumayan juga, hehehehe…,” Husin tersenyum senang setelah adiknya itu berhasil ia tidurkan di spring bed-nya,”kayaknya gue harus banyak belajar ngalah, nih….,”
Saat Husin keluar dari kamar, lagi-lagi bayangan tadi melintas di pikirannya. Husin mencoba menerka wajah gadis tadi yang sedang menunduk kemudian mengangkat kepalanya perlahan, lalu dengan malu-malu menatap Husin. Tampaknya ia seorang yang penyayang.
“Astaghfirullah! Kok gue gak berhenti mikirin dia, sih????!!!!”

***

Malam itu, Husin mencoba untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan seluruh penghuni rumahnya sudah tertidur, kecuali dia. Efek tidur siang, biasanya bila ia tidur di siang hari akan susah tidur di malam harinya. Ia sudah membaca doa sebelum tidur, tapi sama saja. Lagi-lagi bayangan sore tadi, serta buku desain rumah yang ditulis Aglaonema Chrisanty terlintas di pikirannya. Gadis itu menceritakan rumahnya, tanpa ia sadari. Mungkinkah si Aglaonema adalah teman terdekatnya yang tidak ia sadari? Tapi siapa dia? Husin meraih ponsel yang terletak didekatnya. Ia menekan nomor ponsel Aglaonema dan mencoba menghubunginya, tetapi nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.
Sesaat kemudian Husin teringat pada ibunya yang menelepon tadi siang. Husin mencoba menghubungi kembali ibunya, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban, mungkin saja ibunya sudah tidur. Husin bingung, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia teringat pada salah satu tulisan Aglaonema di mading kampus beberapa waktu lalu yang pernah dibacanya, yaitu tentang hikmah sholat tahajud. Salah satunya ialah dapat menenangkan jiwa yang sedang gelisah. Husin memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia menuju kamar mandi dan bergegas berwudhu’.
Ia membentangkan sajadah dan sholat tahajud, dilanjutkan dengan witir. Ia akan mencurahkan rasa cintanya kepada Sang Pemilik Cinta, yang telah memberinya perasaan kagum sekaligus penasaran terhadap gadis misterius itu. Ia mencurahkan semua yang ada di hatinya kepada Sang Pemilik Hati, yang telah menitipkan padanya tentang arti sebuah ‘rasa’. Husin menangis saat memanjatkan doa, ia mohon diberi petunjuk siapa yang terbaik menjadi pendampingnya. Selain itu ia juga memohon agar diberi petunjuk siapakah ‘bunga Aglaonema dan krisan’ yang membuatnya penasaran. Husin usai mengucapkan salam, ia telah selesai ber-tahajud cinta. Ia merasa agak lega sekarang. Husin kembali ke tempat tidurnya, ia berharap dapat bermimpi bertemu kembali dengan Aglaonema Chrisanty, penulis yang misterius tersebut.

 Baca juga Bab 2
Baca juga Bab 4


28 Februari 2012

My Lovely Author Bab 2 Next Book



Krrrriiiinggggggggggggg……………..
Bunyi jam weker tidak dipedulikan Husin. Ia tetap terlelap, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan ia masuk pukul 8 tepat. Mustahil baginya untuk bersiap dalam waktu satu jam, seperti yang kebanyakan mahasiswa lain ketahui bahwa ia si raja telat.


“Hoaaaaahhhhhmmmmmmmmmm…………….,” Husin menguap selebar-lebarnya. Ia hampir tidak menyadari kebiasaan jeleknya yang suka telat bangun pagi. Ia melirik jam wekernya,”udah jam berapa sih….?” Dengan mata yang masih lima watt, Husin memaksakan diri hanya untuk melihat jam berapa sekarang.
“Astaghfirullah! Gue telat lagi, dah!” buru-buru Husin beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mandi dan sarapan sepotong roti tawar yang sudah disediakan Bi Ijah di meja makan. Di rumahnya tidak ada siapa-siapa selain dia, Pak Tarmo dan Bi Ijah, karena kedua orangtuanya bertugas diluar kota. Ia tidak sadar bahwa ia hanya memakai kemeja kumel bin kucel saat meninggalkan rumah. Sesegera mungkin ia memacu mobil Honda CRV-nya dengan kecepatan 70 km/jam. Memang rada ngebut, sih, tapi biasalah, si raja telat yang suka terburu-buru setiap kali ngampus pagi.
Akhirnya iapun sampai di kampus jam delapan lewat dua puluh. Mata kuliah pertama adalah Rekayasa Sipil . Husin berlari lurus lalu berbelok kearah kiri, menuju ruangan, namun belum sempat ia meraih gagang pintu, tiba-tiba….
GEDEBUGGGGGG!!!!!!!
“Aduh….,”
“Eh, kalo jalan hati-hati dong! Liat nih udah jam berapa, gue udah telat tau!” hardik Husin pada mahasiswi yang bertubrukan dengannya, padahal ia sendiri yang berjalan kurang hati-hati.
Mahasiswi yang jatuh terduduk itu memijiti kepalanya yang sempat bertubrukan dengan dahi Husin,”ya maaf, gue nggak sengaja…,”
“Aaaahhh, banyak alasan, lo! Minggir!” Husin mengeluarkan semua sumpah jerapah…, eh, sumpah serapahnya. Ia memang begitu jika sedang kesal.
“Lo nggak bisa rada lembut dikit…? Atau apa kek, gitu?”
“Nggak! GUE UDAH TELAT! Ngerti? Mingggir!!!” Husin berjalan lurus meninggalkan gadis itu sendirian. Husin sangat terburu-buru, sampai ia tidak menyadari tugas Rekayasa Sipil miliknya tercecer dari tas dan jatuh tepat didepan gadis yang ditabraknya itu.
Husin mengetuk pintu ruangan, dan perlahan ia membukanya,”maaf, Pak, saya telat,”
“Ya udah, silakan masuk,” jawab dosen tersebut,”kumpulkan tugas kamu,”
Husin merogoh tangannya kedalam tas untuk mengumpulkan tugasnya. Ia yakin sudah memasukkan tugasnya kedalam tas sejak tadi malam, tapi…
“Lho kok gak ada ya?” gumam Husin sambil meraba isi tasnya.
“Apa?” tanya dosennya yang semakin membuat Husin gugup. Tak biasanya ia begini. Memang ia suka telat, tapi tidak pernah absen mengumpulkan tugas. Memang ia dikenal sebagai tukang ribut dan suka mencari sensasi di kelas, tapi ia tak pernah sekalipun lupa mengumpulkan tugas.
Tok….tok….tok….
Pintu diketuk lagi, kali ini seorang mahasiswi cantik berdiri didepan pintu yang dikenali Husin sebagai orang yang bertabrakan dengannya tadi.
“Maaf, Pak, apa ada yang namanya Abdullah Husin?” tanyanya dengan suara selembut mungkin.
“Cieee……………., ihirrrrrrrrr! Bos kita ada yang nyariin, wooooiii…..,” teriak Aldo yang mengkompori rekan-rekannya, spontan saja teman-teman lain sibuk bersiul, ‘cuit cuit’.
“Iya, gue,” jawab Husin agak malas-malasan.
“Gue cuma mau mengembalikan ini….,” ia menatap Husin sambil menyodorkan selembar kertas double folio,”tadi terjatuh,”
“Itu dia…., itu kan tugas gue….,” lirih Husin dalam hati, namun ia pura-pura jutek. Ia menghampiri gadis itu lalu bertanya kasar,”Kok bisa ada sama lo????!!!!”
Gadis itu tampak menunduk,”ya tadi jatuh waktu lo nabrak gue, maaf….,” pintanya sambil menunduk,”gue permisi dulu. Makasih, Pak,” ujarnya lalu pergi.
Saking kesalnya, Husin bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Setelah gadis itu pergi, Husin malah ngedumel sambil mengumpulkan tugas itu,”Pak, maaf, ini tugasnya,”
Dosennya malah tertawa.
Husin hanya diam, tanpa disadari pipinya memerah.
“Ya sudah, kamu boleh duduk,”
“Makasih, Pak,” Husin duduk di bangku tepat di sebelah Aldo. Aldo dan Jerry sudah siap memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Psssttt…, siapa tuh cewek? Kok CTK BGT?” tanya Aldo setengah berbisik.
“Apaan tuh CTK BGT?” timpal Jerry, ikut-ikutan nimbrung.
“Cantik Banget, tau! Gue yakin dia pasti jauh lebih cantik dibanding si Aglaonema Chrisanty pujaan lo itu!” Aldo mulai bertaruh. Jerry memasang muka masam, Husin hanya santai.
“Sotoy lo! Yang jelas lebih cantik dia, lah! Cewek tadi bukan apa-apa dibanding soulmate gue,” tukas Husin.
“Hoho…., soulmate? Yakin banget lo kalo tuh cewek bakalan jadi soulmate lo, hahaha….!”
Husin menyengir,”just wait and see it later…,”
Aldo dan Jerry kompakan bingung. Jerry bertanya,”Apaan tuh artinya?”
Husin mendengus,”Artinya,” Husin berkata tegas kepada kedua sahabatnya,”ada anak ayam mati sepuluh ekor!” Husin kemudian memperhatikan dosennya menerangkan
“Eh, Sin…,” panggil Aldo, namun tak dipedulikan Husin. Aldo yang rada sebal kemudian berujar,”dasar Aglaonema Chrisanty! Kalo ternyata tuh cewek ternyata beneran fiktif, alias gak ada wujudnya, gimana???!!”
Husin hanya diam. Ia serius memperhatikan dosennya. Kali ini Aldo yang kewalahan,”Hmmmm…, ya udah deh. Kalo ternyata Aglaonema Chrisanty itu cewek gadungan, gue nggak tanggung jawab, yah!”
Pernyataan Aldo barusan membuat Husin menoleh kearahnya dengan tatapan mata setajam singa. Sementara itu Aldo yang terpojok hanya bisa nyengir selebar-lebarnya, :D
“Eit, tapi, Sin…, lo yakin bisa nemuin tuh cewek dalam waktu seminggu ini?” tanya Jerry ikut-ikutan. Husin kembali memelototi Jerry, yang terlihat kelabakan,”I…Iya deh, gue bantuin lo nyari tuh cewek…,” Jerry speechless melihat tampang Husin yang sanger. Begitulah bila Husin marah, gak bakalan ada yang berani berkutik untuk membantahnya, karena itulah ia dipanggil ‘bos’ oleh teman-temannya karena sifat dan tingkahnya yang seperti seorang ‘bos’, mungkin pengaruh karena ia anak tunggal, jadi semua keinginannya harus dipenuhi. Kedua orangtuanyapun sangat memanjakan Husin dan memperlakukannya bak raja, sewaktu kecil saja Husin pernah menggulingkan badannya hanya karena tidak dibelikan Tamiya. Pokoknya, semua keinginannya harus terpenuhi dan segala sesuatunya harus serba sempurna, tanpa ada kekurangan suatu apapun.
“Tapi gue gak jamin, ya, kalo ternyata dia bukan cewek…,” Jerry menyambung perkataannya tadi, yang membuat Husin melotot kearahnya lagi, kali ini lebih tajam. Jelas aja Jerry kelabakan,”maksud gue, gue gak jamin kalo ternyata dia bukan cewek yang sepintar lo kira,” Jerry buru-buru meralat perkataannya, padahal ia baru saja mau bilang,”kalo ternyata dia bukan cewek, tapi cowok! Hehehehehe….,”
“Ooo…,”itu yang keluar dari mulut Husin,”oh ya, ntar kita ke Gramedia, yah!” hanya itu ucapannya. Ia benar-benar serius dan tidak terpengaruh sama sekali dengan kedua monster yang setia mengganggunya. Tiga bulan yang lalu malah Husin sempat berjanji pada Abi-nya yang sedang di Semarang bahwa ia akan meningkatkan IP-nya di semester ini, minimal 3. Oleh karena itulah akhir-akhir ini Husin rajin banget ke toko buku dan pustaka nasional, padahal biasanya dia lebih memilih nongkrong di Mal Taman Anggrek atau di Ciputra, sekedar TePe-TePe atau mentraktir teman se-gank-nya makan.
“Loh, kok ke Gramed lagi, Sin? Bukannya minggu kemarin udah?” protes Jerry, yang disambut oleh Aldo yang setengah berbisik,”pssstt!! Ntar lo dimarahi bos lagi!”
Jerry terdiam. Memang nggak ada yang berani menentang Husin, entah apa sebabnya, padahal ia hanya mahasiswa biasa, namun seolah punya kharisma yang gimanaaa gitu.

***

Aldo dan Jerry kompakan menaiki mobil Husin yang adem. Hari ini hanya dua mata kuliah saja sampai jam 12 siang. Sepeda motor mereka dititipkan dengan salah seorang satpam kampus. Mereka bertiga akan pergi ke sebuah toko buku, Husin berencana akan membeli buku baru yang berkaitan dengan mata kuliahnya.
“Sin, kenapa sih akhir-akhir ini lo keranjingan ke toko buku?” tanya Aldo saat sampai didalam mobil yang diikuti anggukan Jerry.
“Mendingan ke toko buku, daripada clubbing gak jelas,” jawab Husin, enteng.
“Gue serius, Sin…,” tanya Aldo lagi.
Husin menatap Aldo serius,”Ntar lagi kan mau mid semesteran, emangnya lo gak belajar?” Husin balik bertanya, yang membuat Aldo gelagapan, lalu cengengesan,”Hehehehe.., kalo gue sih belajar pake sistem SKS, bro…., hehe,” Aldo hanya tertawa. Husin menstarter mobilnya dan melaju keluar kampus. Beberapa saat kemudian mereka sampai di toko buku yang dimaksud. Husin memarkir mobilnya di basement . mereka bertiga lalu menaiki lantai yang paling atas, tempat buku-buku teknik dipajang. Begitu baru tiba di lantai atas, mata Husin tiba-tiba terarah pada sosok tadi pagi, yaitu gadis yang menabraknya. Husin mengenalinya dari jilbab yang dipakainya. Ternyata ia disini juga. Ia sedang membaca buku di salah satu sudut dengan posisi membelakangi Husin, sepertinya buku arsitektur ketika Husin menatapnya dari kejauhan.
“Hey, lo kenapa, Sin?” tegur Jerry yang turut memperhatikan gelagat aneh sahabatnya itu.
“Ng…, nggak, nggak ada apa-apa,” tukas Husin sambil melanjutkan mencari buku yang diincarnya.
Aldo tidak menyadari hal itu, ia sibuk dengan salah satu buku mengenai struktur beton,”Bro, liat deh, buku ini kayaknya menarik, gitu.., beli yuk?”
Aldo celingukan, teman-teman yang ditanyainya pergi entah kemana. Aldo menoleh jauh kearah kiri, ia melihat Husin dan Jerry sedang menatap salah seorang cewek yang sedang membaca buku dari kejauhan. Aldo menghampiri mereka,”Ada apa sih?”
“Eh, elo, Do. Gak ada apa-apa kok,” Husin mengelak.
“Kalian berdua kebangetan ya, ngebiarin gue ngomong sendiri, kayak orang gila aja,”
Husin dan Jerry tertawa kecil,” biarin aja, biar orang-orang pada nyangka lo nyasar kesini!” ledek Jerry, yang dibalas pukulan kecil dari Aldo.
“Huuuu, kalian berdua pada ngeliatin siapa sih? Kok kayaknya serius banget?” Aldo ikut-ikutan celingukan, matanya ikut menatap ke seberang, ke sudut yang sedang dilihat oleh Husin dan Jerry.
“Cantik juga tuh cewek. Kenapa gak ngajak kenalan aja?” tanya Aldo.
“Nggak! Kayak orang kurang kerjaan aja. Capcus yuk!” Husin buru-buru menghindar dari tempat itu, yang diikuti Jerry. Ia mengenali sosok itu, ingin rasanya ia menegur gadis itu tapi ia ragu sekaligus gengsi.
Sementara itu, gadis yang sedang diperhatikan oleh mereka bertiga meletakkan kembali buku yang selesai dibacanya ke tempat semula. Sekilas ia tersenyum melihat salah satu buku yang berada di belakangnya. Ia memutuskan untuk membeli salah satu buku yang tadi dipegangnya, kemudian ia menuju kasir, tanpa menyadari ada tiga pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.
“Itu kan cewek yang tadi pagi di kampus kita, Jer…, cantik banget yah…,”ujar Aldo yang sedang berdiri, matanya masih terpaku pada cewek itu. Menyadari Jerry yang ternyata sudah menghilang bersama Husin, Aldo menggeram, “Jerry…..! Awas lo ya! Lo udah bikin gue kayak orang gila, ngomong sendiri…!!! Aaaaarrrgghhhh….!!!”
Aldo hanya berputar-putar keliling toko, nggak jelas apa dan siapa yang tengah ia cari. Eh, jelas ding! Ia mencari Jerry dan Husin yang kompakan mengerjainya. Kini Aldo pusing sembilan keliling mencari mereka berdua. Iseng-iseng Aldo menuju ke rak buku arsitek yang terletak diujung dan menatap ke rak buku sebelah kirinya. Ia menemukan buku kumpulan desain rumah minimalis, lagi-lagi karangan Aglaonema Chrisanty.
“Masih mahasiswa tapi dia udah nulis buku?” gumam Aldo dalam hati. Ia memperhatikan sampul buku tersebut, mengambil dan membolak-balik antara cover depan dan belakang karena buku itu masih disampul plastik. Tersirat dalam hatinya ia juga menaruh rasa kagum sekaligus bangga terhadap cewek itu, seorang wanita yang tak biasa. Cepat-cepat ia membawa buku itu, lalu membayarnya di kasir. Setelah membayar, barulah ia menemukan Husin dan Jerry yang celingukan, lalu akhirnya mereka bertiga berkumpul kembali didekat tangga setelah membayar buku yang dibeli masing-masing.
“Kalian tau gak, gue beli buku karangan siapa?” tanya Aldo sambil tersenyum penuh rahasia. Jelas aja kedua sahabatnya menggeleng, wong mereka nggak tahu apa-apa kok…
“Sini deh…,”Aldo membuka isi bungkusan plastik. Kedua sahabatnya kemudian mendekat kearahnya. Ia lalu menyodorkan buku itu pada Husin.
“Hah? Buku arsitektur? Ngapain? Kita kan sipil???” tanya Jerry begitu melihat cover-nya yang bergambar rumah.
“Baca dulu siapa pengarangnya…,” ujar Aldo, ia sudah melupakan kejadian yang nyaris membuatnya seperti orang gila tadi.
“Aglaonema Chrisanty….,” gumam Husin yang kemudian tersenyum cerah,”Wah! Pinter lo, Do! Thank’s yah!” Husin menepuk pundak Aldo yang sengaja terbatuk-batuk. Jerry agak ngiri dengan pemandangan itu.
“Karena kebaikan hati lo udah ngebantu gue, gue traktir lo makan….,” ujar Husin yang diiringi senyum lebar Aldo, yang didalam hati bergumam,”Sik asyik…,”
Jerry memelas, dan masih berharap ia ikut ditraktir makan.
Melihat tampang Jerry yang kusut, Husin juga melempar senyum kearah Jerry,”Tenang, Jer, lo kan juga udah ngebantuin gue menghubungi dia, lo juga kebagian ditraktir, kok,” ujar Husin sambil tersenyum.
“Hmmm…., so, kita makan-makan dimana nih…?” tanya Jerry semangat.
“Gimana kalo kita makan steak?” usul Aldo, yang diiyakan oleh Husin dan Jerry.
“Tapi gue mau beli DVD dulu ntar, yah!” Husin turun kebawah ke sebuah toko DVD. Ia membeli DVD film terbaru kesayangannya, kemudian mereka bertiga menuju basement .
Sesampainya di mobil, Husin buru-buru membuka sampul plastik yang membungkus buku ‘keramat’nya.
“Bismillahirrohmanirrohim…,”dengan pelan dan hati-hati Husin merobek bungkus plastik buku tersebut dan mulai membacanya. Gaya bahasanya yang nggak terlalu kaku dan gambar-gambar hasil penelitiannya yang modern dan mengikuti perkembangan zaman membuat Husin ikut larut dalam buku itu.
“Hey, kami udah laperrrrr banget nih…,”Aldo buru-buru menagih janjinya. Buru-buru Husin menutup buku dan menstarter mobilnya,”Iya, sabar dikit….,” Husin berujar, melirik lalu mengambil popcorn yang sedang asyik di genggaman Aldo yang duduk disampingnya.
“Oi, popcorn gue….,” lirih Aldo yang disambut tawa cekikikan oleh Husin.
“Gue juga mau dong!”Jerry yang duduk di belakang ikut-ikutan nimbrung dan berusaha merebut popcorn Aldo. Jadilah seharian itu mereka menggila, tertawa lepas di jalanan, tentu saja didalam mobil.
***
Sesaat kemudian mereka bertiga sampai di restoran steak dan barbeque. Husin dan Jerry memesan steak ayam sedangkan Aldo steak sapi. Minumannya cappuccino float.
“So, gimana tulisan di buku itu, Sin? Lo masih nge-fans ama dia?” tanya Jerry sambil menyeruput cappuccino float-nya.
“Gaya bahasanya nggak ngebosenin, udah gitu tampilan gambarnya modern dan sesuai dengan tuntutan mode arsitektur zaman sekarang. Plus, bukunya tebel, lagi,” jawab Husin, tersenyum.
“Terus ada foto penulisnya, gak?” tanya Aldo, penasaran. Husin tertunduk lesu,”Sayang banget fotonya nggak ada, Do. Alamat nggak ada, nomor hape yang bisa dihubungipun nggak…,”
“Terus, nomor hape yang lo kasih itu? Bukan nomor dia, Sin?” tanya Jerry, kelabakan. Gagal deh rencananya ingin PDKT dengan cewek itu juga. Hah? PDKT? Iya, kan Husin dan dia belum ada ikatan apa-apa, jadi nggak masalah dong?.
“Ya kan kalo nomor hape doang kita bisa aja kurang yakin, Jer. Siapa tau bukan dia, tapi ngaku-ngaku jadi dia…,”
Jerry mendengarkan dengan seksama,”terus identitas yang ada di bukunya itu apa aja, Sin?”
Husin membolak-balik buku yang tadi dibelikan Aldo,”Cuma nama samaran, tempat tanggal lahir ama sekolahnya dari SD sampai kuliah. Anak UI juga, jurusan arsitektur. Just that,” Husin membaca riwayat penulis yang terletak di halaman paling belakang.
Jerry memandangi sahabatnya itu dengan tampang prihatin,”Sabar yah, sobat…..,”
Husin menggeleng,”Gak apa-apa lagi, guys. Yah…, toh kalau jodoh gak akan kemana-mana kok,” Husin mencoba menghibur diri sendiri.
“Bener, bro, mendingan untuk saat ini kita gak usah mikirin cewek dulu, kita harus fokus pada tujuan awal. Ok?” ujar Aldo yang diiringi anggukan mereka bertiga. Lalu mereka tos bareng a la anggota D’ Handsome.
“Eit, tapi kalo misalnya ada diantara kita yang udah punya cewek, gimana?” tanya Jerry, tiba-tiba interupsi.
“Hmmm, kalo gitu mulai sekarang, kita kompakan nge-jomblo. Kalau ada salah seorang dari kita bertiga yang udah punya gebetan, harus ngasih tau supaya kita nggak salah paham. Ok?” usul Husin.
“Ok, bos!” jawab Aldo dan Jerry.
Mereka lalu menghabiskan makanannya, kapan lagi momen ditraktir seperti ini datang? Ya gak sih?. Kalo boleh jujur, Jerry dan Aldo sangat senang ditraktir oleh ‘bos’nya, dan traktiran adalah hal yang paling langka yang hanya mereka temui jika si bos lagi good mood, atau bos lagi punya hajatan. Makanya Jerry dan Aldo langsung mengiyakan begitu Husin memiliki ide untuk mentraktir mereka.
Tiba-tiba ponsel Husin berdering, ia mengangkatnya,”Halo, Ma? Iya, ini Husin lagi di kampus, Ma…, iya, ntar aja neleponnya ya, Ma? Ya.., makasih, Ma,” Husin kemudian menutup pembicaraan.
Jerry memandangi Husin agak lama,“Gile aje lo, Sin! Masa’ lagi makan-makan gini lo bilang di kampus? Parah lo…, wakakakakak!” tawa Jerry, yang lagi-lagi dikode oleh Aldo, takut bos-nya ngamuk.
Husin hanya mengunyah makanannya,”nyokap gue kan lagi diluar kota? Emang kenapa sih, suka-suka gue dong,” Husin membela diri.
“Tapi lo gak bilang lagi mentraktir kita-kita kan, Sin?” tanya Jerry lagi, meyakinkan.
“Hahahaha…, emang kenapa sih, Jer? Kalian berdua sahabat terbaek gue, tau gak? Suka-suka gue juga kalo mau mentraktir kalian,” ujar Husin,”mumpung gue ada rezeki,”
“Tapi kita segan juga ama bokap nyokap lo, Sin. Secara lo kan borju, anak tunggal pula. Ntar kesannya kami morotin elo…,”nada bicara Aldo lalu merendah tapi pasti.
“Lha yang borju orangtua gue, ya gak apa-apa, santai aja kaleeee….,” ujar Husin.
Aldo menatap sahabatnya itu,”Thank’s ya, Sin. Emang cuma lo yang paling ngertiin kami….,”
“Ehem! Intinya mau ditraktir setiap hari, nih…???” pancing Husin sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Yaaaah, kalo boleh, hehehehehehe…,” tawa Jerry dan Aldo hampir berbarengan.
“Gue bakalan ntraktir kalian tiap hari,” ujar Husin kemudian,”tapi ada syaratnya,”
“Apa?” tanya Aldo dan Jerry yang langsung melongo, lagi-lagi hampir bersamaan. Mereka berdua mendekat kearah Husin yang sedang melahap steak-nya.
“Bantuin gue dapetin info tentang Aglaonema Chrisanty, ya…, please?”
Aldo dan Jerry menyandarkan bahu mereka ke kursi,”Yah….., cewek itu lagi!” ujar Jerry sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Let it flow aja, bro.., kalo emang dia jodoh elo, dia gak akan kemana-mana kok,” jelas Aldo, menghibur.
Husin galau. Baru kali ini ia penasaran dengan cewek, sebelumnya ia adalah tipe yang bukan pemikir seperti ini. Ia sendiri heran, apakah cewek yang ditaksirnya itu punya medan magnet yang mampu menarik perhatiannya?. Bila iya, dimanakah ia berada? Bila tidak, mengapa ia jadi begini? Husin terus bertanya dalam hati.
“Hoi!” seru Jerry,”menung aje! Kesambet Mbah Google, baru tau rasa lo!”
Husin terkejut, ekspresinya seperti ikan dugong yang kelelep minta tolong,”Yeeee, rese’ lo! Mendingan kesambet Mbah Google, daripada kesambet Mbah lo! Weeeeek…,” Husin menjulurkan lidahnya.
Jerry ngambek, manyun. Mulutnya maju lima sentimeter.
“Ih, tampang lo kayak ikan dugong tau gak sih! ill feel gue!” ketus Husin pada Jerry. Jerry yang tersinggung karena kelebihan berat badannya kemudian ngeles, “Yeee, daripada lo mirip ikan pari, kurus ceking tak berdaging kayak tengkorak hidup, gitu!” balas Jerry.
“HAHAHAHAHAHA…..!!!!” Aldo tak kuasa menahan tawanya hingga air matanya menetes,”Ikan pari vs ikan dugong, stop!!!”
Singa…eh, macan…,eh, Husin memelototi Aldo, dan kini bersama dengan Jerry, siap menerkam Aldo yang sudah ketakutan duluan.
“E..eh, kok jadi gue, sih…?” tanya Aldo seraya bergidik.
“Orang berantem bukannya dilerai malah dipanas-panasin, dasar tukang kompor!” gerutu Husin. Sementara yang disindir malah tertawa kecil,”Hehehehe, iya deh, lain kali gue bakalan memihak salah satu dari kalian,”
Husin melotot semakin tajam, membuat Aldo semakin salah tingkah,”mm…, maksud gue, gue bakalan melerai kalian berdua. Kalian kan spregen gue, masa’ gue hanya memihak salah satunya, gak adil dong,” ucap Aldo, mempermainkan kata-kata.
“Alasan…, “ gumam Husin, gantian dia yang manyun,”udah selesai belum nih, makannya? Gue mau pulang,”
Aldo yang memperhatikan ekspresi wajah Husin jadi merasa bersalah,”ngambek nih….? Sorry dorry, Jack, hehehehe…,” Aldo berusaha melucu, tapi lucu-lucuannya garing.
Husin hanya diam, dan tidak ada seorang pun dari sahabatnya yang berani berkata apapun, walaupun hanya satu kata. Mendadak hening. Aneh. Tadi ketawa, terus berantem, terus diam, nanti apa lagi???.
“Lho kok diem?” tanya Husin beberapa menit kemudian. Jerry dan Aldo saling berpandangan dalam diam, mereka takut salah-salah ngomong lagi.
“Kenapa? Santai aja kali, gue kan bercanda,” lanjut Husin lagi.
“Jadi, lo gak marah, kan, ikan pari?” tanya Jerry, kurang yakin.
“Lo gak marah, kan, tengkorak?” Aldo ikut-ikut bertanya sambil memperbaiki kacamatanya dan nyengir selebar-lebarnya.
“SHUT UP!!!!!” Husin memukul meja yang membuat teman-temannya panik.
“Eitsss, sabar…., sabar toh le’,” Aldo menghindar sambil mengangkat kedua tangannya sejajar bahu, ia berusaha menenangkan Husin yang kali ini ‘singa’nya sedang menyeringai memperlihatkan taringnya yang tajam.
“Pokoknya gue mau pulang. Cepetan habisin makanan kalian, atau bayar aja sendiri,” sahut Husin ketus.
Tanpa dikomando lebih jauh lagi, Aldo dan Jerry cepat-cepat menyantap steak-nya, lalu mengikuti bos mereka yang sedang galau.
Husin memasuki mobilnya, membuka buku kesayangannya itu lagi, kemudian membacanya. Alangkah terkejutnya ia ketika membuka salah satu halaman.
Rumah dengan desain modern minimalis, dengan waterwall kecil di halaman depannya, berpagar warna abu-abu dipadu hitam…, itu kan rumahnya?. Husin membaca keterangan dibawah gambar tersebut :
“Hunian klasik modern minimalis yang apik dipadu dengan waterwall yang unik, membuat penghuninya serasa berada di tengah pedesaan yang sejuk. Inspirasi yang unik bila diterapkan di tengah kota.”
“Guys, ini kan rumah gue. Iya, kan?” tanya Husin sambil menujuk halaman buku itu dan memastikan apakah yang dilihatnya benar. Serempak kedua sahabatnya melihat isi buku itu,”Iya, Sin. Ini kan halaman depan rumah lo, kok bisa….?” tanya Aldo, heran.
“Jangan-jangan dia tinggal di deket rumah lo juga, Sin!” timpal Jerry.
“Nah, itu dia yang gue pikirin, Jer. Tapi siapa dia…? Gue nggak tahu….,” ujar Husin, bingung.
“Tenang aja, Sin. Itu kan tugas kami berdua. Lo serahin aja ke kita-kita,” hibur Jerry, kali ini gentian Aldo yang bengong. Dasar Jerry, pikirannya berubah-ubah, kemarin baru aja dia mau menolak permintaan Husin, nah sekarang?.
“Makasih banyak yah, guys, ” ujar Husin.
“Sama-sama, Sin. That’s what friends are for,” ucap Jerry, ia lalu memamerkan gigi emasnya.
GEDUBRAGGGGG!!!
Aldo jatuh terjerembab ke sandaran kursi.
Sejak kapan Jerry mahir berbahasa Inggris?.

Baca juga Bab 3

25 Februari 2012

My Lovely Author Bab 1 Sindrom Mahasiswa


Kampus UI Fakultas Teknik siang hari itu kembali heboh, lagi-lagi karena sebuah opini yang ditempel di mading kampus. Padahal sudah hampir setiap hari para mahasiswa membaca tulisan itu, namun sepertinya kali ini ada tulisan yang berbeda dari biasanya. Salah seorang mahasiswa Teknik Sipil bernama Abdullah Husin, yang biasa dipanggil Husin berdiri lurus memandangi sebuah nama yang tertempel di mading kampus tanpa berkedip. Ya, nama itu lagi yang selalu setia menghiasi mading kampus, dan hampir setiap hari, tulisan dari nama itu menjadi headline alias fokus pembicaraan mahasiswa lain.


“Ih bagus banget ya, tulisannya, gue jadi ngiri,”
“Kok bisa ya, dia punya pemikiran seluas itu?”
“Rajin banget nulisnya,”
“Abis bersemedi tujuh hari tujuh malam, kali, ya?”
Begitulah, hampir semua mahasiswa tidak ada yang tidak pernah membaca tulisan dari seseorang yang namanya menghiasi mading itu. Tetapi sayangnya, seseorang itu misterius, susah ditebak siapakah penulis opini yang halus namun lugas dan tegas itu karena ia hanya menggunakan nama pena alias nama samaran, Aglaonema Chrisanty. Dari namanya Husin hanya bisa menebak bahwa gadis tersebut penggemar bunga. Seseorang yang membuat Husin penasaran setengah mati. Seseorang yang sebenarnya ada, namun seolah tiada. Ia benar-benar penasaran dengan orang itu. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia selalu ingin tahu tentang seseorang yang namanya selalu tercantum di mading tersebut, seolah tulisan dari seseorang itu merefleksikan isi hatinya yang selalu ingin tahu akan banyak hal, dan seseorang itu telah menjawab semua pertanyaannya. Berulangkali Husin mengagumi seseorang, tetapi baru kali ini yang sangat membekas di hatinya. Saat ini yang masih menjadi pertanyaannya adalah, dimana seseorang yang rajin menulis di mading itu berada? Apakah ia seseorang yang abstrak? Atau barangkali selalu ada menemaninya, namun ia saja yang tidak menyadari keberadaan seseorang itu?.
Kali ini Husin benar-benar penasaran, ia ingin sekali mencari keberadaan gadis misterius yang telah diincarnya sejak setahun lalu. Ia lalu menuju ruang redaksi organisasi majalah kampus. Ia berbelok kanan namun sayang, pintunya tertutup rapat, ruangan itu seperti tak berpenghuni alias kosong. Gagal lagi deh, rencananya untuk menyelidiki siapa gerangan gadis misterius penulis mading itu.
“Cari siapa, Sin?” tanya Aldo, sahabatnya yang tiba-tiba nongol disamping Husin.
“Eh, elo, Do, gue mau nyari pimred majalah kampus, lo liat, gak?”
“Yaaaahhh!!! Lo salah alamat, Sin! Kalo dia mah, bukan jurusan kita, kali….,” Aldo menjelaskan. Husin mengernyit,”Terus dia anak fakultas apa? Bukan anak Sipil? Kok tulisannya bisa masuk sini?” tanya Husin, bingung.
“Anak Teknik juga, tapi Arsitektur, biasa deh anak Arsitek itu pada misterius semua, emang kenapa sih lo nyariin dia?” tanya Aldo.
Husin menggaruk kepala,”Nggak ada…, gue cuma penasaran ama yang nulis di mading itu tuh,” tunjuknya,”lo kenal?”
Aldo menggeleng,”Kagak. Gue gak begitu deket ama anak arsitek,” Aldo menatap ke sekelilingnya,”gue capcus duluan, yah!” jawab Aldo santai, lalu meninggalkan Husin yang masih termangu didepan pintu redaksi majalah kampus. “Hhhhh, gagal lagi deh, rencana gue,” Husin bergumam sambil tertunduk lesu. Padahal sebelumnya ia sudah merencanakan akan membuat si penulis terkejut sekaligus tersenyum bahagia begitu mengetahui bahwa dialah pengagum rahasia penulis tersebut. Tetapi akhirnya semua planning-nya gagal total begitu saja. Husin meneruskan langkahnya dengan gontai, belok kanan menuju lorong sempit kemudian belok kiri dan sampai di ruangan tempat pelajaran mata kuliah selanjutnya, didalam hati ia masih berharap suatu saat nanti ia akan bertemu dengan gadis penulis misterius itu, walaupun hanya didalam mimpi. Setibanya di ruangan, Husin memilih tempat duduk di pojokan belakang, tempat yang Posisi Wuenak untuk tidur. Jerry dan Aldo juga duduk disana. Mereka bertiga selalu bersama selama kurang lebih setahun ini.
Pikiran Husin melayang entah kemana ketika dosennya menerangkan pelajaran. Ia baru saja akan memejamkan mata ketika tiba-tiba dosennya berseru,
“Husin! Kerjakan soal ini!” perintah dosennya tepat disaat Husin berusaha menahan kantuk matanya yang luar biasa. Iapun berdiri dan menuju ke depan kelas. Lama ia terpaku, kemudian shock ketika membaca soal fisika tersebut.
Sebuah bak persegi panjang dengan panjang 2 m dan lebar 0.5 m serta tinggi 1 m. Jika air mengalir dalam bak dengan kelajuan 900 cm3 s-1, berapa kecepatan kenaikan permukaan air bila kedalaman air 25 cm?
Husin menggaruki kepalanya, ia bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, padahal soal tersebut sudah diterangkan berkali-kali tetapi tetap saja pemahaman akan soal tersebut tidak mau menetap di otaknya. Husin menoleh kearah Aldo, namun yang ditanya malah mengangkat bahu. Husin hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
“Loh, kok diem?” tanya dosen Fisika-nya.
“Maaf, Pak, saya tidak tahu rumusnya,” Husin menjawab sambil menundukkan kepala.
“HUUUUUUUUUU……………..!!!!” Husin yang ngeles disambut teriakan mahasiswa lainnya. Dosennya hanya menggelengkan kepala,”Bagaimana mungkin seorang mahasiswa UI seperti ini?” ia menggelengkan kepala lagi,”ya sudah, kamu duduk sana!”
Dengan kepala yang masih tertunduk lesu, Husin kembali ke tempat duduknya,”Lo bantuin gue dikit kenapa!” gerutu Husin pada Aldo yang hanya cekikikan,”Lha, lo kan tau otak gue sekarang odong-odong, hahahaha!!! Tanya ama Jerry, tuh! Si tikus kawannya Tom, Tom and Jerry, hehehehe….,” Aldo mencubit lengan Jerry yang duduk disebelah kanannya.
“Apaan sih lo? Apalagi gue, udah jelas kalkulus gue aja cuma dapat C! Apalagi Fisika ntar! Hahahaha!” Jerry nyengir memperlihatkan gigi emasnya,”By the way, lo kenapa sih, Sin? Ada masalah?” Jerry menoleh kearah Husin yang duduk di pojokan dekat dinding, tepat disebelah kiri Aldo.
Husin menggeleng, lalu tertunduk lesu lagi. Aldo dan Jerry saling berpandangan. Tak biasanya bos mereka seperti ini.
“Hmmmm…, jangan-jangan sindrom jatuh cinta, nih,” celetuk Jerry sambil mengunyah permen karet. Husin yang merasa disindir menoleh kearah Jerry,”Lo bilang apa….????”
“Nggak, gue bilang, biasalah, namanya juga sindrom mahasiswa,” Jerry ngeles, kemudian mencoba mengalihkan perhatian,”Hey, Bapak memperhatikan kalian dari tadi, tuh,” bisiknya pada Aldo dan Husin.
“Ehem!!! Kalian bertiga di belakang sana,” tunjuk dosen mereka yang tampaknya memang memperhatikan mereka bertiga sejak tadi,”apa saja kerja kalian ini? Mau jadi apa kalian kalau begini?”
“Mau jadi insinyur, Pak, “ jawab Husin, santai.
“Silakan you, you and you diam atau pintu terbuka untuk you,”
Kata-kata barusan menyengat seperti aliran listrik tegangan tinggi.
Seketika itu juga otak gank D’ Handsome, nama gank mereka bertiga yang terinspirasi entah dari mana, (tapi menurut mayoritas mahasiswa lain sih, terinspirasi dari tampang mereka yang lumayan cakep), langsung dipenuhi oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Mereka teringat pada 3 idiots yang senasib sepenanggungan dengan mereka. Sayangnya mereka tidak sepintar itu. Husin hanya seorang mahasiswa jebolan SIMAK-UI yang berjuang mengikuti ujian masuk meskipun tanpa pembekalan materi dan dukungan dari kedua orangtuanya sedang bekerja diluar kota. Aldo yang dulunya langganan juara umum di SMA-nya dan mendapat beasiswa, tapi entah mengapa akhir-akhir ini nilainya cenderung menurun. Sedangkan Jerry, yah, ia ngeles bahwa hanya nasib dan takdirlah yang menentukan ia masuk UI. Merekapun memilih diam daripada tidak mendapatkan ilmu apapun hari ini.
Usai pelajaran, Husin dan teman-temannya duduk disalah satu bangku.
“Ini udah yang kelima kalinya kita begini, bro….,”lirih Jerry, “tapi kitanya gak pernah tobat…,”
“Sindrom mahasiswa, guys….,” Husin ikut-ikutan,”tapi masa bodo’ ah, yang penting rencana gue nyariin tuh cewek harus terlaksana!”
Aldo dan Jerry kompakan menatap Husin,”Lo kenapa sih dari tadi mikirin tuh cewek mulu?” tanya Aldo heran.
“Sindrom mahasiswa,” jawab Husin santai, kemudian ia beranjak dari duduknya, berdiri didepan Aldo dan Jerry. Matanya menerawang jauh ke gedung seberang.
Sementara itu Aldo dan Jerry hanya menggaruki kepala,”dasar aneh!” gumam Jerry, yang diikuti anggukan Aldo, seolah mereka bertelepati.
“Gue penasaran aja ama tuh cewek, kok kayaknya dia bisa membaca pikiran gue, yah….?” tanya Husin, tak jelas bertanya pada siapa.
“Lo bisa bantuin gue, gak?” Husin berbalik arah menanyai pendapat kedua sahabatnya, ia tersenyum penuh harap.
“Lo nanyain siapa, Sin?” tanya Jerry menoleh ke kiri dan kanan, lalu menaikkan sebelah alisnya, pura-pura blo’on.
“Ya nanyain elo-elo pade, dong! Masa’ gue nanya bangku,” jelas Husin, agak sebal.
“Hehehehe…,”Jerry memamerkan giginya yang kinclong,”boleh. Bantuin apa nih…?”
Husin tersenyum simpul, matanya menerawang ke langit-langit gedung, lalu kembali kearah mereka berdua,”lo bantuin gue cari info tentang cewek itu, yah? Please….,”
Jerry yang awalnya semangat ’45 kemudian melengos. Aldo menelan ludah kemudian berujar,”iya, deh…, demi kesetiakawanan,” jawabnya, padahal dalam hati Aldo meringis,”aduh, Sin, lo kayak orang gak ada kerjaan aja deh…,”
Husin menatap kedua sahabatnya dengan mata berbinar,”Thank you, guys…., lo-lo pade emang sahabat sejati gue,” Husin menepuk pundak kedua sahabatnya yang kalau saja nggak ada orang lewat, Husin pasti gak mau berhenti menepuk-nepuk dengan kuat banget.
***
“Do, elo beneran serius mau ngebantuin Husin?” tanya Jerry setelah jam pulang,”ini menyangkut hidup mati kita loh,”
Aldo menoleh kearah Jerry dengan tatapan aneh,“Lo lebayyy banget deh, Jer! Ya kita bantuin semampu kita. Itu doang, kok,” Aldo berusaha membuat ekspresinya setenang mungkin,”lagian Husin kan sahabat kita, kalo dia butuh apa-apa ya kita bantuin dong,”
“Tapi itu kan ide gokil, lo yakin, Do?” Jerry menatap Aldo dengan tampang yang dibuat seserius mungkin. Ia sendiri tak yakin Aldo akan sanggup memenuhi permintaan konyol Husin itu.
Aldo mendengus,”kita liat ntar aja deh,” ucap Aldo lalu melenggang ke parkiran motornya.
“Tapi ntar kalo gak sukses gimana? Kalo ternyata kita cuma dikerjain?” tanya Jerry bertubi-tubi, namun yang ditanya malah kabur duluan.
“Liat ntar aja deh, Jer! Gue capcus dulu, yaaaa….!!!” Aldo buru-buru menstarter motornya dan terburu-buru pulang ke rumah.
Jerry berdiri mematung di tengah kampus. Ia hanya menatap kepergian Aldo yang terburu-buru. Sepersekian detik berikutnya, tiba-tiba Husin telah berdiri di dekatnya.
“Hey, kalian kemana aja? Gue nyariin kalian, tau gak!” dari belakang tampak Husin menegur Jerry yang sedang termangu sendirian.
“Eh, elo, Sin…., gue…,”
“Oya, kalian kan udah janji mau bantuin gue…,”potong Husin sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya,”ini nomor ponsel salah seorang anak arsitek. Lo tanya-tanyain aja tentang salah satunya, yah!”
Keringat dingin mengucuri dahi Jerry. Ia tidak biasa dalam hal merayu cewek. Jangankan merayu, mengobrol dengan lawan jenis aja sudah cukup membuat jantungnya dag-dig-dug. Jerry sebenarnya ingin menolak, tetapi ia tidak tega melihat tampang sahabatnya yang memelas.
“Inget, lo nanyain tentang cewek yang di mading itu, ok?” Husin menyerahkan secarik kertas berisi nomor ponsel kepada Jerry. Jerry menerima kertas itu dengan pikiran kosong. Batinnya menolak, ia tidak bisa. Rasanya ia ingin kabur saja, tapi kabur kemana?. Husin menepuk pundaknya lagi,”Ntar kalo sukses kabari gue yah! Makasih, Jer,” Husin tersenyum simpul, lalu ia menuju ke mobilnya. Jerry lagi-lagi terdiam. Ia harus berbuat apa? Ia tak tega membiarkan sahabatnya larut dalam kesedihan, apalagi ia sempat melihat ekspresi gembira Husin.
Sementara itu, Husin memundurkan mobilnya, kemudian memutar berbalik arah, tak lupa ia mengklakson Jerry,”Jer…, thank’s ya….!” serunya dari dalam mobil. Jerry yang pasrah hanya tersenyum kemudian menuju motornya yang diparkir di belakang kampus.
Ia benar-benar tidak bisa. Ingin rasanya ia menolak permintaan Husin, tapi jauh dalam lubuk hatinya Jerry tidak tega. Biarpun kata teman-temannya ia termasuk paling nggak nyambung, tetapi kesetiakawanannya boleh dibilang nomor satu. Akhirnya ia hanya bisa termangu menatap terpaku pada kertas itu. Kertas yang bisa saja dibuangnya bila ia memang tidak berminat membantu Husin, tapi kertas itu tetap dipegangnya.
Jerry menstarter motornya, ia bergegas pulang. Dalam hati ia berjanji akan menghubungi nomor itu sesampainya di rumah, walaupun batinnya menolak.
***
Jerry termenung di kamarnya. Sejenak ia hanya memandangi langit-langit kamar yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. “Udah dua tahun gak dibersihin,”gumamnya tepat ketika tiba-tiba ia teringat akan sesuatu,”nomor itu, ya, gue harus menghubunginya sekarang…,” Jerry meraih Blackberry Dakota-nya, lalu menekan nomor yang tertera di kertas itu.
“Haloo, assalamu’alaikum…?” sahut suara di seberang,” maaf ini siapa, yah?”
Jantung Jerry berdebar, baru kali ini ia berani menghubungi nomor ponsel cewek. Ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Jangankan merayu, menggombal atau apalah namanya, Jerry paling canggung bila diajak ngobrol dengan makhluk yang namanya cewek!.
“Wa…, wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Aglaonema Chrisanty?” tanya Jerry, yang kemudian menepuk jidatnya sendiri,”aduuh! Bego’ banget sih gue….,” lirihnya dalam hati.
Cewek di seberang hanya tersenyum, tentu saja Jerry tidak melihatnya,”Iya, ini gue, Aglaonema Chrisanty. Panggil aja gue Santy,”
Dheg!
Jerry tak mampu berkata apapun selain yang keluar dari mulutnya hanya,”oooh….” Atau “ng….,” atau “anu…..,”
“Anu…, kamu suka…, nulis di mading yah?” lagi-lagi Jerry bertanya hal yang konyol, ia menepuk jidatnya sendiri.
“Iya, kok kamu tau sih? Tapi itu hanya opiniku aja. Aku mengeluarkan uneg-unegku aja, maaf ya, kalau ada pihak yang tersinggung. Aku gak bermaksud begitu, kok,” jelasnya panjang lebar.
“Ng…., nggak apa-apa, santai aja lagi. Aku juga mau kenalan ama kamu aja,” lagi-lagi Jerry menepuk jidatnya, takut salah-salah ngomong. Maklum, ini pertama kalinya ia berinteraksi kepada seorang cewek lewat ponsel.
“Aku juga senang kenalan ama cowok ganteng,” ujar cewek itu.
Jerry berbunga-bunga, tidak biasanya ia dipuji oleh seorang cewek.
“Oooh…,” tidak biasanya Jerry berkeringat dingin. Diluar boleh panas, tapi didalam dingin serasa es, bo!.
“Dari mana kamu tau kalau aku ini ganteng?” Lagi-lagi Jerry menepuk jidatnya. Fatal error, dah!.
“Hahahaha, ya dari suaranya, pasti yang nelepon aku ini cowok cakep,” puji Santy, ia memang paling jago merayu. Tanpa disadari oleh Jerry, ternyata Santy memiliki daya magnet yang luar biasa untuk menarik simpatinya. Ia memiliki inner beauty yang jarang dimiliki cewek lain. Entah mengapa malam itu Santy seakan memesona Jerry. Jadilah malam itu Jerry mengobrol selama lebih kurang satu jam bersama Santy, sampai-sampai ia tak menyadari pulsanya yang hanya tinggal lima ribu dan ia lupa membeli paket menelepon malam. Jerrypun saking asyiknya lupa menanyakan dimanakah gadis itu tinggal dan kapan bisa bertemu dengannya lagi.
Jerry menutup pembicaraan di ponselnya, hatinya senang sekaligus berbunga-bunga. Ia lupa mengecek sisa pulsanya. Setelah menutup pembicaraan dengan Santy, ia teringat untuk menghubungi Husin. Sejenak Jerry berpikir, ia takut pulsanya habis, namun tanpa banyak berkata apapun lagi, Jerry segera menghubungi Husin.
“Halo, Sin, gue ada kabar gembira buat elo!”
“Hmmm, apaan tuh? Gimana, sukses cari nomor hape dia?” tanya Husin sambil mengunyah keripik singkong di sofa ruang keluarganya. Ia sedang menonton acara favoritnya.
“Bukan cuma dapat! Ternyata itu dia orangnya!”
Husin mengernyit, ia mengubah posisi duduknya,”Maksudnya?”
“Iya, nomor hape yang lo kasih itu, ya nomor hapenya, Sin!” ujar Jerry, lugu.
“Terus lo ngomong apa aja? Jangan bilang lo ngomong yang macam-macam!” ancam Husin, cemburu.
Jerry terkekeh,”Ya nggaklah, Sin. Masa’ temen makan temen. Cape deh…,”
“Bagus kalo gitu. Lo nanyain apa aja, Jer? Lo dapat informasi tentang dia?”
Jerry berpikir sejenak,”Ternyata namanya Santy. Gue lupa nanyain alamat rumahnya, tapi dia bilang dia suka makan seafood, gitu deh, terus….,”
Tiiit…tiiit…
Tiba-tiba telepon terputus, dugaan Jerry sebelumnya benar, pulsanya habis. Sementara itu di seberang, Husin sibuk ngedumel,”dasar temen makan temen! Giliran gue lagi butuh aja, diputusin!” sambil terus ngedumel, Husin mencari nama Jerry dan menekan tombol call di ponsel Android-nya.
“Halo, Sin, sorry pulsa gue abis…,”lirih Jerry dengan suara yang dibuat sememelas mungkin.
“Udah, gak apa-apa. Lagian gue yang butuh, kok. Terus gimana?” Husin meminta lanjutan penjelasan dari Jerry yang kali ini sedang tiduran ayam di kamarnya.
“Ya gitu deh…,” jawab Jerry, singkat, padat namun tak jelas.
“Ya gitu deh gimana? Lo sempet minta dia ketemuan, gak?”
“Nggak….,” lirih Jerry lagi,”sorry ya, Sin. Gue lupa…,” Jerry mengubah suaranya sepelan mungkin dengan nada suara yang seolah ingin minta maaf karena menyesal.
Husin mendengus,”Ya udah, besok aja lagi kita cek di kampus. Kalo perlu kita interogasi semua anak arsitek. Ok?”
Jerry tersenyum simpul dan menarik napas lega. Ia tidak jadi dimarahi bosnya. Biasanya nih, kalau Husin udah marah, maka ‘singa’nya akan mengaum, dan keluarlah taring-taringnya yang tajam. Matanya akan memelototi kita seakan ingin menerkam kita habis-habisan (lebayyyy….), tapi begitulah faktanya. Husin ingin segalanya serba perfect, tanpa ada kurang suatu apapun. Tapi kini, demi mencari jati diri cewek yang diincarnya sejak setahun lalu, Husin rela bersabar. Ia tahu bahwa ia harus bersabar, namun tak tahu sampai kapan.
“Ya, makasih ya bos!” ujar Jerry yang akhirnya bisa bernapas lega.
“Sama-sama. Gue mau ngerjain tugas Rekayasa Sipil dulu, ya!” tutup Husin, yang disambut cengar-cengir Jerry,”hah? Ada tugas ya, bos? Halo…, halo…,”
Telepon terputus. Jerry menyesal telah menyia-nyiakan waktu satu jam untuk mengobrol hal yang tidak penting dengan Santy. Harusnya ia fokus, fokus pada tujuannya menghubungi Santy dan ingat ada tugas yang harus ia kerjakan. Ia baru ingat ada tugas yang diberikan dosennya minggu yang lalu dan kini Jerry harus bergulat dengan rumus-rumus Fisika yang lumayan menguras otak.
Jerry termangu di meja belajar. Ia mencoba berkonsentrasi, namun yang ada pikirannya malah buyar. Ia menengadah menatap jaring laba-laba di langit-langit kamarnya, “Ya Allah….., help me, please….!!!!”

Baca juga Bab 2
Baca juga Bab 3

21 Februari 2012

ENDLESS LOVE 3

Aku tidak berhenti menyesali diri, semua ini memang salahku. Selama kuliah aku tidak pernah mencoba menghubungi Latifa, bahkan akun jejaring sosialnya saja aku tidak pernah mau tahu. Selama 4 tahun tidak ada komunikasi, mungkin saja ada pria lain yang telah mengisi hari-harinya.
Ketika aku kembali pun, lagi-lagi aku mengecewakannya. Tapi itu semua diluar kehendakku, jika bukan karena kecelakaan itu, mungkin aku sudah berjumpa dengannya. Tapi sudahlah, sekarang semuanya sudah terlambat. Rasanya tak ada gunanya lagi aku mengharapkannya, biarlah aku buta untuk selamanya, aku tak sanggup melihatnya bersanding dengan orang lain. Rasanya aku sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi. Semakin hari aku hanya bisa termenung, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak mau menerima donor mata, biarlah aku begini selamanya.


“Ada apa, Nak?” tanya Mama yang tiba-tiba mendekatiku. Aku sudah tidak terkejut lagi karena sudah terbiasa dengan keadaan begini. Mama duduk disebelahku, aku dapat merasakannya.
“Sebenarnya ada apa yang terjadi, Nak? Ceritakan sama Mama….,”
Aku menggeleng,”Nggak ada apa-apa kok, Ma…,”
Mama menghela napas,”Mama sangat paham sifat kamu. Biasanya kalau ada apa-apa kamu selalu cerita ke Mama. Tapi sekarang kenapa, sayang…?”
Aku mencoba mengendalikan perasaanku yang tak menentu,”bener nggak ada apa-apa kok, Ma. Navid cuma lagi pengen sendiri aja,”
“Jangan sedih, Nak. Kita sudah mendapatkan donor mata yang tepat, hanya tinggal menunggu operasi….,”
“Tapi Navid gak mau, Ma…,”
Lalu aku tak mendengar apapun selama beberapa menit, ibundaku hanya berujar,”Mama mengerti, Nak. Tapi kamu harus mau, ya?”
Aku hanya menggeleng.
“Mama akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu supaya bisa kembali seperti dulu lagi, supaya kita bisa berkumpul…, seperti dulu,”
Aku hanya diam membisu.

***
Tiga hari kemudian, Husin datang ke rumahku. Tapi aku hanya berdiam diri di kamar. Aku tak ingin menemui siapapun. Aku ingin sendiri.
“Sayang…, ada Husin, tuh. Keluar, dong sayang…..”panggil ibundaku sambil mengetuk pintu.
Aku seperti orang linglung, aku hanya bisa terdiam duduk diatas tempat tidur. Dalam kegelapanku, yang hadir selalu bayangan Latifa. Ya Allah, hamba tahu Latifa sudah menemukan jodohnya, tapi mengapa hamba sampai hari ini masih belum bisa melupakannya? Bantulah hamba melupakan dia dan cinta ini, Ya Allah…., hamba sudah tak sanggup lagi dengan keadaan seperti ini… hamba memang jatuh cinta, tapi untuk apa bila cinta ini hanya menyiksa hamba….
Aku mendengar ibundaku membuka pintu, kemudian beliau duduk disampingku,”Sudahlah, Nak. Ini saatnya kamu melupakan semua ini sejenak, Husin sudah menunggu di ruang tamu,”
Aku tidak tega mendengar suara ibunda yang begitu penuh kasih sayang membujukku. Akhirnya aku menyarankan agar Husin masuk ke kamarku saja. Ibundaku lalu menyuruh Husin menemuiku di kamar.
Husin memasuki kamarku, ia menyapaku dengan ceria,”Hei…, bro! apa kabar nih? Udah mendingan?”
Aku tersenyum kecil,”Mendingan apanya, Sin? Hatiku hancur begini…., tapi sebelumnya makasih banyak ya udah mau menyempatkan diri datang ke Batam,”
“That’s what friends are for, Vid…, hehehehe,”
Husin adalah sahabat yang paling dekat denganku. Sejak SMA hingga sekarang kami saling berkomunikasi, Ia dan aku sama-sama dari Jurusan Teknik Sipil, walaupun kami kuliah di kota yang berbeda.
“Vid, mana sih semangat kamu yang dulu? Aku udah kangen dengan sifat kamu yang dulu, yang penuh percaya diri dan yakin dengan apa yang dilakukan…,” Husin melanjutkan,”ayo, semangat dong, sobat…,”
“Tapi aku ini sudah kehilangan separuh jiwaku, Sin. Kan kamu tahu, sejak SMA dulu aku sudah memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat padanya, aku begitu yakin jika suatu saat nanti, bila waktunya tiba, aku akan mendampingi Latifa, tapi ternyata sekarang apa, Sin? Untuk apa aku memperjuangkan semua ini?”
Husin berusaha menghiburku,”Sabar, bro…, selama ijab kabul belum terucap, masih ada kesempatan, kok, Vid. Makanya, operasi dong, terus temui Latifa yah!”
Mendengar kata-kata Husin barusan bagaikan siraman air es yang menyejukkan hatiku. Secercah harapan kembali muncul di hatiku. Semoga saja ini pertanda baik untukku…
Aku harus semangat lagi. Aku tak boleh seperti ini, aku harus bangkit! Walaupun aku tahu hanya ada kesempatan tipis bagiku, tapi aku mencoba optimis. Aku tersenyum pada Husin,”Thank’s ya, Sin…..,”
“Ini baru Navid yang kukenal, sahabatku yang dulu….,” balas Husin.
Setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja, Husinpun pamit pulang ke Pekanbaru. Ia berdoa mudah-mudahan operasinya berjalan lancar.
“Lho, kok buru-buru, Nak? Nggak menemani Navid operasi dulu? Kata dokter operasinya dimulai tiga hari lagi…,” tanya ibundaku.
“Maaf, Bu, Husin masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Pekanbaru,” kata Husin, lalu iapun pamit pulang.


***
Latifa duduk di sofa ruang keluarganya. Masih terbayang di ingatannya saat-saat pertama ia berkenalan dengan seseorang yang sama-sama menerima penghargaan IT Paper Contest. Ialah pemenang pertama dari kontes itu sedangkan Latifa menempati peringkat tiga. Latifa tidak menyangka bahwa lelaki itu adalah Nabil, pria yang dijodohkan orangtuanya, yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Hatinya masih bimbang meskipun ia telah menerima lamaran Nabil. Ia masih teringat pada Navid. Ia tidak menyangka sekaligus bingung terhadap sikap Navid yang begitu tega menghancurkan harapannya. Latifa berpikiran bahwa janji yang diucapkan Navid dulu hanya bohong belaka. Latifa masih saja memikirkan Navid, ia memikirkan apakah Navid sudah menemukan penggantinya disana? Sehingga untuk memberi kabarpun dia tidak sempat.
Latifa gundah. Sudah banyak airmata yang dikeluarkannya, sudah entah berapa kali ia berharap banyak pada sosok Navid. Harapan yang telah ia tanamkan sejak perpisahan SMA dulu. Ternyata kini harapannya hampa. Sebentar lagi ia akan dipersunting oleh Nabil. Sementara itu, berat badannya kian menurun. Latifa merasa kepalanya pusing, ia memutuskan untuk beristirahat.
Latifa jatuh sakit akibat terlalu memikirkan perasaannya, sehingga membuat kedua orangtuanya cemas.
“Ada apa, Nak? Apa ada lelaki lain yang mengganggu pikiranmu?” tanya ibunya sambil mengusap kepala Latifa.
“Nggak ada, Ma, mungkin Latifa kelelahan aja,” ungkap Latifa, bohong. Ia menahan rasa sakit di hatinya, ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya.
“Jujur saja sama Mama, Mama nggak akan marah, Nak,”
Latifa menggeleng. Cukup sudah ia berharap lebih pada seorang Navid. Selama 4 tahun ini ia hanya menunggu dan menunggu kepastian yang tak jelas. Ia menolak semua pinangan yang datang padanya karena ia berharap pada Navid, sampai akhirnya kedua orangtua Latifa memutuskan perjodohan ini. Sebelum lamaran itupun Latifa memohon agar kedua orangtuanya menunggu hingga enam bulan lagi. Ia tetap menunggu kedatangan Navid, tetapi kini terlambat sudah. Kedua belah pihak keluarga sedang berunding mengenai tanggal pernikahan Latifa dan Nabil.

***
Dua hari kemudian, Husin berkunjung ke rumah Latifa. Latifa yang saat itu sedang membereskan rumah kemudian membuka pintu.
“Assalamu’alaikum,”sapa Husin tersenyum.
“Wa’alaikumsalam, sobat. Apa kabar? Mari masuk,” Latifa mempersilakan Husin yang saat itu memakai kaos oblong berwarna putih dipadu jaket hitam.
“Alhamdulillah baik. Thank you,”
Husin memperhatikan ruang tamu Latifa,”gak ada yang berubah, ya. Masih seperti yang dulu, menjelang perpisahan SMA kita ngadain acara bakar ayam disini,”
Latifa tersenyum kecil sambil melirik ke ruang keluarga. Ada ibunya yang sedang asyik menonton televisi,”wah, gak nyangka ternyata kamu masih ingat. Kirain udah lupa, itu kan udah lama banget, Sin,”
Latifa benar-benar tidak bisa melupakan kenangan indah masa sekolah dulu. Ya, waktu itu adalah tiga hari sebelum akhirnya mereka benar-benar berpisah untuk melanjutkan pendidikan. Navid, Husin, dan beberapa orang teman sekelasnya datang berkunjung ke rumah untuk mengadakan acara pesta ayam bakar.
“Ya dong, mana mungkin aku amnesia parsial. Oya, Fa, sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan…,”
Syifa menyimak, sesaat kemudian ia teringat belum memberikan minuman untuk Husin. Latifa mengalihkan pembicaraan,”Oya, aku lupa sesuatu. Aku ke dapur sebentar, ya,”
Beberapa menit kemudian Latifa kembali membawakan segelas minuman untuk Husin. Husin lalu melanjutkan pembicaraannya,”Ng…, maaf kalau sebelumnya kamu menilai aku terlalu ikut campur urusan kamu, Fa. Tapi ini penting. Ini menyangkut Navid,”Husin menegaskan suaranya ketika menyebut nama Navid.
Latifa menatap Husin dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Sebenarnya ia ingin menghapus nama Navid dari pikiran dan hatinya, tetapi ia merasa sulit. Harapan itu kembali timbul ketika Latifa mendengar penjelasan Husin barusan.
“Ada apa dengan Navid, Sin?” Latifa memelankan suaranya ketika menyebut nama itu. Ada perasaan cemas sekaligus marah didalam hatinya. Cemas karena takut terjadi apa-apa dengan Navid, sekaligus marah karena sudah beberapa bulan ini Navid tidak lagi menghubunginya.
“Aku tahu mungkin kamu marah, karena Navid sudah begitu lama tidak menghubungi kamu lagi…,” Husin terdiam sejenak kemudian melanjutkan,”tapi ini demi kebaikan, Fa. Navid hanya tidak ingin membuatmu sedih jika kamu tahu bahwa sebenarnya dia tidak bisa melihat,”
Latifa terhenyak. Ia terpaku di tempat duduknya, kemudian bertanya,”Tapi bagaimana…?”
“Navid kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju kesini, Fa. Aku sendiri tidak tahu bagaimana persisnya, tetapi faktanya, mobil Navid menabrak tiang lalu terbalik,”
“Astaghfirullah,” gumam Latifa dalam hati. Kini ia juga merasa bersalah pada Navid, seharusnya ia jangan berpikiran negatif dulu, seharusnya ia menjenguk Navid dan memahami kondisinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Sampaikan permintaan maafku pada Navid,” ucap Latifa kemudian.
Husin mengangguk,”Ok. Tapi nggak cuma itu, Fa. Kamu sendiri tahu kan, bagaimana perasaan Navid ke kamu? Dia pernah bercerita bahwa dia akan melamarmu dengan membawa kedua orangtuanya, sebelum kecelakaan itu terjadi,”
Latifa tertunduk. Ia harus berkata apa? Di satu sisi ia memiliki perasaan yang sama dengan Navid, tetapi ia juga telah menerima pinangan Nabil. Latifa tidak ingin mengecewakan keduanya.
Husin melanjutkan,”Navid nyaris putus asa dan gak mau mengoperasi matanya, Fa. Dia minder karena takut kamu tidak mau menerima dia nantinya. Tapi setelah kujelaskan, akhirnya dia mau juga. Di sangat mencintaimu karena Allah, Fa….,”
Latifa tertunduk.
“Soal gimananya nanti, itu terserah kamu, Fa. Kita sudah sama-sama dewasa, tentu kita juga pandai menentukan sikap,”
Tanpa disadari oleh mereka, ternyata Nabil telah berdiri didekat jendela dan tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka...
“Maaf, Sin. Aku rasa semua itu tidak akan mungkin. Aku sudah menerima pinangan Nabil. Mungkin Navid bukan jodohku…,” ujar Latifa dengan suara yang menahan rasa sedih.
Kata-kata yang diucapkannya barusan seperti hujan es didalam hatinya. Tegas, tetapi juga lembut dan menyadarkan Latifa tentang pentingnya mengambil sikap.
Nabil memasuki rumah Latifa lewat pintu samping yang langsung menuju ruang keluarga. Ibu Latifa menyambut Nabil dengan hangat. Kemudian Nabil diajak ibu Latifa menuju ruang tamu.
“Assalamu’alaikum, eh, ada tamu, ya?” sapa Nabil mencoba mencairkan suasana.
“Wa’alaikumsalam, Mas Nabil. Kenalin, Ini Husin, teman Latifa SMA,” ujar Latifa. Husin dan Nabilpun berjabat tangan.
“Husin, ini Nabil, calon suami Latifa,” ujar ibu Latifa.
Beberapa saat kemudian, pembicaraanpun selesai. Husinpun pamit pulang, yang disusul oleh Nabil.
“Sin…,” panggil Nabil, yang membuat Husin menoleh kearahnya.
"Boleh saya minta waktu untuk bicara denganmu?” tanya Nabil, Husin bertanya-tanya didalam hati.
“Boleh…, besok saya ada waktu luang,” jawab Husin.
“Ok. Gimana kalau besok kita bertemu di Solaria Ciputra?”
  Husin menyanggupi sambil bertanya-tanya didalam hati. Mungkinkah Nabil salah sangka padanya?
***
Mal Ciputra.
Husin duduk menunggu didekat jendela Solaria. Setelah lima menit menunggu, akhirnya Nabil datang.
“Sebenarnya ada apa, Bil? Maaf saya tidak bermaksud untuk mengganggu hubunganmu dan Latifa…,”
Nabil tersenyum,”Gak apa-apa, Sin. Aku hanya ingin tahu. Sebenarnya kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan Latifa. Aku mendengar nama Navid…., siapa dia sebenarnya, Sin?”
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Husin menceritakan semuanya kepada Nabil. Nabil sendiri mendengarkan Husin dengan seksama. Iapun akhirnya memutuskan sesuatu.

***
Seminggu kemudian….
Nabil merenung di kamarnya. Masih terbayang jelas di ingatannya saat ia dan Latifa bertemu untuk pertama kali di ajang IT Contest. Saat menerima penghargaan, Nabil berdiri tepat disamping Latifa. Bila boleh jujur, Nabil sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Latifa karena ia anggun dan sholehah. Iapun bertambah bahagia saat mengetahui seseorang yang dijodohkan oleh orangtuanya itu ternyata adalah Latifa.
Tetapi, setelah mendengarkan pembicaraan tadi, Nabil jadi berpikir. Sepertinya Latifa mencintai Navid, begitu juga sebaliknya. Nabil tidak ingin memisahkan cinta Latifa dan Navid. Akhirnya Nabil mengambil secarik kertas, ia menuliskan surat yang ditujukan untuk Latifa.

Assalamu’alaikum wr.,wb,
Nur Latifa yang memancarkan cahaya kelembutan. Sengaja aku titipkan surat ini lewat ibu, karena aku tidak memiliki cukup waktu untuk menemuimu disebabkan waktu pekerjaanku yang sangat mendesak.
Melalui surat ini, aku ingin memberitahumu, Alhamdulillah aku diterima bekerja di sebuah perusahaan IT di Singapura. Aku menandatangani kontrak yang mengharuskan aku untuk tidak menikah selama dua tahun ini. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membebaskanmu memilih siapa yang terbaik. Ikatan kita sekarang ini bukan ikatan lamaran lagi, Fa. Jadi, jika kamu tidak sanggup menunggu dan ada seseorang yang lebih baik lagi dari aku, kamu boleh memilih seseorang tersebut. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, Fa. Tetapi ini demi masa depanku.
Wassalam,

Nabil Athaila


Nabil lalu menghubungi Navid. Ia mendapat nomor ponsel Navid dari Husin. Sesaat kemudian, Navid yang telah mendapat donor mata dan selesai dioperasi kemudian mengangkat ponselnya.
“Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan Navid?”
“Wa’alaikumsalam. Maaf, ini dari siapa, ya?” tanya Navid, dari nada suaranya terdengar heran.
“Ini Nabil….,”
Navid terperanjat. Ia masih ingat cerita Husin beberapa waktu lalu. Nabil adalah pria yang telah melamar Latifa. Mau apa dia? Ia sudah menjauhi Latifa, lalu sekarang?
“Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya sudah tidak ada ikatan apa-apa dengan Latifa, karena saya akan melaksanakan kontrak kerja di Singapura selama dua tahun. Saya tahu, saya telah mendengar cerita tentang kamu dan Latifa dari Husin. Maaf jika selama ini saya telah menyebabkan kalian menderita, saya tahu Latifa sangat mencintaimu dan saya minta padamu, Bil, jangan sakiti Latifa. Segera lamarlah dia. Saya ikhlas asalkan kalian berdua bahagia…,”
Navid terdiam, ia bertanya-tanya, apa benar yang disampaikan Nabil barusan?
Sambil menahan perih di hatinya, Nabil melanjutkan,“Saya yakin kamu dapat menjaga dan menyayangi Latifa dengan baik. Assalamu’alaikum,”
Nabil menutup pembicaraan di ponselnya dengan perasaan yang tak menentu, begitu pula dengan Navid.

***
Navid memutuskan untuk ke Pekanbaru. Ia menemui Latifa di rumahnya, dan memberitahu kepada kedua orangtua Latifa bahwa minggu depan ia akan datang kembali bersama kedua orangtua dan kerabat dekatnya untuk melamar Latifa.
***
Setelah menunggu sekian lama, impianku untuk melamar Latifa tercapai juga walaupun aku harus nelalui perjuangan yang begitu panjang. Akhirnya cincin emas putih itu dipasangkan di jemari Latifa, oleh ibundaku. Setelah ditentukan tanggalnya, akhirnya aku dan Latifa mengikat hubungan kami dengan pernikahan tidak lama setelah lamaran itu. Subhanallah, Allah telah mempertemukan kami kembali. Ternyata cinta sejati itu datang hanya sekali, selalu tersimpan didalam hati dan akan dibawa sampai mati. Insya Allah, cinta kami akan abadi sampai ajal menjelang. Aamiiiiin…..
^_^ ^o^ ^_^







08 Februari 2012

ENDLESS LOVE 2

Kini, tepat sebulan setelah nama belakangku resmi menyandang gelar ST, alias Sarjana Teknik. Hari ini aku sudah kembali ke Pekanbaru. Aku akan memenuhi janjiku empat tahun lalu. Aku akan datang ke rumahnya bersama kedua orangtuaku. Walaupun tidak datang dengan kuda putih, tapi cincin emas putih ini cukup sebagai tanda aku serius padanya, aku ingin menemaninya hingga ajalku tiba. Masih terngiang di telingaku kata-katanya dulu,”Cinta sejati itu bukan milik mereka yang hanya ingin status dan bermain-main dalam cinta. Cinta sejati hanya milik mereka yang mampu menahan perasaannya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran dan ia mampu menjaga cintanya hingga waktunya tiba”.
Ya, kupikir inilah saatnya, waktunya telah tiba. Sebelum ke rumahnya aku membaca basmalah, lalu kustarter mobil Honda City silver-ku, lalu menuju ke rumahnya. Aku berdo’a mudah-mudahan perjalanan cinta yang kulalui ini direstui Allah swt…….
“DHUK!”
“Aduh!” aku meraba kepala bagian belakangku yang sakit. Spontan saja aku menoleh ke belakang, tampak keponakanku yang berumur 5 tahun sedang asyik bermain bola, Lagi-lagi ternyata ini hanya lamunanku saja, kupikir ini adalah kenyataan….
Eh, Oom, maaf yah, hehehe…., sakit yah, Om?” tanya keponakanku sambil nyengir. Aku menggeleng,”gak kok. Lanjutin aja mainnya,” ujarku tersenyum kemudian masuk ke kamar, aku mempersiapkan diri untuk datang ke rumahnya. Setelah empat tahun tak berjumpa, kupikir inilah saatnya memberi kejutan untuk Latifa, aku akan datang ke rumahnya. Aku sudah mendapatkan nomor ponselnya dari Husin, teman karibku saat SMA. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku menekan nomor ponselnya, lalu mencoba menghubunginya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa suara di seberang sana. Suara itu, mengingatkanku pada masa-masa indah dulu. Andai saja ia mengerti perasaanku selama ini….
“Wa…, wa’alaikum salam, apa kabar, Fa? Ini Navid,” balasku.
Latifa terdiam sejenak, mungkin ia mencoba mengingat diriku,”Oh, Navid…, Alhamdulillah aku baik,”
Aku memikirkan kata-kata yang tepat, mencoba menenangkan jantung ini yang berdetak kencang,”Ng…, bb…, boleh aku bersilaturahmi ke rumahmu, Fa? Anggap aja reunian…,”
“Ooooh…,” Latifa melanjutkan,”boleh, kapan?” tanyanya lembut.
Aku menggaruk kepala,”Ng…, kalo ntar sore, boleh nggak?” tanyaku lagi.
“Boleh,” jawab Latifa. Perasaanku langsung tak menentu, aku hanya berharap ia juga merasakan hal yang sama. Batinku langsung seakan bersorak gembira, kuharap penantianku telah usai. Tapi kini saatnya silaturahmi dulu, aku berdo’a mudah-mudahan semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Saat keluar kamar, kakakku bertanya,”mau kemana, Vid? Tadi baru aja pergi, kok mau pergi lagi?”
“Mau ke rumah temen, Kak. Bentar aja, abis itu pulang lagi, kok,”
Kakakku tampaknya berat mengizinkan,”tapi sebentar aja, ya? Cepat pulang, ya. Kakak kan masih kangen…,”
Kakakku mulai agak aneh dari biasanya,”iya, abis itu Navid pulang, kok. Navid pergi dulu ya, Kak. Assalamu’alaikum,” jawabku santai, lalu bergegas ke garasi, mengeluarkan mobil.
“Wa’alaikumsalam. Cepet pulang, yah, Vid!” teriak kakakku dari dalam ketika aku sudah sampai di jalanan depan rumah. Aku menjawab dengan klakson mobil., lalu menuju rumahnya, dia yang sudah kunanti selama ini. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana wajahnya setelah sekian tahun ini, walaupun mungkin tidak seperti dulu, namun kuharap hatinya masih selembut dulu. Kuharap ia masih menyambutku sehangat persahabatan kami di masa sekolah. Bila boleh jujur, aku rindu tatapan mata teduhnya serta senyumannya yang manis. Aku ingin ia mengetahui semuanya yang ada di hatiku. Aku tak menyadari ada pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan secara mendadak di depanku. Aku kaget, lalu aku banting stir ke kanan, namun sayang, terlalu jauh hingga naik ke trotoar,. mobilku menabrak tiang listrik, kemudian terbalik. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi…….



Latifa duduk di ruang tamu rumahnya. Sesekali ia melirik jam, ini sudah jam 5 sore, tapi seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang. Orang yang selama beberapa tahun ini selalu hadir di dalam mimpinya. Ia memiliki perasaan ‘itu’, tapi Latifa tidak pernah mengakuinya secara langsung, ia hanya memendam perasaannya didalam hati. Panggilan dari kedua orangtuanya untuk mengingatkannya bahwa hari sudah Maghrib membuat ia kaget, tak terasa hari sudah beranjak malam. Latifa kesal pada Navid. Apakah Navid hanya mempermainkan perasaannya saja? Apakah ia hanya bercanda?. Latifa tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Latifa akhirnya menunaikan sholat Maghrib, sambil memohon kepada Allah, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Navid, walaupun di sudut hatinya kesal karena Navid tidak memenuhi janjinya.
***
Klakson di mobil itu terus berbunyi. Navid tidak sadarkan diri setelah mobilnya menabrak tiang listrik dan terbalik. Orang-orang yang menyadari ada kejadian yang tidak beres tersebut langsung melarikan Navid ke rumah sakit terdekat.
Navid dilarikan ke UGD. Sementara itu, kakaknya ditelepon oleh pihak rumah sakit. Kakaknya yang resah menunggu buru-buru mengangkat telepon tersebut,”maaf, apakah ini rumah Navid?” tanya seseorang di seberang sana.
“I…, iya, maaf, ini dari siapa, ya?” tanya kakaknya, dengan jantung yang berdebar, takut terjadi apa-apa dengan adik kesayangannya.
“Kami dari RS Ibnu Sina, memberitahukan bahwa Navid dalam keadaan kritis sekarang di UGD,”
Kakaknya terhenyak diatas kursi,”Astaghfirullah…., apa yang terjadi dengan adik saya?”
“Adik Anda kecelakaan,”
Kakak Navid terdiam, butiran bening membasahi pipinya, ia berusaha menahan perasaannya. Feelingnya tadi benar, ia tidak mengizinkan Navid pergi tadi sore, karena ada perasaan tak enak yang berkecamuk di hatinya. Iapun bergegas ke rumah sakit bersama suaminya, lalu ia menghubungi orangtuanya di Batam.
***
Beberapa hari kemudian…..
“Fa, Papa dan Mama mau ngomong sebentar,” ujar Papa Latifa, ketika Latifa baru saja selesai sholat Isya
“Iya, ada apa, Pa?” Latifa duduk didekat kedua orangtuanya, yang wajahnya tampak serius.
“Papa dan Mama berencana akan mengenalkan kamu dengan Nabil…,”
Latifa terhenyak,”Nabil…, siapa itu, Pa?” tanyanya hati-hati.
“Nabil itu adalah anak dari sahabat Mama kamu, dulu Mama dan sahabat Mama pernah janjian, bila anak mereka sepasang, akan dijodohkan,”
Latifa menunduk, ia berujar pada mamanya dengan hati-hati,”tapi bila ada pria lain yang melamar Latifa, gimana, Pa?”
Papa Latifa meletakkan kacamata yang dipakainya keatas meja,”ya itu terserah kamu. Papa dan Mama hanya bisa berencana. Selanjutnya takdir Allah-lah yang menentukan,”jelasnya.
Latifa tersenyum kecil, didalam hati ia berharap sekali Navid-lah yang melamarnya.
“Kenapa termenung, sayang? Kamu gak suka dijodohkan begini?” tanya mamanya setelah melihat wajah putri kesayangannya.
Latifa mencoba tersenyum,”Nggak ada apa-apa kok, Ma. Iya, Latifa akan terima perjodohan itu bila sampai dalam waktu enam bulan ini belum ada yang melamar Latifa,”
Kedua orangtuanya tersenyum, itulah yang diharapkan kedua orangtuanya.

***

Navid tak kunjung membuka matanya. Sudah seminggu ini ia koma, suara yang ada hanya alat pemantau detak jantung yang terletak di sebelah kanannya. Sudah seminggu ini pula Kakaknya dan kedua orangtuanya yang baru tiba dari Batam menemaninya di RS itu.
“Pa, bagaimana ini? Navid nampaknya tidak menunjukkan perkembangan apapun,” ujar ibunda Navid.
“Kalau begitu kita bawa saja ke Singapore, kalau dalam beberapa hari ini belum ada tanda-tanda Navid siuman,”
Akhirnya orangtua Navid memutuskan untuk membawanya berobat ke Singapura.
Dan akhirnya sebulan lebih telah berlalu. Tepat di hari ke-35 setelah koma, Navid membuka matanya untuk pertama kali. Orangtuanya merasa bahagia ketika melihat tangan anaknya bergerak pelan, kemudian membuka mata.
“Ma…, sekarang Navid dimana? Udah jam berapa, Ma? Kenapa semuanya gelap?” tanya Navid.
Kedua orangtuanya saling pandang, kemudian ibundanya berujar,”Kamu lagi di rumah sakit, sayang. Sekarang jam sebelas siang,”
Navid mulai menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia mulai cemas,”Navid kenapa, Ma? Navid gak bisa lihat apa-apa,” Navid terisak, ia mencoba menggapai tangan kedua orangtuanya.
“Sayang, tenang, Nak, mungkin ini hanya trauma karena sudah sebulan ini kamu koma,” ibundanya berusaha menenangkan. Sementara itu, Papa Navid keluar diam-diam untuk memanggil dokter, beliau tidak tega melihat anak kesayangannya bersedih.
Beberapa saat kemudian Dokter datang, lalu memeriksa Navid,”Ibu, Bapak, saya ingin berbicara sebentar,” ujar dokter itu, sambil mengajak kedua orangtua Navid menuju ruangan dokter.
“Begini, Pak, akibat benturan yang sangat kuat saat kecelakaan itu, menyebabkan kornea mata Navid terluka. Jika dalam waktu sebulan ini mata Navid tidak ada perkembangan, jalan satu-astunya adalah operasi mata, kita harus mencari donor mata,”
Bagaikan petir di siang hari, kedua orangtua Navid terkejut. Mereka tak tega memberitahu hal ini kepada Navid. Akan tetapi, mau tidak mau dan cepat atau lambat Navid harus segera diberitahu. Ibundanya lalu masuk ke ruangan tempat Navid dirawat, mencoba mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan kepada putranya agar tidak terluka. Perlahan ibunya membuka pintu ruang perawatan, lalu menghampiri Navid perlahan.
“Sayang, ini Mama, Nak….,”
“Navid kenapa, Ma?” tanya Navid, ia tak sabar menunggu penjelasan dari ibunya,”kenapa Navid begini?”
Sambil menahan isak tangisnya, ibunda Navid menjelaskan,”Untuk beberapa bulan ini, kamu mungkin belum dapat melihat….,” dengan suara bergetar ibunda Navid melanjutkan,”sampai ada donor untuk matamu, Nak….,”
Navid tertunduk sedih. Tak mungkin ia memberitahu Latifa dalam kondisi seperti ini. Ia takut Latifa akan menjauh darinya. Navid hanya bisa pasrah menunggu sampai ada donor untuk matanya.
***
Dua bulan kemudian…
Navid sudah diizinkan pulang sejak dua minggu yang lalu. Sambil menunggu donor mata yang cocok, Navid dibawa pulang oleh kedua orangtuanya ke Batam, karena kedua orangtuanya bertugas disana.
Sementara itu, Latifa dalam keadaan bimbang. Apakah ia harus menerima perjodohan orangtuanya, atau menunggu Navid yang sekarang entah berada dimana karena sampai hari ini Navid belum juga memberitahu akan keberadaannya. Di keheningan malam ini, Latifa ternbangun dari tidurnya, lalu kekamar mandi untuk berwudhu’. Ia lalu sholat istikhoroh, mencurahkan segala isi hatinya kepada Sang Pemilik Cinta. Ia ingin diberi petunjuk, apakah ia harus menerima perjodohan ini, atau menunggu Navid yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya, karena nomor ponselnya selalu tidak aktif. Sebagai seorang wanita ia hanya bisa berserah diri kepada Allah, ia yakin setelah sholat ini ia akan diberi petunjuk oleh Allah, jalan mana yang terbaik untuk dirinya. Setelah sholat, iapun tertidur.
***

Enam bulan kemudian…
Aku duduk di sofa ruang keluarga, sambil mengingat kembali rencananaku untuk meminang Latifa.
“Apakah aku harus memberitahu keadaanku sebenarnya? Aku takut, aku tak berani, aku takut Latifa tidak mau menerima kenyataan bahwa aku seperti ini…, tapi aku juga takut kalau aku tidak memberitahu, Latifa keburu dilamar orang lain….,”
Akhirnya aku meminta tolong ibundaku untuk menghubungi Husin, sahabat SMA ku di Pekanbaru. Alangkah kagetnya aku mendengar berita bahwa Latifa sudah menerima pinangan anak sahabat ibundanya. Betapa hancurnya hatiku, pujaan hati yang sekian tahun kunantikan ternyata sudah dilamar pria lain. Aku hanya bisa mengingat masa-masa SMA dulu, rasanya semua itu tak mungkin terjadi lagi, ”Ini semua salahku. Seandainya aku memberitahu keadaanku sejak dulu, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin bisa kembali kemasa lalu…,”



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites