Fast Blinking Hello Kitty

15 Februari 2015

Love and Love (Again)

Haiiii..., sobat blogger semuanya. Maaf ya, Tia baru posting lagi. Kayaknya blog ini udah kangen banget ama empunya, hehehe... Well, maklum yah, pengaruh hormon berlebih pada bumil. Alhamdulillah cadebay di perut udah menginjak usia enam bulan. Kalo malam-malam berasa ada yang grasak grusuk gitu deh, dedeknya lapar kali, ya?.
Okay, tema kali ini adalah galau antara pacaran dan ta’aruf..., eh, nggak ding. Gak ada kata galau. Hari ini Tia akan membahas mengenai studi kaji perbandingan pacaran dan ta’aruf ditinjau dari segi perspektif (kayak judul tesis aja).
Dulunya, Tia juga sering bertanya-tanya dalam hati : ’Kenapa ya, Islam melarang pacaran? Trus, kalo gak pacaran, kita jadi gak kenal kepribadian calon, dong? Trus, kalo ternyata dianya gak baik, gimana? Rugi dong bertahun-tahun pacaran....?
Nah, disini kuncinya. Pertama kita bahas mengenai ta’aruf dulu. Ta’aruf adalah (menurut mbah google) proses perjodohan menurut cara islam. Untuk lebih lengkapnya lagi, tanya aja ke penulis buku ’Ta’aruf, Proses Perjodohan Menurut Syar’i Islam’ karya Layla Hana-penerbitnya ’Mizania’. Antara laki-laki dan wanita gak ada istilahnya ’berdua-duaan’, karena sesungguhnya jika hanya berduaan dengan non mahram, maka pihak ketiganya adalah syaitthonirrojim.
Tapi...., kalo lagi berduaan naik becak, yang ketiganya kan si abang becak? Eh...., itu lain lagi, itu bukan pihak ketiga namanya. Itu namanya kita membantu si abang becak mencari nafkah. Alangkah lebih indah bila kita berduaan naik becak dengan suami kita lho, bukan dengan pacar, sip?.
Trus, apa yang harus dilakukan sebagai pria sejati? Kan kalo gak pacaran, gak macho gitu?.
Justru kesetiaan dan keseriusan seorang cowok diukur dan dinili dari komitmennya. Bagaimana komitmennya untuk melamar dirimu? Bagaimana sikap dan kepribadiannya kepada wanita, khususnya kepada ibunya?. So, bagi yang (ngerasa) cowok, renungkanlah. Bila kamu merasa tertarik pada seorang wanita (akhwat), apakah kamu benar-benar serius atau hanya sekedar ingin menambah daftar pacar alias having fun? Kalo hanya ingin having fun, sebaiknya gak usah, karena wanita akan lebih menghargai lelaki yang memiliki komitmen, tanggung jawab dan keseriusan.
Trus, gimana cara mengetahui kepribadian calon? Disinilah letak istimewanya ta’aruf dibanding pacaran. Kalau pacaran, kita mengenal calon hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Ya iyalah yang namanya jatuh cinta,semuanya akan terasa indah. Ibarat tahi kucing akan jadi berasa alpokat, bau gas pun jadi beraroma stroberi. Kita jadi gak objektif, kan, dalam menilai calon kita sendiri? Ujung-ujungnya yang ada kita menyesal begitu kita tahu si ’ayank honey bunny sweety’ ada kekurangannya yang sebenarnya gak bisa kita terima.
Sementara ta’aruf, kita dituntut untuk mencari tahu kepribadian calon secara objektif, bukan subjektif. Objektif dalam hal ini, kita diizinkan mencari tahu lebih karakter calon pasangan lewat bertanya kepada ’yang lebih mengenal banget’ karakter calon kita. Carilah dan tanyakan pendapat ke mereka yang objektif, misalnya sahabatnya, tetangganya, dan lain-lain. Jadi, kita bisa memahami sifat dan karakter calon pasangan kita.
Ketika sudah menikah, tepatnya pas baru-baru aja jadi pengantin baru (hehehe...), akan ada rasa ’sesuatu’. Bahkan Tia aja ngalamin nih rasa ’sesuatu’ itu, gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Kalo pacaran kan, rasa yang awalnya ’sesuatu’ itu bisa aja berubah jadi ’biasa-biasa aja’, malahan ’nothing special’. Jadi gak berasa pengantin baru, deh...
So, pilih mana nih, pacaran or ta’aruf? It’s up to you, now ;)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites