Haiiii..., sobat blogger semuanya. Maaf ya, Tia baru posting lagi. Kayaknya
blog ini udah kangen banget ama empunya, hehehe... Well, maklum yah, pengaruh
hormon berlebih pada bumil. Alhamdulillah cadebay di perut udah menginjak usia
enam bulan. Kalo malam-malam berasa ada yang grasak grusuk gitu deh, dedeknya
lapar kali, ya?.
Okay, tema kali ini adalah galau antara pacaran dan ta’aruf..., eh, nggak
ding. Gak ada kata galau. Hari ini Tia akan membahas mengenai studi kaji
perbandingan pacaran dan ta’aruf ditinjau dari segi perspektif (kayak judul
tesis aja).
Dulunya, Tia juga sering bertanya-tanya dalam hati : ’Kenapa ya, Islam
melarang pacaran? Trus, kalo gak pacaran, kita jadi gak kenal kepribadian calon,
dong? Trus, kalo ternyata dianya gak baik, gimana? Rugi dong bertahun-tahun
pacaran....?
Nah, disini kuncinya. Pertama kita bahas mengenai ta’aruf dulu. Ta’aruf
adalah (menurut mbah google) proses perjodohan menurut cara islam. Untuk lebih
lengkapnya lagi, tanya aja ke penulis buku ’Ta’aruf, Proses Perjodohan Menurut
Syar’i Islam’ karya Layla Hana-penerbitnya ’Mizania’. Antara laki-laki dan
wanita gak ada istilahnya ’berdua-duaan’, karena sesungguhnya jika hanya
berduaan dengan non mahram, maka pihak ketiganya adalah syaitthonirrojim.
Tapi...., kalo lagi berduaan naik becak, yang ketiganya kan si abang becak?
Eh...., itu lain lagi, itu bukan pihak ketiga namanya. Itu namanya kita membantu
si abang becak mencari nafkah. Alangkah lebih indah bila kita berduaan naik
becak dengan suami kita lho, bukan dengan pacar, sip?.
Trus, apa yang harus dilakukan sebagai pria sejati? Kan kalo gak pacaran, gak
macho gitu?.
Justru kesetiaan dan keseriusan seorang cowok diukur dan dinili dari
komitmennya. Bagaimana komitmennya untuk melamar dirimu? Bagaimana sikap dan
kepribadiannya kepada wanita, khususnya kepada ibunya?. So, bagi yang (ngerasa)
cowok, renungkanlah. Bila kamu merasa tertarik pada seorang wanita (akhwat),
apakah kamu benar-benar serius atau hanya sekedar ingin menambah daftar pacar
alias having fun? Kalo hanya ingin having fun, sebaiknya gak usah, karena wanita
akan lebih menghargai lelaki yang memiliki komitmen, tanggung jawab dan
keseriusan.
Trus, gimana cara mengetahui kepribadian calon? Disinilah letak istimewanya
ta’aruf dibanding pacaran. Kalau pacaran, kita mengenal calon hanya berdasarkan
sudut pandang kita sendiri. Ya iyalah yang namanya jatuh cinta,semuanya akan
terasa indah. Ibarat tahi kucing akan jadi berasa alpokat, bau gas pun jadi
beraroma stroberi. Kita jadi gak objektif, kan, dalam menilai calon kita
sendiri? Ujung-ujungnya yang ada kita menyesal begitu kita tahu si ’ayank honey
bunny sweety’ ada kekurangannya yang sebenarnya gak bisa kita terima.
Sementara ta’aruf, kita dituntut untuk mencari tahu kepribadian calon secara
objektif, bukan subjektif. Objektif dalam hal ini, kita diizinkan mencari tahu
lebih karakter calon pasangan lewat bertanya kepada ’yang lebih mengenal banget’
karakter calon kita. Carilah dan tanyakan pendapat ke mereka yang objektif,
misalnya sahabatnya, tetangganya, dan lain-lain. Jadi, kita bisa memahami sifat
dan karakter calon pasangan kita.
Ketika sudah menikah, tepatnya pas baru-baru aja jadi pengantin baru
(hehehe...), akan ada rasa ’sesuatu’. Bahkan Tia aja ngalamin nih rasa ’sesuatu’
itu, gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Kalo pacaran kan, rasa yang awalnya
’sesuatu’ itu bisa aja berubah jadi ’biasa-biasa aja’, malahan ’nothing
special’. Jadi gak berasa pengantin baru, deh...
So, pilih mana nih, pacaran or ta’aruf? It’s up to you, now ;)







0 komentar:
Posting Komentar