Syifa diterima bekerja di sebuah perusahaan desain interior ternama di Jakarta. Mengingat IPK nya yang cumlaude dan berbagai prestasi yang diraihnya selama masih menjadi mahasiswa, membuat perusahaan interior tersebut menerima Syifa melalui prosedur yang tidak begitu sulit. Saking asyiknya bekerja, Syifa sampai melupakan rutinitasnya meminum obat.
“Astaghfirullah!” Syifa memegangi dada kirinya, nyeri itu datang lagi. Napasnya tersengal dan persendiannya pun ikut terasa nyeri. Syifa pun baru ingat apa yang terjadi pada dirinya, namun tak mungkin ia kembali pulang ke rumah hanya untuk mengambil obatnya yang tertinggal. Sementara itu, dadanya terasa semakin sakit dan napasnya sesak. Syifa yang tak kuat akhirnya jatuh pingsan.
Beberapa pegawai yang melihat Syifa langsung melarikannya ke rumah sakit. Hari itu juga ia dirawat di ICU.
Pihak rumah sakit segera menghubungi Nenek Syifa. Kedua orangtua Syifa yang dihubungi dan khawatir akan keadaan putrinya, langsung menyusul ke Indonesia dan tiba di Jakarta pada malam hari, disaat kedatangan pesawat terakhir.
Husin tak dapat tidur malam ini, entah mengapa sejak sore tadi ia merasa tidak nyaman. Ia terus teringat pada Syifa, ia takut dan cemas bila terjadi sesuatu terhadap penulis yang dicintainya, yang menyadarkannya tentang pentingnya keikhlasan dan kesabaran. Husin membentangkan sajadahnya, malam ini ia ingin mencurahkan segala isi hatinya dan memohon kepada Sang Pemilik Cinta.
“Ya Allah, hamba memohon satu hal pada-Mu, berikanlah hamba ketulusan cinta…, bila hamba jatuh cinta, maka cintakanlah hamba pada seseorang yang mencintai-Mu, dan mampu mengingatkan hamba dikala lalai….
Ya Allah, bila Syifa memang yang terbaik bagi hamba, jadikanlah ia sebagai penyembuh luka batin ini, namun bila tidak, janganlah Engkau menyiksa hamba dengan cinta ini, Aamiin…” Husin menutup doanya. Dua hari lagi ia berencana akan bersilaturrahmi ke rumah Syifa dengan membawa serta kedua orangtuanya. Husin berharap semuanya akan baik-baik saja.
***
Keesokan harinya, Ibu Syifa yang baru saja selesai mengambil wudhu’ untuk melaksanakan sholat Zuhur, menatap putrinya dengan perasaan yang tak menentu. Menurut penjelasan dokter, secepatnya harus dilakukan tindakan operasi penggantian katup.
“Sepertinya Syifa sudah beberapa hari belakangan ini lupa dengan obatnya. Oleh karena itu harus dilakukan tindakan bedah secepatnya. Namun tentu saja kita menunggu hingga kondisinya relatif stabil,”
Ibu Syifa hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi putrinya. Syifa yang terbaring diatas ranjang rumah sakit mengigaukan nama seseorang. Ibu Syifa yang hendak membaca Al-Qur’an ketika tiba-tiba terkejut.
“Syifa…?” ibunya menghampiri putrinya yang masih dalam keadaan setengah sadar.
“Hu….sin….,”
Ibunya berusaha mendengar lagi, mungkin saja tadi ia salah dengar. Sesaat kemudian ibu Syifa mendengar putrinya mengigaukan nama itu lagi.
“Hu….sin…,”
Ibunya bingung, Syifa memang pernah menceritakan Husin, namun belum sempat menyampaikan niat Husin yang akan bersilaturrahmi bersama kedua orangtuanya, Syifa sudah keburu sakit. Ibu Syifa juga tidak mengetahui keberadaan Husin sekarang, beliau melirik ponsel putrinya yang terletak diatas meja.
***
Husin baru saja pulang setelah melaksanakan sholat Jum’at ketika ia teringat pada Syifa. Firasatnya yang mulai tidak enak membuat ia lalu meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Syifa, sekedar memastikan penulis goresan cinta itu baik-baik saja.
“Halo…, assalamu’alaikum…,”
“Wa’alaikumsalam…., ini siapa ya?” tanya seseorang yang terdengar seperti suara seorang wanita. Husin bingung, tetapi bukan suara Syifa. Husin berpikiran bahwa mungkin itu adalah suara orangtua Syifa.
“Ini Husin, Tante. Teman Syifa..,”
“Oh, Husin…,”
“Iya…, Tante…., Tante apa kabar? Syifanya ada?”
“Alhamdulillah, Tante baik-baik aja, Nak…., kebetulan, apakah Nak Husin bisa datang ke rumah sakit?”
“Bisa…, memangnya siapa yang dirawat, Tante?”
“Syifa sedang sakit. Bila ada waktu datanglah kemari….,”
Husin terpaku pada tempatnya berdiri. Mengapa firasatnya tadi malam menjadi nyata? Apakah hal ini pertanda bahwa Syifa masih mengingatnya?.
Husinpun menyanggupi,“Baiklah, Tante. Saya akan segera kesana,” ujar Husin setelah ibu Syifa memberitahu alamat rumah sakitnya. Namun sebelum menuju ke rumah sakit, Husin mampir sebentar ke sebuah toko bunga. Toko itu menjual berbagai macam bunga kesayangan Syifa, salah satunya adalah bunga mawar putih. Husin memasuki toko itu dan memilih salah satu bunga.
“Mbak…, saya beli yang ini, ya,” Husin menggenggam buket bunga tersebut, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Setibanya di rumah sakit yang dituju, Husin lalu menuju ruangan perawatan. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seorang gadis tegar yang dikaguminya kini terbaring lemah ditemani alat pemantau detak jantung disamping kirinya. Masih teringat jelas di bayangannya saat-saat pertama ia bertemu dengan Syifa. Ia sungguh tak berhati-hati. Ia juga emosional saat itu, sudah jelas ia yang terlebih dahulu menabrak Syifa, namun ia malah menuduh Syifa yang menabraknya. Perlahan Husin menghampiri gadis yang terbaring tak berdaya itu. Buket bunga yang digenggamnya ia letakkan diatas meja, kemudian menghampiri Syifa yang tak sadarkan diri.
Husin mendekati ibu Syifa dan berusaha menghibur semampunya,”Husin yakin Syifa adalah gadis yang kuat, Tante…,”
Husin menatap ibu Syifa,”Insya Allah Syifa bisa melewati masa-masa kritisnya, Tante,”
Husin tidak tega melihat kondisi Syifa yang seperti ini, seandainya bisa, ia lebih memilih agar penyakit yang diderita Syifa dipindahkan kepada dirinya.
Hatinya bergetar sambil berucap lirih,“Ya Allah, bila hamba boleh meminta, sembuhkanlah Syifa seperti hamba melihatnya dulu, hati hamba tidak kuat melihatnya didalam kondisi seperti ini, seakan hati inipun ikut tersayat merasakan sakit yang dideritanya….,”
Husin kembali diliputi rasa bersalah, seandainya ia bisa memutar waktu, ia memilih untuk melamar Syifa secepatnya, sehingga disaat-saat seperti ini ia bisa mendampingi Syifa siang dan malam.
Melihat kondisi Syifa yang kian melemah, Husin memutuskan untuk menemui ayah Syifa yang sedang menunggu diluar.
“Tante, Husin permisi keluar sebentar, ya?” ujar Husin mohon pamit. Ibu Syifa mengangguk.
Husin melihat ayah Syifa sedang berdiri diluar ruangan intensif, kemudian menghampirinya. Ayah Syifa mengintip keadaan putrinya dari balik jendela. Ia tidak tega melihat putri kesayangannya terbaring lemah tak berdaya, tanpa disadari airmatanya menetes.
“Maaf, Om…,” ujar Husin.
Ayah Syifa menoleh memandangi Husin yang menunduk,”Ada apa, Nak?”
“Ada yang ingin saya bicarakan…,”
Ayah Syifa mempersilakan Husin mengutarakan maksudnya, dan akhirnya mengalirlah hal yang selama ini ada di hatinya, sebuah perasaan yang telah ia sampaikan kepada Syifa, namun belum sempat ia membawa kedua orangtuanya menemui orangtua Syifa, Syifa sudah jatuh sakit. Padahal Husin berencana akan melamar Syifa setibanya di Indonesia, tetapi Allah berkehendak lain. Terkadang apa yang kita impikan tidak sejalan dengan kehendak-Nya, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk umatnya dan memberikannya pada saat yang tepat.
“Maaf bila sebelumnya Husin terkesan mendadak, padahal sebenarnya hal ini sudah lama Husin rencanakan. Tetapi melihat keadaan Syifa yang seperti ini, Husin tidak bisa lagi menundanya…,” Husin menghentikan kalimatnya, berusaha menahan airmatanya agar ia terlihat tegar dan mencari kalimat yang tepat agar semuanya menjadi jelas dan tidak terjadi salah paham,”Husin ingin selalu berada di sisi Syifa dalam keadaan seperti ini, Husin hanya tidak ingin timbul fitnah. Sebenarnya Husin ingin sekali terus berada disamping Syifa. kalau Om mengizinkan, Husin ingin melamar dan menikahi Syifa, Husin ingin menjadi yang halal baginya,”
Ayah Syifa terkejut sekaligus haru mendengar ucapan Husin yang tulus,”Tapi…, apakah mungkin dengan keadaan Syifa yang seperti ini kamu benar-benar ingin mendampingi Syifa? Sebaiknya dipikirkan dulu baik-buruknya, Nak. Supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari….,”
Husin menatap wajah ayah Syifa dan berucap,”Justru disaat seperti ini Husin ingin membuktikan bahwa Husin tidak pernah bermain-main dengan komitmen yang telah Husin tanamkan sejak dulu, Om. Bila Om izinkan, secepatnya saya akan menikahi Syifa,”
Melihat kesungguhan yang ada dibalik pancaran sinar mata Husin, Ayah Syifapun yakin. Sambil tersenyum beliau berujar,”Bila itu sudah menjadi keputusanmu, Om merestuinya, karena Om melihat kesungguhan yang terpancar di matamu, dan Om yakin kamu bisa menjadi imam untuk Syifa. Tapi itu semua Om serahkan pada Syifa,” ayah Syifa merangkul Husin untuk kembali masuk ruangan tempat putrinya dirawat. Husin menghampiri Syifa.
“Fa, ini aku…, Husin…,” Husin duduk dan berbisik di telinga Syifa. Ia memandangi wajah yang disinari cahaya kelembutan itu, tak terasa buliran bening menjatuhi pipinya,”Masih ingat, nggak, waktu aku dapat doorprize di acara bedah buku waktu itu? Aku senang banget, Fa…, aku nggak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu…,”
Syifa tetap tak kunjung membuka matanya. Mata Husin berkaca-kaca.
“A…, aku udah lama mengagumimu, Fa. Setelah setahun aku mencari, akhirnya kita bisa ketemu untuk pertama kalinya…,”
Husin melanjutkan,”Aku mencintaimu karena Allah, Fa…, aku harap kita bisa bersama…,”Husin berusaha menahan perasaannya,”aku akan menjagamu, Fa…., kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, dan bila kamu sedih maka aku akan lebih sedih, Fa…,”
Husin melihat Syifa menggerakkan telunjuknya perlahan. Husin berujar pelan,”Jika kamu mengizinkan, aku ingin melamar dan menikahimu, Fa. Tolong beri aku tanda bila kamu menyetujui lamaranku, Fa….,”
Syifa seolah mendengar ucapan Husin. Ia meneteskan airmata dan menggerakkan jemari tangan yang kali ini lebih jelas terlihat.
“Aku mohon bertahanlah demi cinta kita,”
Perlahan-lahan Syifa mulai membuka matanya.
“Fa…?” panggil Husin pelan. Syifa menoleh kesampingnya. Husin mengucap syukur,”Alhamdulillah…,”
Ayah dan Ibu Syifa terkejut sekaligus bahagia melihat perkembangan putrinya. Mereka terharu melihat kesungguhan Husin terhadap putrinya, mereka masih mengingat dengan jelas saat bertemu Husin pertama kali di bandara.
***
Perkembangan Syifa semakin membaik dari hari ke hari. Setelah memastikan Syifa dalam kondisi yang stabil, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, Husin menikahi Syifa di rumah sakit. Seluruh keluarga mendukung keputusan tersebut, karena mereka tahu Husin ingin menjadi yang halal bagi Syifa.
Syifa menitikkan airmata terharu, akhirnya apa yang ia impikan selama ini terwujud. Allah mengabulkan doanya.
“Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin menjadi imam yang mampu membimbingmu, aku ingin menjagamu sampai hanya maut yang memisahkan kita…,”lirih Husin.
“Makasih, Sin..., aku juga. Ada yang ingin aku sampaikan…,”
“Apa, Cinta?”
Dengan bisikan lemah Syifa menjawab,“Aku ingin mendesain rumah yang penuh cinta…, ”
Husin terdiam, matanya menatap Syifa dengan penuh cinta. Didalam hati Husin mengagumi kepribadian Syifa yang sungguh tak ia sangka sebelumnya,“Aku akan membangunnya, Cinta. Aku janji,” ujar Husin.
Seorang perawat lalu memasuki ruangan,”Nona Syifa…, saatnya operasi dijalankan…, tapi sebelumnya minum obat dulu, ya,” ujar perawat tersebut sambil tersenyum.
Husin menghibur dengan bisikannya,”harus mau ya, Cinta? Demi aku…?”
Syifa menatap Husin dengan sinar matanya yang penuh kelembutan. Semua perkataan yang terucap dari bibir memang bisa dimanipulasi, namun apa yang terpancar dari mata sama sekali tidak bisa direkayasa. Itulah sebabnya ada istilah ‘mata tak dapat berbohong’. Syifa memang tak dapat memungkiri rasa bahagianya setelah mengetahui Husin menjenguknya, ditambah lagi kenyataan bahwa Husin telah resmi menjadi imam yang akan membimbingnya menuju ridho Allah.
Sebelum operasi dimulai, Husin terus menemani Syifa hingga masuk ke ruangannya,”yang kuat, ya, Cinta? Aku akan terus mendoakanmu…,”
Syifapun memasuki ruangan operasi. Sementara itu, Husin pun segera menuju musholla rumah sakit untuk menunaikan sholat Ashar dan berdo’a mudah-mudahan operasinya berjalan lancar.
“Ya Allah yang Maha Menyembuhkan, Engkau yang menggenggam jiwa ini dan Engkau yang memiliki kuasa atas apa yang telah Engkau tuliskan di Lauhul Mahfudz, hamba memohon pada-Mu, jika Engkau mengizinkan hamba bersama dengan belahan jiwa yang hamba cintai, maka sembuhkanlah ia sebagaimana hamba melihat keceriaannya dahulu, namun jika Engkau lebih mencintainya dibanding cinta hamba kepadanya, maka hamba akan ikhlas, Ya Allah, Aamiiin…”lirihnya.
Dengan rasa yang tak menentu, Husin meninggalkan musholla dan bergegas untuk menunggu didepan ruangan operasi. Husin terus menatap lampu didepan ruangan operasi yang masih menyala. Detik demi detik telah berganti, setiap menit yang terlewati seakan menghujam batinnya. Husin tidak mampu mendeskripsikan limit cemas dan sedihnya yang tak terhingga, seakan semuanya menjadi satu.
Dari kejauhan, Husin melihat Najla datang bersama Nabil dan Aldo. Husin memperhatikan gadis kecil yang digandeng Najla, ia mengenalinya sebagai Lily.
“Lily….?” Husin menghampirinya.
“Kak Syifa kenapa, Bang?” tanya Lily dengan mata berkaca-kaca.
“Kak Syifa nggak apa-apa kok, Ly. Ntar lagi juga sembuh. Lily doakan Kak Syifa, ya….?”
Gadis kecil itu mengangguk.
“Lily udah pulang sekolah…?” tanya Husin. Lily menggeleng,”Lily nggak sekolah lagi, Bang…,” gadis kecil itu menunduk sedih.
“Lily harus sekolah supaya pintar, ya?”
Lily mengangguk, Husin dapat melihat keinginan yang kuat dari gadis kecil itu untuk melanjutkan pendidikan. Husin menjadi teringat pada ketulusan Syifa yang suka membantu anak-anak kurang mampu. Husin memiliki sebuah rencana untuk mewujudkan keinginan Syifa yang belum tercapai. Husin berharap Syifa juga akan setuju dengan rencananya tersebut.
Lampu ruangan operasipun padam yang artinya operasi telah selesai. Dokter membuka pintu ruangan. Cepat-cepat Husin menghampiri,”Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?”
“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, namun tetap saja Syifa harus bed rest hingga kondisinya dinyatakan benar-benar pulih..,”
“Alhamdulillah..,” Husin bersujud syukur, namun hatinya masih was-was.
Selain dirawat intensif di ICU, Syifa juga harus menjalani terapi pemulihan dan bila kondisinya dinyatakan baik oleh dokter, ia akan diizinkan pulang. Syifapun dibawa kembali dibawa ke ruangan intensif.
***
Hari ini Syifa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ia tampak lebih baik meskipun masih tampak raut kelelahan di wajahnya. Sejak pagi tadi Husin selalu menemani Syifa.
”Alhamdulillah, Cinta, operasinya berjalan lancar…,”ujar Husin.
Syifa menatap Husin sambil tersenyum,”Terima kasih atas do’anya…, sayang…,”
Untuk pertama kalinya Husin mendengar Syifa mengucapkan kata-kata itu. Sekilas Husin melirik sepiring makanan yang terletak diatas meja. Ia lalu mengambil piring itu dan menyuapkan sesendok nasi pada Syifa.
“Cinta, makan ya…,”
Syifa mengangguk, dengan sabar Husin mendampingi Syifa yang belum boleh banyak bergerak.
Pintu ruangan terbuka.
“Assalamu’alaikum, Sin…,” salam Aldo sambil membuka gagang pintu.
Husin menatap Aldo yang baru saja datang bersama Nabil, Najla dan Lily,”Wa’alaikumsalam, mari masuk teman-teman,”
“Gimana keadaan kamu, Fa? udah agak mendingan?” tanya Najla yang menghampiri Syifa.
Syifa mengangguk,”Alhamdulillah, La. Berkat do’a kamu juga,”
Sementara itu Aldo menghampiri Husin,”Wah, akhirnya lo duluan juga, Sin. Nggak nyangka, tapi selamat ya!” Aldo menjabat tangan Husin.
“Makasih, Do. Oh iya, ada yang mau gue sampaikan. Tapi sebaiknya kita bicara diluar aja, ya?”ajak Husin sambil memberi isyarat mata pada Aldo. Aldo yang heran pasrah saja ketika diajak keluar.
“Hmm…, mau ngomongin apa, sih?” tanya Najla memasang tampang curiga. Husin meyakinkan Najla mengenai tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setelah menutup pintu, Husin meyampaikan ide cemerlang yang ada di pikirannya,”Gue mau bantuin Lily, Do….,gimana kalau kita membantu Lily untuk kembali sekolah?”
Aldo berpikir sejenak,”Ide bagus, sih, Sin. Tapi gimana caranya?”
Husin tersenyum,”Kalau boleh jujur, gue suka dengan cara lo mengajar. Jadi gue berencana membuat rumah khusus untuk anak-anak jalanan, dan disana mereka juga akan belajar. Kalau boleh, lo nggak keberatan mengajar mereka, kan, Do?”
Aldo mengangkat sebelah alisnya,”Hmm.., kalau memang niatnya baik, kenapa nggak? Gue setuju,”
“Ok…, kalau begitu kesimpulannya lo bener-bener ikhlas dan nggak keberatan sama sekali, kan, Do?” tanya Husin.
Aldo mengangguk,”Iya, sebagai sahabat gue akan terus mendukung lo selama hal itu benar. Nanti gue juga akan mengajak Najla. Terus rencana lo selanjutnya apa, Sin?”
“Liat aja ntar,”ujar Husin, masih merahasiakan. Didalam hati ia merasa sangat senang, tinggal selangkah lagi ia akan dapat mewujudkan rumah cinta impian Syifa, tidak hanya untuk mereka berdua, namun juga bagi mereka yang membutuhkan.
Baca juga Bab 15







0 komentar:
Posting Komentar