Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Aldo dan Najla. Walaupun hanya sederhana, mereka tak menyangka begitu banyak sahabat lamanya datang untuk mengucapkan selamat. Sayangnya Husin tak terlihat dalam acara pesta itu. Aldo maklum karena pastilah Husin lebih memilih untuk memprioritaskan keluarganya terlebih dahulu. Disaat sedang asyik bersalaman, dari kejauhan Aldo melihat Husin menghampirinya untuk turut mengucapkan selamat.
“Thank’s ya, bro….,” ujar Aldo ketika tangannya dijabat Husin.
“Sama-sama, Do. Semoga langgeng dunia akhirat…,”
“Aamiiin. Oh ya, gimana dengan Jerry, Sin?” Aldo tersenyum membayangkan kira-kira seperti apa wajah sahabatnya itu sekarang karena ia menghilang sejak selesai diwisuda. Aldo memaklumi karena pastilah Jerry sibuk menyelesaikan pendidikannya di Singapura.
“Insya Allah dia juga akan menyusul,” ujar Husin sambil mengangkat sebelah alisnya,”oh ya, maaf Syifa nggak bisa datang. Dia masih butuh banyak istirahat, tapi dia titip salam buat kalian berdua,”
Najla mengangguk,”Iya. Tadi pagi aku juga sudah menghubunginya, salam buat Syifa juga ya, Sin…,”
“Baiklah, nanti akan aku sampaikan. Sekali lagi selamat ya, sobat!” Husin lalu mohon pamit.
***
“Cinta.., aku masih ingin tahu, kenapa kamu bisa tahu hari ulang tahunku waktu itu?” tanya Husin saat ia dan Syifa sedang bersantai di ruang keluarga.
“Hmmm…., semua pertanyaanmu ada di blog, sayang…,”
“Oh ya?” ujar Husin dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, segera ia membuka situs blog tersebut.
September8th, 2011
Ya Allah, Bila Hamba Jatuh Cinta…
Ya Allah, bila hamba jatuh cinta,
Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu membimbing hamba untuk mencintai-Mu,
Ya Allah, bila hamba jatuh cinta,
Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang mampu mengingatkan hamba di saat lalai kepada-Mu,
Ya Allah, bila hamba jatuh cinta,
Hamba memohon agar Engkau mencintakan hamba kepada seseorang yang menutupi kekurangan hamba dan hambapun mampu menutupi kekurangannya,
Ya Allah, bila hamba jatuh cinta,
Jangan biarkan hamba mencintainya melebihi rasa cinta hamba kepada-Mu,
Ya Allah, bila hamba jatuh cinta,
Cintakanlah hamba kepada seseorang yang tawadhu’ dan senantiasa mencintai-Mu…
October26th, 2011
I’m Fallin’ In Love
Kemarin aku menghadiri acara seminar bedah buku. Lumayan ramai mahasiswa yang turut menghadiri acara tersebut. namun ada satu hal yang tidak lepas dari ingatanku. Perhatianku tertuju pada seseorang yang beberapa hari lalu menabrakku. Aku tak menyangka ia hadir dan malahan ia turut berpartisipasi dengan bertanya dan akhirnya berhasil mendapatkan doorprize. Pada awalnya aku ragu, apakah ia benar-benar tulus menghadiri acara bedah buku itu. Tetapi setelah kuperhatikan ternyata sebenarnya ia seorang mahasiswa yang baik dan penuh tanggungjawab. Aku dapat melihat pancaran sifat itu dari matanya….
October29th,2011
Rumah Cinta
Beberapa waktu yang lalu aku memotret sebuah rumah yang berada tak jauh dari kompleks perumahanku. Sebuah rumah yang kujadikan inspirasi dalam menulis buku tentang hunian bergaya modern minimalis. Aku jadi teringat tentang bukuku mengenai rumah modern minimalis. Rumah yang menurutku berkonsep modern namun tidak terlalu memperlihatkan unsur kemewahan. Entah mengapa aku ingin sekali mendesain sebuah rumah, yang walaupun hanya sederhana namun dibangun dengan rasa cinta. Cinta terhadap seseorang yang mampu membimbingku untuk menuju jalan yang diridhoi Allah swt. Rumah yang dijaga oleh ketulusan cinta karena mengharap restu Sang Pemilik Cinta, seperti terlihat pada gambar yang kuunggah ini. Aku ingin bersamanya, meniti jalan untuk kemudian bertemu di surga nanti, Insya Allah…
Husin sudah menduganya, ternyata apa yang ia pikirkan selama ini memang benar bahwa Syifa-lah yang memotret rumahnya. Husin mengamati desain gambar rumah yang diunggah Syifa tersebut, dibawahnya terdapat tulisan ‘Rumah Cinta’. Ia harus mewujudkannya, semua ini ia lakukan demi cintanya kepada seseorang yang telah menyadarkannya kepada Sang Pencipta.
November27th, 2011
Husin’s birthday
Hari ini adalah hari ulang tahun Husin. Perasaanku yang tak menentu adalah pertanda bahwa aku juga bingung harus menganggap dirinya sebagai siapa. Namun yang jelas, aku ingin bersahabat dengannya, walau didalam hatiku seolah ada yang mengatakan bahwa perasaan yang kumiliki terhadapnya adalah perasaan ‘yang lebih dari sahabat’. Aku sudah mengunggah video ucapan selamat ulang tahun dariku ke facebooknya. Aku harap ia menonton video itu. Selamat ulang tahun, sahabatku…, (ehm, aku bingung, apakah ia juga menganggapku sebagai sahabat?). Aku harap semoga dengan bertambahnya usia adalah langkah awal perubahan menuju kearah yang lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu…
January2nd, 2012
Masuk RS
Aku sungguh tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, entah mengapa akhir-akhir ini dadaku seringkali terasa nyeri, setelah aku bertanya kepada Mama, ternyata aku harus menghadapi kenyataan bahwa penyakitku ini adalah jantung. Ya Allah, tabahkanlah hamba, kuatkanlah hamba bila ini memang sebuah ujian dari-Mu…
February10th, 2012
Chat with him…
Akhirnya ia menghubungiku setelah sekian lama . Ternyata Husin adalah tipe sahabat yang asyik, nggak kaku dan cukup menyenangkan. Ternyata ia juga tidak seperti lelaki lain yang hanya fokus kepada diriku saja, namun ia juga memperhatikan kedua orangtuaku. Ia sangat perhatian dan juga pandai meraih simpatiku…
Husin melihat berbagai catatan yang terdapat di blog Syifa. Husin melirik Syifa yang asyik menonton televisi. Ternyata gadis itu sudah lama memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, walaupun ia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung. Agak lama mata Husin membaca tulisan tersebut. Masih membekas di ingatannya tentang perjuangan Syifa untuk sembuh dari penyakitnya, “Aku akan membangun istana cinta untukmu, Fa…, aku janji…,” gumam Husin didalam hati. Mata Husin berkaca-kaca, ia menutup situs blog Syifa dan mencoba memahami setiap kata yang tersirat pada tulisannya, membayangkan gadis yang pertama kali berhasil meraih hatinya hanya karena melalui sebuah tulisan. Husin melirik sebuah buku yang ia simpan di lemari rahasianya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Syifa, Husin mengeluarkan buku Goresan Cinta, sebuah buku yang belum pernah dibacanya. Husin membuka halaman pertama, disana tertulis:
Buku ini kupersembahkan dengan goresan cinta, kepada siapa saja yang ingin mengenal arti cinta…
***
Pagi ini Husin telah berangkat keluar rumah, ia berencana mencari lahan kosong untuk membangun rumah cinta. Untuk mencari lahan di Jakarta memang rada susah, tetapi Husin tidak pantang menyerah. Ia terus menyetir mobilnya hingga menemukan sebuah lahan kosong yang dijual di sebuah kompleks perumahan dekat Bogor. Husin menghubungi nomor ponsel yang tertera di pengumuman itu. Setelah mencoba bernegosiasi, akhirnya Husin menyetujui untuk membeli lahan di kompleks perumahan tersebut. Husin tersenyum, kini tinggal selangkah lagi menuju terwujudnya impian mereka untuk memiliki rumah cinta. Ia akan membangun sebuah rumah yang berlandaskan cinta tulus mengharap restu dari Sang Illahi.
***
Setahun kemudian… Pagi ini Husin mengajak Syifa menuju ke sebuah tempat yang masih Syifa sendiri tidak tahu dimana. Syifa ingin bertanya lebih jauh namun Husin hanya tersenyum penuh rahasia. Syifa sendiri sudah memaklumi sifat Husin yang susah ditebak. “Cinta, aku punya kejutan untukmu,” ujar Husin ketika ia dan Syifa berhenti di sebuah rumah berkonsep modern minimalis berpagar abu-abu. “Ini rumah siapa, sayang?” tanya Syifa. Husin tersenyum penuh rahasia. Ia lalu mengajak Syifa memasuki rumah itu. Syifa yang digandeng Husin melangkah dan terpana ketika memasuki rumah tersebut. Ia disambut oleh sebuah jendela kaca besar di ujung ruangan, jendela itu tembus ke taman belakang yang dihiasi bermacam bunga, mulai dari bunga melati hingga aglaonema. Syifa berdecak kagum,”Ini semua…?” “Iya, Cinta…, ini rumah cinta kita berdua,” jawab Husin singkat, kemudian ia menunjuk ke bangunan di sebelah rumah itu,”Di sebelah sana adalah rumah cinta kita untuk anak-anak jalanan yang putus sekolah. Mereka bisa belajar dengan dididik oleh tenaga yang profesional dan mau bekerjasama dengan pihak kita,” Mata Syifa berbinar, sudah lama ia mengidamkan membangun sebuah rumah cinta khusus untuk mereka yang membutuhkan, dan kini Husin telah mewujudkan impiannya itu. Husin dan Syifa lalu duduk di sebuah sofa,“Cinta, kamu pasti tau siapa salah satu tenaga pengajarnya….?” Syifa merenung sejenak, menebak siapakah sahabatnya yang pintar mengajar dan sabar. Ia lalu teringat,”Najla?” tebaknya sambil menatap Husin. Husin mengangguk,”dan tentunya dibantu Aldo, hehehehe…,” “Makasih banyak ya, sayang…,” “Terima kasih banyak juga, ya, Cinta…,”Husin hendak merapatkan badannya ke badan Syifa ketika Syifa mencegah,”Eitss…., ada yang ngeliat lho…,” Husin terkejut sambil celingukan,”Hah??? Siapa??? Mana???”







0 komentar:
Posting Komentar