Fast Blinking Hello Kitty

31 Maret 2012

My Lovely Author Bab 12 Motivasi Cinta

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Husin bersemangat untuk bangun pagi. Bahkan ia yang membangunkan Pak Tarmo dan Bi Ijah untuk sholat Subuh. Mobilnya ia cuci sampai mengkilap. Husin berencana akan membuat sebuah perubahan besar pada dirinya, ia membayangkan ekspresi Aldo dan Jerry serta teman-teman satu kampus yang kemungkinan besar akan terpana bila melihat perubahannya sekarang.


Husin mengemudikan mobilnya menuju kampus, lagu-lagu kesayangan yang biasa didengarnya di radio pun ikut berubah menjadi lebih romantis. Husin mendengarkan lagu Swear It Again milik Westlife. Meskipun lagu tersebut sudah tergolong zaman dulu, namun ia merasa lagu itulah yang paling mewakili dirinya. Ia tak ingin membuat Syifa kembali sedih dengan perlakuan anehnya beberapa waktu lalu, rasanya ia ingin berbagi kebahagiaan dan kesedihan dengan Syifa walau ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Husin benar-benar telah berubah sekarang. Husin menyenandungkan lagu cinta hingga akhirnya tiba di kampus.
Di kampus, Husin begitu bersemangat menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Bahkan Husin mengalahkan Aldo yang kali ini harus menyerah mengerjakan latihan yang diberikan dosennya.
“Ini sudah satu jam, tapi mengapa hanya satu soal saja tidak ada yang mampu mengerjakannya?”
“Saya, Pak!” Husin mengacungkan tangannya.
“Ya, silakan,”
Husin melangkah menuju papan tulis untuk mengerjakan soal yang terbilang sangat rumit, dan diluar dugaan, hanya dalam hitungan menit ia dapat menyelesaikan soal yang memakai logika dan rumus tersebut. Dosennya memperhatikan hasil kerja Husin kemudian terdiam heran sejenak. Sambil menganggukkan kepala dosennya berujar,”Bagus. Kamu mulai menunjukkan prestasimu sekarang, Sin,”
“Terima kasih, Pak,” jawab Husin tersenyum kemudian kembali ke bangkunya.
“Wah…, mantap sekarang lo, Sin. Gue bener-bener nggak nyangka. Makan apa sih, kemaren?” tanya Jerry yang tercengang melihat perubahan sahabatnya sekarang. Jerry terlihat begitu bersemangat saat menanyakan makanan. Biasa deh, bila ingin mengetahui kuliner, tanyakan saja pada Jerry. Dijamin nggak bakalan nyesel.
“Sip! Sekarang gue dapat landasan teori selanjutnya, ternyata cinta bisa meningkatkan prestasi belajar, hmmm…,” mata Aldo menerawang ke langit-langit kelas,”tapi gue masih bingung, Sin. Kok bisa, ya? Apa hubungannya cinta dengan prestasi belajar? Kayaknya perlu diadakan penelitian lebih lanjut, nih…,”
“Jelas ada dong, Do. Cinta itu memotivasi kita untuk belajar lebih giat agar kita terlihat lebih sempurna di mata dia…, hahaha,”jelas Husin sambil tertawa.
“Sejak kapan lo jadi puitis begini, Sin?” tanya Jerry.
“Ini bukan puitis, guys. Ini hanya sebuah prinsip hidup,”
“Hmm…, iya deh. Kalo gitu gue juga mau menerapkan prinsip hidup lo itu supaya Najla bangga ama gue,” ujar Aldo sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
“Apa????!!!!” tanya Husin dan Jerry hampir berbarengan.
Giliran Husin yang bingung namun sekaligus senang. Sejenak Husin menimbang-nimbang, ternyata cinta adalah sebuah rasa yang sulit didefinisikan namun mampu membuat segalanya berubah, termasuk cara pandang dan pola pikir seseorang.

***
Sesampainya di rumah, Husin teringat pada Syifa. Iapun lalu menghubungi Syifa dan berharap kali ini Syifa menjawab sambungan ponselnya. Husin mencari nama Syifa didaftar kontaknya.
“Halo, assalamu’alaikum…?”
“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Syifa diseberang sana bagaikan semilir angin yang menyejukkan hati.
“A…, apa kabar, Fa?” tanya Husin yang mencoba untuk menutupi rasa gugupnya.
“Alhamdulillah, Sin. Kamu bagaimana?”
“Baik, Fa…,”jawab Husin dan ia kembali teringat tips dari Aldo,” Bagaimana keadaan mama dan papamu, Fa?”
“Alhamdulillah baik-baik aja. Kalau keadaan orangtuamu bagaimana, Sin?”
“Alhamdulillah baik juga. Sedang sibuk ya, Fa?”
“Nggak juga kok. Biasa, Sin. Rutinitas mahasiswa, sibuk sedikit deh. Hehehe…,”
Husin sudah lama merindukan tawa renyah itu, rasanya ia ingin melihat secara langsung wajah Syifa. Tanpa disadari olehnya, Husin bertanya,”Kapan kembali ke Indonesia, Fa? Aku kangen nih…,”
Husin menahan berbagai perasaan yang sulit diungkapkannya. Sementara itu, Syifa terkejut mendengar ucapan Husin barusan. Wajahnya langsung memerah. Ia sungguh tak menyangka Husin akan menanyakan hal demikian. Lalu dengan perasaan yang sama tak menentunya, Syifa menjawab,”Insya Allah kalau sudah selesai kuliah, aku akan kembali, Sin,”
Husin berujar pelan,”Aku akan selalu menantikan saat-saat itu, Fa. Aku selalu mendoakan semoga kamu cepat selesai, ya…,”
“Makasih banyak ya, Sin. Sampaikan salamku untuk mama papa, ya,”
“Iya nanti disampaikan. I will always be missing you, Fa. Assalamu’alaikum,”
Jantung Syifa seakan berhenti berdetak, dengan terbata-bata ia membalas salam Husin,”Wa…, wa’alaikumsalam,”
Syifa menutup ponselnya, begitu pula dengan Husin. Perasaan yang berbunga-bunga menghiasi hati mereka. Sambil merebahkan diri diatas tempat tidur, Husin membayangkan kata-kata yang baru saja ia ucapkan pada Syifa. Ia sendiri bingung mengapa tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulutnya.
***
Setelah perjuangan melelahkan menekuni semester 3, akhirnya KHS pun keluar. Husin yang melihatnya langsung mengucap syukur. Tak sia-sia ia belajar selama beberapa bulan ini. Kali ini indeks prestasinya meningkat.
Husin baru saja pulang kuliah ketika ia melihat kedua orangtuanya sedang berada di ruang tamu.
“Abi…? Mama…?”
Kedua orangtuanya tersenyum,”Iya, Nak. Abi dan Mama sengaja pulang, untuk mengetahui keadaan kamu…,”
Mata Husin berbinar,”tapi kok nggak ngasih tau Husin dulu, Ma? Husin kan bisa menjemput mama di bandara…,”
“Anggap saja ini kejutan karena kamu berhasil meningkatkan indeks prestasi di semester ini….,”jelas ayah Husin.
“Loh, kok Abi tau?” senyum Husin mengembang, ia senang karena janji pada ayahnya telah ia tepati.
“Abi sudah menduga sebelumnya. Abi tahu kamu adalah anak yang bertanggungjawab, konsisten serta menepati janji. Oh ya, Sin, ada yang ingin Abi dan Mama sampaikan..,”ayah Husin menjelaskan
Husin duduk didekat kedua orangtuanya,”Ada apa, Bi?”
“Abi sudah mendengar penjelasan Pak Tarmo, ditambah lagi Kak Aini juga sudah pernah menghubungi Abi lewat telepon. Katanya kamu sering sakit kepala. Benar itu, Sin?”
Husin mengangguk,”Iya, Bi…,”
“Sudah diperiksakan ke dokter?”
Husin menggeleng.
Ayah Husin bersandar di sofa,”Kalau begitu sebaiknya kita periksakan saja. Abi punya teman, dia seorang dokter terkenal disini. Kamu harus ikut Abi ke tempat prakteknya,”
“Tapi Husin gak apa-apa kok, Bi…,”
“Sekali saja. Setelah itu, kamu boleh mengatakan bahwa kamu tidak apa-apa,” tegas ayahnya.
“Iya, Bi. Besok Husin akan check up ke dokter,” jawab Husin berbohong, ia enggan karena didalam hatinya menolak untuk mengontrol kesehatannya. Husin merasa sakit yang dirasakannya hanya sakit biasa, efek trauma dari kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
***
Hari ini jadwal kuliah Husin kosong. Abi mengajaknya pergi ke dokter untuk menjalani medical check-up. Sebenarnya Husin merasa keberatan karena ia yakin tidak ada masalah dengan kesehatannya. Namun setelah dijelaskan oleh ibunya, Husin menyanggupi ajakan itu meskipun ia harus menjalani serangkaian tes kesehatan yang cukup melelahkan.
Didalam ruangan, dokter saraf yang menangani Husin memperhatikan hasil rontgen yang membuat Husin dan ayahnya cemas.
“Bagaimana hasil MRI nya, Dok?” tanya Abi.
Dokter masih terpaku menatap file MRI yang dipeganginya,”Kelihatannya baik-baik saja, Pak. Tak ada yang perlu dikhawatirkan….,” dokter itu kemudian menatap Husin,”kenapa, Sin? Apa ada yang membebani pikiranmu?”
Sambil tersenyum Husin menjawab, “Biasa deh, Om. Sindrom mahasiswa…, hehehe…,”
Dokter hanya menggeleng kemudian berujar,”Hmmm…., atau jangan-jangan sudah ada wanita yang mencuri hatimu, Sin?”
Husin menjawab dengan kikuk dan berkilah,”Harap maklum, Om. Galaunya anak muda,”
“Baiklah. Berdasarkan hasil file ini, kamu dinyatakan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak mikir. Jalani saja hidup ini sesuai takdir-Nya,”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok..,”ayah Husin berjabat tangan dengan dokter yang juga merupakan sahabatnya tersebut.
“Sama-sama…,”
Husin dan ayahnya pun keluar ruangan kemudian menuju tempat parkiran mobil. Sepanjang perjalanan, Husin dan ayahnya lebih banyak diam. Sesaat kemudian ayahnya berujar,”Sin…,”
“Iya, Abi?”
“Apa benar sudah ada seseorang yang kamu sukai?”
Husin yang sedang mengemudi terlihat agak terkejut namun berusaha menutupi perasaannya,”Sebenarnya ada, Abi. Tapi Husin ragu, apakah dia juga suka dengan Husin…., Husin gak tahu pasti, Bi,”
Ayahnya manggut-manggut,”Oh, jadi itu yang menjadi beban pikiranmu selama ini?”
Husin berkilah,”Husin nggak mikirin apa-apa kok, Bi. Abi kan pernah muda? Husin aja yang belum pernah tua. Hehehe..,”
“Hmm., iya deh. Anak-anak muda zaman sekarang. Ternyata berbeda dengan Abi dulu,”
“Iya, Bi. Sekarang ini zaman internet. Bisa berkomunikasi dengan seseorang di seberang benua hanya dalam hitungan menit,”
“Seberang benua? Jangan bilang kalau kamu…,” ayahnya menatap Husin curiga.
“Nggak, Bi. Dia teman satu kampus dengan Husin, tetapi dia sudah pindah ke seberang benua, di Australia. Ntar aja deh Husin kenalkan ke Abi kalau semuanya sudah positif ya, Bi?”
Ayahnya mengangguk setuju,”Siapapun itu, Abi mendukungmu. Tetapi yang penting lihatlah ia dari sisi agama dan kepribadiannya, bukan karena fisik dan hartanya,”
“Insya Allah, Bi. Karena agama dan kepribadiannya itulah yang membuat Husin yakin,” jawab Husin sambil membayangkan wajah Syifa yang sedang tersenyum. Hanya dengan cara itu Husin mengobati kerinduannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah. Husin memasukkan mobilnya ke garasi.
***
Tak terasa Husin dan teman-teman seangkatannya sudah memasuki kuliah tingkat akhir. Anggota D’ Handsome sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, sesuai dengan komitmen persahabatan mereka untuk menyelesaikan kuliah tepat waktunya. Husin kembali menghubungi Syifa, dan kali ini ia berusaha untuk mengendalikan perasaannya agar menjadi lebih tenang.
“Assalamu’alaikum, Syifa…,”
“Wa’alaikumsalam, Husin…,”
“Sedang apa, Fa? lagi sibuk ya?” tanya Husin.
“Biasa deh, sedang nyusun proposal, Sin. Kalau kamu sedang apa?”
“Sama dong. Mudah-mudahan kita cepat selesai ya, Fa?”
“Aamiin..,” jawab Syifa.
Husin melanjutkan,”dan kita bisa bertemu lagi. Oh ya, Fa, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Boleh. Ada apa, Sin?”
Husin terdiam sejenak, ia pikir inilah saatnya untuk menanyakan tentang Navid agar dirinya tidak salah dalam melangkah,”tapi sebelumnya maaf ya, Fa…, kalau pertanyaan ini kesannya agak pribadi,”
Syifa semakin bingung. Ia menjawab,”gak apa-apa. Tanyakan aja, Sin. Kita kan sudah lama kenal…?”
“Baiklah. Dengar-dengar Navid melamar Syifa, ya? Sekali lagi maaf ya, Fa, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu terlalu jauh, Fa…,”
Syifa bingung,”dengar isu darimana, Sin?”
Husin merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri,”ya dengar-dengar aja, Fa..,”
Syifa tersenyum,”Nggak, Sin. Itu hanya isu, belum ada yang melamar, Sin. Memang sih, Syifa dekat dengan Mas Navid, tetapi dia sudah Syifa anggap seperti saudara sendiri, karena ibu kami sudah bersahabat sejak dulu..,”
“Alhamdulillah….,” ujar Husin secara spontanitas. Hatinya merasa lega sekarang setelah mendengar jawaban langsung dari Syifa yang berarti masih ada secercah harapan untuknya. Husin melanjutkan pertanyaannya,”berarti masih ada tempat untukku kan, di hatimu, Fa?”
Syifa terdiam sejenak dan berusaha menenangkan perasaan hatinya,”biarlah waktu yang menjawab semuanya, Sin. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha, berdo’a dan bertawakkal. Selebihnya kita serahkan pada takdir Allah yang menentukan,”
“Benar, Fa. semuanya sudah digariskan di Lauhul Mahfuz, tetapi aku berharap takdirku adalah bersamamu, Fa…,”ujar Husin sambil menahan getaran di hatinya.
“Insya Allah. Aamiin…,” jawab Syifa, begitu pula dengan Husin.
“Jangan lupa jaga kesehatan ya, Fa. Istirahat yang cukup dan jangan terlalu memaksakan diri. Sudah dulu ya, Fa. I will always be missing you. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam. Jangan lupa jaga kesehatan juga ya, Sin…,” jawab Syifa lalu mengakhiri pembicaraan. Saat menutup pembicaraannya dengan Husin, Syifa teringat dengan kondisi kesehatan jantungnya yang kurang baik. Apakah Husin tahu keadaan dirinya? Apakah Husin masih mau menerima dengan kondisinya yang seperti ini?.
Ditengah kegelisahannya, Syifa berdoa,”Ya Allah, jika Husin memang jodoh hamba, semoga ia mau menerima segala kekurangan hamba, Aamiin…,”

Husin menutup ponselnya. Malam ini hatinya sungguh lega setelah mendengar penjelasan Syifa barusan. Ia berharap semoga ini adalah awal dari hubungan yang lebih serius lagi, dan mudah-mudahan Syifa adalah jodoh yang telah disiapkan Allah untuknya.


Baca juga Bab 13

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites