Fast Blinking Hello Kitty

07 Maret 2012

My Lovely Author Bab 6 Pertemuan



Husin berangkat lebih awal karena hari ini masih hari Senin, lagipula hari ini adalah UTS hari pertama. Pagi ini ia masuk jam 9, ia berharap masih ada kesempatan untuk menemui Syifa. Setibanya di kampus, teman-teman Husin sedang duduk menunggu didepan pintu ruangan yang masih ditutup. Husin setengah berlari menghampiri sahabatnya sesama anggota D’Handsome.



“Liat Syifa, gak?” tanya Husin, ketika baru saja tiba.
Aldo menoleh kesamping kiri dan kanan,”lo nanya sama siapa, Sin?”
”Iya, sorry…, maksud gue, lo liat Syifa atau gak, Do?”
“Nggak. Tenang aja, bro…, pasti dia datang dong, sekarang kan lagi ujian…,”
“Yahhh, gue bela-belain bangun pagi, datang lebih awal, eh, ternyata dia belum keliatan juga!” gerutu Husin.
Jerry yang teringat pada permintaan Husin hari Sabtu lalu, memberi isyarat dengan matanya.
“Oh, iya, maaf…,”ujar Husin pelan. Hampir saja ia lupa pada keinginannya sendiri untuk merubah sifat dan sikapnya yang selama ini masih jauh dari kata sempurna. Sesekali ia melirik ke ruangan paling ujung, berharap Syifa ada disana. Tiba-tiba, ada ide cemerlang muncul di pikiran Husin.
“Gue kesana sebentar, yah!”
“Sin…! Lo mau kemana…..???” tanya Aldo, tapi tak dihiraukan Husin. Aldo hanya tersenyum menatap Husin dari kejauhan sedang melihat daftar nama mahasiswa yang ditempel di pintu ruangan. Husin memperhatikan daftar nama yang ditempel di setiap ruangan dengan teliti, sesekali ia melirik arlojinya, masih ada waktu setengah jam lagi. Itu artinya, ia masih bisa berkeliling mencari nama itu. Husin kemudian menaiki tangga dan mencari di lantai atas. Alangkah senangnya ia ketika menemukan nama Syifa di urutan teratas di salah satu ruangan. Tetapi ia tak menemukan Syifa diantara belasan mahasiswa yang sedang menunggu didekat ruangan tersebut, mungkin belum datang. Walaupun begitu, Husin senang karena akhirnya selangkah lagi impiannya bertemu kembali dengan Syifa hampir terwujud. Husin melirik arlojinya, sepuluh menit lagi ia akan bertempur menjawab soal. Husin kemudian turun tangga dan menuju ruangan ujiannya.
“Sin, lo kemana aja sih?” tanya Aldo, kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu.
“Cari someone special,” jawab Husin sambil tersenyum yang disambut cekikikan Jerry,”yakin lo, Sin…?”
Husin hanya menanggapi candaan Jerry dengan senyum,”Seperti yang pepatah bilang, cinta sejati datangnya hanya sekali dan akan selalu tersimpan di hati sampai kita mati dan kalo jodoh takkan kemana, guys…..,”
Aldo dan Jerry hanya manggut-manggut. Didalam hati mereka salut akan kegigihan Husin dalam mencari cinta. Yah, walaupun mereka belum tahu bagaimana akhir kisah dari semua ini tetapi setidaknya mereka mendapatkan satu pelajaran yang bermakna.
Mereka lalu memasuki ruangan dengan teratur ketika seorang dosen pengawas ujian membuka pintu. Jerry dan Husin memilih tempat di belakang Aldo.


Syifa baru memasuki ruangan lima menit setelah ujian dimulai. Ia terlambat karena terjebak macet dalam perjalanan menuju kampus. Ia masih beruntung diizinkan masuk meskipun tidak ada perpanjangan waktu. Beberapa saat kemudian ia menerima lembaran soal dan jawaban.
Bismillahirrohmanirrohim…
Ia lalu mengerjakan soal yang berjumlah lima buah tersebut dengan teliti. Tanpa ia ketahui beberapa orang temannya langsung khawatir begitu membaca soal yang lumayan menguras otak. Berbeda dengan beberapa orang temannya, Syifa mengerjakan soal-soal tersebut dengan santai namun cermat. Kurang lebih satu jam kemudian, Syifa lalu mengumpulkan kembali lembar soal dan jawabannya, kemudian keluar ruangan.
Waktu yang tersisa hanya tinggal lima menit lagi. Sementara itu, di ruangan yang terletak dilantai bawah, Husin mulai berkeringat dingin. Ia mencoba mengerjakan soal yang ada dihadapannya yang baru terjawab dua dari lima soal. Husin hanya bisa pasrah, mungkin akibat ia terlalu menyepelekan mata kuliah yang diujikan hari ini. Didalam hati Husin bertekad ingin mengubah semua sifat jeleknya. Ia ingin memantaskan dirinya untuk Syifa. Waktu yang tersisa hanya tinggal tiga menit lagi. Husin lalu mengumpulkan lembaran soal dan jawaban, ia tertunduk lesu memikirkan janjinya pada Abi. Bisakah ia memenuhi janji itu?
Setibanya diluar ruangan, Husinpun teringat Syifa. Seketika itu juga Husin berjalan cepat menaiki tangga menuju ruangan ujian Syifa. Setibanya di lantai atas, tampak beberapa orang mahasiswi yang keluar ruangan sambil bercengkrama dengan teman-temannya. Husin buru-buru mencegat salah seorang diantara mereka yang tanpa Husin ketahui bahwa mahasiswi yang ditanyainya tersebut adalah Najla,”Permisi…, Mbak, liat Syifa, gak?”
“Oh, Syifa? Dia udah keluar ruangan dari tadi. Mungkin udah pulang,” jawabnya.
Husin termangu sejenak, sementara itu Najla tersenyum pamit sambil berlalu bersama teman-temannya. Rasanya Husin ingin mengulang semuanya. Ia ingin bertabrakan kembali dengan Syifa, setelah itu ia akan meminta maaf lalu menanyai semua hal yang berkaitan dengan gadis itu. Tetapi rasanya tak mungkin, Husin hanya berharap besok ia akan bertemu dengan Syifa yang menjadi penyembuh luka batinnya. Sambil melangkah gontai Husin lalu menuju parkiran mobilnya dan bergegas pulang.
***

Syifa baru saja tiba di rumah ketika jam menunjukkan pukul 1 siang. Setelah beristirahat sejenak, ia membuka catatan dan berkutat dengan rumus-rumus, mengulang kembali mata kuliah yang akan diujikan besok. Disaat sedang berlatih mengerjakan soal, Syifa teringat pada seseorang yang menabraknya beberapa waktu lalu, ternyata orang tersebut juga hadir pada acara bedah bukunya bahkan sempat bertanya dan menjadi pemenang doorprize. Syifa mengagumi wawasan Husin yang cukup luas. Syifa buru-buru menepis pikirannya. Ia mencoba fokus pada pelajarannya, walaupun didalam hati ia ingin mengenal lebih kepribadian Husin yang membuatnya hatinya penasaran dan ingin mengenal Husin lebih jauh. Syifa teringat pada sesuatu, segera ia mengambil sebuah kertas gambar A3. Kemudian ia mendesain gambar sebuah rumah. Sebuah rumah bergaya minimalis dengan tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur kering, dapur kotor dan sebuah garasi. Tidak lupa pula ia menulis keterangan ‘RUMAH CINTA’ tepat dibawah desain gambar. Setelah desin gambar tersebut jadi, ia tersenyum simpul melihat hasil karyanya. Ia membayangkan bagaimana jadinya rumah tersebut bila ia tempati dengan seseorang yang mengisi hatinya. Syifa melipat kertas tersebut, lalu menyimpan hasil desainnya di laci meja belajar. Ia ingin suatu hari nanti desain rumah itu diwujudkan pembangunannya. Rumah yang ingin dibangunnya bersama belahan jiwanya suatu hari nanti. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi yang penting rumah tersebut dibangun berlandaskan cinta.
“Fa….., makan siang dulu…..,” panggil ibunya dari lantai bawah.
“Ya, Ma,”Syifa bergegas keluar kamar dan menuruni tangga. Di ruang makan, ibunya sudah menunggu.
“Fa, Mama mau bicara….,” ucap ibunya mengawali pembicaraan.
Syifa sibuk melahap nasi plus ikan gurami goreng saosnya,”Ada apa, Ma?”
“Kamu senang kuliah disini?”
Syifa menatap mata ibunya, ia mengangguk sambil dalam hati bertanya-tanya,”Iya, Ma. Syifa senang banget disini. Alhamdulillah kuliah Syifa lancar dan juga punya banyak teman….,”
Ibunya melanjutkan,”Bulan depan Papa akan dipindahtugaskan ke Australia. Papa meminta agar kita sekeluarga pindah kesana,”
Ayah Syifa bekerja di sebuah perusahaan internasional di Jakarta dan beberapa waktu lalu dipromosikan untuk menjabat sebagai manajer perusahaan induk di Melbourne.
Syifa berhenti melahap makanannya dan hanya terdiam sejenak,”Itu berarti Syifa juga harus pindah kuliah, Ma?”
Ibunya mengangguk,”Nanti nilai-nilai di semester sebelumnya tinggal ditransfer aja. Mama punya kenalan di kampus kamu, jadi kamu tak perlu khawatir,”
Syifa menunduk sedih. Rasanya berat meninggalkan kampus yang sudah setahun lebih tiga bulan ini menjadi bagian dari kehidupannya karena disanalah Syifa bertemu sahabatnya, disana Syifa mencoba berbagi isi hatinya melalui mading fakultas dan disana pula Syifa bertemu Husin yang mencuri perhatiannya. Syifa tidak tahu apakah Husin juga memiliki perasaan yang sama, ia masih sedih bila mengingat kembali peristiwa minggu lalu, tetapi ia mencoba memaafkan karena walau bagaimanapun tak ada manusia yang sempurna. Syifa juga merasa berat berpisah dengan keluarga besarnya di Jakarta. Iapun mencoba tegar dan berkata kepada ibunya,”Kalau Mama setuju Papa pindah ke Australia, Syifa juga setuju…,”
“Makasih ya, Nak,”
Syifa tersenyum. Ia turut bahagia bila melihat kedua orangtuanya juga bahagia. Ia juga akan melakukan apapun untuk menjadi yang terbaik dan berusaha untuk tidak mengecewakan mereka.
Setelah makan siang, Syifa kembali ke kamarnya. Ia memperhatikan foto-foto yang terpajang disana. Foto dirinya saat masih bayi bersama kedua orangtuanya dan foto bersama teman-teman sejak SD hingga kuliah sekarang yang memiliki banyak kenangan. Ia berharap di Australia nanti juga akan memiliki teman-teman yang setia kawan seperti disini. Insya Allah….
Tetapi Syifa masih bingung hendak ke universitas apa sesampainya ia di Australia. Akhirnya ia membuka laptopnya untuk menjelajahi internet. Syifa tersenyum-senyum sendiri ketika membuka situs resmi Monash University. Syifa mencatat informasi didalam situs tersebut sebagai bekalnya untuk melanjutkan kuliah disana.

***

Husin berbaring diatas tempat tidurnya, matanya menerawang langit-langit kamar. Ia membayangkan wajah Syifa lagi. Husin agak kecewa karena tidak bertemu dengannya di kampus tadi, tetapi didalam hati Husin mengoptimiskan diri sendiri dan yakin besok akan bertemu kembali. Husin lalu meraih ponsel Samsung Galaxy S III dan menatap layarnya sambil tersenyum sendiri,”Kamu memang cantik, Fa, sayangnya kamu terlalu misterius bagiku,”
“Iya, Den. Den Husin juga ganteng kok. Tapi nggak misterius karena Bibi udah biasa menghadapi Den Husin,”celetuk Bi Ijah dari pintu kamar. Ternyata pintu kamar Husin dibiarkan terbuka begitu saja tanpa disadarinya.
“Bibi???!!!” seru Husin kaget, buru-buru ia duduk di sudut tempat tidurnya. Bi Ijah hanya tersenyum,”Den Husin makan siang dulu, sekarang sudah jam 2, ntar Den sakit,”
“Iya Bi. Ntar lagi,” jawab Husin.
***

Keesokan harinya, Husin melakukan hal yang sama seperti kemarin. Berangkat lebih awal dari biasa hanya untuk memastikan apakah Syifa sudah tiba di kampus atau belum. Tapi kali ini Husin mengubah strategi. Ia ikut bergabung bersama mahasiswa lain di depan pintu ruangan ujian Syifa yang terletak di lantai atas. Ia tidak mempedulikan Aldo dan Jerry yang kebingungan mencarinya. Setelah sepuluh menit berlalu, Husin menemukan sosok Syifa berjalan menuju kearahnya dari kejauhan. Seketika itu pula rasa bahagia menyelimuti hatinya. Tanpa pikir panjang lagi, Husin menghampirinya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Tetapi Syifa hanya bersikap dingin.
“Fa, ada yang ingin gue sampaikan sama lo,”
“Ya udah, ngomong aja,” sahut Syifa pelan sambil meneruskan langkahnya.
Husin menahan langkah Syifa,”tapi dengerin gue dulu…,”
Syifa menghentikan langkahnya dan bertanya,”Ok. Ada apa?”
“Ng….,”Husin berpikir sejenak untuk memilih kata-kata yang pas. Ia ingin meminta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu, itu saja, tidak lebih.
“Gue mau minta maaf atas kejadian kemarin…,”Husin tertunduk,”sungguh, Fa. Waktu itu gue emosi. Ada seseorang di kelas gue yang ngaku-ngaku jadi lo, jadi ya wajar dong kalo gue marah…?” Husin mengangkat sebelah alisnya, takut salah bicara.
“Terus apa hubungannya dengan gue?” tanya Syifa, masih dalam ekspresi kurang suka.
“Ya…, gue mau minta maaf seandainya ada kata-kata gue yang menyinggung perasaan lo. Please, Fa, gue harap sekali ini aja lo nerima permintaan maaf ini, ”
“Bukannya gue hanya menjadi pengganggu dalam hidup lo? Jadi gue pikir apa artinya gue bagi lo…?”
“Lo berarti dalam hidup gue, Fa. Lo udah menyadarkan gue tentang pentingnya mengambil keputusan…,”
“Keputusan apa? Maksudnya?” tanya Syifa heran.
“Keputusan untuk merubah sifat jelek gue….,”
Syifa hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Syifa tersenyum simpul,”Iya, gue udah maafin lo dari kemarin-kemarin kok,”
Mata Husin berbinar. Ia sangat senang hari ini, tanpa banyak basa-basi lagi Husin lalu bertanya,”boleh gak gue minta nomor ponsel lo?”
Syifa mengangkat sebelah alisnya, ia tak percaya pada apa yang ditanyakan Husin. Sementara itu, Husin menatapnya dengan tatapan tajam namun lembut,”sebagai temen, Fa,”
Syifa teringat bulan depan ia tak akan bisa berjumpa dengan Husin lagi. Ia tak akan bisa melihat wajah berkharisma itu dan merasa semua ini akan sia-sia. Syifa menatap Husin dengan pandangan nanar,”Maaf, Sin, gue gak bisa…,” balasnya pelan.
“Sebagai temen aja, Fa? Apa lo gak bisa menerima gue sebagai temen? Gue udah capek bermusuhan kayak gini, Fa….,” ujar Husin lembut, berusaha melawan kata hatinya yang memberontak. Teman? Apakah benar hanya sebagai ‘teman’?
Syifa berpikir sejenak,”Ok. Mulai sekarang kita temenan,” ia lalu memberikan nomor ponselnya pada Husin.
Husin teringat sesuatu, “Kalo email? Lo punya, kan?” tanyanya lagi.
Syifa mengangguk lalu memberikan alamat email yang diketiknya di ponsel Husin. Syifa tersenyum, Husin kembali melihat sinar kelembutan yang terpancar dari raut wajahnya. Tidak semua wanita seperti itu, dan Syifa-lah wanita yang salah satunya termasuk kedalam kategori lembut menurut Husin.
Husin melihat arlojinya,”Sebentar lagi kita masuk. Gue ke bawah dulu, ya, gue harap kapan-kapan kita bisa bertemu,”
Syifa hanya membalas dengan senyum simpul, didalam hati ia merasa senang dapat bertemu kembali dengan Husin, namun disisi lainnya ia juga sedih karena sebentar lagi ia akan meninggalkan kampus ini, meninggalkan sahabat-sahabatnya, dan semuanya….
Dengan berat hati Husin menuruni tangga menuju ruang ujiannya di lantai bawah. Ia ingin bersama Syifa lebih lama lagi, namun ujian akan dimulai sebentar lagi. Sementara itu, Syifa menatapnya dengan hati yang gundah. Syifa sendiri tidak tahu entah kapan ia bisa bertemu lagi dengan Husin. Ia hanya memandangi Husin yang berjalan menjauh kemudian menghilang dari pandangannya. Tanpa Syifa sadari ada seseorang yang sedang menatapnya dengan tajam dari kejauhan. Seseorang itu kemudian berbalik arah menuju ruangan ujiannya.

Baca juga Bab 7

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites