Fast Blinking Hello Kitty

21 Maret 2012

My Lovely Author Bab 11 Makna Kesetiaan




“Ng…, Sin…, lo sendiri, gimana dengan Syifa?” tanya Aldo ketika sudah duduk didalam ruangan.
Husin menggeleng,”Kayaknya percuma aja, Do. Toh Syifa akan memilih Navid ketimbang gue…,”Husin mulai tak percaya diri ketika mengingat Navid.
Aldo menghibur sahabatnya,”belum tentu, Sin. Siapa tahu itu hanya gosip. Tau sendiri kan, Navid suka syirik ama lo. Yah, kali aja dia hanya manas-manasi lo,”
Husin menoleh,“Tapi kenapa kemarin Syifa tiba-tiba nitip salam untuk staf redaksi majalah? Berarti kan disana ada Navid, Do?”




“Yah, itu teh, basa-basi aja, atuh…. Seharusnya lo bilang terus terang mengenai perasaan lo yang sebenarnya. Dan jangan lupa, titip salam juga buat ortunya. Itu aja sih tips dari gue,”ujar Aldo sambil menyengir.
Husin merenungkan saran Aldo barusan. Walaupun ia sendiri merasa kurang yakin, namun sepertinya tips ini cukup jitu untuk dicoba. Mata kuliah hari itu sangat menyenangkan bagi Husin. Ia belajar penuh semangat demi merangkai masa depan. Dalam hati ia bertekad untuk lulus sesegera mungkin, kemudian merangkai masa depan bersama penyembuh luka batinnya.

***

Setibanya di rumah, genggaman tangan Husin tak lepas dari ponselnya. Sesekali ia melirik layar ponsel dan menatap keluar jendela kamar. Ia ingin sekali menghubungi Syifa tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Husin beranjak ke dekat jendela dan menatap langit sore ini yang sangat cerah, mencoba mengukir sebuah nama diatas sana. Husin mencoba mempraktekkan usul Aldo saat di kampus tadi dan berharap semuanya akan berjalan lancar. Ia harus menghubungi Syifa, tidak bisa ditunda lagi. Cepat-cepat Husin mencari nama Syifa di daftar kontaknya, namun Husin harus menelan kekecewaan karena ponsel Syifa tidak aktif. Apakah Syifa marah atas perlakuannya beberapa waktu lalu? Apakah Syifa tidak ingin mengenalnya lagi? Apakah ia terlalu tergesa-gesa dan membuat Syifa bingung atas sikapnya? Semua kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Husin melirik kalender yang tergantung di dinding kamarnya, hari ini tepat dua minggu setelah ia memutuskan pembicaraan secara tiba-tiba. Husin termangu dan memutuskan untuk mencoba menghubungi Syifa kembali, bila waktunya sudah tepat. Husin yakin bila saatnya sudah tiba, Husin akan menyampaikan sesuatu hal yang belum pernah Syifa duga sebelumnya dan yang belum pernah Husin jelaskan kepada wanita manapun juga.
***
“Pa, setamat kuliah nanti, Syifa pengen kerja di Jakarta aja, ya?” pinta Syifa ketika keluarga mereka sedang makan malam.
“Kenapa, Fa? Kamu nggak suka bekerja disini saja?”
“Bukan begitu, Pa. Syifa kangen sama Nenek. Syifa berencana mau tinggal di rumah Nenek aja, tapi kalau mama papa masih ingin tetap disini nggak apa-apa kok…,” jawab Syifa.
Ayahnya mempertimbangkan keputusan Syifa sejenak,”Baiklah. Bila itu memang keinginan kamu, Papa mendukung kok. Ya kan, Ma?”
Ibu Syifa juga mengangguk,”apapun yang kamu inginkan, Mama harap itulah yang terbaik,”
“Dan masalah Mas Navid….,” Syifa menggantung kalimatnya,”Syifa masih ingin fokus ke kuliah dulu. Syifa masih belum memikirkan hal itu, Ma….,” ujarnya. Sebenarnya Syifa ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin memberi harapan yang tak jelas kepada Navid, tetapi Syifa juga tidak ingin mengecewakannya. Sejenak ia bingung mengenai apa yang harus dikatakannya agar tidak menyinggung perasaan Navid.
Setelah makan malam, Syifa masuk kekamarnya untuk menyelesaikan tugas. Ia membuka laptopnya dan mulai membuka Microsoft Word untuk membuat makalah sebagai tugas selama liburan. Tiba-tiba ponsel Syifa berdering, ternyata dari Navid.
“Halo, assalamu’alaikum…,” sapa Syifa.
“Wa’alaikum salam, Cinta….,”
Hhhh…, panggilan itu lagi. Namun Syifa berusaha bersikap santai.
“Udah makan malam?”
“Udah, Mas,” jawab Syifa.
Navid bingung ia harus menanyakan apa lagi. Kemudian ia mengutarakan isi hatinya,“Fa…, kamu tahu kan, kalau kita dijodohkan?”
Syifa terdiam sejenak lalu dengan pelan berucap,“Iya…,”
“Mas memiliki perasaan yang lebih dari sekedar kakak-adik dan sahabat, Fa. Mas ingin kita merangkai masa depan bersama-sama…,”
Ucapan Navid barusan membuat Syifa semakin dilema. Setelah berpikir sejenak, Syifa memberanikan diri untuk menegaskan kata-kata hatinya selama ini,”Mas…, maaf sebelumnya jika Syifa mengecewakan Mas Navid. Tetapi selama ini Syifa hanya menganggap Mas Navid sebagai kakak, dan Syifa masih ingin konsentrasi ke kuliah dulu….,”
Hening. Tak ada jawaban dari Navid.
“Bila Mas tak sanggup menunggu, Mas boleh mencari pengganti Syifa,”tegasnya.
Navid merenung sejenak. Ia menggenggam ponselnya dengan erat,“Mas akan setia menunggumu, Fa. Insya Allah… ya udah, Mas mau mengetik proposal dulu, ya. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”tutup Syifa. Kini perasaannya mulai lega. Ia berharap semoga saja ia tidak mengecewakan Navid, karena walau bagaimanapun Navid telah mengenalnya dengan baik sejak di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Ia lalu melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya yang lumayan banyak. Disaat kembali asyik mengerjakan tugas, Husin menghubunginya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa Husin.
“Wa’alaikumsalam, Sin…, apa kabar?” tanya Syifa.
“Alhamdulillah baik…, kamu sendiri gimana, Fa?”
“Sama. Alhamdulillah…,”
“Ng…, Fa…,” panggil Husin. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Syifa, tetapi ia ragu dan takut Syifa akan tersinggung karena pertanyaannya.
“Sebelumnya maaf banget karena udah dua minggu ini aku gak menghubungimu. Kamu gak marah sama aku atas kejadian dulu, kan?” tanya Husin, suaranya semakin pelan.
“Nggak, Sin. Apa yang harus aku marahkan? Aku kan nggak bisa marah, hehehehe…,”Syifa berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Husin berkeringat dingin dan mencoba mengontrol emosinya,”Fa, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan…,”
“Oh, bilang aja, Sin…,”
“Tapi gimana kalo kita mengobrol via Yahoo Messanger? Ada banyak hal yang ingin aku ketahui, Fa. kamu gak keberatan, kan?” tanya Husin, agak ragu.
Syifa tersenyum,”Tentu aja nggak, Sin. Kita kan udah temenan….,”Syifa memelankan suaranya tepat disaat ia mengucapkan kata ‘temenan’. Suara di sudut hatinya memberontak dan ingin membantah bahwa sebenarnya Syifa menganggap Husin lebih dari sekedar teman.
“Oh…, iya, jadi bagaimana kalo sekarang? Kamu gak keberatan, kan, Fa?”
“Ok, deh. Aku juga sedang berada didepan laptop, kok, sekarang,” jawab Syifa. Mereka memutus pembicaraan dan beberapa menit kemudian Syifa masuk ke akun Yahoo Messanger-nya dan melihat Husin mengaktifkan mode video.
“Assalamu’alaikum, Fa..,”Husin mengetikkan kalimat di laptopnya. Ia sedang memakai baju kaus berwarna biru. Sekilas Syifa melirik warna baju yang dikenakannya, ternyata mereka berdua sama-sama mengenakan baju berwarna biru.
Syifa : Wa’alaikumsalam, Sin….
Husin : Aku terlihat ganteng, kan, di videomu? :-D
Syifa menatap wajah Husin melalui video. Iseng-iseng ia mengetikkan sebuah kalimat yang tidak menyetujui, namun tidak pula membantah hipotesis Husin tersebut.
Syifa : Hm…, ganteng gak yaaaa….??????
Husin : Btw, kok kita bisa sama-sama pake baju biru, sih?
Syifa : Hah? Iya yah…? :-<>
Husin : Wah, tumben kita kompak :-D
Syifa : Hmmm…, kok bisa ya? Aneh tapi nyata…. .
Rahasia Illahi, Sin…
Husin : Oh iya, maaf soal kejadian beberapa hari lalu, Fa.
Kemarin aku tidak bermaksud untuk menyakitimu..
Aku hanya ingin kita tetap bersahabat baik….
Syifa : Iya, Sin, aku ngerti kok
Husin : Oh ya, gimana dengan aktivitas kamu disana?
Kamu masih suka menulis?
Syifa : Alhamdulillah semuanya disini lancar
Iya dong, kalo sehari aja nggak nulis, hampa rasanya :-D
Husin : Tulis tentang aku, dong, Fa. tapi jangan yang macem-macem, ya?
Syifa :  Ok deh. Seep seep (y)
Husin : Salam buat mama papa, yah, Fa. Katakan dari seseorang, hehehe
Syifa : Ok deh, Sin. Aman deh….
Husin : Hehehe. Aku sign out dulu ya. Assalamu’alaikum, cute :-D
Syifa terkejut ketika membaca kata terakhir dari Husin. Setelah menjawab salam, Syifa keluar dari akunnya sambil tersenyum simpul.
Syifa tersenyum, sebuah virus unforgettablelove.exe berhasil memasuki pertahanan sistem hatinya. Syifa membuka akun blognya dan mulai menulis kejadian apa saja yang ia alami hari ini. Hatinya bagaikan secerah sinar rembulan yang memasuki jendela kamarnya.
***
Navid termenung didepan laptopnya. Proposal yang sedang ia ketik terhenti seketika saat bayangan Syifa dan wajah lembutnya melintas di pikirannya. Seorang gadis yang tak mudah mengatakan cinta dan menurut Navid, Syifa adalah tipe gadis setia. Syifa dan Navid sudah sangat akrab sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama. Sayangnya Navid seringkali tidak menyadari hal-hal yang dilakukannya setelah kuliah ini bertentangan dengan prinsip Syifa. Bicara mengenai prinsip membuat Navid merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Seolah kehilangan arah dan tidak tahu apa tujuan hidupnya, jauh berbeda dengan Syifa. Navidpun menjadi merasa bersalah pada Syifa sebab entah sudah berapa kali ia menyakiti Syifa, memberi rayuan dengan begitu mudahnya pada wanita lain. Tanpa disadari sifatnya tersebut menjadi kebiasaan, begitu banyak wanita yang ia dekati menaruh harapan padanya, kecuali Syifa. Masih membekas juga dalam ingatannya ketika ia melihat dari jauh wajah sumringah Syifa saat bertemu Husin menjelang ujian tengah semester. Navid dapat melihat sinar cinta di mata Syifa, meskipun itu bukan untuknya. Terkadang kita baru menyadari makna kesetiaan setelah kita kehilangan.
Navidpun memutuskan sesuatu, ia lalu mengetikkan sebuah surat yang akan dikirimnya via e-mail kepada Syifa.
From : naveed_athaila90@yahoo.com
Cc :
To : asheefa_chai92@gmail.com
Subject : Notice
Assalamu’alaikum wr., wb
Kepada Syifa yang lembut hatinya, jujur kata-katanya dan sopan tingkah lakunya, e-mail ini sengaja Mas kirimkan dengan tujuan agar kita tidak ada kesalah pahaan diantara kita nantinya. Sebelumnya maaf bila Dek Syifa keberatan dengan tingkah Mas yang aneh akhir-akhir ini. Mas hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Mas sendiri merasa sangat bodoh mengapa Mas sejak dulu tidak berterus terang tentang rasa ini kepadamu, Fa…, selama bertahun-tahun ini Mas hanya memendam rasa yang sebenarnya sudah lama ingin Mas sampaikan. Kamu adalah wanita yang memancarkan kelembutan dan menyadarkan Mas tentang arti cinta sebenarnya, Fa. Ketulusanmu membuat Mas sadar mengenai makna cinta sejati. Izinkanlah Mas merangkai masa depan bersamamu dengan tulus walau Mas sendiri kurang yakin kamu juga memiliki rasa yang sama seperti yang Mas rasakan saat ini. Mas tidak akan memaksamu, Fa…, biarlah takdir yang mempertemukan kita bila Allah swt., memperkenankan kita mengarungi hidup bersama. Tetapi bila tidak, Mas akan menjauh dari kehidupanmu karena Mas mengerti bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki.
Wassalam,
Dari yang mencintaimu,
Navid Athaila

Navid keluar dari kamarnya. Ia menemui kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Navid harus menceritakan semuanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keluarga Navid dan Syifa.
“Pa…, Ma…, ada yang ingin Navid sampaikan…,”
Kedua orangtuanya menatap Navid penuh tanya,”ada apa, Nak?” tanya ibu Navid.
“Ini tentang Syifa…,” Navid berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan malam ini. Ia tidak ingin membebani Syifa, namun disisi lain ia tidak ingin melukai hati kedua orangtuanya.
“Ma…, Navid mengundurkan diri dari perjodohan ini…,” ujar Navid pelan. Ibunya agak terperanjat. Navid kembali menjelaskan,”Navid berpikir alangkah lebih baik bila Navid meneruskan magister dulu. Navid tidak ingin membebani Syifa, bila dia juga ingin melanjutkan pendidikannya, Navid tidak akan memaksanya…,”
Kedua orangtuanya terdiam, sesaat kemudian ayahnya mengambil keputusan,”Baiklah bila itu memang pilihanmu. Papa harap kamu bisa konsisten dan berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan,”
“Mama gimana…?” tanya Navid sambil menatap ibunya yang terlihat agak keberatan menerima keputusan putranya yang mendadak ini. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, ibu Navid menginginkan agar hubungan kedua keluarga yang sudah terjalin baik selama beberapa tahun ini tidak terputus begitu saja.
Setelah mempertimbangkan aspek baik-buruknya, akhirnya ibu Navid berujar,”Mama tidak akan memaksa. Kamu sudah dewasa dan bisa mengambil sikap,”
“Makasih, Pa…, Ma…, Navid harap keputusan ini tidak mengubah tali silaturrahim antara keluarga kita dan keluarga Syifa,”ujarnya.
Ibunya mengangguk,”Nanti Mama akan coba bicara dengan mamanya Syifa. mudah-mudahan mereka bisa mengerti,”
Navid merasa agak lega sekarang. Meski berat, namun Navid berusaha untuk ikhlas, ia harus menerima konsekuensi dari sikap-sikapnya selama ini yang dengan begitu mudahnya mengumbar kata-kata mesra pada banyak wanita, yang tanpa disadarinya telah membuat hati Syifa terluka. Terkadang kita baru mengerti arti kesetiaan setelah merasakan kehilangan.

Baca juga Bab 12

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites