Tempat wisata Puncak-Bogor sore hari itu sedang sepi. Kebetulan Husin memiliki villa kepunyaan orangtuanya di daerah itu. Pemandangannya sejuk, seharusnya membuat hati sejuk dan nyaman. Namun tidak untuk suasana hati Husin sore itu. Husin turun dari mobilnya, lalu menuju ke tempat sepi yang lebih tinggi, yang tepat dibawahnya ada kebun teh. Tak ada satu kendaraanpun yang melewati jalan itu. Husin memandangi kebun teh yang terletak dibawahnya, lalu memandang ke kejauhan. Tempat itu begitu sejuk. Pemandangannya sangat indah. Ia memandang ke sekeliling untuk memastikan bahwa ia benar-benar sendiri.
Husin berdiri di tempat yang paling tinggi.
“SYIFA……, GUE SAYANG AMA LOOOO…..!!!!” teriaknya, ia berharap tak ada satu orangpun yang mendengar. Ia menumpahkan semua yang ada di hatinya. “Mungkin lebih baik begini, menyendiri di tempat sepi ini….,” batinnya.
Ia sungguh membutuhkan seseorang saat ini. Tak hanya seseorang yang mengisi hatinya, tetapi juga untuk mengusir kesepiannya. Ia juga rindu kepada kedua orangtuanya. Tetapi ia juga sedih, karena ternyata gadis yang disukainya adalah dia yang pernah tersakiti olehnya. Ia juga masih ragu, apakah Syifa juga merasakan hal yang sama dengannya. Masih terbayang olehnya kata-kata beberapa hari yang lalu yang sempat dilontarkannya pada Syifa, padahal belum tentu Syifa seperti itu. Ia sedang emosi saat itu. Begitulah Husin bila sedang emosi. Semua yang ada di hatinya ia utarakan, kecuali perasaan tentang cinta. Ia hanya akan mengatakan perasaannya pada wanita yang benar-benar ia yakini bisa menjadi pendampingnya. Ia berharap cinta pertama dan cinta terakhirnya hanya untuk wanita yang sama, yang mendampingi hidupnya hingga akhir hayat. Husin memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing, pandangannya mengabur dan tempat ini rasanya berputar-putar, mungkin bekas benturan stir waktu itu masih ada efek sampingnya. Perlahan ia melangkah dan memilih beristirahat di villanya. Villa itu terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah villa dengan gaya Eropa klasik. Sesaat kemudian ketika Husin sedang berjalan menuju pintu, ponselnya berdering. Ternyata dari Pak Tarmo. Husin mengangkatnya.
“Halo…?”
“Halo, Den, Den Husin dimana? Apa perlu saya jemput Den Husin…?” tanya Pak Tarmo.
“Nggak usah, Pak. Husin lagi di villa Puncak. Husin pengen sendiri dulu,” ungkapnya jujur. Ia paling tidak bisa berbohong kepada orang kepercayaan Abinya tersebut. Husin paling dekat dengan Pak Tarmo sejak kecil. Sewaktu masih SD hingga SMP, Pak Tarmo-lah yang senantiasa mengantar dan menjemputnya kemanapun ia pergi.
Husin membuka pintu villa itu, kemudian duduk di sebuah kursi, mencoba menenangkan kepalanya yang sakit. Setelah lima menit, ternyata tak kunjung ada hasil. Dengan tertatih ia lalu menuju dapur, ia ingin mencari obat yang terletak di kotak obat di sudut pantry, berharap ada obat yang dapat meringankannya dari rasa sakit. Tetapi kepalanya terasa sangat pusing, tempatnya berdiri terasa berputar. Husin memegangi pintu kulkas, ia terjatuh, lalu tidak tahu apa-apa lagi.
***
Sementara itu, di rumahnya, Aldo mencoba menghubungi Husin. Ia ingin meminta jadwal mid semester. Maklum, Aldo paling malas mendownload jadwal dari situs kampus, apalagi mencatat di mading. Aldo paling malas membaca, ia lebih suka menghitung. Tapi entah mengapa nilainya anjlok di semester lalu, oleh karena itulah ia berusaha meningkatkan nilainya di semester ini walaupun sebenarnya yang lebih rajin adalah Husin. Aldopun lalu menghubungi Husin, namun tidak ada jawaban. Aldo mengulangi lagi hingga lima kali, namun hasilnya nihil. Aldo yang cemas lalu menghubungi nomor telepon rumahnya.
“Halo…?” jawab Bi Ijah yang sedang mengepel lantai.
“Halo, assalamu’alaikum, Bi, Husin ada?” tanya Aldo.
Bi Ijah menjawab,”Wa’alaikumsalam…, nggak, Den. Kata Pak Tarmo sih, Den Husin lagi ke Puncak, dia pengen sendiri. Mungkin nanti pulang,” jawab Bi Ijah.
“Oh, oke, Bi. Makasih ya,” Aldo menutup pembicaraan. Ia menutup iPhone 4-nya. Firasat tidak enak menghampirinya.
“Biasanya dia menghubungi gue kalo mau kemana-mana…..?” gumam Aldo dalam hati, kemudian ia menghubungi Jerry.
Jerry yang saat itu sedang mandi, tidak mendengar bunyi ponselnya yang berdering.
“Angkat dong, Jer…, please,” gumam Aldo. Jantungnya mulai berdegup tak karuan. Aldo akhirnya memutuskan untuk menyusul Husin sendirian. Ia buru-buru mengeluarkan mobil milik ayahnya. Namun sebelum itu, Aldo menghubungi penjaga villa yang ia dapatkan dari Pak Tarmo untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi pada Husin.
“Aldo, mau kemana?” tanya ibunya heran, ketika melihat Aldo yang terburu-buru. Aldo menghampiri dan menyalami ibunya,” Mau ke villa-nya Husin sebentar, Bu. Sebentar aja,” pamit Aldo.
“Hati-hati,” balas ibunya. Aldo mengangguk,”assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,” jawab ibunya.
Jarak Depok-Bogor tak menyurutkan langkah Aldo demi kesetiakawanan. Ia memacu mobil Alphard ayahnya, spidometer menunjukkan skala 80 km/jam. Akhirnya ia sampai ke villa itu. Husin pernah mengajaknya kesini bersama Jerry saat tahun baru kemarin. Aldo terkejut ketika mengetahui pintu itu tidak terkunci dan tidak menyangka ketika mendengar cerita penjaga villa bahwa ia menemukan Husin dalam keadaan pingsan di dekat kulkas. Tanpa pikir panjang lagi, Aldo masuk kedalam rumah. Aldo berinisiatif untuk menghubungi Kak Aini, kakak sepupu Husin yang seorang dokter, lewat ponsel sahabatnya itu. Kebetulan rumah Aini berdekatan dengan lokasi Puncak.
“Halo, assalamu’alaikum…,” jawab Aini ketika menekan tombol jawab di ponselnya.
“Wa’alaikum salam. Apa benar ini nomor Kak Aini?” tanya Aldo. Aini mengangguk, ia heran mengapa suara Husin berubah dan mengapa adik sepupu kesayangannya itu bertanya yang aneh-aneh.
“Iya, kamu kenapa, Sin? Kok jadi aneh gini…?”
“Maaf, Kak. Ini Aldo, sahabatnya Husin. Husin lagi sakit, Kak. Sekarang dia sedang di villa. Kakak bisa datang kesini?”
Aini terdiam sejenak,”Oh…, sahabatnya ya? Ok, Kakak akan segera kesana. Tunggu ya,”
***
Tak lama kemudian, Aini tiba di tempat dan memeriksa adik sepupunya itu.
“Husin kenapa, Kak?” tanya Aldo. Aini menggeleng sambil tersenyum,”Gak apa-apa kok, hanya sakit kepala biasa,” hiburnya. Sebenarnya Aini mendiagnosis ada kelainan di kepala Husin dan ingin memberitahu keadaan dia yang sebenarnya, tetapi ia merasa waktunya belum tepat. Lain kali ia berencana akan mengadakan medical check up untuk Husin.
Beberapa saat kemudian, Husinpun siuman.
“Ya Allah…, lo kenapa, Sin?” tanya Aldo, ia lalu menyodorkankan segelas air minum.
Husin hanya menggeleng,”gak tau, Do. Tiba-tiba aja kepala gue sakit, terus puyeng. Akhirnya gue gak tahu apa-apa lagi,”
Aldo yang mendengarkan turut prihatin,”mendingan lo istirahat aja, kecapean, kali….,”
Aldo mengomel,”Elo sih, pemikir banget! Kalo ada masalah, cerita aja lagi ama kita-kita. Emangnya ada masalah apa sih, Sin?”
Lagi-lagi Husin menggeleng,”gak ada apa-apa….,”
Aldo meniru gaya Husin, ia melotot selebar mungkin dibalik kacamatanya, tapi yang ada Husin malah ketawa.
“Ih, tampang lo kayak badut Dufan, deh, Do! Hahahaha….”
Raut wajah Aldo berubah menjadi bengong, lalu mengernyit,”Loh, kok jadi badut, sih?”
“Lo itu gak berbakat jadi antagonis!” ledek Husin sambil tertawa. Aldo turut senang sahabatnya itu akhirnya tertawa.
“Hm…, berarti ntar kalo gue casting perannya yang baek-baek mulu, dong? Tapi kapan yah, gue lulus casting? Hahaha….,”
“Sabar, Do, semua akan indah pada waktunya,” ujar Husin sok dewasa,”eh tapi ntar kalo lo udah beken jangan lupain gue, ya!”ujar Husin, secara tak langsung turut prihatin dengan nasib Aldo yang sejak dulu ingin menjadi artis. Entah sudah berapa kali ikutan casting tapi nggak lulus-lulus juga. Kurang penghayatan, kali, ya?.
“Hmmm, lo sih yang kurang penghayatan. Kalo mau akting jangan kaku dan harus menjiwai peran, tau,” jelas Husin. Aldo hanya manggut-manggut, ia mengalihkan topik pembicaraan,”Oya, Sin, lo udah dapet nomor ponsel Syifa?”
Husin hanya terdiam. Ia hanya memandangi Aldo dengan tatapan hampa, lalu menggeleng. Sementara itu, Aini yang sedang menulis resep obat ikut nimbrung,”Hmmmm…, kakak ngerti sekarang nih, kenapa kamu bisa kayak gini…..,”
“Kenapa, Kak?” tanya Husin pura-pura tidak tahu.
“Kamu sakit gara-gara terlalu mikirin perasaan, kan?” tebaknya,”Oh iya. Ini resep obatnya. Disana Kakak tuliskan obat sakit kepala yang paling manjur. Jangan lupa diminum lho,”
“Ok, Kak. Tapi untuk kata-kata Kakak barusan menurut Husin, kakak sembarang nebak aja…., Kakak kan bukan tukang ramal,” Husin ngeles.
“Tapi bener kan, kamu lagi jatuh cinta?” tanya Aini lagi. Sementara itu Husin hanya cengengesan.
“Tuh, kan bener…,” Aini melirik arlojinya,”Eh iya, kakak pulang dulu, ya. Kalo ada apa-apa hubungi Kakak,”
“Iya, Kak,” jawab Aldo dan Husin serempak.
“Kakak pamit dulu. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
Setelah memastikan Aini telah meninggalkan villa, Aldo melirik Husin sambil menepuk jidatnya, “Aduh! Kok gak minta nomornya sih, tadi? Lo ikut acara itu dan ketemu dia, kan?”
Husin mengangguk pelan,”Ya, tapi gak mungkin tiba-tiba gue minta nomor ponselnya gitu aja, kan, Do?”
Aldo berpikir sejenak. Dalam hati ia membenarkan kata-kata Husin,”Iya juga sih, tapi apa lo gak mau berkorban sedikit aja? Demi cinta, apa sih yang nggak?” ujar Aldo sambil nyengir. Husin bergidik,”gue bukan tipe cowok yang kayak gitu,”
“Oh, ya? Kalo gitu Syifa buat gue aja, yah?” tanya Aldo seraya mengangkat sebelah alisnya. Ia menikmati pandangan mata Husin yang mulai melotot tajam.
“Pelototin aja gue terus! Gue gak takut, tuh!” Aldo keluar kamar seraya tertawa.
“Do…,” panggil Husin, yang membuat Aldo menoleh lalu menghampirinya lagi.
“Kenapa?”
“Lo beneran gak ada kenalan anak arsitektur?”
Aldo menggeleng,“Nggak ada. Maaf banget yah, Sin. Kayaknya gue gak bisa bantu lo,”
Husin tertunduk sedih, seketika ia ingat,”kalo akun facebook atau twitternya? Lo tau?”
Aldo lalu megeluarkan iPhone 4-nya,”ntar dulu yah, gue cek,”
Aldo sibuk mencari-cari nama pena maupun nama asli Syifa melalui akun jejaring sosial miliknya. Hingga dua puluh menit kemudian, tetap saja tak ada hasil.
Aldo menatap Husin dengan tampang prihatin,”nggak ada, Sin. Kayaknya dia nggak memakai nama asli maupun nama penanya, deh…,”
Husin terdiam, Aldo juga. Agak lama mereka hanya diam terpaku. Tiba-tiba ada ide cemerlang yang bersemayam di otak Aldo,”Senin besok kita UTS, kan, Sin?”
Husin mengangguk.
Aldo menjentikkan jarinya,”kenapa nggak ketemuan di kampus aja? Barangkali aja jadwal ujian dia sama dengan kita…? Terus ya lo pedekate, deh!”
Mata Husin berbinar, sahabatnya yang satu ini memang cerdas. Tak salah Aldo menjadi langganan juara umum di SMA-nya dulu.
Husin tersenyum. Sesaat kemudian berujar,”Thank’s ya, Do,”
Aldo membalas,”Sama-sama, coy. Kita kan harus saling membantu,”
Mereka lalu pergi keluar sekedar menikmati matahari tenggelam di Puncak. Cuaca sore itu sedang bersahabat. Setelah sholat Maghrib, mereka singgah ke apotek untuk membeli obat lalu menikmati ayam bakar di sebuah restoran bernuansa pedesaan dan diiringi musik klasik. Husin kemudian menelepon Jerry dan tak lupa mengaktifkan loudspeaker. Jerry yang hobi makan lalu tergoda untuk mencicipi,”jangan lupa bungkusin ayamnya untuk gue seporsi, yah!” pesannya.
“Hmmmm…, yummy!” Aldo memanasi-manasi Jerry yang sedang ditelepon Husin,”ayam bakarnya mak nyusssss….!!! Bumbunya komplit!”
“Plis deh, Do, jangan bikin perut gue tambah keroncongan!” gerutu Jerry yang memang perutnya sudah berbunyi ‘kukuruyuk’ dari tadi. Husin ikut mengompori,”Lo sih nggak kesini, kalo lo kesini, gue traktir sepuasnya….,” Husin teringat lagi pada masa kecilnya, waktu itu ia bersama kedua orangtuanya menikmati hidangan makan malam di restoran ini.
Kapan orangtuanya pulang? Kapan orangtuanya ingat pada dirinya? Ada apa dengan mereka tiga bulan terakhir ini yang sudah jarang sekali menghubunginya? Husin bertanya-tanya dalam hati, ia tak tahu sampai kapan ia merasa seolah tak punya orangtua. Ia benar-benar merasa sepi, tetapi ia masih beruntung karena mempunyai sahabat yang bersedia menghiburnya.
“Makanan disini enak, yah, Sin. Lo sering kesini?” tanya Aldo setelah Husin menutup pembicaraan lewat ponselnya..
Husin mengangguk,”Iya, dulu. Bareng ortu gue, tapi sekarang udah nggak….,”
“Sabar, bro. gue yakin ntar ortu lo juga balik dan ngasih perhatian kayak dulu lagi,” hibur Aldo sambil menikmati hidangannya,” dan juga harus optimis Syifa akan maafin lo,”
Husin menunduk. Dalam hati ia membenarkan kata-kata Aldo. Ia memang masih belum mampu mengontrol emosinya. Ia merasa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dibanding kelebihan.
“Do, ingatin gue kalo gue salah, ya?”
Aldo nyengir,”Beres, Sin. Apa sih yang nggak buat sohib gue, demi kesetiakawanan,”
Husin terlihat bahagia malam itu. Ia dapat melupakan sejenak tentang kedua orangtuanya yang ia anggap sedang terlalu sibuk hingga melupakannya.
***
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Husin menghubungi Pak Tarmo dan memberitahukan bahwa hari itu ia menginap di villa bersama Aldo dan Jerry. Jerry ikut menginap di villa karena sudah tak sabar ingin mencicipi ayam bakar. Pak Tarmo mengizinkan dan menitip pesan agar Husin berhati-hati dan menjaga diri. Husin mengangguk menyanggupi pesan Pak Tarmo. Saat ia menutup pembicaraan, Jerry datang. Husin membuka pintu.
“Eh, si Jerry…., nekat yah malam-malam gini keluar? Ntar masuk angin, lho…,”ujar Husin, jahil.
“Biarin. Gue khawatir banget ama lo, tau!”
“Oya? Khawatir am ague atau khawatir ayam bakarnya habis?” goda Husin lagi.
“Ng…., dua-duanya!” jawab Jerry,”eit, tapi…, ayam bakar gue udah dipesenin, kan?”
Husin mengangguk. Ia lalu mengajak Jerry masuk.
Jerry yang baru saja masuk kedalam rumah langsung nyeletuk,”Sin, gimana kalo kita nonton DVD?”
“Wah, ide bagus tuh. Lo kan beli DVD baru, Sin!” Aldo mendukung usul Jerry.
Husin menolak,”Nggak deh, kita ini mau ujian hari Senin. Kalo belajar kelompok aja, gimana?”
Aldo menggaruk kepala. Jerry nyengir,”Ya udah deh. Siapa yang paling pintar diantara kita, dia yang ngajarin. Lo ajarin kami dong, Sin….,” pintanya.
Husin menerawang ke langit-langit,”Hah? Perasaan yang IP nya diatas 3 diantara kita cuma Aldo, deh….”
Aldo mengelak,”ya tapi kan IP gue semester kemarin cuma 3,25. Menurun drastis…,”
Husin masih ingat, saat semester pertama Aldo meraih IP tertinggi di kelasnya, bertolak belakang dengan dirinya yang hanya meraih indeks prestasi standar selama setahun ini.
“Gue setuju. Pokoknya Aldo aja yang ngajarin. Soalnya kalo Husin penjelasannya terlalu ribet. Kagak ngarti gue,” tawa Jerry.
“Ok, gak masalah kalau begitu. Tapi gue cuma bisa bantuin semampunya aja ya,” Aldo duduk di kursi ruang keluarga. Untung saja Husin selalu membawa buku catatan kuliah yang ditaruhnya didalam mobil. Aldo mengajari kedua sahabatnya dengan sabar. Walaupun Jerry lebih banyak manggut-manggut nggak jelas dan walaupun Husin lebih sering menggaruki kepala ketimbang bertanya, tetapi Aldo berusaha memaklumi. Di malam Minggu mereka semangat membulatkan tekad untuk memperbaiki diri pada semester ini. Disaat banyak pasangan muda diluar sana sedang berduaan, mereka bertiga justru sedang bersemangat untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Setelah satu jam belajar, mereka masuk ke kamar untuk beristirahat. Tetapi Husin tak bisa tidur, ia masih memikirkan Syifa. Kini ia baru menyadari ada sesuatu dalam diri Syifa yang tak terlihat. Ia ragu apakah Syifa akan mau menerima permintaan maafnya. Seandainya saja ia tidak berkata kasar seperti itu, mungkin ia akan lebih leluasa bertanya segala hal pada Syifa. Tapi kini ia malu, masih pantaskah Husin mengharapkan Syifa?
Syifa yang memiliki postur tinggi, berkerudung dan memiliki wajah innocent. Wajahnya memancarkan cahaya kelembutan. Husin berpendapat bahwa siapapun yang memandangnya akan melihat cahaya itu. Sayangnya Husin tidak tahu, apakah Syifa memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Husin hanya bisa memimpikan wajah teduh itu…
Baca juga Bab 6








0 komentar:
Posting Komentar